Category Archives: Jelajah

kategori yang membahas perjalanan dan ulasan tempat-tempat yang pernah didatangi

Tips Liburan di Bogor Saat Long Weekend

 

Kursi santai (Pixabay)
Kursi santai (Pixabay)

 

Saat libur panjang akhir pekan, kawasan Bogor jadi salah satu destinasi terbaik untuk berwisata dengan keluarga atau teman-teman. Di Kota Hujan ini, ada banyak tempat seru yang bisa dikunjungi. Selain itu, jaraknya pun cukup dekat dengan Jakarta dan Bandung. Sayangnya, Bogor juga jadi tempat yang sangat ramai saat libur panjang akhir pekan. Ribuan wisatawan akan datang ke sini dalam waktu yang nyaris bersamaan. Hasilnya, kemacetan panjang pun terjadi hingga berjam-jam.

Tapi tenang saja, meskipun selalu macet saat waktu libur, Bogor tetap jadi destinasi wisata yang menarik kok. Buktinya, ribuan wisatawan tetap datang ke Bogor meskipun sudah tahu kalau mereka akan terkena macet.

Berikut, ada beberapa tips supaya kamu bisa lebih enjoy saat terkena macet di puncak waktu libur panjang akhir pekan.

 

Ketahui Jadwal Buka-Tutup Jalur

Saat libur panjang akhir pekan, pihak kepolisian sering memberlakukan sistem buka-tutup di jalur puncak, terutama dari dan menuju Jakarta. Pembukaan jalur menuju puncak biasanya terjadi pada pukul 09.00 WIB – 22.30 WIB. Sedangkan jalur menuju Jakarta dan Ciawi akan dibuka pada pukul 15.00 WIB – 17.00 WIB pada hari Sabtu dan pukul 15.00 WIB – 18.00 WIB pada hari Minggu. Jika kamu sedang menuju ke puncak, pilihlah jadwal keberangkatan beberapa saat sebelum jalur ke puncak sedang dibuka agar kamu bisa berada di jalur yang dibuka tersebut pada waktu yang tepat, begitu pun sebaliknya. Namun, jadwal buka-tutup jalur ini tidak permanen. Pembukaan dan penutupan jalur bisa berubah tergantung situasi dan kondisi di sana. Jadi, pantau terus media sosial kepolisian atau penyedia informasi setempat.

 

Ketahui Jalur Alternatif

Saat sistem buka-tutup jalur sedang berlangsung, kendaraan yang terkena dampak penutupan jalur akan dialihkan melalui jalur lain. Kenalilah jalur-jalur alternatif ini agar kamu bisa lebih cepat sampai tujuan dan tidak tersesat di jalan. Hal ini berlaku juga jika di jalur puncak sedang terjadi kemacetan tanpa adanya sistem buka-tutup jalur. Untuk memudahkan kamu dalam menemukan jalur alternatif, pastikan selalu membawa GPS atau Google Maps.

 

Selalu Bawa Car Charger

Saat terjebak macet, pastikan semua smartphone yang dimiliki oleh orang-orag di dalam mobil selalu menyala dan memiliki kuota internet. Smartphone akan sangat berguna untuk mencari jalur alternatif, menyimak informasi terbaru tentang kondisi lalu lintas di sana, berkomunikasi, dan untuk kebutuhan hiburan agar tidak bosan di perjalanan. Untuk itu, sebaiknya kamu menyediakan car charger untuk mengisi daya di mana pun dan kapan pun. Meskipun Car Charger ini memiliki dampak yang kurang bagus untuk baterai Smartphone, benda ini akan sangat berguna di saat macet.

 

Bawa Sopir Cadangan

Konsidi jalan yang mecet bisa membuat tubuh pengendara menjadi cepat lelah. Untuk mengindari kecelakaan akibat terlalu lelah saat menyetir mobil, sebaiknya di dalam mobil terdapat supir cadangan agar bisa bertukar peran untuk menjaga kondisi tubuh.

 

Selalu Bawa Camilan

Untuk menghilangkan bosan dan lapar, pastikan untuk selalu membawa camilan dari rumah. Soalnya, tidak akan mudah menemukan penjual makanan dan minuman saat diperjalanan. Jadi saat merasa haus dan keroncongan, kamu bisa langsung mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah disediakan sejak awal.

 

Pastikan Kendaraan Dalam Keadaan Sehad dan Bensin Selalu Terisi

Untuk mengindari kecelakaan dan mobil mogok, sebaiknya cek atau perbaiki mobilmu sebelum berangkat ke puncak. Di Puncak, sudah banyak terjadi musibah kecelakaan akibat ada mobil yang kondisinya kurang layak untuk mengarungi jalur puncak yang menanjak dan macet.

 

Selain itu, pastikan juga kendaraanmu selalu terisi bahan bakar. Asupan bahan bakar saat mengarungi jalur yang menanjak dan macet sangat besar. Sementara, tidak mudah menemukan tempat pengisian bensin saat kondisi sedang macet.

 

Booking Penginapan Beberapa Hari Sebelumnya

Lalu jangan lupa, pastikan untuk mendapatkan hotel di Bogor termurah beberapa hari sebelum liburan. Saat libur panjang, akan sulit mendapatkan kamar hotel yang diinginkan jika melakukan pemesanan langsung di hotel tersebut. Selain itu, kamu pun bisa langsung berisirahat begitu sampai di hotel setelah bermacet-macetan selama berjam-jam. Untuk mendapatkan kamar hotel pilihan dengan penawaran harga terbaik, kamu bisa booking kamar hotel termurah di Reservasi.com.

 

Pulang Lebih Awal

Sebaiknya, pilihlah jadwal pulang sehari sebelum waktu libur habis. Bisa juga pulang di hari terakhir liburan dengan jadwal yang tidak terlalu siang. Tujuannya agar kamu bisa memiliki waktu istirahat yang lebih banyak di rumah. Dengan begitu, kamu bisa lebih berstamina dan semangat saat harus kembali dengan rutinitas sehari-hari di keesokan harinya. Kalau kamu sampai di rumah terlalu malam, sedangkan keesokan harinya harus kembali bekerja, tubuhmu akan terlalu lelah untuk menghadapai tumpukan pekerjaan. Hasilnya, pekerjaanmu pun akan sulit dikerjakan dengan maksimal.

 

 

Terbang Aman & Nyaman bersama #SobatAviasi

Melakukan perjalanan udara ke berbagai tempat yang jauh bahkan menyeberangi pulau dan batas negara di era sekarang menjadi semakin mudah dan murah. Seperti perjalanan saya yang lalu, maka soal kemananan dan kenyamanan merupakan hal yang paripurna kemana pun tujuannya dengan aman dan nyaman.

 

 

Nah.. agar mudik kali ini Insha Alloh selamat, aman dan nyaman dengan menggunakan transportasi udara, maka ada persiapan dan aturan yang harus kita ikuti dan lalui, agar perjalanan udara dapat lancar dilakukan hingga selamat tanpa kurang suatu apapun sampai di tempat tujuan.

Dalam persiapan keberangkatan tersebut, ada beberapa hal yang harus dilakukan, mulai dari pemeriksaan barang-barang sesuai regulasi keselamatan penerbangan sampai bagaimana cara kita membawa serta melakukan packing barang, khususnya beberapa barang dalam bentuk cairan.

 

Pemeriksaan Barang di Bandara

 

Salah satu kegiatan ketika  kita dalam persiapan keberangkatan yaitu di area pemeriksaan barang-barang yang dilakukan dengan menggunakan semacam metal detector. Ketika  di area tersebut, maka semua barang yang mengandung kadar logam, seperti barang-barang pribadi berupa telepon seluler, cincin, kalung, ikat pinggang, sampai pecahan uang logam pun harus disimpan di tempat yang tepat dan dilakukan pemindaian dengan alat tersebut.

Terkadang di area ini, selain ketika check in, maka cukup memakan waktu, karena saya harus melepas dan merapikan barang-barang tersebut, namun demi keamanan dan kenyamanan , yaa ikuti saja prosedur yang dilakukan. Nah.. agar mudah, terkadang barang-barang tersebut saya pisahkan dan masukkan ke tempat tertentu di tas bawaan, atau jika diperlukan dipisahkan dengan memasukkan  ke tas bawaan ukuran kecil yang saya pisahkan termasuk untuk sejumlah uang tunai, kartu identitas, maupun tiket pesawat atau dokumen lainnya.

Jangan lupa hal yang terpenting kita lakukan ketika di area pemeriksaan nanti, tidak lupa membawa kelengkapan dokumen macam tiket, boarding pass, atau jika diperlukan dokumen keimigrasian, jika melakukan penerbangan udara ke luar negeri. Semua prosedur tersebut juga dilalui dengan santai dan rileks, namun tetap sekaligus serius jangan dilakukan bercanda, karena terkadang ada beberapa orang karena memang excited pertama kali atau bahkan sudah terlalu sering melakukan penerbangan udara, terkadang menganggap pemeriksaan tersebut hanya rutinitas, bahkan menganggap remeh prosedur yang dilakukan.

Barang yang dilarang dalam penerbangan

Untuk alasan keselamatan dan keamanan, penumpanng transportasi udara tidak diperbolehkan membawa beberapa barang yang dianggap mengganggu bahkan membahayakan perjalanan menggunakan transportasi udara.

Barang-barang tersebut dari seperti bahan peledak, barang yang mudah terbakar, barang yang mengandung gas tertentu, atau barang-barang yang memiliki kandungan cairan berpotensi bahaya jelas-jelas dilarang dibawa ke kabin pesawat, dan terpaksa harus diamankan.

Yaa.. kalau kita sebagai “penumpang normal”  yang maunya berlibur atau melakukan perjalanan bisnis sepertinya tidak mungkin membawa barang-barang tersebut, cuma saya pernah melihat, bahwa barang seperti dalam botol tabung, mungkin pengharum parfum, atau misal semacam obat carian atau berbentuk gas atau material kosmetik pun pernah diamankan dari tas penumpang di depan saya ketika mengantri dan dilakukan pemeriksaan, sehingga barang tersebut pun tidak bisa dibawa bersama pemiliknya.

 

 

https://www.facebook.com/pg/djpu151
https://www.facebook.com/pg/djpu151

 

Komunitas #SobatAviasi

Dengan pengalaman melakukan perjalanan dengan menggunakan  pesawat tersebut pun membuat saya mencari informasi dari beberapa grup maupun komunitas di ranah media sosial, Salah satunya yaitu komunitas #SobatAviasi yang merupakan komunitas resmi yang dibentuk oleh Direktorat Jendral Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan, yang bisa diikuti dan diakses melalui media sosial Facebook [https://www.facebook.com/djpu151/] dan Instagram [https://www.instagram.com/djpu151/] serta bisa juga diakses melalui situs komunitasnya di http://selamanya.id/

Di komunitas #SobatAviasi tersebut, saya banyak mendapat informasi beragam, salah satunya yang saya share diatas, terkait prosedur keselamatan dan keamanan untuk transportasi udara. Segala aturan dan prosedur tersebut, dibuat tentunya dalam rangka agar tingkat keamanan, keselamatan, dan kenyamanan kita dalam menggunakan transportasi udara via pesawat komersial dapat terjaga, sehingga kita terbang kembali dan selamanya dengan menggunakan penerbangan udara tersebut.

 

Referensi :

Komunitas #SobatAviasi

  • http://selamanya.id/
  • https://www.facebook.com/pg/djpu151
  • https://www.instagram.com/djpu151/

 

5 Cara Berlibur A la Percha

Bagi sebagian orang, namanya berlibur pasti ke tempat-tempat eksotis dan dengan akomodasi yang keren plus menikmati layanan penginapan di hotel bintang! Tapi sebagian orang berlibur mengunjungi tempat-tempat unik, kulineran, lalu ketika menginap dan beristirahat inginnya tinggal seperti berasa di rumah.

Nah.. kalau saya model liburannya kadang berlibur bisanya ke tempat yang tidak begitu jauh serta waktunya cuma sebentar (karena enggak bisa ambil cuti panjang bro!) dan dilakukan hanya ketika akhir pekan saja, terus kadang-kadang ingin tinggal di suatu tempat yang berasa di rumah sendiri atau lebih privat, semacam rumah, atau villa, atau bahkan apartemen! So.. yuk, simak 5 cara berlibur A la Percha berikut ini.

1. Siapkan anggaran dengan tepat

https://pixabay.com/
https://pixabay.com/

Berlibur tentunya harus disiapkan anggarannya jauh hari dan kalau bisa mendetail, bahkan liburan model mendadak yang pernah saya lakukan pun perlu perencanaan anggaran even last minute, nah yang ini please jangan ditiru 😀

Ketika merencanakan liburan, kalau untuk saya maka diawali dengan bikin anggarannya, lalu kemudian menyiapkan segala hal sudah dibeli atau dikonfirmasi jauh hari, misalnya saya sudah lebih dulu membeli tiket transportasi, lalu merencanakan akomodasi dengan booking tempat penginapan, kemudian survey tempat yang akan kita kunjungi, termasuk kemungkinan range nominal Rupiah yang akan dibelanjakan kalau bisa, dan di beberapa tempat (meski ini masih jarang di Indonesia), bisa memesan tiket masuk ke tempat wisata jauh hari. Dengan perencanaan seperti ini, tidak hanya bikin pikiran saya jadi lebih tenang ketika berangkat liburan nanti, tapi juga bisa mendapat peluang harga yag lebih murah, terkadang ada promo harga murah untuk pemesanan jauh hari, yang ujung-ujungnya anggaran jadi lebih kecil dan bisa jadi kelebihannya untuk ditaruh di slot anggaran pengeluaran liburan yang tak terduga :)

2. Tentukan tempat tujuan yang sesuai

Biasanya kalau berlibur model seperti yang saya ceritakan diatas, maka tujuannya nggak jauh-jauh amat dari Jakarta dan bisa dilakukan ketika weekend tanpa perlu ambil cuti kerja lagi, tapi tetap bisa jalan-jalan plus kulineran, asal bisa happy,  bikin foto-foto selfie terus makan enak dan kenyangnya sampai elus-elus perut! 😀

So, tempat tujuan liburan seperti ini biasanya ke jalan-jalan ke kota lain yang unik, contohnya jalan ke sekitar Bogor, ke Bandung, ke Sukabumi, atau misalnya ke Cirebon, atau bahkan ke Singapura sekalian!

Be A Changi Millionaire

A photo posted by Ardika Percha (@sayapercha) on

3. Pilih akomodasi yang tepat

Nah.. setelah menentukan tujuan liburan, sekarang saatnya mencari akomodasi, berupa tempat penginapan model rumahan, villa atau apartemen. Kenapa rumahan? karena dengan menyewa rumah, maka kita bisa mendapat tempat yang lebih luas dibandingkan misalnya kamar hotel pada umunya dan bisa mengajak teman-teman atau keluarga.

So.. dengan akomodasi sepeti ini, tentunya lebih murah jika berlibur berjamaah dan dengan menyewa rumah atau villa bisa jadi pilihan yang tepat, karena kita bisa lebih bebas dan lebih memiliki privasi. Dengan menyewa model seperti ini, maka seisi rumah jadi milik kita sementara, dan bisa kumpul-kumpul di rumah sesuka kita, plus sambil ngobrol ngalor ngidul, sekalian ngemil dan bikin mie instan, dan bisa jadi ngopi-ngopi bikin sendiri di dapur plus sambil main kartu dan main game PS 😀

http://www.travelio.com/
http://www.travelio.com/

 

Untuk urusan ini, saya rekomendasikan Travelio.com untuk pencarian sewa rumah, sewa apartemen, atau sewa villa. Banyak pilihan yang tersedia bagi kita dan disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang kita miliki, lalu menariknya di Travelio kita bisa menawar dari harga yang ada, jadi peluang mendapat harga murah sesuai anggaran kita bisa kesampaian! Dengan menggunakan Travelio, maka kita punya more choice, more space, & more value yang bisa bikin liburan jadi lebih nyaman.

http://www.travelio.com/
http://www.travelio.com/

 

Nah.. agar mendapat tempat penginapan yang keren di Travelio dengan harga yang oke punya, spesial untuk pengunjung tercinta blog ardikapercha.com saya kasih promo diskon berupa kode voucher terlampir. Silahkan langsung ke Travelio.com dan lakukan pemesanan, lalu masukkan kode berikut, kemudian langsung dapatkan promo diskon 40% bro!

Kode Voucher : LIOMORESDORJG21

Untuk syarat & ketentuan penggunaan voucher promo harap dibaca dibagian paling bawah artikel blog ini ya :)

4.  Ajak teman berlibur yang asyik

Ardika Percha
Ardika Percha

 

Perjalanan sedekat atau bahkan sejauh apapun, yang penting bisa berbagi momen dengan orang terkasih, dari sahabat, sanak saudara, pasangan, atau liburan bersama keluarga, maka agar liburan makin seru dan memorable, tentunya ajak teman berlibur yang asyik dan kompak! Bahkan ada pepatah antah berantah berbunyi bahwa sebenar-benarnya orang akan terlihat ketika melakukan perjalanan bersama-sama. Nah, kesempatan kali ini ketika berlibur bisa jadi memperkuat hubungan dengan orang-orang terkasih sekaligus melepas penat dan refreshing dengan berlibur.

5. Be positive & just enjoy the show!

Anggaran sudah dibuat, tempat tujuan dan rencana perjalanan sudah ditentukan, lalu akomodasi dan teman liburan juga sudah siap, so sekarang saatnya berangkat menikmati liburan dengan setting mood liburan yang poooollll! So.. apapun yang terjadi selama berlibur, be positive & just enjoy the show!

Petak 9 #jakarta #chinatown #street #instapercha #culture

A photo posted by Ardika Percha (@sayapercha) on

 


 

Syarat & ketentuan penggunaan voucher Travelio :

  • Kode hanya bisa digunakan untuk pemesanan tipe properti seperti apartmen, rumah, dan villa yang tersedia di situs Travelio, baik di desktop, mobile web, maupun aplikasinya.
  • Kode voucher tersebut berlaku sampai dengan tanggal 15 Desember 2016 pukul 23.59 WIB.
  • Nilai maksimum diskon yang dapat didapat setiap pelanggan adalah sebesar Rp. 300.000.
  • Setiap pelanggan hanya bisa menggunakan kode voucher sebanyak 1 kali.
  • Kode voucher hanya bisa digunakan oleh pelanggan yang telah registrasi dan login saat melakukan pemesanan.
  • Kode voucher tidak dapat digabungkan dengan promo lainnya atau dengan penggunaan Travelio reward poin.
  • Travelio berhak membatalkan pemesanan apabila terjadi penyimpangan atau pelanggaran pada Syarat dan Ketentuan ini maupun Syarat dan Ketentuan layanan Travelio.com.

 

Perjalanan Tanpa Rencana di Malang

Sesekali kita harus mencoba melakukan perjalanan yang idenya datang dengan spontan. Tanpa perencanaan tujuan, tanpa susunan jadwal yang pasti. Hal itu bisa dilakukan seorang diri atau dengan teman dekat yang sama-sama suka mencoba hal baru.

Tantangannya berbeda antara melakukan perjalanan sendirian dengan perjalanan bersama seorang kawan. Jika sendirian, kita bisa bebas menentukan keputusan apa saja yang paling kita inginkan. Tanpa perlu khawatir rekan kita menahan kecewa. Kita juga bebas mencari promo hotel murah yang kita mau hehehe. Tapi tetap ada resikonya, yaitu semua beban dan rasa khawatir akan dirasakan seorang diri.

Lain halnya dengan melakukan perjalanan dengan seorang teman. Kita harus menanyakan pendapatnya sebelum kita menentukan ingin mengunjungi kota apa atau memilih penginapan di mana.

Tetapi kita bisa berbagi tentang rasa bahagia atau bahkan kekecewaan yang muncul dalam perjalanan. Kita bisa meminta pendapatnya jika kita merasakan keraguan ketika hendak memutuskan sesuatu.

Seseorang teruji apakah dia kawan yang baik atau bukan ketika melakukan perjalanan bersama-sama. Apakah ia orang yang egois ataukah pribadi yang dermawan.

Melakukan perjalanan yang spontan bisa disebabkan banyak hal. Misalnya, Anda bosan dengan rutinitas yang begitu teratur, atau tiba-tiba maskapai langganan Anda memberikan promo menggiurkan menuju kota yang belum pernah Anda kunjungi, atau bisa saja Anda ingin mengunjungi kota yang mungkin pernah Anda tinggali ketika kecil.

Alasan-alasan tersebut menjadi sangat benar untuk sebuah perjalanan yang memberi tantangan, dimana Anda tidak tahu apa yang akan Anda lakukan dan apa yang Akan Anda hadapi beberapa waktu ke depan.

Kriteria kota yang akan Anda kunjungi dengan perjalanan spontan Anda bisa apa saja, namun tidak memilih kota besar sepertinya pilihan yang tepat. Kota dengan cuaca yang sejuk dan tujuan wisata bernuansa alam atau tempat-tempat yang khas biasanya memberikan pengalaman yang berbeda.

Untuk jenis perjalanan yang tengah Anda lakukan kota Malang patut di kunjungi. Ikonnya sebagai kota apel yang berudara sejuk, Malang terdengar seperti Bandung bagi warga ibu kota.

Jika Anda tidak terbiasa backpacker jangan memaksakan terlalu jauh dengan memilih penginapan sembarangan. Anda tetap bisa memilih hotel yang menawarkan kenyamanan selayaknya Anda tengah mengunjungi kerabat lama.

Hotel Savana merupakan penginapan di Malang yang bisa dijadikan pilihan. Terletak di jalan Letjen. Sutoyo No. 30-34 kota Malang Anda bisa menemukan Hotel Savana yang menawarkan beragam fasilitas dan pelayanan yang sangat ramah. Anda bisa memesan Deluxe Room seluas 35 meter persegi.

 

hotelsavana.com

 

Setelah berada di kota Malang Anda bisa mulai browsing tempat apa yang ingin Anda kunjungi, atau Anda bisa mengunjungi beberapa tempat berikut ini untuk jadi pertimbangan :

Pulau Sempu

Jika Anda masih memiliki energi lebih dan ingin melihat sesuatu yang berbeda. Anda bisa mengunjungi pulau Sempu. Namun lokasinya cukup jauh, sekitar 72 km dari tempat menginap Anda, membutuhkan sekitar 2-3 jam perjalanan. Tetapi yang bisa Anda saksikan cukup sepadan, sebuah pantai pasir putih dengan air  jernih yang letaknya tersembunyi. Hanya saja pulau Sempu sebenarnya adalah cagar alam yang tidak diperuntukan bagi wisatawan. Jadi, jika Anda berkesempatan mengunjungi pulau Sempu harus benar-benar menjaga kebersihan dan Alam yang Anda lewati.

 

backpackerakhirpekan-blogspot-com Malang

 

Di kota Malang ada beberapa Museum yang bisa Anda kunjungi. Diantara lain :

Museum Angkut

Anda bisa melihat-lihat perjalanan sarana transportasi di Indonesia. Terdapat mobil-mobil klasik dari berbagai negara. Bahkan ada juga mobil yang pernah dikendarai presiden Soekarno.

Museum Topeng

Ada juga Museum Topeng yang letaknya berdekatan dengan museum angkut. Di dalamnya Anda bisa melihat beragam jenis topeng dari seluruh Indonesia, selain itu ada juga benda-benda pra sejarah dari zaman kerajaan Majapahit.

Kota Batu

Jika Anda ingin menerima tantangan lebih dahsyat dalam perjalanan spontan Anda, disarankan mencoba olahraga paralayang. Olahraga yang memacu adrenalin tapi Anda bisa mendapatkan pemandangan luar biasa dengan melihat kota Batu Malang dari ketinggian. Untuk bisa mengikuti olahraga paralayang ini Anda bisa menghubungi agen-agen penyedia tour paralayang di Batu, Malang.

 

Nyunyu.com Malang
Nyunyu.com Malang

 

Selain mengunjungi tempat-tempat yang tadi disebutkan, Anda bisa mengunjungi tempat-tempat yang tiba-tiba terlintas di benak Anda, lalu melanjutkan perjalanan spontan yang menyenangkan.


 

Referensi:

  1. Nyunyu.com
  2. backpackerakhirpekan-blogspot-com
  3. hotelsavana.com

Kunjungan ke Plant Cianjur PT. Tirta Investama (Aqua) #AirUntukKehidupan

Kunjungan ke Plant Aqua Cianjur (Foto: Ardika Percha)
Kunjungan ke Plant Aqua Cianjur (Foto: Ardika Percha)

 

Pertengahan Oktober yang lalu, saya diajak istri bersama kawan-kawan IDBlogNetwork (IBN), berkesempatan mengunjungi pabrik pengolahan air minum dalam kemasan di Cianjur, untuk melihat langsung operasional pabrik dan pengenalan aktivitas CSR PT. Tirta Investama yang dikenal dengan air mineral bermerk Aqua tersebut. Setelah melalui perjalanan panjang melewati jalan-jalan berkelok dari Puncak Bogor sambil menikmati pemandangan alam nan hijau tersebut, akhirnya saya samapi di pabrik Aqua plant Cianjur.

Proses Produksi

Diskusi Aqua (Foto: Ardika Percha)
Diskusi Aqua (Foto: Ardika Percha)

 

Setelah mendapat safety briefing, kemudian pihak Aqua menjelaskan mengenai situasi pabrik, pengelolaan pabrik, hingga proses produksinya. Dari penjelasan di brief  awal tersebut, plant Cianjur dengan luas 12 hektar lebih tersebut memiliki 4 line produksi yang memproduksi produk Aqua ukuran 330 ml, 600 ml, hingga ukuran 1500 ml, dan memiliki rekor safety yang baik.

Yang menjadi perhatian saya, yaitu pada penjelasan bagian proses pengambilan air yang menjadi “bahan baku” untuk produk Aqua tersebut, yaitu memiliki beberapa tahap yang cukup panjang, yaitu dari tahap filtering atau bisa disebut penyaringan micron dengan beberapa lapisan, lalu selanjutnya proses ozonisasi, hingga proses pengolahan dan berakhir pada pengemasan produk, lalu didistribusikan hingga sampai di tangan kita.

@SehatAqua (AQUA)
@SehatAqua (AQUA)

 

Produk Aqua (http://www.aqua.com/)
Produk Aqua (http://www.aqua.com/)

Mata air

Nah, yang menjadi pertanyaan berikutnya… mata airnya ada dimana dan bagaimana pengelolaannya?

Ternyata mata air yang menjadi sumber pengolahan pabrik tersebut diambil dari lapisan air tanah yang terdalam dengan menggunakan teknologi dan proses konservasi air yang terkendali, karena pihak Aqua berkomitmen untuk tetap menjaga keberlangsungan mata air itu, tidak hanya untuk kepentingan perusahaan dalam pengelolaan produksi air, namun yang lebih penting kepentingan lingkungan dan sekitarnya, karena keberlangsungan sumber air tersebut akan berdampak langsung atas keberlangsungan bisnis Aqua sendiri kedepannya.

CSR Aqua & Hipoci

Setelah mendapat penjelasan mengenai proses produksi dan konservasi air yang disampaikan pihak manajemen Aqua plant Cianjur, selanjutnya kita pun mendapat penjelasan mengenai program CSR Aqua, yaitu terkait pengembangan masyarakat sekitar plant Cianjur tersebut. Pihak Aqua melakukan program CSR berkelanjutan melalui komunitas petani di Cianjur, yaitu melalui organisasi Hipoci yaitu Himpunan Petani Organik CIanjur.

 

Dialog dengan tim Hipoci (Foto:Ardika Percha)
Dialog dengan tim Hipoci (Foto:Ardika Percha)

 

Markas Hipoci (Foto:Ardika Percha)
Markas Hipoci (Foto:Ardika Percha)

 

Setelah santap siang, saya dan kawan-kawan pun akhirnya mengunjungi lokasi kerja Hipoci tersebut. Disana kami berkesempatan untuk mendengarkan pemaparan pengurus Hipoci dan berdiskusi terkait sejarah dan kegiatan Hipoci, serta bagaimana Aqua berperan besar dalam pengembangan Hipoci tersebut.

Dengan kunjungan ke pabrik Aqua tersebut dan melakukan dialog dengan tim Hipoci, bisa memberikan contoh upaya perusahaan yang berusaha melakukan konservasi alam sekaligus berusaha dalam pengembangan komunitas sekitar pabrik, sehingga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan sekitarnya, serta hal ini bisa menjadi role model bagi pengembangan masyarakat yang memang harus dilakukan bertahap dan berkelanjutan.

 

Pengurus Hipoci (Foto:Ardika Percha)
Pengurus Hipoci (Foto:Ardika Percha)

 

Nah, aktivitas yang dilakukan PT. Tirta Investama tersebut, bertujuan mendukung inisiatif Aqua terkait komitmen menjaga kualitas dan kuantitas air untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Inisaitif yang telah dikembangkan Aqua terkait dengan kawan-kawan blogger dan jurnalis berbagai media, yaitu disalurkan melalui Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA).

AJA merupakan salah satu upaya Aqua dalam mengapresiasi aktivitas yang dilakukan para jurnalis maupun blogger atas kontribusinya dalam karya tulis dan foto yang bermanfaat bagi masyarakat, serta diimplementasikan melalui Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) tersebut. Untuk informasi AJA lebih lanjut, bisa kunjungi laman berikut: http://www.aqua.com/anugerahjurnalistik/


Sumber:

  1. http://www.aqua.com/
  2. http://www.aqua.com/anugerahjurnalistik/
  3. http://idblognetwork.com/
  4. http://hipoci.com/

 

Menggapai Puncak Prau Dieng (Bagian 2)

“People don’t take trips . . . trips take people.”

(John Steinbeck)

Kisah perjalanan saya di  bagian pertama dalam perjalanan menyusuri Dieng [baca artikel Menggapai Puncak Prau Dieng (Bagian 1)] tak lengkap tanpa kehadiran kawan-kawan yang bersama menggapai puncak Prau.  Seperti quotes diawal tulisan saya dari John Steinback, seorang penulis & novelis kenamaan asal Amerika Serikat yang memenangkan Nobel Prize dan peraih  Pulitzer Prize, maka saya persembahkan foto-foto berikut untuk kalian, teman-teman seperjalanan yang gokil, heboh, dan kompak.. yang membuat perjalanan ini menjadi lebih berwarna-warni :)


The Transporter  (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
The Transporter

 

Andy (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Andy

 

Muchni (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Muchni

 

Norma (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Norma

 

Ana (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Ana

 

Darra  (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Darra

 

Jun  (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Jun

 

Vinna

 

Dian

 

Eka

 

Feby

 

Citra

 

Indah

 

Fery

 

Dian (kedinginan)

 

Indah (again)

 

Feby (again)

 

Andy “cam guy”

 

Eka (again)

 

Citra (again)

 

 

Dian & Norma

 

Norma & Dian (again)

 

Persaudarian bergandengan

 

Persaudarian (kok nggak berpelukan?)

 

Persaudarian (again)

 

Sudut lain

 

Bahagia & Tertawa

 

Persaudarian (oh my god.. again)

 


 

Bonus Track :

Jejak masa lalu

 

Candi & Pengunjung (1)

 

Candi & Pengunjung (2)

 

Penyusur Prau

 

Dinginnya Prau

 

Mereka di Prau

 

Dibalik Kabut Prau

 

Perkemahan di Prau

 

Kemahku & Kemahmu

 

MERAH PUTIH-ku di Prau

Menggapai Puncak Prau Dieng (Bagian 1)

 

Di penghujung tahun 2014, Alhamdulillah akhirnya salah satu keinginan saya untuk menapaki dan menikmati alam pegunungan Indonesia akhirnya tercapai juga. Gunung Prau menjadi tujuan perjalanan saya kali ini yang terkenal dengan keindahan pemandangan di puncaknya, serta dengan rute pendakian yang beragam, melalui area perkebunan sayuran, hutan dengan berbagai macam jenis pepohonan, undak-undakan batuan, area jalan setapak sempit yang diapit jurang kanan-kirinya, hingga mancapai area perbukitan a la bukit teletubbies!

Gunung Prau terletak di kawasan dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau) dengan ketinggian 2565 mdpl dan sebagai informasi tambahan, kata Dieng berasal dari gabungan kata dalam bahasa Kawi kuno, yaitu kata “di” yang berarti tempat atau gunung, dan kata “hyang” yang bermakna dewa, sehingga dari nama tempat tersebut, Dieng merupakan tempat bersemayamnya para dewa dan dewi menurut kepercayaan kuno. Gunung Prau berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Kendal, di provinsiJawa Tengah, merupakan gunung tertinggi dibanding deretan gunung lainnya, yaitu gunung Sumbing dan Sindoro di kawasan Dieng, serta dipastikan suhu di kawasan gunung tersebut sangat dingin hingga merasuk dan menusuk ke tulang, meski memakai beberapa lapis baju dan jaket!

Setelah beristirahat dari perjalanan darat sekitar 13 jam dari Jakarta menuju Dieng, lalu makan, dan mempersiapkan logistik serta perizinan, maka pendakian melalui jalur Dieng mulai dilakukan sekitar pukul 10 pagi dari basecamp bersama kawan-kawan rombongan Rekreatif, hingga mencapai sekitar pukul 17 sore  di area sekitar menara listrik, melewati tiga pos pendakian yang cukup terjal. Setelah beristirahat untuk makan dan mempersiapkan diri melalui rute terakhir menuju area perkemahan, maka perjalanan dilanjutkanmelalui jalur sempit yang diapit oleh jurang di kanan-kirinya. Gelapnya malam di perjalanan ditemani oleh cahaya rembulan dan bintang-bintang di angkasa (dan tentunya cahaya dari headlamp yang saya gunakan) serta ditemani kabut yang mulai membatasi jarak pandang dan terpaan udara yang luar biasa dingin mulai merasuki tubuh saya dalam menyusuri perjalanan ke area perkemahan.

Alhamdulillah sekitar pukul 7 malam akhirnya saya mencapai area perkemahan dan mempersiapkan segala sesuatunya bersama dari mendirikan tenda hingga memasak air dan makan, lalu kita bersegera beristirahat untuk mengejar terbitnya mentari di pagi hari. Dan keesokan subuhnya, saya disambut dengan udara yang benar-benar luar biasa super dingin, meski udara yang sangat dingin, saya bersama rombongan pun menapaki spot-spot menarik di puncak Prau,  dan Alhamdulillah mendapat kesempatan menikmati indahnya salah satu kebesaran ciptaan Allah, yaitu melihat sang mentari terbit disertai pemandangan puncak Prau yang sangat indah, sehingga rasa lelah dan udara dingin menyerbu tubuh ini untuk menggapai puncak Prau menjadi terbayarkan ketika melihat pemandangan puncak Prau tersebut :)

Ufuk Timur (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Ufuk Timur (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Dia muncul  (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Dia muncul (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Perkemahan (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Perkemahan (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Selffeet di bukit teletubbies (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Selffeet di bukit teletubbies (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Bersama kita di Prau (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Bersama kita di Prau (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Aku dan Prau (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Aku dan Prau (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Diatas awan (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Diatas awan (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

Tautan Luar

  • Data & fakta Dieng : http://id.wikipedia.org/wiki/Dieng

Deklarasi Locana Indonesia

Locana Indonesia

 

Setelah sekian lama menimba ilmu, baik dengan membaca, berdiskusi, lalu hingga turun ke lapangan dan menyusuri jalanan di berbagai sudut tempat untuk praktek dan hunting, lalu mengikuti beragam acara fotografi dan bersosialisasi  dengan berbagai komunitas fotografi, akhirnya saya memutuskan  mengembangkan sebuah komunitas fotografi bersama teman-teman saya yang sudah saya kenal sejak jaman mahasiswa dulu, mempunyai beberapa pandangan serupa, dan kedepannya bisa saling melengkapi satu sama lain dalam berkomunitas.

12 Oktober 2014 merupakan tanggal istimewa bagi saya, dan dua teman saya Isal dan Marno. Di tanggal tersebut telah lahir sebuah komunitas fotografi Locana Indonesia. Dengan tujuan untuk menjalin silaturahim, saling belajar & berbagi terkait fotografi, serta memiliki beberapa pandangan sama tidak hanya fotografi, namun terkait perihal budaya, masyarakat, dan Indonesia.

Snapshot LocaGuys di Balai Kota Bogor (via kamera Isal)
Snapshot LocaGuys di Balai Kota Bogor (via kamera Isal)

 

Keinginan secara resmi berkomunitas dengan fokus fotografi, sudah menjadi wacana jauh-jauh hari sebelumnya, ketika para pendiri sering berbincang bersama terkait minat masing-masing, maupun membahas aktivitas masing-masing, serta membahas perihal berita terkini. Hasrat pun memuncak untuk mendeklarasikan komunitas Locana Indonesia, setelah para pendiri akhirnya memiliki kamera masing-masing, serta keinginan untuk hunting serta berdiskusi soal fotografi menjadi sebuah aktivitas yang rutin.

Deklarasi Locana Indonesia dilaksanakan bersamaan dengan hunting  ke Bogor. Kebetulan pada hunting tersebut saya bertugas sebagai fixer dan memandu The LocaGuys, julukan khas untuk anggota Locana Indonesia. Rute yang disiapkan dan dilalui berawal dari stasiun Bogor, Taman Topi, lalu menyusuri Jembatan Merah menuju Museum Perjuangan, PGB, kemudian beralih ke Pasar Anyar, Mesjid Agung, lalu menuju ke Balai Kota Bogor, dan berakhir kembali ke Stasiun Bogor.

Di Balai Kota Bogor akhirnya LocaGuys memutuskan untuk membuat foto di depan gedung balai kota, dan dengan simbol dari dokumentasi foto tersebut, maka Locana Indonesia dideklarasikan dan secara resmi telah berdiri. Acara hunting bersama tersebut akhirnya ditutup dengan jamuan makan malam  di daerah Tebet, dengan sesi review foto, yaitu mengulas hasil berburu foto di Bogor, kemudian berdiskusi terkait kegiatan Locana Indonesia kedepannya.

Locana Indonesia berkomitmen dan berusaha membudayakan dalam kegiatannya agar bisa direncanakan dan terkonsep terlebih dahulu, terutama ketika aktivitas hunting, meskipun dalam aliran dan pendekatan fotografi yang LocaGuys pahami, bahwa element of surprise dan decisive moment sangat dihargai. Selain itu,  LocaGuys mencoba membangun pemahaman untuk merasakan, meresapi,  dan merekam fragmen-fragmen kehidupan di berbagai penjuru tempat. Lalu ditahap selanjutnya, LocaGuys mencoba menceritakan dan mengekspresikannya melalui media visual, khususnya fotografi.

Bentuk paling konkrit yang LocaGuys lakukan dalam upaya menceritakan dan mengekspresikan melalui media visual tersebut, dibutuhkan media publikasi yang bisa diakses luas oleh pihak eksternal, sehingga  bisa dinikmati dan diapresiasi, melalui akses internet, dan media publikasi yang dipilih hingga saat ini yaitu melalui blog.

Silahkan menikmati hasil kreasi LocaGuys, dan tidak lupa ajakan untuk diskusi melalui media online dan undangan kopdar, LocaGuys buka akses dan kesempatannya :)

Blog Locana Indonesia bisa diakses melalui tautan ini.

Kuliah (lagi) di Universiti Kebangsaan Malaysia

Di pertengahan tahun ini, Alhamdulillah saya mendapat kesempatan belajar ke negeri tetangga Malaysia untuk mengikuti knowledge management short course di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Pengalaman short course ini merupakan pengalaman perdana untuk saya, sehingga saya sangat bersemangat untuk menuntut ilmu, kembali mengikuti kegiatan perkuliahan, sibuk dengan berbagai tugas, membaca buku, berdiskusi, menulis paper, dan berbagai lika-liku kehidupan mahasiswa lainnya.

Stasiun UKM (Foto: Ardika Percha - Selangor, 2014)
Stasiun UKM (Foto: Ardika Percha – Selangor, 2014)

 

Stasiun UKM & Sekitar (Foto: Ardika Percha - Selangor, 2014)
Stasiun UKM & Sekitar (Foto: Ardika Percha – Selangor, 2014)

 

UKM dikenal sebagai universitas yang diarahkan oleh Kerajaan Malaysia sebagai salah satu dari lima univeritas riset di Malaysia, sehingga dapat menjadi acuan dan pengalaman yang menarik, untuk mendorong jiwa intelektualitas dan akademis saya pribadi. UKM terletak di Bangi, Negeri Selangor, yang bisa dijangkau melalui kereta cepat KTM dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dari Kuala Lumpur. Lokasi UKM dengan luas kampus lebih dari 1000 hektar tersebut terletak tidak jauh dari KL dan Putra Jaya serta bandara KLIA, serta dikelilingi berbagai taman dan hutan kota yang luas, mengingatkan saya dengan kampus UI yang terletak di Depok, terletak tidak jauh dari kota Jakarta serta dikelilingi oleh taman dan hutan kota tersebut.

Dengan predikatnya sebagai kampus riset yang didukung penuh oleh pemerintah Malaysia, maka UKM banyak  menghasilkan karya ilmiah yang mampu menembus berbagai jurnal ilmiah internasional, sehingga UKM memiliki beberapa prestasi salah satunya yaitu masuk Top 100 Times Higher Education Asia  berdasarkan lembaga riset Thomson Reuters dan World University Rankings.

 

Update:

Bagi yang mau kuliah dengan jalur alternatif via media pembelajaran online, bisa simak ulasan dan pengalaman saya kuliah melalui Coursera di artikel blog berikut : Kuliah Online Coursera

 

Nyiur Kelapa & UKM (Foto: Ardika Percha - Selangor, 2014)
Nyiur Kelapa & UKM (Foto: Ardika Percha – Selangor, 2014)

 

Woro-woro (Foto: Ardika Percha - Selangor, 2014)
Woro-woro (Foto: Ardika Percha – Selangor, 2014)

 

Aras 3 (Foto: Ardika Percha - Selangor, 2014)
Aras 3 (Foto: Ardika Percha – Selangor, 2014)

 

Meski metode dan pola perkuliahan kampusnya tidak begitu berbeda jauh ketika saya berkuliah dulu di Indonesia, namun yang membedakannya yaitu interaksi budaya antar mahasiswa yang kuliah di UKM tersebut, karena mahasiswa-mahasiswa tersebut tidak hanya dari seantero Malaysia, tetapi juga berasal dari berbagai negara ASEAN, China, Afrika, India dll, sehingga UKM pun menjadi semacam melting pot, dan menambah pengalaman saya berinteraksi dalam kehidupan  perkuliahan di lingkup pergaulan internasional :)

Update:

Bagi yang beminat mengikuti perkuliahan dengan menggunakan media online, berikut ulasan saya mengenai perkuliahan via Coursera yang menerapkan metode e-learning di artikel blog sbb : Kuliah online Coursera

 

Asri (Foto: Ardika Percha - Selangor, 2014)
Asri (Foto: Ardika Percha – Selangor, 2014)

 

Sepi (Foto: Ardika Percha - Selangor, 2014)
Sepi (Foto: Ardika Percha – Selangor, 2014)

 

Sekitar UKM (Foto: Ardika Percha - Selangor, 2014)
Sekitar UKM (Foto: Ardika Percha – Selangor, 2014)

 

Terimakasih UKM (Foto: Ardika Percha - Selangor, 2014)
Terimakasih UKM (Foto: Ardika Percha – Selangor, 2014)

 


Baca juga : Proyek Foto #KomuterKota

 

Jelajah Bumi Ruwa Jurai (Bagian 1)

 

Ketika sebagian besar manusia-manusia di Jakarta (dan belahan waktu Indonesia bagian barat lainnya ya..) menikmati suasana perayaan tahun baru, saya justru sedang bersiap di markas besar tercinta, dalam persiapan untuk perjalanan panjang ke seberang pulau bersama kawan kuliah, kawanduta ketika kos dahulu, serta partner in goodness yaitu masbro Faisal Effendi.

Perjalanan kali ini ke Bumi Ruwa Jurai yaitu yaitu provinsi Lampung, tepatnya ke Kabupaten Tulang Bawang Barat yang biasanya disingkat menjadi TBB oleh warga sekitar tersebut, yaitu dalam rangka silaturahim keluarga, tugas, dan sekaligus melakukan perjalanan napak tilas sang Pengajar Muda ketika ditugaskan di sana bersama dengan 9 Pengajar Muda Indonesia Mengajar lainnya di kabupaten tersebut.

Naahh.. dalam perjalanan kali ini yang menjadi tokoh utama sekaligus pemandu, yaitu kawan saya yang biasa dipanggil Isal, seorang (mantan) guru SDN Mercubuana Tulang Bawang Barat dan alumni Pengajar Muda Angkatan I dari Indonesia Mengajar. Untuk yang mau tahu kegiatan terkait dengan Indonesia Mengajar, bisa cekidot artikel blog saya mengenai Ulasan Festival Gerakan Indonesia Mengajar dan foto-foto yang saya ambil ketika event tersebut di Seri Foto Festival Gerakan Indonesia Mengajar.

Terkait perjalanan ke Lampung, dengan perencanaan jauh hari sebelumnya, kita bisa mendapatkan tiket pesawat PP dengan harga cukup terjangkau dari salah satu maskapai yang mantap punya di Republik ini, pas saat musim liburan panjang ketika pergantian tahun 😀   memang dengan naik pesawat, perjalanan lebih cepat & nyaman, namun disisi lain ingin merasakan perjalanan darat, lalu diselingi perjalanan laut melalui Pelabuhan Merak-Bakauheni dengan melintas Selat Sunda, yang pasti memberikan pengalaman berbeda, namun dengan mengingat keterbatasan waktu, akhirnya kita putuskan melakukan perjalanan via jalur udara. Perjalanan darat dari markas besar ke Bandara Soekarno-Hatta mencapai sekitar 1 jam di pagi hari, lalu dilanjutkan dengan perjalanana udara yang tidak sampai 30 menit tersebut tergolong berjalan cepat dan lancar.

Selamat Datang di Bumi Ruwa Jurai

Alhamdulillah akhirnya bisa menjejakkan kaki di Bandara Raden Inten II yangmerupakan pintu gerbang udara Bumi Ruwa Jurai. Bandara Raden Inten II jika merujuk pada sejarahnya yang dikenal juga dengan lapangan udara Branti, karena berada di jalanan desa Branti, dan Raden Inten II merupakan salah satu Pahlawan Nasional yang turut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia di daerah Lampung, yang ternyata memiliki hubungan darah dengan Fatahillah, dimana di tanah Jawa dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Lalu arti dari Bumi Ruwa Jurai  yaitu merujuk pada dua golongan masyarakat yaitu masyarakat asli dan pendatang yang tinggal rukun berdampingan di Lampung. Yaa demikian info selayang pandang yang saya dapat dari googling dan obrolan setempat, yang  menarik  jika disimak lebih lanjut.

Setahu saya Lampung dikenal dengan cuacanya yang cukup panas, namun kali ini terasa sejuk, mungkin karena telah memasuki musim hujan. Sesampai di Bandara tersebut, saya segera beranjak menuju terminal bis Rajabasa dengan menggunakan taksi yang memakan waktu sekitar 30 menit menyusuri jalan lintas Sumatra.

Terminal Rajabasa
Naik bis di Terminal Rajabasa

 

Dari cerita yang disampaikan Isal, banyak perubahan sepeninggalnya dari sisi bangunan, situasi Bandara, jalanan, hingga terminal yang menjadi checkpoint kita selanjutnya di Rajabasa, lalu dari penuturan Isal juga, kita harus sesegera mungkin dan bergerak cepat sebelum malam hari sampai di Tulang Bawang karena isu pada ketersediaan angkutan dan waktu tempuh dalam perjalanan nanti. Sesampai di Rajabasa, maka selanjutnya naik bis dengan rute menuju Unit 2 Tulang Bawang dengan perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam.

Setelah beberapa kali tidur-bangun-tidur-bangun lagi :)   akhirnya bis Puspa Jaya yang saya tumpangi sampai juga di Pasar Unit 2. Unit 2 dikenal sebagai pusat perdagangan di sekitar daerah Tulang Bawang dan dikenal sebagai daerah transmigran pada era orde baru dahulu, yang gembar-gembor dalam program transmigrasi penduduk pulau Jawa ke pulau-pulau lainnya, yang menurut saya cukup berhasil dalam pembangunan di Lampung secara keseluruhan.

Oia.. karena isu transmigrasi di Lampung tersebut, maka  iseng-iseng saya googling dan menemukan bahwa program tersebut masih berlangsung, silahkan cek di link Kementrian berikut ya,, jika yang berminat :)    Menurut hemat saya perlu digalakkan kembali program tersebut, dalam hal pemerataan pembangunan nasional dan sekaligus menumbuhkan lapangan kerja baru.

 

Gapura Tulang Bawang

 

Sesampai di Unit 2, maka Isal menghubungi keluarga yang menjadi tempat bernaung selama mengajar di TBB, yaitu Keluarga Pak Tumar untuk konfirmasi mengenai kedatangan kita. Setelah istirahat sejenak dan meluruskan kaki setelah puas duduk selama 4-5 jam di perjalananan bis tadi, maka perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan motor menyusuri jalan pedesaan yang membelah hutan karet di TBB tersebut, perjalanan kali ini untuk mencapai checkpoint terakhir memakan waktu sekitar 20-30 menit hingga ke perumahan keluarga Pak Tumar.

Menyusuri hutan karet TBB

 

Menyusuri hutan karet TBB (2)

 

Udara segar ditambah suasana pedesaaan yang ditemani pepohonan hijau disertai bau karet alam yang pekat, membuat perjalanan kali ini menjadi obat penawar atas racun kemacetan dan suasana sesak-bising-polusi metropolis Jakarta. Alhamdulillah setelah perjalanan panjang dari ibukota, akhirnya sampai juga di rumah keluarga Pak Tumar di TBB dan saatnya untuk beristirahat untuk melanjutkan aktivitas hari-hari kedepannya… dan pas kunjungan di rumah Pak Tumar tersebut, kebetulan ada acara pengajian yasinan, yang ditutup dengan acara makan-makan disertai hidangan kuliner rumahan Lampung. Alhamdulillah, sesuatu banget ya, ada aja ya rejeki  😀

Kumpul warga TBB

 

==

Sumber :