Category Archives: Liputan

ulasan suatu acara (event) yang dikunjungi yang disampaikan dengan model reportase

Indonesia Dalam Infografik

 

Event Indonesia Dalam Infografik
Event Indonesia Dalam Infografik

 

Pada bulan 19 Agustus 2014 yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi event  pembukaan pameran dan peluncurkan buku bertajuk “Indonesia Dalam Infografik”  yang diselengarakan oleh Harian Kompas. Bertempat di Bentara Budaya Jakarta,  Harian Kompas menyelenggarakan event tersebut dalam rangka menyambut perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 69 tahun. Di dalam buku tersebut, termuat 45 karya infografik pilihan dan 8 artikel tentang infografik dari 17 desainer infografik yang pernah diterbitkan di Harian Kompas.

Dalam pembukaan acara tersebut, diselenggarakan diskusi yang menghadirkan beberapa narasumber yaitu Lim Bun Chai selaku desainer infogafik senior Kompas, lalu menampilkan Iwan Meulia Pirous yaitu dosen dan antropolog dari Universitas Indonesia, serta juga tidak ketinggalan hadir pula Dik Doank, sebagai pelaku industri dan desainer grafis.

Lim Bun Chai memaparkan periode awal Harian Kompas dalam penggunaan infografik yang masih dibatasi oleh teknologi dan metodologi dalam desain grafis, termasuk isu di bagian pencetakan. Namun Lim menambahkan bahwa ketika teknologi dan metode yang digunakan semakin  maju dan mudah digunakan, tidak serta merta permasalahan sudah usai, karena tantangannya pun semakin bertambah, yaitu bagaimana data yang tersedia tersebut, bisa disampaikan semakin mudah dimengerti oleh pembaca melalui sebuah infografik yang menarik. Terkait hal tersebut, Iwan Meulia memaparkan semakin berkembangnya teknologi disertai kemudahan dalam akses, serta didukung oleh kebutuhan kita yang menginginkan informasi lengkap yang mudah dan cepat dikonsumsi,  maka perkembangan infografik menjadi tidak terelakkan sebagai sebuah media yang menampilkan informasi secara visual.

Lim Bun Chai pun melanjutkan pemaparan serta memberikan penekanan penting, bahwa dalam pembuatan infografik yang merupakan bagian dari jurnalisme, maka keakuratan data dan fakta menjadi poin penting yang diperhatikan, sehingga kerapkali tim Infografik Harian Kompas berhubungan dengan tim Litbang Kompas maupun sumber terpercaya lainnya terkait akurasi data. Kreativitas dalam memadatkan data dan fakta yang tersedia tersebut pun dibutuhkan, karena infografik adalah salah satu bentuk jurnalisme modern yang memberikan sudut pandang pemberitaan yang berbeda dan ditampilkan dalam bentuk visual yang menarik untuk dinikmati pembacanya.

Dik Doank menuturkan bahwa semenjak kecil kita sebagai manusia lebih dulu kita dikenalkan dan diajarkan untuk menggambar terlebih dahulu, untuk mengekspresikan imajinasi kita, bukan diminta untuk membaca ataupun berhitung. Dalam pembuatan desain rancangan suatu karya, kita diminta untuk membuat gambar rancangan terlebih dahulu, setelah itu baru melakukan pembangunan dari hasil gambar tersebut. Terkait buku “Indonesia Dalam Infografik”, Dik Doank memaparkan pembaca diajak untuk melihat lebih mendalam dengan menyelami langsung informasi yang tersedia dalam bentuk visual, sehingga infografik tersebut sebagai media baru untuk visualisasi suatu fakta dan persitiwa yang terjadi.

Buku Indonesia Dalam Infografik
Buku Indonesia Dalam Infografik

 

Diskusi Indonesia Dalam Infografik
Diskusi Indonesia Dalam Infografik

 

Dalam diskusi buku “Indonesia Dalam Infografik” mendapat beberapa masukan dan tanggapan dari peserta yang menghadiri diskusi tersebut, salah satunya agar menyarankan perilisan edisi berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, dikarenakan kesemua infografik pilihan tersebut menampilkan informasi mengenai Indonesia secara gamblang disertai dengan desain infografik yang menarik, sehingga pembaca asing juga bisa ikut menikmati dan mengapresiasi buku tersebut. Terkait hal tersebut, Lim Bun Chai memaparkan bahwa tim infografik Kompas memang sudah merencanakan hal tersebut dan sedang dalam tahap pengembangan untuk dialihbahasakan ke bahasa Inggris, sehingga dapat menjangkau pembaca berbahasa Inggris.

Lalu tanggapan lainnya, yaitu infografik yang ditampilkan Kompas telah menjadi acuan dalam hal mempresentasikan sebuah informasi visual berdasarkan data dan fakta, serta memiliki gaya yang tersendiri dan khas dalam lingkup infografik Indonesia, khususnya terkait penggunaan infografik pada ranah jurnalisme. Iwan Meulia pun menambahkan bahwa pembuatan infografik selanjutnya bisa semakin mendalam untuk mengangkat informasi mengenai keindonesiaan, contohnya mengenai informasi museum dan budaya Indonesia, yang bisa ditampilkan dalam desain infografik yang menarik.

Lim Bun Chai berulangkali memberikan apresiasi tinggi ke tim Infografik Harian Kompas yang secara disiplin dan konsisten, tanpa melupakan standar acuan yang dimiliki Kompas, termasuk standar dalam hal hasil akhir di  pencetakan, dan tetap bisa menghasilkan karya infografik yang menarik. Lim menambahkan bahwa infografik yang dihasilkan Harian Kompas tidak hanya secara teknis memiliki standar hasil akhir yang baik, namun kreativitas grafis yang dituangkan dalam infografik tersebut patut diapresiasi tinggi.

Saya pribadi cukup puas atas event tersebut, baik dari sisi penyelenggaraan acara, pameran dengan menampilkan infografik terpilih, serta acara diskusi yang memberikan saya wawasan & insight baru mengenai perkembangan dunia jurnalistik terkait  infografik, lalu bagaimana pandangan sebuah harian besar tradisional menanggapi perkembangan jaman dengan gelombang baru penyampaian informasi berupa medium infografik yang disampaikan tetap sesuai dengan kaidah jurnalistik, hingga pandangan dari berbagai narasumber dari desainer, antropolog, jurnalis, hingga tim infografik Kompas sendiri.

Tim Infografik Kompas
Tim Infografik Kompas

 

Sebuah persembahan Harian Kompas Untuk Indonesia
Sebuah persembahan Harian Kompas Untuk Indonesia

 


Tautan Luar :

  1. Situs Harian Kompas : http://print.kompas.com/
  2. Situs Indonesia dalam Infografik : http://idinfografik.com/
  3. Akun Twitter Indonesia Dalam Infografik : https://twitter.com/idinfografik
  4. Situs Bentara Budaya : http://www.bentarabudaya.com/

– Artikel ini juga hadir di Portal Indonesia Kreatif (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) = http://news.indonesiakreatif.net/infografik-kompas/

 

Kisah Sukses Game “Tebak Gambar” menembus 1 Juta Unduhan

 

Game 1 juta unduhan
Game 1 juta unduhan

 

Siapa yang jaman sekarang tidak bermain game? Bermain game yang merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan ketika ada waktu senggang dan sekaligus salah satu media hiburan yang digemari. Dengan semakin meluasnya penggunaan smartphone dan berkembangnya ekosistem technopreneur di Indonesia, maka bermunculan produk game kreatif hasil karya anak bangsa. Pada ajang pertemuan yang diselenggarakan Games In Asia bekerjasama dengan Ciputra GEPI Incubator, kali ini menampilkan kisah sukses pelaku industri game Indonesia, yaitu pengembang game berjudul Tebak Gambar.

Ciputra GEPI Incubator mendukung perkembangan industri digital Indonesia
Ciputra GEPI Incubator mendukung perkembangan industri digital Indonesia

Bertempat di Ciputra GEPI Jakarta pada bulan Agustus ini, saya berkesempatan dapat menghadiri meet up dan bisa bertemu Irwanto Widyatri sebagai founder dan pengembang Tebak Gambar yang membagikan pengalaman bagaimana pengembangan sebuah game yang awalnya dibuat di kamar kosnya ketika masih kuliah, memiliki tim yang terlibat dalam pengembangan game, hingga mencapai prestasi 1 juta unduhan di Google Play Store untuk perangkat Android.

Sejarah 

Irwanto menuturkan ide pembuatan game tersebut berawal dari kebiasaannya menjelajah berbagai macam thread unik di internet, khususnya di forum Kaskus mengenai topik game, yang akhirnya menemukan seorang desainer dari Surabaya yang membuat desain gambar berupa permainan menebak susunan gambar. Dari penelusuran dan komunikasi intens dengan desainer tersebut, mereka pun setuju bekerja sama dalam pengembangan game, lalu pada akhirnya menjadi cikal bakal dari desain game Tebak Gambar tersebut.

Irwanto menyampaikan game tersebut pada awalnya didesain dan dikembangkan sebagai permainan asah otak ringan yang menampilkan teka-teki berupa susunan gambar, yang bisa dimainkan kapan pun dan dimana pun oleh gamer. Dari susunan gambar tersebut akan membentuk sebuah kosa kata yang harus ditebak oleh gamer bersangkutan.

1 juta unduhan untuk Tebak Gambar
1 juta unduhan untuk Tebak Gambar

 

Irwanto Widyatri founder Tebak Gambar
Irwanto Widyatri founder Tebak Gambar

 

Pengembangan

Irwanto kemudian menjelaskan tahapan pengembangan Tebak Gambar yang pada awal diluncurkan di platform Android karena dia sendiri sebagai pengguna gadget Android, selain itu Irwanto menuturkan bahwa sudah mengetahui prilaku dan karakterisitik pengguna Android dari kehidupan sehari-hari dan riset yang pernah dia lakukan ketika menelusuri internet, selain itu, Irwanto menambahkan, bahwa Android tergolong platform mudah dikembangkan serta memiliki resources yang mudah didapatkan dan dipelajari untuk pemula yang mau mengembangkan berbagai macam aplikasi dan game.

Pada tahap selanjutnya, setelah perkembangan yang cukup menggembirakan dari Tebak Gambar di platform Android, melalui media sosial, Irwanto mengetahui ternyata banyak pengguna dari platform lain yang meminta dibuatkan game tersebut agar bisa dimainkan di iPhone dan platform iOS lainnya. Karena tidak memiliki kemampuan dalam pengembangan di platform iOS, maka Irwanto menganggap hal tersebut sebagai tantangan dan membuat dirinya terpacu. Karena permintaan pengguna yang semakin besar, Irwanto memutuskan mencari partner pengembangan di platform iOS dari jaringan pertemanan yang telah dibinanya, begitu pula ketika pengembangan Tebak Gambar di platform Windows. Irwanto menambahkan bahwa faktor networking dan kolaborasi dengan pihak lain menjadi sangat penting bagi pengembang individu seperti dirinya, terutama diperlukannya pengembangan diluar kemampuan platform yang dikuasainya, sehingga selanjunya agar mencari partner yang cocok dan memiliki kesamaan pandangan pada pengembangan game tersebut, karena Irwanto berkeinginan Tebak Gambar ingin terus dikembangkan lebih lanjut, sehingga maintainance jangka panjang game tersebut mutlak dilakukan, untuk memuaskan para pengguna game Tebak Gambar.

Game Tebak Gambar
Game Tebak Gambar

 

Tebak Gambar di posisi No. 7 Top Free Games Play Store
Tebak Gambar di posisi No. 7 Top Free Games Play Store

 

Pemasaran

Dalam perkembangan selanjutnya, Irwanto bersama tim memilki dua isu krusial yang dihadapi terkait pengembangan dan keberlangsungan game Tebak Gambar tersebut. Isu yang dimaksud yaitu apa tim pengembang berfokus mendapatkan keuntungan dari game Tebak Gambar tersebut, yaitu dari sisi monetisasi Tebak Gambar, atau fokus pada peningkatan jumlah unduhan terlebih dahulu. Setelah berdiskusi dengan berbagai pihak terkait, akhirnya Irwanto memutuskan untuk fokus pada peningkatan pada jumlah unduhan di Google Play Store. Irwanto menjelaskan kenapa akhirnya diputuskan pada fokus pada peningkatan unduhan baru selanjutnya memikirkan faktor monetisasi Tebak Gambar, karena dengan adanya jumlah unduhan yang mumpuni, maka pengembang tersebut memiliki bukti kualitas game tersebut. Sehingga dengan fakta mengenai jumlah unduhan tersebut, serta tumbuhnya komunitas gamer Tebak Gamer yang berinteraksi di media sosial, misalkan di Facebook Fan Page Tebak Gambar dan menyatakan kepuasannya dalam bermain game tersebut, Irwanto berkeyakinan dapat membantu sisi monetisasi dari game yang dikembangkannya tersebut kedepannya.

Irwanto pun membagi beberapa tips terkait pemasaran game-nya, salah satunya dengan menjalin hubungan dan melakukan komunikasi intens dengan pihak media, karena terbukti dengan diulasnya Tebak Gambar di beberapa media, bahkan media ternama, terdapat lonjakan cukup signifikan dari jumlah traffic dan unduhan setelah ada ulasan dari pihak media tersebut. Selain itu, Irwanto menambahkan bahwa melakukan pendekatan dengan beberapa pemilik akun media sosial dan komunitas tertentu untuk melakukan cross promotion, berupa kuis tematik dan iklan, sehingga Tebak Gambar dapat dikenal dan pada akhirnya diunduh oleh pengguna tersebut.

 Dan Irwanto menyampaikan di penghujung acara, bahwa untuk bisa menjalankan strategi pemasarannya dan mencapai 1 juta unduhan tersebut, bersama timnya telah membangun game yang baik sehingga digemari penggunanya, melakukan maintenance game dengan memberikan update terbaru secara berkala, lalu membangun sebuah landing page, sehingga membantu promosi ke pihak eksternal, khususnya media, berupa press release, informasi terkait game, hingga trailer game tersebut.

 

Landing Page Tebak Gambar
Landing Page Tebak Gambar

 


 

 

Simak ulasan (review) game  terbaru disini : Star Wars Commander


 

Tautan luar :

  1. Situs Resmi Tebak Gambar : http://tebakgambar.com/
  2. Facebook Fan Page Tebak Gambar :  https://www.facebook.com/TebakGambarOfficial
  3. Twitter Tebak Gambar : https://twitter.com/tebakgambar_ID
  4. Situs GEPI Incubator : http://www.gepindonesia.org/
  5. Portal Games In Asia : http://www.gamesinasia.com/
  • Artikel ini juga hadir di Portal Indonesia Kreatif (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) =  http://news.indonesiakreatif.net/tebak-gambar

Tautan game Tebak Gambar :

  1. Android : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.tebakgambar
  2. iOS : https://itunes.apple.com/id/app/tebak-gambar/id856205277
  3. Windows Mobile : http://apps.microsoft.com/windows/en-us/app/2c561622-c72e-43f2-8dd0-b5a7e78a48f2

 

Pertunjukan Wayang Listrik “Penculikan Sita”

Pada Juli 2014 kali ini, bertempat di Galeri Indonesia Kaya Jakarta, diselenggarakan pertunjukan wayang listrik yang dipentaskan oleh Sanggar Paripurna. Galeri Indonesia Kaya yang mempunyai komitmen untuk terus memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia ke khalayak umum, khususnya generasi muda Indonesia, dengan mendukung salah satunya pertunjukan seni budaya berupa pertunjukan wayang listrik tersebut.

Kali ini saya berkesempatan  menyaksikan Sanggar Paripurna dikelola oleh I Made  Sidia yang dikenal sebagai seniman wayang dan kareografer asal Gianyar Bali, menampilkan lakon dari penggalan epos Ramayana yaitu kisah penculikan Dewi Sita.

Pementasan Wayang Listrik
Pementasan Wayang Listrik

 

Rama dan Sita
Rama dan Sita

 

Pementasan penculikan Dewi Sita ini diawali dengan kisah Sri Rama meninggalkan negeri Ayodya untuk mengasingkan diri ke hutan bersama istrinya Sita ditemani oleh para pembantu setianya, untuk mencari kedamaian serta menghindari adanya perpecahan dan perang  di negerinya.

Lalu selanjutnya bersama pembantu setianya Rama tinggal di hutan, serta dalam kesehariannya Rama menyusuri pelosok hutan tersebut  dan menyaksikan begitu indahnya hutan, yaitu adanya berbagai macam pepohonan nan asri dan menyejukkan jiwa, yang ditinggali berbagai jenis hewan di hutan tersebut, sehingga Rama merasakan kedamaian dan menjadi betah tinggal di hutan tersebut.

Rama beserta para pembantunya
Rama beserta para pembantunya

 

Penghuni hutan
Penghuni hutan

 

Keberadaan Rama dan Sita di hutan tersebut diketahui oleh para pembesar negeri Alengka, sehingga mengundang keinginan Raja Rahmana  penguasa negeri Alengka untuk merebut dan menculik Sita. Rahmana yang terbuai dengan kecantikan Sita, mencari cara untuk merebut Sita dari tangan Rama. Untuk merebut Sita tersebut, Rahmana memerintahkan Maha Patihnya berubah menjadi seekor kijang emas yang mempesona untuk menarik Sita.

Adanya seekor kijang emas di hutan diketahui oleh Sita, sehingga memunculkan keinginan Sita untuk memiliki dan merawatnya. Mengetahui keinginan Sita tersbeut, Rama akan menangkap kijang emas tersebut untuk membahagiakan Sita. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Rahmana untuk menculik Sita, dengan merubah dirinya menjadi kakek tua untuk menimbulkan rasa iba Sita, dan Sita mau menolong kakek tersebut. Dan pada akhirnya Sita yang menolong kakek tua tersebut tertipu akal muslihat Rahmana, sehingga Sita diboyong ke Alengka oleh Rahmana.

Wayang Listrik
Wayang Listrik

 

Ketika pencarian kijang emas sedang dilakukan oleh Rama, Rama mengetahui Sita diculik oleh Rahmana, maka Rama memerintah para pembantunya untuk mencari Sita ke negeri Alengka. Dan menariknya dalam pementasan tersebut dibumbui oleh kisah perjalanan para pembantunya melewati negeri lainnya, yang digambarkan melewati negeri yang berbeda dan adanya sebuah kota metropolis yang modern serta sudah dipenuhi hutan beton, macet, kotor, dan orang-orangnya tidak baik, serta memberikan pesan bahwa hutan yang ditinggali Rama lebih baik, karena tetap menjaga kelestarian alam dan kebaikan sikap penghuninya.

Disisi lain, dikisahkan pula, yang diketahui oleh Rama dan para pembantunya mengenai keinginan Rahmana akan membersihkan hutan di negerinya dengan memotong sebagian besar pepohonan untuk merubahnya menjadi toliet paper melalui industriliasasi untuk dijual dan dipasarkan, agar bisa mendapat keuntungan besar dari industri tersebut. Akibat ulah Rahmana tersebut, kelestarian alam menjadi terganggu akibat keinginan penguasa yang hanya mencari keuntungan besar sesaat, namun melupakan kepentingan jangka panjang.

Akhirnya para pembantu Rama bisa menemukan Sita kemudian mengabari Rama perihal tersebut. Lalu Rama pun menuju Alengka untuk menyelamatkan Sita, serta memberi pelajaran pada Rahmana atas berbagai sikap buruknya tersebut. Kisah pun mencapai puncaknya, saat terjadinya pertarungan antara Rama melawan Rahmana yang monumental, hingga Rahmana pun mengalami kekalahan akibat kesaktian Rama yang mandraguna. Kisah pun ditutup dengan kembli bersatunya Rama dan Sita untuk hidup kembali di hutan nan asri tersebut.

Rama dan Sita bertemu kembali
Rama dan Sita bertemu kembali

 

Pementasan wayang listrik ini tidak hanya disertai dengan cerita yang penuh pesan moral yang mendalam khas cerita pewayangan tradisional, yaitu kekuatan orang baik pada akhirnya tetap menang atas kekuatan orang jahat, namun juga disusupi oleh cuplikan sepotong kisah lainya, yaitu pada bagian penceritaan perjalanan pembantu Rama dan ulah Rahmana melakukan industrilisasi dengan memberangus hutan, terdapat pesan untuk tetap dapat menjaga kelestarian alam dan jangan terbawa nafsu untuk keuntungan sesaat dengan melupakan kepentingan jangka panjang.

Seperti yang disampaikan oleh I Made Sidia dari Sanggar Paripurna setelah pementasan, bahwa pementasan wayang listrik tetap berkomitmen menyampaikan cerita pewayangan tradisional yang sarat pesan moral, serta membedakan dengan pementasan wayang lainnya, sesuai namanya yaitu wayang listrik, maka Sanggar Paripurna menampilkan pementasan didukung oleh peralatan listrik, yaitu penggunaan efek digital dan variasi pencahayaan yang unik dalam pementasan tersebut, sehingga khalayak umum menjadi tertarik menonton dan mengikuti kisah pewayangan, sekaligus memiliki pengalaman menonton wayang yang berbeda.

Sanggar Paripurna
Sanggar Paripurna

 

Penonton wayang listrik
Penonton wayang listrik

 

Pementasan wayang listrik yang unik dan berbeda tersebut disaksikan baik penonton dalam maupun luar negeri, serta banyak diantaranya merupakan generasi muda Indonesia yang tertarik menonton pementasan wayang, serta mendapat apresiasi positif berupa respon tertawa atas celetukan dialog yang lucu dari dalang dan tepukan tangan yang membahana pada penutupan pementasan di Galeri Indonesia Kaya tersebut. Hal yang dilakukan tersebut merupakan angin segar dalam pementasan wayang, sehingga kedepannya secara umum dapat mendukung industri ekonomi kreatif Indonesia, dan khususnya sektor seni pertunjukan menjadi tumbuh berkembang dan lebih baik lagi, serta semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

 


Tautan Luar :

  1. http://sanggarparipurna.wordpress.com/
  2. http://www.indonesiakaya.com/

 

Jambore Street Photography Indonesia 2014

 

Pada bulan Juni 2014 ini, penggiat fotografi Indonesia khususnya penggemar street photography, diramaikan oleh acara tingkat nasional, yaitu Jambore Street Photography Indonesia yang pertama kali diadakan, melibatkan 7 komunitas street photography, 12 kelompok fotografi regional dari dalam negeri, dan 9 kelompok fotografi regional dari luar negeri yang berkolaborasi dalam acara ini. Komunitas street photography yang terlibat di antaranya adalah Side Walkers Asia (sidewalkers.asia), Bingkai Ruang Publik (Biru), Photobook Club, Indonesia Street [Mobile] Photograpie (ISTRIE), Streetbanditos, Street Photography Purwokerto (SEPUR), dan Tuban Street Photography.

 

 

Jambore Street Photography Indonesia berlangsung dari 7 Juni sampai 25 Juni 2014, bertempat di daerah bilangan Kemang, yaitu di Pannafoto Institute Jakarta, yang menggelar pameran, seminar, dan lokakarya yang membahas mulai dari perkembangan street photography di Indonesia hingga pembahasan teknis mengenai penyuntingan foto terkait street photography.
Jambore Street Photography Indonesia dibuka oleh sambutan dari Halbet Cahyadi Putra, selaku ketua panitia dari Jambore Street
Photography Indonesia 2014.

“Acara Jambore Street Photography Indonesia ini bertujuan untuk mempresentasikan seluruh karya Street Photography dari Indonesia dalam sebuah kegiatan dan wadah”, ungkap Halbet Cahyadi Putra, ketua dari JSPI 2014 pada pembukaan acara tersebut . Halbet menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan sebagai wadah silahturahmi sesama pegiat street photography di seluruh Indonesia dan mengenalkan street photography kepada masyarakat umum.

Lalu selanjutnya acara diisi dengan pembukaan pameran foto serta pemaparan rekam jejak street photography di Indonesia oleh Nina Masjhur terkait Klik Fotografi – Kelompok Fotografi Jalanan, sebagai salah satu pelopor street photography di Indonesia. Kemudian acara dilanjutkan ramah tamah dari berbagai komunitas yang terlibat dalam Jambore Street Photography Indonesia.

 

 

Lalu pada 14 Juni 2014, Jambore Street Photography Indonesia diisi Lokakarya dengan materi mengenai bagaimana membaca foto, yang disampaikan oleh Suryo Gumilar, seorang fotografer dan salah satu penggiat street photography di Indonesia yang tergabung dalam komunitas Side Walkers Asia. Suryo Gumilar menyatakan konteks dalam suatu proses fotografi merupakan hal yang perlu diperhatikan, karena mempunyai pengaruh dalam pembacaan suatu hasil karya fotografi tersebut.

Kemudian pada Lokakarya sesi selanjutnya disampaikan oleh Ridzki Noviansyah, salah satu Co-Founder dari Jakarta Photobook Club, berupa materi bagaimana menyunting foto yang bercerita. Kegiatan menyunting foto kali ini bukan kegiatan menyunting dengan perangkat lunak untuk olah digital, namun kegiatan untuk memilih, menyeleksi dan menyusun foto-foto berdasarkan sebuah tema, gagasan atau cerita, sehingga menjadi sebuah karya fotografi. Ridzki Noviansyah menyampaikan gagasan alternatif yang menarik, yaitu sebaiknya pelaku fotografi khususnya penggiat street photography di Indonesia, membuat konsep cerita terlebih dahulu, baru kemudian melakukan blusukan untuk melakukan proses pembuatan foto tersebut, dan selanjutnya menyeleksi serta menyusun foto-foto berdasarkan konsep cerita yang telah disusun sebelumnya.

 

 

Selama Lokarya tersebut, terlihat peserta antusias berperan serta dalam proses diskusi dan praktek, sehingga lokakarya berjalan santai, penuh gelak tawa, dan berjalan lancar. Seperti yang disampaikan oleh Ridzki Noviansyah, bahwa penyusunan foto yang bercerita tersebut perlu dilakukan, tidak hanya berfokus pada sebuah foto tunggal, sehingga memberikan alternatif dalam proses kreatif penggiat street photography.

Dengan suksesnya Jambore Street Photography Indonesia yang pertama kali ini, yaitu berkumpul semua penggiat street photography yang terlibat, kemudian adanya pameran foto yang menghasilkan street photography berkualitas tinggi, serta antusiasme peserta dalam lokakarya yang diselenggarakan, diharapkan kedepannya penggiat street photography dapat menghasilkan karya fotografi yang lebih baik dan menjadi salah satu pilar pendukung penting dalam pengembangan industri kreatif Indonesia di bidang fotografi.

Tautan Luar :

– http://jamborespi.com/tentang-jspi/

– Foto : Halbet Cahyadi Tim JSPI, Ardika Percha

– Artikel ini juga hadir di Portal Indonesia Kreatif (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) =  http://news.indonesiakreatif.net/jambore-street-photography-indonesia-2014-diadakan

 

Social Media Festival 2013

Panggung & Pembicara 1

Pada bulan Oktober 2013 yang lalu, para penggiat komunitas hingga pengguna social media seperti Twitter, Facebook hingga Instagram berkesempatan datang ke event fenomenal untuk pecinta social media Indonesia, yaitu Social Media Festival. Seperti yang disampaikan di rilis resminya di situs resmi Social Media Festival 2013 Social Media Festival adalah event tahunan yang sudah diadakan sejak tahun 2011 dan Social Media Festival telah menjadi panggung bagi komunitas, usaha rintisan (startup) di bidang teknologi, dan gerakan social media untuk berkegiatan secara offline dengan diisi  berbagai kegiatan dari gathering, meet up, workshoptalkshow, pertunjukan musik, hingga bazaar.

behind the scene

Social Media Festival tahun ini dilaksanakan pada 12-13 Oktober 2013 di fX Sudirman Jakarta, digawangi oleh Provetic, Hello Motion, dan Trenologi, hadir dengan tema yang provokatif, “We Dare to Share”, yang akan menguji keberanian dan ketahanan dari segenap entitas Social Media Indonesia dengan konsep acara 24 jam non stop, serta menjadi kegiatan offline Social Media pertama di Indonesia yang menggunakan konsep 24 jam event, sesuai salah satu  keunggulan media satu ini, yaitu media sosial yang bisa diakses dan digunakan kapan saja selama 24 jam.

socmedfest 1
jepret-jepret di Social Media Festival
Acara ini diramaikan oleh paling tidak 106 komunitas dan 9 perusahaan rintisan digital (startup), yaitu di antaranya adalah komunitas Change.Org Indonesia, ID_AyahASI, Indonesia Berkebun, the Museum Project, MindTalk, dan banyak komunitas lainnya.
socmedfest 2

Di event ini pengunjung dapat bertemu selebtwit seperti mas Shafiq Pontoh sang penggiat komunitas sekaligus panitia Social Media Festival serta bang Wahyu Aditya yang dikenal dengan Hellomotion-nya, kali ini selaku ketua panitia Social Media Festival tahun 2013, serta banyak juga selebriti dunia maya lainnya, yang ikut meramaikan festival kali ini, yang bisa digunakan untuk saling berdialog dan berdiskusi secara tatap muka langsung.

Salah satunya yang menarik perhatian, ada beberapa komunitas yang menyediakan properti unik seperti dari komunitas Change Indonesia yang menyediakannya, agar pengunjung berkesempatan untuk berfoto memakai properti tersebut dan sebagai ajang promosi komunitas dengan menyampaikan message positif melalui properti tersebut. Sebagai informasi, komunitas change.org merupakan sebuah wadah gerakan perubahan berdasarkan petisi online dengan menarik simpati dan memberikan dukungan via dunia maya di situs tersebut.

change, peace, victory
minum untuk perubahan lebih baik

Lalu yang menarik perhatian selain booth & stand dari komunitas tersebut, yang menjadi ajang kopi darat, diskusi, berkenalan, bersosialisasi tatap muka, juga ditemui beberapa pengunjung & peserta “ber-cosplay ria” seperti zombie-zombie (dari komunitas Zombie Indonesia) berkeliaran mencari korban di area Social Media Festival atau ada aksi “teatrikal” seorang yang sedang melakukan yoga ditengah ramainya kerumunan festival ini!!

zombie 1
zombie 2
zombie duduk manis
semedi or yoga or…

Selain keriuhan tadi, juga diramaikan dengan berbagai games dan quiz dadakan di arena Social Media Festival, sehingga pelaku quiz hunter or gratisan hunter bakalan ‘terhibur’  dengan hadiah bertebaran pernak-pernik & merchandise dari berbagai komunitas maupun sponsor tersebut

Serta tentunya juga di event ini dipenuhi oleh berbagai ajang diskusi dengan narasumber kompeten yang berbagi informasi dari isu pengembangan komunitas hingga topik-topik teknis yang tersedia di workshop. Untuk tema dan jadwal acara lebih detailnya, dapat mengunjungi halaman Facebook Social Media Festival

siapa yang mau jawab??
panggung & pembicara 2

Dari gaung dunia maya dan pengunjung ke festival ini, yang mampu mengumpulkan puluhan hingga 100 lebih komunitas, serta antusias penggiat social media serta pengunjung yang tumplek blek di fX Sudirman, bisa dilihat festival telah berlangsung sukses.

Dengan adanya festival ini tidak hanya bertemu, bersosialisasi, & bertatap muka, namun juga sebagai media pembelajaran dengan adanya berbagai talkshow dan workshop terkait media sosial tersebut, untuk mendukung dan bahkan meningkatkan kualitas hidup, serta memajukan komunitas dan pengguna social media di Indonesia.

Dan Social Media Festival 2013 terkahir ini ditutup pidato dari panitia penggiat Social Media Festival dan disertai hiburan dari Project Pop, yang menambah keriuhan serta menjadi puncak acara seremonial dari penutupan festival ini.

Semoga Social Media Festival yang terakhir ini bisa diserap serta dipelajari energi positifnya, dan dapat bermutasi menjadi bentuk lainnya, menjadi lebih baik lagi, serta lebih memajukan Indonesia secara progresif, dan menjadi salah satu pilar pendukung penting dalam pengembangan industri kreatif Indonesia di bidang teknologi informasi.

Project Pop 1
Project Pop 2
Tika meluk Shafiq!!
saatnya foto-foto Project Pop
closing ceremony

Sumber :

  1. http://socmedfest.org/about/
  2. http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/digelar-24-jam-non-stop-social-media-festival-resmi-dibuka

Compfest UI 2013

 

Pada bulan lalu saya berkunjung ke salah satu event IT tahunan di Kampus UI Depok untuk mengetahui perkembangan teknologi IT dari sudut pandang mahasiswa UI serta apa yang akan jadi topik atau tema IT yang menarik saat ini. Sebelumnya saya juga pernah datang pada event ini di tahun 2009, dan pernah saya bahas pada artikel saya di  Computer Festival UI 2009.

Seperti yang disampaikan pada rilis resmi di situs CompFest, Computer Festival merupakan one-stop IT event tahunan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang terdiri atas rangkaian kompetisi, roadshow, seminar, playground, dan entertainment.

 

CompFest UI tahun 2013 memiliki tema “Facing National Development Towards Innovation and Collaboration – FANTASTIC” yang bertujuan untuk memacu dan meningkatkan kolaborasi antar akademisi, lembaga pemerintahan, perusahaan, start-updeveloper, dan komunitas agar mendapatkan hasil inovasi terbaik untuk kemajuan IT di Indonesia.

Berikut beberapa aktivitas di event CompFest UI 2013 yang saya dokumentasikan :

 

1. riuh ramai – startups

2. riuh ramai – startups part 2

3. riuh ramai – academics & communities

4. finalis kompetisi 

 

5. i`m @ Compfest

 

6.  katakan cinta versi compfest ?!?!

7.  sudut penukaran poin : gosip girls

8.  sudut penukaran poin : tebar merchandise

9.  narsis compfest

10. area luar compfest

11.  sang maskot compfest

12.  spot nyaman

13.  sang biduan 

14. the show

15. menunggu momen

16. penunggu tribun 

17.  tim hore-hura

18. sang ketua panitia yang berkacamata

Sumber :

http://compfest.web.id/

 

Festival Gerakan Indonesia Mengajar

 

Pada Sabtu 5 Oktober yang lalu, bertempat di Ecovention Hall Ancol, saya berkesempatan mengikuti dan berpartisipasi dalam acara sosial bertajuk Festival Gerakan Indonesia Mengajar  dengan tujuan mendukung gerakan pemberdayaan dan memajukan pendidikan anak-anak Indonesia. Festival ini merupakan salah satu inisiatif yang diprakarsai oleh gerakan Indonesia Mengajar, yaitu sebuah gerakan pemberdayan pendidikan dari, oleh, dan untuk anak muda Indonesia. Seperti yang dituturkan oleh Indonesia Mengajar dalam rilis resminya, yaitu disarikan sebagai berikut :

 “Indonesia Mengajar meyakini bahwa kehadiran putra-putri terbaik Indonesia sebagai guru akan ikut mendorong peningkatan kualitas pendidikan kita. Melalui Indonesia Mengajar, para calon pemimpin memiliki kesempatan mengembangkan pemahaman akan akar rumput Indonesia, yang beraneka ragam dan memiliki persoalan-persoalan yang juga kompleks. Indonesia Mengajar memfasilitasi para guru tersebut (disebut Pengajar Muda ) untuk tinggal, hidup dan belajar dari masyarakat setempat selama  satu tahun. Mereka bekerja di sekolah dasar dan tinggal di rumah penduduk bersama keluarga baru mereka. Tantangan, hambatan dan segala pengalaman akan membentuk karakter kepemimpinan sekaligus merajut tenun kebangsaan yang lebih kokoh”

jika ingin tahu lebih lanjut mengenai Indonesia Mengajar, cekidot link situs ini  siapa tahu berminat dan ingin berpartisipasi lebih lanjut menjadi Pengajar Muda..     Oke masbro & mbaksis.. kita kembali ke Festival Gerakan Indonesia Mengajar  :)  Ayo #KerjaBakti

 

Untuk saya pribadi, yang dahulu suka beraktivitas di berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kegiatan sosial  (dan menjadi (sok) aktivis :) haha)  konsep dari festival ini menurut saya cukup orisinal dan fresh, yaitu membuat suatu konsep  acara yang sesuai dengan filosofi kehidupan kita sebagai orang Timur, khususnya orang Indonesia yang (sebenarnya) suka kerja bakti serta gotong royong dalam membantu sesama.

Daaann hasilnyaaa di festival ini, tuumpaah ruuaah.. tumplek blek!! terlihat ketika saya mulai dari pagi hari, yaitu semenjak dari pintu masuk Ancol, dalam perjalanan, hingga memasuki pintu masuk festival ini, serta ketika sudah didalam gedung tersebut, terlihat sudah ribuan orang telah datang dan meramaikan festival ini dari berbagai kelompok, institusi, individu, keluarga, kampus… semua orang berpartisipasi dalam Festival Gerakan Indonesia Mengajar ini!!  haha #lebay 😀

Filosofi #KerjaBakti dan gotong royong yang Indonesia banget, dipadu dengan konsep permainan #KerjaBakti yang menurut saya seperti #KerjaBakti dalam suatu wahana-wahana permainan tersendiri, yang dimainkan baik secara individu dan sebagian besar diarahkan bermain dilakukan secara berkelompok, sehingga setiap wahana kita berkesempatan bermain dengan orang yang berbeda serta dibuat acak. Dengan bermain secara kelompok tersebut, kita bisa saling mengenal relawan-relawan lain, sehingga terjalin jejaring relawan, lalu bisa berdiskusi, mendengar kisah dan cerita lucu seru mereka, sekaligus saling bekerja sama dalam wahana-wahana permainan tersebut. Berikut wahana permainan yang ada di Festival Gerakan Indonesia Mengajar :

Saya pribadi suka bermain dalam permainan dan berkompetisi, sehingga #KerjaBakti tersebut saya anggap seperti wahana permainan, dan ada beberapa wahana permainan yang mengharuskan kita saling berlomba paling cepat, paling lengkap, paling baik, dan paling kreatif dibandingkan dengan kelompok lainnya, dibantu serta difasilitasi oleh pihak panitia melalui fasilitator wahana tersebut.

Jika kita bisa menyelesaikan suatu permainan tersebut, maka akan mendapatkan semacam badge berupa stiker-stiker yang ditempelkan di name tag kita masing-masing sebagai recognition atas kerja bakti ini.. lucu juga yaa konsep badge ini sebagai suatu reward and recognition-nya menurut saya  :)

 

Dari acara festival ini, saya pribadi mendapat semacam insight, bahwa diluar sana masih banyak individu, kelompok, institusi, dan banyak orang yang (masih) peduli serta mau berbuat dan berbagi untuk sesama (diluar pemahaman dan pengetahuan saya untuk motif serta agenda masing-masing peserta relawan tersebut, yang berkontribusi di festival ini), serta masih banyak orang diluar sana yang (masih) berpikir optimis dan positif untuk (pendidikan) Indonesia.

Untuk saya, festival ini bisa menjadi semacam wadah, tempat berkumpul, rumah untuk melakukan sebuah aksi nyata, sebuah aktualisasi diri untuk membantu sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.. langkah dan aksi kecil  yang saya lakukan ini, (mungkin) kurang berdampak, namun jika dilakukan serentak dan dilakukan secara masif-massal seperti yang dilakukan di Festival Gerakan Indonesia Mengajar untuk Indonesia yang lebih baik, maka menurut saya dapat memberikan efek domino dan dampak yang luar biasa, serta membuat saya pribadi menjadi lebih optimis dan berpikir positif, tidak hanya untuk Indonesia, namun kehidupan saya sendiri.

Festival Gerakan Indonesia Mengajar menurut saya bisa menjadi pintu gerbang baik setiap individu maupun institusi yang terlibat untuk berbuat lebih banyak lagi di masa depan, yang berawal dari ajang kerja bakti dan gotong royong di festival ini, untuk dapat berjejaring serta bekerja sama dan berdiskusi lebih lanjut, serta membuat inisiatif berupa kegiatan maupun program lain di masa depan, untuk mendukung pemberdayaan masyarakat Indonesia di bidang, minat dan kemampuan masing-masing, sehingga festival ini dapat menjadi pendorong serta katalisator untuk kegiatan yang bersifat kolaboratif selanjutnya di masa depan.

Selain itu, untuk saya pribadi.. event, acara, kegiatan seperti ini, bisa membuka mata saya kembali dan dengan mengkutip quotes terinspirasi dari Festival Gerakan Indonesia Mengajar yaitu sbb :

“Berhenti mengeluh tidaklah cukup.

Berkata-kata indah dengan penuh semangat juga tidak akan pernah cukup.

Lakukan aksi nyata.

SEKARANG!!”

 

TERIMAKASIH untuk fasilitator, panitia, dan relawan, serta semua pihak yang terlibat dalam Festival Gerakan Indonesia Mengajar.

Sumber :

1. http://festival.indonesiamengajar.org/

2. https://indonesiamengajar.org/

Pop Con Asia 2013 : pameran untuk industri kreatif Indonesia

 

Pada bulan Juli lalu di Senayan Jakarta, setelah mendapat info dari teman & kabar dari media sosial, saya berkesempatan untuk mengunjungi yang katanya event pop culture yang bakalan gede-gedean berisi berbagai both &  showcase dari industri kreatif Asia khususnya Indonesia, dari komik, games, anime, film, hingga musik & mainan.

 

Dengan segala keriuhannya, saya sudah terhibur daengan aura kreatif yang muncul, baik dari desain both yang unik, barang yang dipajang, orang & komunitas yang ramah, & lucu pada beberapa pengunjung yang datang ber-cosplay, hingga alunan musik khas kartun.. khas anime 😀

beberapa yang “ber-cosplay” dari yang “standar” hingga yang sifatnya “ekstrem” namun semua keramaian tersebut, menambah riuh ramainya acara, seperti cosplay mahluk bersarung batik, cosplay dengan seragam militer dengan senapan otomatisnya, hingga ber-zombie seperti serial Walking Dead hahaha 😀

 

yang membuat saya cukup terkejut bin surprise, banyak pengembang games & kartunis dengan berbagai merchandisenya, saya juga sempat ngobrol & mencoba beberapa games buatan developer dari studio games lokal maupun dari beberapa distributor games yang memasarkan games asing ke pasar lokal.

 

 

Event seperti ini menurut hemat saya terus digalakkan, agar perkembangan industri Indonesia kreatif dapat diketahui oleh masyarakat umum, sehingga lambat laun dapat menjadi raja di negeri sendiri ditengah serbuan global.

 

 

Computer Festival UI 2009

Sabtu lalu, saya berakhir pekan di Depok, yang saya sempatkan untuk berkunjung ke Computer Festival UI 2009 yang diselenggarakan oleh mahasiswa Fasilkom UI. Sebelum memperhatikan dengan detil, saya pikir akan seperti “another computer expo” yang isinya jualan komputer beserta segala atributnya, namun ternyata berisi pameran dari komunitas-komunitas TI dan dibumbui oleh sesi acara bincang-bincang dan diskusi. Dilihat dari konsep acaranya lumayan orisinil, yaitu mengumpulkan komunitas terkait dunia Teknolgi Informasi di Indoensia, seperti MUGI (Microsoft User Group Indonesia), KPLI Linux, Mac User Indonesia, MySQL Indonesia, UI Robotics Team, komunitas open source, dan komunitas lainnya.

Tokoh-tokoh yang datang saya pikir cukup mumpuni dari Depkominfo, Depdiknas, Rekorat UI, Telkom, MUGI, Microsoft, Sun Microsystem, Ilmukomputer.com, serta ahli lainnya. Dari acara tersebut banyak terdapat stand-stand dari komunitas tersebut, seperti Mac User Indonesia, KPLI Linux, MUGI, maupun Web-Net contohnya, seperti hasil jepretan kamera saya dibawah ini.

Dalam pameran tersebut juga dipamerkan hasil pengembangan aplikasi dan sistem dari hasil karya sivitas akademika Fasilkom UI, dari aplikasi sederhana seperti quiz, bulletin board, hingga aplikasi canggih seperti aplikasi pemodelan 3D, SIAK-NG yang merupakan sistem akademik yang digunakan UI, aplikasi manufaktur hingga program permainan (games).

Di pameran tersebut juga diadakan kompetisi dalam pengembangan robot, yang saya anggap sebagai salah satu magnet acara ini.  Terlihat dari keriuhan peserta maupun pengunjung ketika berada di area kompetisi robot tersebut.

Acara CompFest juga disertai hiburan dari band dan kelompok paduan suara mahasiswa Fasilkom UI, yaitu Asciipela, serta guest star Tangga!! Amat disayangkan acara seperti ini kurang dari sisi promosi, saya pribadi tahu beberapa hari sebelumnya, dan menurut saya perlu digalakkan acara (bertema komputer) dengan format dan konsep yang berbeda, seperti acara Compfest ini, yang mengumpulkan komunitas-komunitas TI Indonesia, yang mereka kadang-kadang hanya berinteraksi di dunia maya, dan bisa kopi darat di acara seperti ini, sekaligus bersosalisasi, bercanda, berdiskusi, nggosip, sampai bernarsis massal di tempat publik, terbukti dari beberapa saya lihat di stand komunitas tersebut…  n_n