Category Archives: Pembahasan

kategori yang mendiskusikan ulasan secara umum (general) dan artikel mengenai perkembangan blog Ardika Percha

Launching mikroblog ardika percha

Di minggu ini alhamdulillah telah lahir sebuah blog versi lain dari blog utama ini, yaitu mikroblog ardika percha. Apa bedanya dengan blog ini? bedanya dari format penulisan cukup pendek, sesuai namanya “mikro” dan sifatnya santai, compact, simple, dan tetap memberikan info (Insya Allah) bermanfaat, meski skalanya semikro apapun. Lalu yang mau dicoba yaitu pendekatan menulisnya lebih personal dan membahas lika-liku kehidupan sehari-hari, ya semacam daily log yang intim tapi tetap menjaga batas privasi wajar. Nah untuk blog Ardika Percha Blog ini, tetap membahas terkait soal fotografi beserta turunannya yaitu travel, human interest, street photo dengan bumbu perkotaan, plus pembahasan berkutat ke dunia tech digital product atau bahasan dan liputan berbagai event, dan kalau ada rejeki lagi mungkin ya sponsored content.

Lalu kalau soal theme yang digunakan untuk mikroblog juga jauh lebih sederhana nan compact, serta tentunya mobile-friendly bin responsive… but this is not about technical things, yang penting mencoba hal baru, tetap rajin berkreasi dengan menulis, dan fokus ke share content.

Sejarah

Anyway… kalau dirunut sejarahnya, mikroblog atau dengan istilah lebih umum yaitu microblogging sudah pernah juga dibahas di artikel blog utama ini [bisa cek disini], ketika itu microblogging di era tahun 2009, ketika awal Facebook dan Friendster masih digdaya, ada alternatif medsos yang muncul ketika itu dan sifatnya unik, yaitu Twitter dan Plurk, dimana menulis dalam bentuk singkat dan padat sekitar 100-200 characters saja, mirip ketika menulis SMS atau BBM #eh ketahuan tuanya ya kalau bahas beginian 😀

Nah.. ketika baca-baca lagi di artikel blog ini, keinginan membuat microblog ala ardika percha sudah tercetus idenya semenjak tahun 2021 [bisa disimak artikelnya disini], dimana ketika itu muncul idenya disaat melakukan semacam refleksi tahunan khususnya soal blogging. Di refleksi blog itu ada keinginan tetap memaintain blog utama ini dengan pendekatan lebih personal dan sifatnya berbeda, cuma entah kenapa menulis di blog ini maunya menulis (berusaha) serius dengan tema yang disukai.

Lahirnya mikroblog ardika percha

Nah.. dengan 2 poin tersebut, yaitu blog dengan tema singkat, compact, padat plus ditambah poin dengan pendekatan lebih personal, maka saya putuskan untuk mulai membangun mikroblog ardika percha di site WP terpisah, ini mirip dengan eksekusi blog toyahoia yang dibuat lebih spesifik ke bahasan hobi diecast & mainan.

Lahirnya mikroblog ardika percha ini menjadi challenge pribadi juga kalau dipikir-pikir yaitu membuat catatan harian dengan posting lebih rutin dengan pendekatan berbeda, yaa sekalian mengasah menulis dan membaca, serta poinnya dipaksa menjadi kreatif dengan membuat sebuah ide content dari aktivitas harian, sekaligus tetap hobi blogging tentunya. Bismillah… semoga hal baik & produktif di level mikro ini, Insya Allah bisa membuahkan (mungkin) sesuatu yang besar nanti, ya siapa tahu ya.

Silahkan kunjungi mikroblog ardika percha ditunggu respon & share cerita dari sisi kalian, terima kasih!

bukan sekedar hobi biasa

Bagi sebagian besar orang pasti memiliki hobi yang dilakukan, tapi ada sebagian orang yang merasa tidak punya hobi, padahal hobi tidak melulu soal melakukan sesuatu atau mengumpulkan sesuatu. Hobi ya melakukan kegiatan yang menyenangkan diluar aktivitas utama misalnya bukan pekerjaan, plus dilakukan di kala senggang.. ya bisa cek di KBBI sih untuk definisi lebih tepatnya 🙂

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/hobi

Hobi dilakukan ada pula sebagian orang yang yang memang dengan “sengaja menjatahkan” waktunya untuk melakukan hobi tersebut dengan “serius dan profesional”, sehingga hobi menjadi aktivitas rutin dan menurut saya salah satunya seperti berolahraga yang kadang harus rutin jika tujuannya mau menjaga kesehatan dan tetap fit. Bisa jadi minum kopi di kafe sambil melihat pemandangan menjadi hal asik bagi sebagian orang, contoh ini masuk ke definisi hobi sih.

Alasan kita menjalankan hobi

Di masa pandemi sekitar tahun 2020an hingga 2022an, sebagian besar dari kita yang beruntung bisa tetap bekerja dengan model WFH atau remote, sehingga kita jadi memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga dan dirumah. Dari hal ini pun, saya juga pernah membahas soal pemanfaatan waktu tambahan di artikel blog ini, yaitu bisa ikut beberapa training online/webinar, membaca artikel, belajar sana-sini, dan tentunya juga melakukan hobi, hal ini bisa terjadi karena adanya waktu tambahan, dimana waktu itu ada karena tidak berkomuter ria pergi-pulang kantor, yang bisa memakan sampai sekitar 3-4 jaman perhari!

Poin utama saya menjalankan hobi karena untuk “kesenangan”, dan dengan melakukan hobi, menurut saya menjadi bahan bakar kita untuk bekerja dan/atau belajar lebih giat secara profesional, karena melakukan kegiatan “serius” selain bekerja dan berkeluarga, serta terkadang menjadi me time pribadi.

Hobi Jalan Kaki & Fotografi

Semenjak bujang dan sekolah dulu, saya suka jalan-jalan, literally beneran jalan kaki kemana saja, misal disuruh ortu beli sesuatu atau ketika ngekos butuh sesuatu, awalnya males karena jauh dan di siang hari panas, cuma menjadi menikmati, karena keluar rumah dan menyusuri jalan dengan jalan kaki ke minimarket atau warung yang lumayan jaraknya.

Kalau mau kemana-mana dulu (dan kadang sampai sekarang) ya naik angkutan umum macam kereta atau bis, tentunya dahulu tidak ada namanya ojol/taksol. Jadi dari satu tempat ke tempat lainnya, misal dari stasiun atau halte TJ busway lanjut mau ke tujuan, kalau masih bisa dijangkau dengan jalan kaki ya saya jalan kaki, bahkan pernah jalan kaki bisa sampai sekiloan lebih, karena memang seru, aman, dan nyaman aja, makanya ketika jalan-jalan ke Singapura saya suka negara kota tersebut, pejalan kaki jadi diutamakan.

Selain dulu masih belum kaya, kemana-mana mau gamau harus jalan kaki, karena nggak punya motor, sepeda pun ketika gede gapunya juga, apalagi mobil. Dulu kemana saja sebisa mungkin jalan kaki atau pakai angkutan umum, ya karena irit ongkos, serta tentunya sehat!

Dari hobi jalan-jalan muncul hobi lainnya, yaitu ketika saya terinspirasi dengan bergabung di komunitas fotografi sekaligus komunitas travelling, dari sana saya pun tertarik belajar fotografi dari sisi teknis, filosofinya, dan salah satu rekor pembelian barang termahal, yang saya lakukan pun terjadi yaitu sampai membeli DSLR beserta perangkat turunannya, itu bukti saya seniat itu!

Trans Jakarta Tebet 023002
Love Lane Parade
Jkt Glodok - Disisi Jalan
Samping Motosikal
RapidKL 300 #201809001
Jakarta pagi hari (Semanggi, Jakarta)

Dari hobi jalan-jalan, saya jadi suka naik angkutan umum dan suka fotografi khususnya terkait fotografi bertema street dan landscape, maka dari hobi ini pun lahirlah side project #komuterkota dan terlibat berkomunitas dengan rekan-rekan saya di LocanaIndonesia sampai bikin acara photowalk segala, ya meski tidak bertahan lama karena kesibukan masing-masing 😀

Lalu dari hobi ini, juga membaca beragam artikel dan buku, serta menonton sejumlah video fotografer legendaris, salah satunya mencoba belajar dari filosofi fotografi ala Vivian Maier dan mencoba membedah konsep demokratisasi fotografi.

Hobi Bersama Keluarga : makan, jalan, nonton

Salah satu hobi saya yang saya lakukan bersama keluarga, contohnya hobi makan aka kulineran bersama keluarga, karena istri dan anak saya memang suka makan enak!

Alhamdulillah karena suratan takdir dan mendapat rejeki lebih, saya bisa memiliki mobil nyaman dan bagus versi saya, jadi tersalurkan hobi jalan-jalan aka touring pakai mobil, yaitu mencari spot makanan atau tempat kumpul bersama, dan ujungnya makan minum enak bersama sanak famili.

Selain itu, saya, istri, dan (mungkin) anak saya juga suka budaya korea, dari musiknya kpop, nonton film/serial kdrama, sampai makanannya juga suka. Dulu sempat di suatu periode waktu kita makan korean terus haha 😀 dan suka juga berbau jepang khususnya makanan jepang dan nonton anime.

Hobi Menggambar

Selain itu, karena saya lagi belajar menggambar dan melukis, serta disaat bersamaan anak saya juga lagi sukanya menggambar, maka kita pun sama-sama menjalankan hobi tersebut. Hobi ini keluar khas pandemi banget, karena mau melakukan hal baru dirumah, memanfaatkan waktu yang biasanya digunakan berkomuter rumah-kantor, menjadi kegiatan lainnya dan kalau bisa dilakukan bersama keluarga.

Dari saya yang nggak bisa gambar sama sekali meski sketsa sederhana saja, jadi sedikit naik kelas, bisa menggambar yang ada maknanya, meski kalau dilihat sebenarnya gambar biasa saja, namun yang penting kepuasan dan kesenangan pribadi, plus anak saya juga belajar dari hal tersebut, pastinya dia lebih pintar menggambar dibandingkan saya di usia yang sama waktu kecil dulu.

Metropolis
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh
Genting Skytrain View

Hobi Koleksi

Salah satu hobi jadul yang kembali muncul di hidup saya, yaitu hobi mengoleksi mainan berbentuk die cast. Walau hobi ini sempat turun pamor, namun beberapa taun terakhir jadi naik daun entah kenapa, lalu tiba-tiba beberapa orang share soal die cast dan saya pun tertarik ngulik hobi ini. Salah satunya melakukan apa yang disebut toy photography secara simple versi saya, dengan poto-poto die cast.

Dari hobi koleksi die cast ini, saya tidak hanya mengoleksi mainannya, tetapi juga jadi membaca dan mengikuti di beragam tontoan video bisa di youtube maupun nonton video lainnya di internet soal car culture ini. Serunya karena menyimak sejarah mobil dan budayanya, lalu karena baru mengenal mobil, maka tertarik dengan gimana sih tongkrongan mobil-mobil keren yang dikisahkan, serta bagaimana orang kok jadi tergila-gila dengan mobil plus modifikasinya, belum (dan jangan sampai hehe) kearah sana,… yaa saya sebatas koleksi die cast-nya saja 😀

toyahoia - hw - nissan skyline gtr 2000 police 002 wm
toyahoia - mbx - vw 181 krem 006 wm
toyahoia - hw - shelby gt500 - black 02 wm
toyahoia - hw - audi sport quattro - blue 001 wm
toyahoia - hw - audi sport quattro green - 06 join apcom

Dari poto-poto dan membaca plus menonton, maka lahirlah toyahoia, sebuah side project dan merupakan subtema dari blog ardikapercha.com ini. Di blog toyahoia itu pun menjadi perbaduan paling tidak 3 hobi yaitu, hobi fotografi, blogging, dan tentunya hobi mainan aka die cast ini.

Hobi main game

Untuk hobi main game ini, sudah dari kecil sudah dirasakan, karena dahulu punya kesempatan main game di tempat teman dan mendapat rejeki plus cukup berprestasi di sekolah, maka ortu membelikan konsol pertama saya, yaitu SEGA Megadrive dengan game legendaris semacam Sonic, FIFA, Outrun, sampai MK pernah dicoba.

Dari bermain game ini pun menjadi fondasi dan langkah awal saya mengenal komputasi dan beragam aplikasi, serta menjadi semacam pendorong alam bawah sadar saya, bahwa nanti saya akan berkutat banyak dengan hal ini, dan memudahkan saya dalam bekerja dengan komputer kedepannya.

Dari sana mengenal game mulai dari era Prince of Persia dengan menggunakan beragam disket sampai beragam game di PC sampai di era mobile game, salah satu yang paling membekas yaitu Football Manager, Counter Strike, Diablo, Age Of Empire, GTA, Civilazation, WE FIFA, PUBG, MLBB, COD, hingga era Valorant masih dirasakan dan sebagian dimainkan. Bahkan yang dahulu hanya punya akses veris paktani, dan sekarang punya kesempatan main di Google Play, Steam atau Epic secara legal dan nyaman.

Star Wars Commander - Ardika Percha
Star Wars Commander – Ardika Percha

Hobi Blogging

Hobi yang menjadi tujuan dan hilirnya, yaitu dari hobi jalan-jalan dan fotografi, dan hobi lainnya, maka akhirnya bermuara ke hobi blogging. Dimana ketika ngeblog, maka saya harus menulis dan membaca, lalu terkadang harus menyiapkan materinya baik berupa foto yang saya dapat dari fotografi, ataupun dari membaca buku atau artikel lainnya.

Meski beragam kanal, media, dan saluran yang muncul dari era friendster, facebook, tumblr, bbm, plurk, kaskus, youtube, line sampai era X dan tiktok saat ini, saya tetap bertahan, paling tidak merawat blog ini dengan tetap membayar biaya hosting dan domain tahunan, meskin secara kuantitas dalam menulis dan melahirkan artikel dan konten blog memang tidak sehebat dulu, paling tidak saya berusaha menjalani keasyikan blogging ini.

Blog Ardika Percha - ardikapercha.com

Dari blogging saya banyak mendapat banyak hal, dari ilmu, petuah hidup, uang saku/honor, pertemanan, peluang bisnis, pekerjaan sampai soal jodoh pun saya dapatkan melalui blog tercinta ini. Ketika era media teks menurun, dan mulai digantikan media video pun, saya pun hampir tidak memperpanjang blog ini, karena saya anggap era video dan streaming media akan menggantikan, meski faktanya mungkin akan seperti itu, namun saya yakin media berupa tulisan, khususnya yang dibuat tanpa bergantung ke sebuah kanal media spesifik seperti facebook, instagram, atau tiktok, serta hosting dan domain masih bisa dikontrol sendiri, maka media blog ini akan tetap survive!

Oia kalau ada yang bilang saya masih bergantung dengan engine wordpress sebagai engine blog, menurut saya soal engine bisa digantikkan, karena konten dan medianya (hosting & domain) masih kita bisa kontrol, dan wordpress sudah belasan tahun berdiri sendiri dan sifatnya kuat di komunitas open source.

https://wordpress.org/about/

Dalam jangka panjang saya berkeyakinan wordpress juga akan tetap berkibar. FYI dulu saya sempat ngeblog di blogspot google, dan kenapa saya pindah ke wordpress karena komunitas dan enginenya oke banget!

Bukan sekedar hobi biasa

So, dari beberapa hobi yang sejauh ini saya share diatas, poinnya mengisi waktu luang dengan “produktif” dengan bersenang-senang, dan kalau bisa bersama sanak famili, karena hidup harus (berusaha) seimbang antar dunia kerja, keluarga, dan kepuasan pribadi juga, meski untuk mencapai keseimbangan dan kepuasan bahkan kebahagian terkadang agak sulit dan semuanya tergantung dari pola pikir dan bagaimana kita bersyukur dan optimis atas segala kondisi yang ada.. Merdeka! Allah Akbar!

toyahoia – Die cast

Dalam mengisi waktu senggang, (hampir) setiap orang punya cara dan ritual masing-masing dalam memanfaatkan waktu tersebut. Sebagian dari kita mengisi waktu senggang, waktu luang, dan waktu rehat diluar jam kerja dengan melakukan hobi, baik dilakukan sendiri, bersama keluarga, maupun bersama rekan & kerabat.

Pada awal pandemi saya pribadi merasakan manfaat positif WFH, dari belajar hal baru, menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga, sampai melakukan hobi. Soal ini saya pernah bahas di artikel blog dalam pemanfaat waktu di kala pandemi ini dan salah satunya mengenai belajar hal baru, bahkan hobi baru.

Hobi baru (rasa lama) yaitu hobi koleksi dan main mobil-mobilan aka die cast. Hobi ini sebenarnya seingat saya sudah pernah “ditekuni” semenjak SD. Sewaktu SD dalam beberapa tahun saya pernah tinggal bersama Eyang di Jakarta, ketika ortu berkelana keliling Indonesia dan setiap masa “gajian pensiunan” Eyang kadang membelikan mainan sebagai hadiah, dan mainan yang sering dibeli yaitu mainan mobil-mobilan.

Dari memori masa kecil itu saya ingat betapa seru dan asyiknya punya mainan mobil-mobilan dan meski secara (mungkin) tidak sadar, saya mengenal pertama kali namanya hobi.

Dari kenangan masa kecil itu, maka akhir-akhir ini saya sering melihat beragam konten medsos soal die cast ini, serta ternyata komunitas dan pasarnya cukup besardan mungkin lebih luas beragam dibandingkan komunitas action figure (ini sok tahu, gapakai data :D), soalnya dari sekian banyak rekan saya, paling tidak awalnya suka mobil-mobilan dan sebagian masuk ke hobi action figure juga, dan koleksi mobil-mobilan merupakan pijakan awal untuk mengoleksi barang/mainan lain terutama action figure dsb. 🙂

toyahoia-logo

Dari hobi ini, maka saya berkeinginan “memformalkan” menjadi hobi “resmi” yang iseng-iseng ditangani “lebih serius”, sekaligus menjalani hal yang menyenangkan dan sepertinya masih bisa dikontrol dari sisi budget & waktu, perawatan tidak berat, memakan space yang kecil karena akan fokus di die cast reguler saja denga skala1:64 atau sejenis, serta punya komunitas cukup besar di Indonesia.

Dari hal tersebut, maka lahirlah toyahoia dan saya pun berkeinginan membuat blog yang menjadi semacam sub-tema dan sub-domain dari blog utama saya ini.

toyahoia - hw - audi sport quattro green - 06 join apcom

toyahoia lahir dari kenangan masa kecil dan hobi mengoleksi mainan plus keahlian baru terkait mobil yang membuat terpana atas dunia mainan dan permobilan. Hasrat “inner child” juga muncul ketika melihat beragam mainan canggih dan keren bersama anak tercinta yang juga menyukai boneka, action figure, mainan edukatif, dan mainan “anak kecil” lainnya.

toyahoia ini juga lahir sebagai dokumentasi semua koleksi die cast, sekaligus mengasah dan membangkitkan hobi yang berkaitan yaitu blogging, fotografi ala ala toy photography, dan belajar hal baru soal update blog cms wp terbaru yang ternyata banyak update yang dikembangkan dan mendukung soal content creation khususnya dalam bentuk tulisan teks.

Kalau kamu, anda, ente, you… yang juga hobi main die cast bisa kita saling silaturahmi dan berkunjung ke blog toyahoia ya. Terima kasih!

Menulis adalah Hasil Sebuah teknologi

Di minggu lalu saya menemukan sebuah artikel website yang menarik dan sekaligus sebuah laman diserta dengan desain dan visualisasi yang unik yaitu membahas mengenai aktivitas menulis. Website tersebut yaitu visualizevalue yang menampilkan bentuk tulisan pendek disertai ilustrasi sederhana namun bermakna.

https://visualizevalue.com

Aktivitas menulis khususnya menulis sebuah artikel blog atau blogging merupakan salah satu bentuk aktivitas bagaimana kita menerima, mengolah, memproses, dan menghasilkan sebuah artifak lain (baca: tulisan/content), dengan kata lain salah satu bentuk karya kreatif dan kepingan dari hasil sebuah pemahaman sebelumnya, dimana sebagai individu kita menyimpan sekilas minat dan pengetahuan yang kita pahami sebelumnya kedalam bentuk sebuah tulisan.

Tulisan tersebut pun menjadi bermakna dan berharga, minimal berharga dan bermakna dari perspektif kita pribadi meski sereceh apapun tulisan tersebut. Poin ini pun menjadi reminder ketika saya mulai belajar menulis dan menyusun blog, yang pernah saya sampaikan di artikel blog ini bahwa ada sebuah motif or reason yang tepat ketika memulai sesuatu, ini pun menjadi connect seperti yang agama saya ajarkan, bahwa konsep nawaitu pun menjadi hal krusial untuk melakukan aksi selanjutnya.

Blog Ardika Percha - ardikapercha.com

Dari sudut pandang saya pribadi, untuk tulisan-tulisan yang pernah saya buat, baik yang saya tulis dan telah dipublikasi ke blog ini salah satunya, maupun catatan kecil yang saya buat untuk saya baca dikemudian hari dan berfungsi memang sebagai “catatan untuk masa depan”, misalnya catatan pekerjaan atau bahkan catatan ketika saya sekolah/kuliah dulu merupakan sebuah hasil pemrosesan pemikiran kita dan informasi yang kita catat/tampilkan atau kita simpan tersebut akan dibaca kembali atau padanan katanya dalam English yaitu di-retrive untuk dimanfaatkan kembali.

Sebagian ada pula catatan yang saya buat sebagai material dasar atau fondasi untuk melakukan berbagai hal, atau kepingan tulisan-tulisan yang pernah saya buat tersebut diolah dan diproses menjadi sebuah tulisan lain yang lebih baik/bermakna.

Menulis pun bisa menjadi sebuah paket lengkap dalam mengumpulkan, mengolah, mempresentasikan kembali (baca: dibaca/dikonsumsi), dan tulisan tersebut menjadi sebuah artifak teknlogi yang bisa dirasakan pengalamannya oleh baik diri kita sendiri maupun orang lain yang membacanya.

https://twitter.com/jackbutcher

Kalau merujuk ke KBBI, definisi teknologi terkait dengan metode ilmiah dan ilmu pengetahuan, dan kedua hal tersebut erat kaitannya dengan salah satu bentuk berupa media tulisan yang saya coba pahami tersebut.

kbbi.kemdikbud.go.id

Dari uraian dan pembahasan tersebut, maka saya pun mencoba memahami dan berkesimpulan yaitu sebagai berikut :

  1. sederhana namun apik dan bermakna, yang coba saya tangkap dari visualizevalu
  2. dari kepingan tulisan yang pernah dan masih proses saya susun dan buat, maka bisa menjadi tidak hanya sebagai “catatan” namun bisa menjadi hal lain yang mungkin saja berbeda, dan paling tidak bermakna dari kacamata saya pribadi, syukur Alhamdulillah bermakna positif untuk banyak orang
  3. dari poin sebelummnya, jadi terpikir untuk “relook” pembelajaran saya terdahulu mengenai knowledge management, khususnya topik personal knowledge management (PKM), untuk menyusun sebuah struktur atau prosedur bagaimana kita mendapatkan, menyimpan, dan mengolah berbagai informasi yang kita peroleh kemudian kita olah dan produksi atau kita gunakan lagi untuk berbagai kepentingan lain.



Referensi :

  • https://visualizevalue.com/blogs/feed/writing-is-a-technology-for-packaging-experience
  • https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/teknologi
  • https://twitter.com/jackbutcher/status/1581330111160528896?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1581330111160528896%7Ctwgr%5Ed79d286d5882480967d260e32c283345052f920a%7Ctwcon%5Es1_&ref_url=https%3A%2F%2Fvisualizevalue.com%2Fblogs%2Ffeed%2Fwriting-is-a-technology-for-packaging-experience

Membahas Bekal Anak di Abad 21

Tahun ini anak saya memasuki usia untuk mulai bersekolah formal dan ini pun jadi pembahasan mahapenting bersama Istri mengenai apa yang kita harapkan ketika nanti anak bersekolah. Lalu tentunya membahas sekolah model mana yang akan dipilih beserta kriterianya, lalu tentunya membahas soal lokasi, kondisi sekolah, dan UUD yang ujung-ujungnya soal alokasi anggaran dana yang kita akan gunakan, semua pun dibahas termasuk bagaimana pola interaksi belajar mengajar di kelas sampai soal kondisi & kebersihan toilet/WC!

Selain mengenai sekolah formal, saya juga mulai browsing membaca sana-sini soal kemampuan dan kompetensi apa sih yang dibutuhkan sehingga menjadi bekal anak di abad 21 yang serba dinamis dan mulai mengarah ke technology dan digital minded tanpa melupan fondasi penting lain seperti soal agama, moral, dan kepribadian menurut saya dalam hal menyongsong kesiapan dan kemampuan anak di masa depan. Oia poin lainnya, ketika menelusuri soal bekal anak abad 21 ini pun saya selaku orang tua jadi ikut belajar & berproses soal parenting yang buat saya masih perlu banyak belajar dan baca lagi 🙂

Dari penelusuran tersebut, saya menemukan beberapa hal menarik yang saya coba susun dan tuliskan kembali, termasuk share mengenai skill apa saja yang dibutuhkan seorang anak di abad 21 beserta beberapa contohnya yang saya coba rangkum dalam artikel ini.

Skill Anak di Abad 21

Di abad 21 ini, kemampuan seperti membaca, menulis, dan berhitung (biasa disebut calistung) sudah menjadi hal paling mendasar bagi seorang anak, namun kedepannya anak perlu dibekali skill tambahan dan bisa diajarkan semenjak dini. Skill yang menjadi bekal anak di abad 21 tersebut yaitu skill yang berbasis konsep 4C yaitu :

  • critical thinking
  • creativity
  • communucation
  • collaboration

Dari hasil penelusuran tersebut keempat skill tersebut menurut saya memang bisa menjadi fondasi dasar seorang anak, bahkan untuk kita (khususnya saya sebagai pekerja/karyawan profesional) memang dibutuhkkan dan bermanfaat di dunia kerja profesional atau jika menjadi seorang entrepreneur bermanfaat dalam mengembangkan bisnisnya. Lalu perihal konsep 4C ini pun sudah diangkat menjadi pilar dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang diterapkan Kemendikbud dalam proses belajar mengajar.

So poinnya, dari sisi dunia profesional dengan konsep 4C dari sudut pandang akademik CMIIW terdapat link & match serta valid menjadi fondasi untuk bekal anak di abad 21 untuk beradaptasi dan berkembang di new era nanti.

4C skills di abad 21 (curioustimes.in)

Kurikulum & Mas Nadiem Makarim

Ketika mas Nadiem Makarim diangkat menjadi Menteri Pendidikan & Kebudayaan saya berharap banyak kepada beliau untuk membawa angin perubahan dan pastinya secara langsung serta tidak langsung membawa pengaruh pemberdayaan teknologi ke dunia pendidikan. Harapan itu muncul ketika membaca salah satu artikel di media online ini, bahwa adanya penyesuaian dan penambahan pada kurikulum nasional, yaitu adanya kompetensi Computional Thinking dalam proses belajar mengajar. Dari artikel tersebut saya mencoba cari tahu terkait bekal anak abad 21 dan kaitannya dengan computional thinking tersebut. Dari konsep 4C yang dijelaskan diatas, maka Computional Thinking berelasi dengan critical thinking dan creativity terkait khususnya perihal problem solving, system thinking, hingga innovation, & design.

Definisi Computional Thinking

Sebelum melanjutkan pembahasan mengenai computional thinking, maka kita bisa kembali ke dasar mengenai definisinya. Untuk definisi banyak ditemukan di internet, namun salah satunya yang saya kutip dari website Dicoding yaitu sebagai berikut :

Computational thinking atau pemikiran komputasional adalah cara berpikir untuk menyelesaikan suatu masalah. Caranya adalah dengan menguraikan setiap masalah menjadi beberapa bagian atau tahapan yang efektif dan efisien. Ia juga dapat diartikan menjadi sebuah metode untuk menyelesaikan suatu masalah yang dirancang untuk bisa diselesaikan oleh manusia atau sistem atau keduanya.

Dari definisi tersebut menurut saya secara singkat yaitu suatu cara memecahkan masalah dengan efektif dan efisien secara bertahap dengan menggunakan pendekatan yang bisa diselesaikan dengan mesin/komputer atau dengan manusia atau keduanya.

Aspek dari computional thinking (tinythinkers.org)

Untuk mempelajari computional thinking ini, terdapat 4 aspek utama yang dapat menjadi pegangannya yang saya kutip dari Tinythingkers.org yaitu :

  • decomposition : merujuk kepada pemecahan masalah atau tugas/task menjadi bagian-bagian terkecil yang bisa ditangani solusinya
  • pattern recognition : mengenali pola dan kesamaan, sehingga memudahkan dalam pemecahan suatu masalah
  • Abstraction : mengidentifikasi suatu bagian terpenting dari suatu masalah
  • Algorithm : dikenal erat dengan pemrograman, kalau ditelaah lebih lanjut mengacu kepada langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan masalah tersebut

Computional Thinking & Mas Ainun Najib

Dalam rangkaian twit mas Ainun Najib yang saya temukan di Twitter, beliau share mengenai berbagai konsep dan contoh permainan/tool yang bisa digunakan yaitu sebagai berikut :

#1 Cubetto : Video sharing orang tua menggunakan mainan primotoys untuk menunjang pendidikan anak dan penerapan konsep debug sequence di mainan Cubetto (Montessori coding)

Continue reading Membahas Bekal Anak di Abad 21

4 tips memanfaatkan waktu di kala pandemi versi Percha

Selama pandemi ini banyak hal yang patut disyukuri, salah satunya yang paling paripurna tentunya soal kesehatan, masih diberikan cukup kewarasan, bisa berkumpul lengkap dengan keluarga dan masih mendapat cukup rejeki ditengah beragam hal yang telah terjadi. Selain hal tersebut, yaitu adanya waktu kosong (atau bisa dibilang waktu senggang juga bisa ya??) yang biasanya terpakai ketika berkomuter ria yaitu melakukan perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Jadi dengan adanya waktu cukup senggang tersebut, saya mau share beberapa tips memanfaatkan waktu di kala pandemi selama hampir 2 tahun ini.

Kalau dipikir waktu perjalanan bolak-balik sehari antar rumah dan kantor PP bisa total menghabiskan sekitar 3-4 jaman, lalu belum termasuk kalau ada sedikit kendala di perjalanan, misal hujan, bus penuh bahkan tak kunjung datang, atau ada antrian di stasiun kereta, jadwal kereta berubah karena satu dan lain hal, or transportasi dari dan ke ada sedikit delay, atau mobil/motor kita mungkin ada sedikit kendala ketika di perjalanan, maka waktu pun semakin panjang sampai ditujuan.

Dengan rejeki masih bisa bekerja remote atau WFH, waktu yang kosong tersebut kadang masih berkutat kerjaan sekali lagi, meski hal ini jarang dilakukan, karena dirasa perlu break dan cukup penat, kecuali ada urgensi tertentu. Tapi jujur saja kadang justru kerja WFH terkadang waktu untuk soal kerjaan jadi lebih panjang, but thats another issue yang nggak dibahas disini, saya fokus bagaimana memanfaatkan waktu di kala pandemi ini.

Adanya “tambahan waktu” tersebut diluar waktu kerja maka secara naluriah mau melakukan kegiatan positif lainnya, salah satunya belajar kemampuan & wawasan baru, atau menjalankan hobi, kadang waktunya dipakai untuk main dengan anak or bercengkrama sama keluarga or persiapan mau makan malam or bantu-bantu kerjaan rumah tangga, so intinya yang biasanya waktu dipakai perjalanan pergi-pulang antara kantor-rumah, jadi dialihkan ke aktivitas lainnya dengan memanfaatkan waktu di kala pandemi.

Utilisasi Waktu

Saya pribadi juga bukan orang yang ahli dan jago dalam mengatur waktu, namun berusaha terbaik dan kadang sampai pakai metode khusus seperti pomodoro yang membagi kerjaan menjadi bagian-bagian lebih kecil dan waktu dipecah menjadi beberapa slot waktu agar (semoga) lebih fokus. Soal isu multitasking bahkan sudah ada yang memang menyatakan multitasking tidak selalu baik diterapkan.

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Kalau dipikir sesuai Hadis diatas ada benarnya juga, kalau nikmat sehat dan waktu senggang plus pikiran tenang dan nggak stress itu sebuah rejeki, sebuah anugrah terindah yang terkadang tidak kita sadari (baca: bikin tertipu) bro! So perlu tips memanfaatkan waktu di kala pandemi agar waktu bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dan kita tetap sehat secara jasmani, jiwa, dan pikiran juga ya!

Nah dengan adanya “bonus” slot waktu sekitar 3-4 jaman, maka dari tahun 2020 jadi banyak melakukan hal lain positif, bahasa kerennya yaitu utilisasi waktu secara maksimal, mulai melakukan hal-hal yang “berat” dan produktif seperti ngerapihin aset digital macam blog, eksekusi sidejob menulis blog (meski ga rutin, ga fokus juga sih, kalau ada yang nawarin aja) dari publisher atau jalur pertemanan, bikin mini project yang unik, ikutan online training aka. belajar online, atau malah jadi narasumber di event sharing ke komunitas sambil networking dan diskusi bareng.

Kadang ngulik ke komunitas or forum tradisional, atau pernah di tengah pandemi rajin mengunjungi bentuk-bentuk baru komunitas, seperti kanal komunitas di discord dan telegram, bahkan hal receh kayak ngelanjutin nyobain beberapa aplikasi termasuk game baru atau nonton beragam video unik, iseng bikin video dan berencana buat channel youtube pula, atau bahkan menekuni hobi yang benar-benar baru! Untuk ulasan berikutnya saya coba berbagi aka. sharing 4 aktivitas yang bisa dilakukan dan bagaimana memanfaatkan waktu di kala pandemi ini.

ardika percha pc
ideal workstation

#1 : Belajar online

Belajar online menjadi salah satu hal yang kepikiran ketika awal pandemi dan WFH ketika itu untuk memanfaatkan waktu di kala pandemi, karena bisa belajar via online dengan beragam topik di rumah dan kadang kita bisa atur sendiri waktunya. Sebenarnya saya sudah beberapa tahun lalu juga sudah kenal dan ikut model belajar online ini, seperti yang saya bahas di artikel blog ini, contohnya melalui Coursera. So belajar online ini menurut saya ada 2 kelompok besar :

  • belajar online dengan model course layaknya e-learning seperti Linkedin Learning/Lynda, Edx, Udemy, Skill Academy, Coursera dsb. yang kita bebas memilih waktunya dan sesuai kapasitas kita dalam menjalani belajar ini, meski ada beberapa course yang ada batasan waktu dalam mengerjakan tugasnya. Selain itu, model seperti perkuliahan tidak melulu menonton video, kadang saya perlu membaca artikel, jurnal, dan belajar di sejumlah modul interaktif.
  • belajar online dengan model seperti meeting online, dimana ada narasumber dan dihadiri peserta secara realtime, mirip seperti kuliah pada umumnya. So model kuliah seperti ini, mau tidak mau ikut jadwal yang sudah fixed oleh pengelenggara/panitianya.
belajar & bersertifikasi
Continue reading 4 tips memanfaatkan waktu di kala pandemi versi Percha

Refleksi Blog Juli 2021

Tidak seperti artikel blog lainnya, blog post kali ini sedikit lebih personal dan lebih spontan, karena berbagai variabel alasan yang ada di pikiran kali ini. Salah satunya soal nasib Blog Ardika Percha satu ini yang saya akui dari sisi jumlah post-nya yang minim dengan produktivitas jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meski ada satu-dua artikel blog yang di-publish, itu pun artikel yang sifatnya mayoritas ada sisi komersialnya aka sponsored content, ya Alhamdulillah ada beberapa pihak brand or agency yang masih mempercayakan komunikasi digital mereka via blog-medsosnya & masih bisa bekerja sama.


Namun intinya semakin jarang blog post terkait share mengenai berbagai aktivitas maupun ulasan tertentu yang inisiatifnya dari saya.. anyway ini maksudnya artikel yang akhirnya saya publish ke publik, kalau artikel draft yaa ada saja, meskin jumlahnya juga tergolong minim. So, imbasnya ya traffic-nya jadi juga cenderung menurun, yaa meski diawal bikin blog ini pun tidak memikirkan soal traffic dan turunan lainnya, karena lebih kepada aktualisasi diri, belajar dan mengasah menulis di ranah blog, keinginan untuk sharing, dan memang mengisi waktu luang.. yaa ujungnya hobi juga, meski di perjalanan kadang kecipratan rejeki yang patut disyukuri.


Di sisi lain ketika ada kesempatan berdiskusi beberapa rekan blogger terdahulu sharing bahwa sekarang (mungkin) eranya media blog menjadi semakin segmented dan arahnya ke micro bahkan nano influencer layaknya media sosial, dan kelebihan blog/website juga lebih long lasting untuk support search engine khususnya untuk artikel blog, yaa bisa jadi teori dan pendapat ini valid!


Blog Ardika Percha - ardikapercha.com

Kalau dilihat aktivitas ngeblog di tahun ini memang menjadi aktivitas nomor sekian dari jatah waktu, meski ada beberapa draft blog post yang pernah ditulis, cuma belum selesai, atau hanya menuliskan beberapa kalimat ke bentuk draft blog post sebagai wadah ide yang pernah muncul di kepala ini, yang niatnya mau ditulis lengkap dan nanti di-publish. Yah intinya waktu yang ada sudah terpakai untuk kesibukan kerja, kadang beberes rumah, bantu istri, dan bermain sama keluarga pula, apalagi godaan nonton film+serial di streaming satu itu juga besar ditambah kadang sesekali push-rank di game 😀


Meski kenyataannya frekuensi menulis blog (dan artikel blog-nya selesai lalu sudah di-publish ke publik) cuma bisa dihitung dengan jari, kadang kalau ketemu teman lingkaran pekerjaan atau orang yang bukan inner circle yang tahu soal blog ini lucunya saya dibilang blogger, padahal ya saya juga sudah tidak berani menyandang julukan tersebut, wong kurang aktif dan tidak seproduktif tahun-tahun sebelumnya plus ditambah era wabah pandemi yang beberapa aktivitas biasanya menjadi sumber inspirasi tulisan blog juga berkurang, yaa maklum , plus berusaha berinteraksi dengan sekitarnya, kulineran, dan datang ke acara or tempat yang seru! Namun ya nggak bisa melakukan hal tersebut karena harus menerapkan prokes dan jaga keselamatan diri pula.


So, hingga pertengahan tahun 2021, untuk blog tercinta ini sempat diisi content yang beragam, contohnya ada beberapa mini personal project yang coba dijalankan, salah satunya iseng ketika mainin bikin landing page ala Linktree yang sempat didokumentasikan di artikel blog ini. Selain itu, pernah mendapat kesempatan menjadi narasumber di salah satu event online untuk berbagi ke komunitas perihal dunia kerja yang artikelnya membahas mengenai digital product management bisa dicek dimari ya. Kemudian artikel blog terakhir soal apa saja yang harus dilakukan kalau punya komputer atau laptop baru, yang bagian berdasar pengalaman pribadi.


Blog ini kedepannya kemungkinan memang akan tetap membahas ke topik digital dan teknologi yang kadang membahas soal fotografi dan topik turunannya, di sisi lain ingin eksplorasi satu-dua ke arah bahasan yang sedikit berbeda atau malah mengangkat minat saya yang belum pernah dibahas di blog, bisa jadi kearah bahasan pendidikan (jadi ingat personal project threnggara dan durabita!) dan hal turunannya atau formatnya jadi review ke dunia hiburan/hobi kembali ke format blog terdahulu, so nanti kita lihat saja yah!


Dari cerita diatas maka eksistensi blog ini menurut saya sifatnya jangka panjang dengan tujuan menyalurkan hobi dengan sharing melalui tulisan artikel blog, lagipula kadang jadi dokumentasi ‘slice of life’ pula. Lagipula sepertinya sifatnya pun positif dan content yang saya tulis sepengetahuan saya juga ‘aman’, jadi semoga kedepannya paling tidak dari sisi kuantitas artikel blog dan kalau bisa kualitasnya dari sudut pandang saya pribadi ada peningkatan positif.. wish me luck yah 🙂

Update Info Landing Page ala Linktree Wanna Be (Project L3)

Dalam kurun seminggu terakhir di sela-sela kesibukan pekerjaan & keseharian, saya mencoba mengerjakan personal project untuk membuat landing page ala tool Linktree dengan berbagai motif dan latar belakang  yang bisa dibaca lebih detail di artikel blog saya sebelumnya.

Di awal project ini sebenarnya mencoba inventaris semua task pekerjaan di JIRA sebagai bagian dari planning activity, cuma dengan berjalannya waktu, maka ada beberapa task yang perlu disesuaikan sehingga project dapat terus berjalan  untuk berusaha mencapai goal-nya.

Next section akan saya update info secara garis besar untuk menjelaskan prosesnya sekaligus sebagai dokumentasi project ini.

Bikin Landing Page

Untuk pembuatan landing page karena ini sifatnya satu page dan sifatnya statis, maka akan menggunakan tipe content ‘page’ sesuai engine website WordPress dengan theme standar WP serta dengan menggunakan pengaturan text dan image standar. Sesuai nature landing page ala Linktree tersebut, maka page tersebut ditujukan untuk diakses via perangkat mobile (mobile first – mobile optimized), maka tampilannya scrollable dari atas ke bawah vertikal.

Percha Linktree One Landing Page

Ketika pengerjaan bikin landing page ini ternyata ada satu kendala bahwa image yang disisipkan (embedd) tidak bisa dimasukkan sebuah link, maksudnya yaitu membuat sebuah image yang clickable link, padahal di WP sendiri ada tool menyisipkan link didalam image, namun tidak berfungsi setelah beberapa kali dicoba. Solusi atas isu diatas, maka dibuat script code HTML sederhana agar bisa membuat clickable image agar visitor bisa klik link di image-nya.

Bikin creative asset & handle digital growth things

Pembuatan creative asset seperti image yang diposisikan sebagai image icon yang ketika diklik akan membuka link yang dimaksud, maka seluruh pembuatan menggunakan aset image yang telah dimiliki dan dibuat template desain box dengan rasio 1:1 dengan menggunakan template standar Canva kemudian diekspor dan dilakukan size optimzing dengan Tinyjpg agar ukurannya terkompress tanpa mengabaikan kualitas image-nya.

IG sayapercha

Selain soal imaga juga diatur strukturnya sesuai kebutuhan, yaitu untuk blog berada diatas sebagai rumah digital, kemudian disusul media sosial, lalu kumpulan artikel blog terpilih, dan diakhir berupa form kontak untuk membuka jalur komunikasi awal selain email resmi blog.

Setelah beragam hal terkait creative, maka saya pun mencoba riset untuk tool tersebut, tentunya mencoba Linktree dan menggali informasi tool sejenis seperti about.me, Yubi, Desty, Tapbio, dsb. untuk mendapat gambaran umum layanan sejenis. Dari riset tersebut tentunya semuanya memiliki keseragaman yaitu praktis dalam membuat landing page sederhana dengan beragam desain yang cukup menarik disertai report performance standar.

Kemudian task berikutnya collect dan setup semua content termasuk artikel link untuk dibuat short link-nya menggunakan Bitly, agar bisa nanti di-track performance trafficnya, dan mudah disebar ke berbagai channel/media sosial. Setelah itu, di-update content tersebut disertai image tadi untuk masuk ke pembuatan landing page ala Linktree tersebut. Setelah semua beres, maka masuk untuk penulisan artikel ini untuk update progress sekaligus dokumentasi atas project L3 ini.

Track & Monitor aka PMO-ing

Salah satu motif untuk menjalankan project L3 ini, yaitu mencoba & implementasi langsung menggunakan tool Atlassian Jira sebagai tool untuk track & monitor versi free-nya, yang 75% mirip dengan fitur corporate yang berbayar yang biasanya saya pakai untuk kerjaaan kantoran pas di startup, dan pakai Toggl untuk tracking waktu pekerjaan tersebut

Linktree JIRA Percha

Untuk project ini seharusnya sesuai planning dikerjakan estimasi selesai pada akhir April-awal Mei dan setelah melihat task-task sekaligus  riset dan review kelengkapan content, termasuk keberuntungan adanya waktu berlebih yang tersedia dan penyesuaian atas task yang perlu diubah/diparkir karena dianggap tidak perlu dilanjutkan atau sudah selesai. So dari sikon tersebut, maka landing page-nya ala Linktree ini telah selesai versi kali ini dan bahkan sudah dilakukan update link di profil Instagram, sehingga diperkirakan di akhir minggu depan sudah beres.

Melihat situasi tersebut, maka sudah bisa dikatakan 80-90% project ini sudah selesai dan sudah berjalan soft-launching or beta version, tersisa task terkait content artikel, update page, hingga review performance dan PMO task lainnya.


Percha One Landing Page bisa diakses melalui


Membuat Landing Page Linktree Wannabe di Blog Pribadi (Project L3)

Dalam beberapa tahun terakhir, beragam tool dan layanan digital terkait pembuatan sebuah landing page yang berisi semacam list direktori yang menampung semua link terkait digital presence kita bermunculan, salah satu yang populer digunakan di media sosial Instagram yaitu Linktree.

 

ardika percha - Linktree adalah
Linktree adalah.. (Source: https://linktr.ee/)

 

Latar Belakang & Tujuan

Dengan semakin populer pembuatan Linktree, saya melihat Linktree tersebut sebenarnya sebuah layanan pembuatan landing page yang cepat, mudah, praktis, dan canggih jika saya tidak bisa memiliki sebuah website atau lebih simplenya, Linktree seperti layanan WordPress, Squarespace, Wix dan segala rupanya ketika jaman bahula dulu orang perlu membuat dan memiliki sebuah website atau blog.

Konsep dan solusi Linktree bukanlah hal yang baru, karena di ketika jaman Tumblr sebenarnya ada fitur seperti tersebut CMIIW, dan Tumblr pun (menurut saya) ketika itu menjadi sebuah rumah online yang bentuknya lebih sederhana, praktis, dan lebih less effort dibandingkan misalnya bikin blog di WordPress, yang menurut saya WordPress sudah sangat user friendly dan lebih mudah untuk membuat sebuah blog, yang akhirnya Wix dan Squarespace menawarkan yang lebih praktis.

Dari ide tersebut kenapa saya tidak coba buat landing page semacam itu di halaman Blog saya yang berisi direktori dan informasi terkait blog beserta turunannya. WHY mau melakukan hal ini? coba saya list yang mendorong mau melakukan hal ini :

  1. maintain blog.. ultimate goal & my current north star, eksekusinya bisa di buat page & turunannya, sama pembuatan artikel
  2. coba jadi pansos 😀 di medsos dan coba narikin traffic dari channel lain ke blog, karena landing page semacam Linktree ini diasumsikan akan diakses agar bisa disebar (bisa di WA,  email, dsb) dan terpampang di akun media sosial, khususnya di bagian profile bio, jadi ada traffic dari hal tersebut
  3. sesuai yang di mention #1 soal artikel blog, maka asah kembali untuk menulis artikel blog khususnya kaitan dengan digital, dan kalau bisa serempet produk sih. Plan-nya ya kayak artikel blog ini ada seri artikel terkait project ini
  4. mengasah kembali skill digital sekaligus skill proyekan, maka inisiatif ini dianggap menjadi sebuah personal project
  5. nyambung poin #2, untuk eksekusi project ini sekaligus nyobain tool Atlassian versi free personal (dibandingkan dipakai di kerjaan full time kantor yang versi paid) yaitu JIRA untuk project & task management dan Confluence untuk wiki dokumentasi jika dibutuhkan, nanti lihat juga pelru sejauh itu, atau hanya perlu update artikel blog dengan filter informasi sifatnya publik saja.
  6. relate sama poin #3 maka nyobain tool lama rasa baru untuk time tracker yaitu Toggl, untuk ukur waktu & produktivitas

Continue reading Membuat Landing Page Linktree Wannabe di Blog Pribadi (Project L3)

JX Indonesia, sebagai Teman Online Seller

Ketika masa pandemi seperti sekarang ini, salah satu aktivitas yang meningkat pesat yaitu aktivitas berbelanja online melalui berbagai ecommerce dan media sosial. Hal ini pun sesuai dengan data yang dilansir oleh Markeeters (marketeers.com, 2019) pertumbuhan bisnis ecommerce meningkat hingga 151% dan dengan pertumbuhan yang pesat tersebut membuat kebutuhan akan layanan logistik pun juga meningkat drastis.

Dengan melihat tren positif dan potensi yang ada selaku seller online harus terus berkembang dan mengelola bisnisnya secara tepat. Salah satu fungsi yang penting dalam pengelolaan bisnis online, tidak hanya faktor produk dan pemasarannya, namun juga pada lini distribusi produk, dalam hal ini pengiriman ke konsumen akhir yang menggunakan jasa logistik pengiriman barang.

 

JX Indonesia sebagai teman online seller

Dengan beragamnya layanan logistik yang telah hadir di Indonesia, salah satunya yaitu JX Indonesia yang mencuri perhatian khalayak Indonesia dengan hadirnya berbagai layanan inovatif disertai program promo yang menarik. JX Indonesia telah hadir dengan nama berbeda yang sebelumnya dikenal sebagai J-Express yang bernaung di bawah bendera perusahaan PT Jaya Ekspress Transindo sejak tahun 2015. Saya pribadi mengenal beberapa tahun lalu J-Express karena berbelanja di JD.ID dan sempat juga menggunakan jasa #JXIndonesia untuk mengirim maupun menerima barang kiriman dari berbagai tempat dan pihak terkait.

JX Indonesia pada awalnya eksklusif melayani pengiriman ecommerce JD.ID, namun pada tahun 2018 mulai membuka layanan pengiriman ke pebisnis online & UMKM, lalu pada tahun 2019 JX Indonesia bergabung menjadi bagian dari GOJEK. Dari beberapa aksi korporasi terakhir JX Indonesia telah melakukan beberapa pembaruan untuk bersaing serta menjadi pemain penting dalam bisnis logistik Indonesia, dan dengan sejumlah pengalaman sekian tahun JX Indonesia memposisikan dirinya sebagai #temanonlineseller yang membantu pelaku bisnis online dan UMKM dengan menyediakan berbagai layanan dan program promosi yang inovatif. Sebagai online seller seperti kita, bisa terbantu dengan adanya program promo dan bisa saling bekerja sama kedepannya antara pelaku bisnis online dan mitra logistik pengiriman barang JX Indonesia.

Service Utama JX Indonesia

#JXIndonesia memiliki beragam layanan logistik yaitu layanan B2B, last mile delivery, kargo,  dan cross border last mile. Selain itu, JX Indonesia memiliki tiga layanan metode pembayaran yaitu regular, COD (Cash On Delivery), CSOD (Cash Swipe On Delivery)  yang memberikan kemudahan dalam proses pembayaran. Layanan COD yang memudahkan bagi bagi sebagian orang dalam melakukan pembayaran secara cash di tempat, bisa dilakukan dengan melakukan pembayaran uang cash maupun dengan pembayaran melalui mesin EDC.Adanya service utama dan layanan COD yang populer, maka JX Indonesia dapat memberikan layanan pengiriman  dan COD terbaik, hal ini dapat dirasakan kita sebagai online seller.

Alasan Memilih JX Indonesia

System support JX Indonesia meliputi: Website dan aplikasi tracking untuk customer (aplikasi dapat diunduh di PlayStore dan Apple Store), Seller Dashboard untuk seller yang sudah menjadi klien JX Indonesia untuk keperluan operasional pengiriman seperti pick-up request, dan aplikasi khusus kurir. Distribution Center (DC) JX Indonesia berada di kota Jakarta (berlokasi di Kawasan Industri Marunda), Semarang, Surabaya, Makassar,, Pontianak, dan Medan. Dengan beragamnya fasilitas tersebut, JX Indonesia memiliki tingkat kesuksesan pengiriman intracity (Jabodetabek) JX Indonesia mencapai 96% dan intercity (luar kota) mencapai 87%.

Continue reading JX Indonesia, sebagai Teman Online Seller