Category Archives: Tekno – Digital

pembahasan mengenai pendapat dan perkembangan terkait dunia digital dan teknologi

Kenalan Dengan Information Architecture

Sekitar tahun 2012 saya sempat bergabung (sebentar) dengan salah satu agency periklanan, pemasaran, dan branding yang cukup tersohor di eranya, karena memegang beberapa  brand ternama dan bahkan memiliki kontrak jangka panjang aka retainer dengan beragam big brand.

Saat itu, agency ini sedang (berusaha) bertransformasi menjadi digital agency untuk memperluas market (baca: billing) di pasar Indonesia.  Leaders di agency tersebut (sepertinya) susah payah membangun tim digitalnya pertama kali di Indonesia ketika itu, karena isu talent di Indonesia dan hal yang berbau digital adalah “spesies” yang masih baru dikenal. Hal ini terbukti sebelum saya masuk, ketika saya masih bekerja disana, hingga saya sudah resign pun mereka kesulitan dalam merekrut kandidat yang punya latar belakang digital, teknologi, sekaligus paham branding dan marketing (sounds want to recruit superman & super team aka avenger ya?!), dan diharuskan memiliki wawasan dan pemahaman yang spesifik terkait beberapa topik dan skill yang dibutuhkan.

Salah satu posisi yang dicari ketika itu adalah digital strategist, digital analyst dan digital content, dan ketiga posisi tersebut, diminta untuk memiliki pemahaman mengenai Information Architecture. Nah.. untuk pertama kalinya saya mengenal terminologi baru bin asing di telinga saya, yaitu Information Architecture, dan semasa itu tergolong minim informasi mengenai topik tersebut, dan bahkan scope ini di digital-social media masih terbilang ranah media baru di Indonesia. Dengan berbekal hunting informasi, membaca sana sini, dan berdiskusi dengan pelaku industri, saya pun akhirnya tetap terjun untuk bergabung, karena dengan sekalian praktek sepertinya bisa langsung tahu dan menghadapi kasus nyata di lapangan, plus menikmati beberapa training dari kantor pusat yang cukup memberikan asupan wawasan ke otak saya.

 

IA – Tubikstudio.com

 

Continue reading Kenalan Dengan Information Architecture

Begini caranya bijak bermedia sosial : Menangkal Hoax

 

10 bahkan mungkin 5 tahun lalu, pengguna handphone dan social media enggak sebanyak sekarang. Pertumbuhan pengguna social media dan handphone pada masyarakat, selain dipengaruhi oleh perbaikan ekonomi juga dipengaruhi oleh fungsi dan kebutuhan masyarakat. Sayangnya, selain memberikan pengaruh yang baik, penggunaan social media dan handphone pada masyarakat juga memberikan pengaruh buruk. Salah satunya adalah dengan maraknya penyebaran hoax atau berita bohong.

“Eh tau enggak, si A dipukulin fansnya grup Korea kemaren?” Tau dong kejadian rapper yang kemaren ngaku dipukuli padahal bohong ini? Saya yakin enggak sedikit yang kemakan kebohongan dia. Makanya, kita harus pinter-pinter buat memfilter biar bisa menangkal hoax yang disebarkan oleh siapapun, ya.

Nah, biar enggak kemakan isu dan gampang percaya sama hoax, berikut saya bagikan tips buat kamu ya untuk menangkal hoax ya:

  1. Berita hoax biasanya dikasih judul yang click bait atau menipu agar sensasional dan provokatif. Kalo kamu nemu berita macam gini, sebaiknya cari referensi berita yang berkaitan dari situs online resmi, lalu bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Hal ini dilakuin supaya kamu bisa tau kebenarannya dan bisa menarik kesimpulan yang lebih terpercaya dan berimbang.
  2. Biasanya temen-temen mendapatkan informasi dari social media ataupun situs pemberitaan. Untuk informasi yang diperoleh dari situs pemberitaan yang mencantumkan link atau mengklaim berasal dari situs tertentu, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apakah ada di dalam situs tersebut ataukah tidak. Jika berupa URL,  kalau berasal dari situs yang belum diverifikasi institusi pers resmi, atau hanya domain blog, menurut saya informasinya bisa jadi meragukan. Dewan Pers mengatakan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita, namun yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tidak lebih dari 300.
  3. Penulisan narasi untuk berita biasanya mengungkapkan berbagai fakta. Fakta tersebut perlu divalidasi ke sumbernya dulu lho. Saran saya gunakan metode 5W 1H untuk mengecek fakta tersebut dan carilah sumbernya dari mana, apakah ada narasumber atau saksi langsung. Atau apakah berasal dari institusi resmi. Sebaiknya jangan lekas percaya apabila informasi bersal dari individu seperti pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.
  4. Di zaman now, biasanya berita dilengkapi dengan foto. Hal ini berdampak pada manipulasi yang dilakukan. Enggak cuma teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Kadang penyebar hoax mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Buat ngcek foto tersebut, selain meneliti gambar, kamu bisa manfaatin memanfaatkan mesin pencari Google.
  5. Biar hoax enggak semakin merajalela, saran saya kalau kamu menemukan informasi hoax, kamu langsung bisa melaporkan hoax tersebut. Jika di media social, misalnya Facebook, gunakan fitur Report Status dan kategorikan informasi hoax sebagai hatespeech/harrasment/rude/threatening, atau kategori lain yang sesuai. Jika banyak yang melapor biasanya Facebook akan menghapus konten tersebut.

 

Unsplash

 

Media sosial bagai pisau bermata dua, dapat  menjadi peluang positif dan bermanfaat bagi diri sendiri serta orang sekitar, namun bisa berpotensi negatif dan merugikan banyak orang. Kita sendiri sebagai pribadi yang haru lebih bijaksana dalam memanfaatkan media tersebut. Selain adanya content positif dan memberikan manfaat sekaligus inspirasi bagi banyak orang, di sisi lain banyak kita temukan berita yang cenderung negatif bahkan bisa ditemukan berita palsu yang menyesatkan.

Continue reading Begini caranya bijak bermedia sosial : Menangkal Hoax

Personal Project : Dari #KomuterKota sampai Durabita

Dalam sebulanan terakhir saya (sok) menyibukkan diri, selain sibuk di pekerjaan utama saya yang sedang (belajar) membangun sebuah produk digital, seperti yang saya bagikan kisahnya di artikel blog terakhir “Menjadi Product Manager”, Alhamdulillah saya masih ada sedikit waktu tersisa dan dimanfaatkan untuk mulai menekuni personal project yang berbeda. Ya.. mungkin diluar sana termasuk dalam lingkaran pergaulan saya, maupun kenalan yang saya temui di berbagai kegiatan atau komunitas banyak memiliki project diluar domain profesional utamanya.

Saya mengenal seorang kawan yang bekerja di suatu perusahaan dengan load kerja cukup sibuk, masih bisa menangani bisnis jual beli mainannya, lalu menangani beberapa project luar kantor, bahkan masih bisa menyisakan waktu mengasuh beberapa komunitas online, dan bisa menulis blog dengan cukup rutin dikala senggangnya.. SALUT! Mencoba mengisi waktu dan produktif membuat sesuatu yang positif, Alhamdulillah jika bisa mendapat keuntungan materiil, maka saya pun mulai secara bertahap untuk berkarya, salah satunya juga berusaha ngeblog untuk kebutuhan personal.

 

Personal Project #KomuterKota

Berbeda dengan personal project yang dimulai di sekitar pertengahan tahun 2015, yaitu berkutat dengan hobi fotografi dan asyik (belajar) menggunakan kamera DLSR dan kamera hape sekalipun. Ketika itu,  saya juga baru mengenal sekaligus menekuni genre fotografi street yang sempat menjadi alternatif baru di scene fotografi Indonesia, bahkan sampai ikut komunitasnya, mendatangi beberapa acara bertema fotografi dan mulai serius membaca beragam artikel foto, sampai membeli buku foto, bahkan sempat berkongsi dengan teman-teman kosan mendirikan Locana Indonesia.

 

Turun. #KomuterKota

A post shared by Komuter Kota (@komuterkota) on

 

Dan akhirnya saya pun mencetuskan proyek foto KomuterKota yang ditekuni karena keseharian saya berkomuter kota, baik menggunakan angkot, bis, kereta listrik, sampai era ojek online dan masih berlanjut sampai sekarang, meski dari sisi kuantitas sedikit berkurang, namun sisi positifnya dan sepertinya bakal bisa menjadi project jangka panjang, dan mungkin nanti ketika kesibukan pekerjaan semakin berkurang, bahkan ketika pensiun nanti,  saya merasa hobi fotografi ini, selain hobi jalan-jalan alias travelling, kulineran, membaca, blogging, dan menonton film, bisa jadi hobi tersebut nanti menjadi salah satu kesibukan utama saya.. who knows??

Project ini dilakukan sebagai hobi dan bertujuan salah satunya mengasah sedikit jiwa seni dan kreativitas melalui fotografi, bahkan semakin kesini saya menyadari masih banyak yang harus dipelajari, mengetahui batasan dan kekurangan, sekaligus sedikit demi sedikit mengetahui kelebihan yang bisa didorong lebih maju, lalu merasa ada beberapa hal yang seharusnya bisa dieksplorasi lebih lanjut, serta tentunya semakin menyadari bahwa waktu itu menjadi barang yang sangat mahal dan berharga.

 

Mimpi & Realita

Unsplash Image

Unsplash Image

 

Sepanjang saya mengenal internet, maka media digital, situs berita atau portal  informasi pernah menjadi salah satu obsesi saya pribadi dalam hal keinginan membangun sebuah media digital dengan content yang unik sekaligus membangun basis user yang cukup besar, kemudian jika ada traksi positif dan traffic yang menjanjikan, saya pun berniat masuk ke tahap implementasi bisnis yang menyasar profitablitias, bahkan bermimpi memiliki startup dan ujung-ujungnya memiliki perusahaan sendiri.

Selain selama ini menerima paid job dari pemilik project tersebut, saya pun sudah beberapa kali saya belajar dan berusaha membangun mimpi tersebut, dengan mencetuskan sendiri atau berkolaborasi dengan orang lain melalui berbagai project terkait media digital, dan dari pengalaman tersebut semuanya hampir tidak berjalan mulus, bahkan sempat menderita kerugian, baik materi & non materi, meski ada juga yang akhirnya mendapatkan hal positif dan bisa exit dengan beruntung!

Nah.. di poin ini, ketika saya begitu passionate untuk memulai sebuah project yang memang dari awal untuk fokus ke bisnis dan profit, bahkan dengan model funding boothstrap atau mendapat funding dari pihak eksternal, maka ada saja pain point dan blocker yang tidak terkira dihadapi, meski ada beberap kasus bisa ditangani dan diselesaikan, namun poinnya hal bahwa memang tidak mudah dan ada dampaknya baik materi & non materi, namun hal ini bisa dijadikan pengalaman dan saya anggap ongkos belajar juga.

Lalu poin selanjutnya, yaitu khusus untuk blog ini, selama beraktivitas blogging, ternyata Alhamdulillah bisa menutup biaya domain+hosting tahunan dan masih ada sisa jajan sana sini 😀 padahal blog ini tergolong tidak rutin update (jika dibandingkan rekan blogger lainnya, apa lagi rekan pro -blogger), traffic-nya tergolong standar personal blog, tetapi tetap masih ada pembaca setia yang masih berkunjung (makasih ya bro sis!), serta masih banyak PR untuk teknis optimasi struktur website, SEO-nya, dsb. Sebagai catatan, blog ini dibuat dan disiapkan dari perdana bukan untuk tujuan profit, dan sampai sekarang jika ada tawaran job karena blog, saya anggap sebagai bonus rejeki tambahan saja, so woles aja bro!

 

Membangun Durabita

Tidak seperti project lainnya, yang minim publikasi dan informasi,  atau isu perihal keinginan saya mau berbagi cerita, tetapi karena memang sifatnya confidential, maupun masih dalam tahap awal, sehingga belum bisa bercerita banyak, atau merasa belum ada yang dibanggakan atau merasa tidak pantas diceritakan dan belum bermanfaat untuk warganet.

Kali ini saya coba berbagi cerita tentang inisiatif saya berikutnya yaitu membangun Durabita dari awal, semenjak ketika pelaksanaan, sampai nanti apakah berujung sukses, atau bahkan kegagalan, saya coba menceritakan hal tersebut, siapa tahu bisa berguna dan bahkan mendapat masukan or kritikan dari publik.

 

Durabita.com
Durabita.com

 

Durabita adalah blog yang coba saya bangun karena kesulitan dalam mencari data atau informasi yang valid, dan keinginan saya pribadi dalam mengumpulkan, menyimpan, serta mengkurasi beragam data dan fakta terkait dunia digital, kemudian saya coba tampilkan di sebuah blog, yang saat ini bisa dibilang statusnya masih di tahap pre-alpha.

Saya mengetahui memang diluar sana mungkin sudah ada ribuan situs atau blog sejenis, namun saya coba batasi cakupan content di beberapa topik tertentu dan spesifik, kemudian perlu waktu untuk penyesuaian dan pendekatan dalam penyampaian informasinya. Alih-alih untuk membuat content sebanyak mungkin, saat ini meski jauh dari kata sempurna, saat ini dicoba untuk membuat content atau tulisan yang sebisa dan sebaik mungkin, syukur-syukur bisa dimengerti dan bermanfaat.

Menurut saya dengan membaca, mempelajari, lalu menuliskan dan mempublikasi menjadi sebuah artikel di media digital, maka mau tidak mau saya harus paham beragam data dan informasi yang dikumpulkan, sekaligus mengasah dan melatih kemampuan menulis saya untuk “sedikit lebih serius” atau bahkan membuat tulisannya menjadi lebih “gaul”, nanti akan dilihat lebih lanjut di sisi hasil tulisan maupun traksi traffic, atau sambutan warganet, maupun bisa saja dari sisi saya pribadi merasa perlu melanjutkan atau tidak.

Selain itu, salah satunya pemicunya yaitu saya ingin ngeblog kembali di lingkungan Blogspot, lalu mencoba fitur custom domainnya, dan disaat bersamaan ketika itu sedang ada promo domain dotcom yang sangat murah dan promo besar-besaran (bisa dicek promonya dengan klik dsini jika masih ada) di salah satu penyedia domain terkemuka tersebut.

FYI saya mulai blogging dari Blogspot, namun tidak bertahan lama karena beragam alasan. Lambat laun saya pun mencoba platform blogging lainnya, dari Multiply, Tumblr, sampai akhirnya saya mencoba WordPress. Ketika merasa sudah siap, saya pun akhirnya memutuskan membeli hosting dan domain di salah satu penyedia layanan tersebut, yang masih saya gunakan sampai saat ini.

 

Langkah Selanjutnya

Setelah melakukan konfigurasi custom domain antara Blogspot dengan domain provider, kemudian sedikit melakukan tweak theme template sederhana di Blogspot. Lalu saya pun mulai klaim username di media sosial dengan membuat beberapa akun media sosial populer, dan tidak lupa memikirkan sisi desain logo hingga brandingnya secara sederhana, agar apa yang saya bangun bisa dikenali identitasnya, syukur-syukur memiliki branding yang cukup dikenal nanti.

 

Durabita
Durabita

 

Kemudian saya pun mulai membaca dan menulis artikel blognya berdasarkan yang data dan laporan saya pilih, dan hasil perdananya saya pribadi tidak puas, namun saya pikir tetap saya rilis saja dulu, toh nanti akan terus berkembang format dan gaya penulisannya.

Saat ini Durabita dengan kapasitas dan kemampuan saya pribadi, hanya mampu menghasilkan 4 artikel singkat perbulan disertai infografis yang saya ambil dari sumber aslinya. Dari sisi traffic masih jauh dari target, dan paling tidak, menurut saya membutuhkan waktu mungkin sekitar estimasi 6 bulanan kedepan, dan itu pun tidak ada garansi bakal sukses, so sama seperti inisiatif sebelum-sebelumnya, anggap aja ini tes pasar, atau anggap aja ini MVP-nya or pilot project-nya, dan investasi blogging jangka panjang untuk saya pribadi.

Sekitar 2 mingguan setelah Durabita diluncurkan, saya kaget menerima email “say hello” dari salah satu sumber data yang saya jadikan inspirasi tulisan dan saya terbitkan di Durabita. Inti dari email tersebut lebih kepada konfirmasi link data sebagai rujukan yang terupdate,  dan tawaran kerja sama atau kolaborasi kedepannya. Meski saat ini belum ada keuntungan finansial yang didapat, ternyata sudah dibaca segelintir orang, padahal saya belum melakukan effort optimasi, namun sudah mendapat respon dari pihak eksternal, maka hal ini bisa menjadi sinyal bahwa artikel dan blog Durabita ini sudah mulai dirasuki crawler mesin pencari.

Kedepannya semoga hal positif yang saya kerjakan ini bisa memberikan manfaat positif dan menjadi lahan belajar baru sekaligus sumber pahala kedepannya, karena sudah menyebarkan ilmu yang Insha Allah bermanfaat.. AMIN!

 


 

Referensi :

  1. Durabita.com

 

Menjadi Product Manager

Ketika  memulai karier dan bekerja dahulu sebenarnya tidak akan terpikirkan menjadi seorang Product Manager yang menangani beragam hal yang cukup kompleks dan menantang, baik dari sisi teknologi,  bisnis, dan berusaha fokus membantu konsumen atau pengguna akhir,  serta juga siap beradaptasi dengan hal yang dinamis, sekaligus berpikir kreatif, namun dituntut pula dapat bekerja secara sistemastis terstruktur,  plus dapat bekerja sama serta berdiskusi dengan banyak pihak.

 

Unsplash Image

 

Setelah belajar dengan membaca,  berdiskusi, hingga menonton beberapa video mengenai  Product Management, termasuk menyelami keseharian profesi Product Manager lainnya di ranah industri digital, maka dari berbagai materi yang saya baca tersebut, semakin hari saya merasa semakin banyak hal yang  secara pribadi harus saya tingkatkan serta makin banyak hal yang saya harus pelajari. Hal ini membuat saya merasa ingin berbagi sejumput informasi dan pengetahuan yang saya ketahui, agar teman-teman yang tertarik dan berminat dengan profesi ini, bisa belajar serta  mudah-mudahan menjadi lebih baik dari saya,  plus menabung pahala berbagi ilmu di surgawi kelak!

Apa itu Product Manager?

Nah… ini dia pertanyaan yang sering dilontarkan kalau ketemu kawan atau handai taulan diluar sana. Saya sering  menjelaskan dengan menggunakan diagram yang dipaparkan oleh Martin Eriksson, bahwa  pihak yang terlibat dalam product management dan dalam hal ini di posisi sebagai Product Manager, menurut pandangan beliau, bahwa orang Product berada diantara irisan bidang teknologi dalam pemahaman yang saya tahu, masuk terkait dalam technical development, coding-programming, mobile apps, desktop apps, database, security, sampai infrastruktur.

 

Product Management Diagram - Ardika Percha
Product Management Diagram 

 

Selain bersentuhan dengan bidang teknologi serta bekerja sama dengan technical leader dan developer handal, bahkan terkadang berdiskusi dengan boss CTO (baca: Chief Technical Officer, yang jadi bos besar seluruh tim technical/developer/engineer),  orang Product juga terkait erat dengan orang-orang bisnis, dalam hal ini termasuk dengan teman-teman business development, account, marketing, sales, dan semua hal terkait dengan sisi komersial (baca: untung rugi a.k.a. profit-losst dan budgeting) dari produk tersebut. Last not least, seorang Product Manager juga ngobrol dan berdiskusi dengan teman-teman UX (User eXperince), dalam hal ini kalau yang saya pahami ya teman-teman UX, serta kawan-kawan creative dan desainer grafis, yang berfokus pada kepentingan bagaimana produk atau aplikasi tersebut bisa diakses dan digunakan secara baik dan maksimal oleh semua pengguna produk kita, dalam ranah ini termasuk dalam hal sisi branding produk tersebut.

So, kesimpulannya seorang Product Manager adalah orang yang bertanggung jawab terhadap segala hal terkait produk tersebut, termasuk dalam perencanaan, pengembangan, implementasi, sampai proses monitoring, dengan bekerja sama dengan pihak terkait. Biasanya posisi ini punya wewenang yang cukup besar, tergantung kebijakan perusahaan atau tergantung kebutuhan, sehingga memiliki jangkauan kerja yang cukup luas, dan lebih kepada seorang integrator, primary supporter, bahkan punya fungsi leader yang menjembatani seluruh fungsi dan tim terkait.

 

Unsplash Image

 

Di beberapa perusahaan fungsi Product Manager punya kemiripan dengan fungsi Brand Manager (khususnya di perusahaan consumer product) yang fokus pada pada sebuah brand tertentu, namun di era jaman now yang serba digital, menurut pemahaman saya posisi ini lebih sedikit condong ke arah teknologi, serta dipadukan dengan fungsi bisnis serta fokus ke pengalaman konsumen (baca: UX).

Lalu sempat juga ada celetukan bahwa fungsi ini mirip dengan fungsi business analyst dan/atau system analyst yang berperan menjadi sosok yang menjembatani end user dengan tim programmer. Kalau menurut saya, baik Business Analyst dan/atau System Analyst bekerja dalam periode sebuah project tertentu, dan fokusnya sebagian besar di sisi teknologi saja, dan tidak bertitik berat pada sebuah pengembangan product tertentu. Celetukan ini juga sama dengan kesamaan fungsi Product dengan posisi Project Manager, namun jelas, seorang Project Manager sama dengan Business Analyst lebih condong dalam cakupan periode sebuah project dan tidak fokus ke pengembangan sebuah product atau pun misalnya membahas soal branding aplikasi tersebut. Memang dalam hal kemampuan teknis dan non teknis yang dibutuhkan memiliki kesamaan yang diperlukan dalam bekerja sebagai seorang Product Manager menurut saya, namun berbeda pada area cakupan fokus kerjanya.

Kemudian ada satu celetukan bahwa fungsi Product Manager mirip dengan fungsi Product Owner dalam metodologi Scrum yang lagi heboh recently diimplementasikan di beberapa corporate di Indonesia. Nah.. untuk yang ini, ada sebagian Product Manager yang memiliki fungsi sebagai Product Owner jika pengembangan product tersebut menggunakan Scrum atau metodologi Agile lainnya, apa lagi pengembangannya dilakukan dalam beberapa tahapan development sprint, so bisa jadi di beberapa perusahaan tertentu, fungsi dan posisi ini adalah orang yang sama.

Apa saja yang dikerjakan Product Manager?

Sehari-hari biasanya saya diselingi dengan kesibukan dengan mengevaluasi semacam product plan (diluar sana banyak menyebutnya sebagai product backlog) termasuk dengan semacam daftar apa saja yang harus dikerjakan, lalu daftar perbaikan dan penyempurnaan produk, baik dari sisi fitur maupun proses yang lebih baik, maupun melihat segalanya dari sisi global.

Selain itu, dalam pengembangan product seperti uraian sebelumnya, sempat dibahas seorang Product Manager atau siapa pun yang bertugas di tim Product Management bekerja sama dengan pihak teknologi, bisnis, dan UX.

Jika berkolaborasi dengan kawan-kawan di tim teknologi, maka pasti kerjaanya membahas taks-task development, membahas alur proses aplikasi atau website, bahkan saya justru kagum dan belajar banyak hal dari mereka, salah satunya bagaimana tetap optimis dan can-do attitude yang ciamik, karena dari hal yang berasa tidak mungkin dari ribuan code yang ditulis (atau memodifikasi template framework maupun “obrak-abrik” API yang ada) bisa menghasilkan sentuhan ajaib dan memberikan solusi yang akhirnya bisa diimplementasikan. Isu yang dihadapi selain isu teknis, sepengalaman saya yaitu perihal komunikasi serta ekspektasi dari tim yang terlibat, dan disinilah salah satu tugas saya untuk membantu dan memfasilitasi hal tersebut, sekaligus tetap berusaha mencapai memenuhi target di product plan (backlog), baik dari sisi waktu maupun kualitas.

Lalu selain banyak berdiskusi dengan tim teknologi, maka saya pun kadang brainstorming dengan tim creative yang memiliki ide-ide hebat nan kreatif, yang berusaha melayani dan membuat hidup konsumen atau pengguna akhir kita bak raja sekaligus memenuhi target dari sisi product plan. Dan tidak lupa, semua hal yang dikerjakan terkadang berawal dan/atau bermuara ke teman-teman di tim bisnis, bagaimana membuat dampak langsung ke perusahaan dari sisi profitabilitas sekaligus berusaha allign dengan kepuasan konsumen atau pengguna akhir kita.

Unsplash Image

Penutup

 

Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya pun terus belajar dari berbagai sumber, apa lagi di industri (baca: bisnis) yang saya geluti sifatnya yang sangat dinamis dan terkadang penuh ketidakpastian dari sisi pasar (baca: konsumen & kompetitor), sisi teknologi maupun dari sisi interaksi tim internal sendiri (termasuk tuntutan dari manajemen).

Product Manager merupakan profesi atau fungsi yang menurut saya cukup kompleks, harus pintar dalam menjalin hubungan, berkolaborasi dengan banyak orang, dan harus memiliki beberapa skill krusial yang dibutuhkan, namun (menurut pendapat saya), terkadang jika dilihat tugas utamanya membuat sesuatu yang kompleks bin ruwet tersebut menjadi lebih sederhana, lebih bisa diimplementasikan (saya menyebutnya faktor achievable), serta membuat tim lebih fokus dengan objektif yang ada, dan bisa merangkul banyak pihak [meski belum tentu bisa membuat senang dan bahagia semua orang :D].

So.. bagaimana menurut kamu tentang peran Product Manager? apa kamu sering berinteraksi dengan orang Product? Yuk, share dimari pendapat dan masukannya.

Terima kasih, nuhun, syukron,  thanks, kamsahanida & gracias!

 


 

Referensi :

  1. https://www.mindtheproduct.com/2011/10/what-exactly-is-a-product-manager/
  2. https://medium.com/earnest-product-management/3-types-of-product-management-dec4b2d77271
  3. https://medium.com/@bfgmartin/what-is-a-product-manager-ce0efdcf114c
  4. https://unsplash.com/photos/KE0nC8-58MQ
  5. https://unsplash.com/photos/UCZF1sXcejo

 

Mengulas Startup Report 2017 DailySocial di Power Lunch GDP Venture

 

Pada minggu ini saya diundang hadir dalam acara yang mengulas laporan tahunan startup Indonesia, disusun oleh portal berita idola yang sarat dengan  informasi terkini terkait dunia startup Indonesia, yaitu DailySocial. Acara bertajuk Power Lunch yang bertempat di Three Buns Senopati Jakarta ini digagas oleh GDP Venture, yang dikenal sebagai perusahaan ventura ternama dengan sederet portofolio startup yang ciamik, dari Kaskus, Tiket.com, BliBli, Kumparan, hingga Semut Api, serta tentunya DailySocial.

Power Lunch ini dihadiri oleh dua narasumber yang bisa menjadi acuan dalam membaca peta perkembangan startup Indonesia, yaitu Pak Rama Mamuaya selaku CEO DailySocial dan Pak Danny Wirianto sebagai CMO GDP Venture. Menurut saya, dua narasumber tersebut bisa memberikan perspektif pandangan yang berbeda, baik dari sisi pelaku startup, lalu bisa dari sisi investor, maupun dari sisi media yang spesifik membahas startup Indonesia, sehingga dari acara ini menurut saya bisa menjadi salah satu sumber pembelajaran yang baik.

 

 

Mempelajari dan memahami lanskap perusahaan rintisan (baca: startup) yang bisa dikatakan berkembang secara progresif dan bahkan bombastis dalam kurun waktu dua sampai tiga tahun terakhir membuat kita sebagai insan Indonesia dapat berbangga hati.  Dari laporan yang dihimpun oleh DailySocial tersebut, bahwa sudah ada 230 lebih startup yang telah hadir dan telah menghasilkan paling tidak 4 startup dengan gelar unicorn, yaitu Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan BukaLapak. Sebagai informasi, seperti yang disampaikan Pak Danny bahwa jumlah startup dengan gelar unicorn tersebut termasuk cukup besar untuk skala Asia, khususnya Asia Tenggara, dan ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah pasar sekaligus sumber inovasi dengan tren pertumbuhan positif.

 

Startup Report 2017 by @dailysocial_id #startup #annualreport #indonesia

A post shared by Percha (@jurnalpercha) on

 

Dari sisi lanskap investasi startup Indonesia, maka sejumlah startup tersebut telah berhasil menghasilkan dan mengumpulkan nilai investasi lebih dari 3 Trilyun US Dollar dengan 91 startup yang telah mengumumkan dan melakukan funding rounds, serta terdapat berbagai kegiatan merger dan akusisi yang melibatkan 14 startup. Dan menariknya, pertama kali di Indonesia ada 2 startup yang telah go-public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sehingga hal ini bisa menjadi pemacu dan pemicu startup lain tidak hanya melakukan funding dari sisi perusahaan ventura atau investasi lainnya, namun startup Indonesia mampu membuktikan bisa hadir dan menarik dana publik melalui mekanisme pasar modal sesuai regulasi.

Selain itu, dalam laporannya, DailySocial juga memberikan prediksi tren perkembangan teknologi di periode tahun selanjutnya, yaitu munculnya pemanfaatan Internet of Things, kemudian meluasnya penggunaan Artificial Intelligent di berbagai sudut kehidupan, dan tentunya tren perkembangan blockchain yang mulai dikenal di Indonesia. Untuk detail informasi Startup Report 2017 dapat disimak lebih lanjut di situs DailySocial.id dan bisa diunduh dari sumber aslinya, sehingga bisa dipelajari lebih lanjut untuk membaca peta perkembangan startup di Indonesia.

 

 

Di sisi lain, perkembangan startup di Indonesia juga akan menghadapi beberapa kendala yang perlu menjadi perhatian, yaitu isu sumber daya manusia, yaitu kurangnya ketersedian talenta berkualitas, lalu belum adanya kerjasama yang intens dengan pihak kampus/sekolah, sehingga seperti yang dipaparkan oleh pak Rama, bahwa dunia startup masih perlu mmembutuhkan peran pemerintah yang intens, termasuk isu infrastruktur yang menjadi masalah klasik negeri ini. Kemudian terkait dengan peran pemerintah, ada beberapa aturan dan regulasi yang justru menghambat laju perkembangan startup Indonesia, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku startup di Indonesia.

Dengan segala  ulasan dan isu yang dipaparkan diatas, pak Rama berharap dengan disusun dan dirilisnya laporan startup tahunan dapat memberikan informasi yang berguna dan dapat dimanfaatkan untuk memajukan ekosistem startup di Indonesia kedepannya.


Referensi :

  1.  https://dailysocial.id/
  2. https://www.gdpventure.com/

 

Perkembangan Industri Fintech di Indonesia

 

Data & Fakta Perkembangan FinTech

Perkembangan yang tergolong bombastis di industri digital disertai tumbuhnya perusahaan rintisan (baca startup), selain itu, adaptasi yang cukup cepat atas media sosial dan layanan digital, maka Indonesia berpeluang menjadi salah satu tambang emas di kawasan Asia, khususnya di Asia Tenggara sendiri.

Dengan potensi pasar dan tren penetrasi internet di Indonesia yang cukup besar tersebut, maka perkembangan Fintech (diterjemahkan menjadi tekfin: teknologi finansial) pun ikut terpacu. Seperti artikel yang saya tulis mengenai awal perkembangan Fintech di Indonesia [Baca artikel ‘Belajar Fintech Indonesia”], maka kecenderungan penggunaan layanan digital yang awalnya dari aktivitas media sosial, akan berkembang dan bergeser ke penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, contohnya dalam aktivitas keuangan.

Dari data yang dilansir dari Bank Indonesia via Tech in Asia, hingga akhir tahun 2016, telah ada 142 perusahaan yang bergerak dalam usaha tekfin tersebut, dan menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Perkembangan tekfin di Indonesia dapat dilihat dari infografis berikut yang dilansir dari Tirto.id, bahwa dari tahun 2015 hingga estimasi di 2017 akan terjadi lonjakan penggunaan tekfin dalam ranah pribadi (non bisnis), misalnya dalam penggunaan pembayaran elektronik atau terkait dengan pengelolaan keuangan pribadi.

Tirto.id
Tirto.id

 

 

Kepopuleran FinTech 

Mengapa FinTech begitu populer di Indonesia?  Untuk menjawab pertanyaan diatas, saya mencoba merangkum dari beberapa sumber [Modalku], sehingga kita dapat mengetahui perkembangan FinTech kedepannya, yaitu sbb :

  1.  Generasi muda yang lahir dengan Internet dan mulai dewasa menginginkan solusi cepat bagi permasalahan mereka. Proses online biasanya lebih sederhana dan lebih cepat, serta mereka pun lebih aktif menyelesaikan masalah mereka sendiri. Bila tidak ada solusi, mereka akan tidak segan untuk meminta bantuan pihak lain melalui internet.
  2. Meluasnya penggunaan Internet dan smartphone ditengah kesibukan yang semakin tinggi, sehingga ada kebutuhan untuk melakukan transaksi keuangan secara online.
  3. Pelaku Fintech Indonesia melihat cerita sukses bisnis berbasis teknologi digital seperti Gojek dan Uber. Mereka merasa terinspirasi membangun usaha digital di bidang keuangan. Bila orang lain bisa melakukannya, mengapa saya tidak?
  4. Usaha Fintech dianggap lebih fleksibel dibandingkan bisnis konvensional yang memiliki wajah lebih kaku.
  5. Penggunaan teknologi, software, dan olah data Fintech . Usaha Fintech juga menggunakan data secara lebih akurat dan tepat guna, misalnya data dari social media, atau proses seleksi kredit yang bisa dilakukan secara remote mobile dan dilakukan hampir real time sehingga prosesnya menjadi lebih cepat dan lebih akurat, maka misalnya dalam pengajuan profil risiko kredit dalam proses konvensional menjadi perlahan usang.

 

Relasi Regulator & Pelaku Industri FinTech

pixabay.com
pixabay.com

 

Pada akhir tahun 2016 yang lalu, dengan diresmikannya Bank Indonesia Fintech Office merupakan salah satu tonggak di industri finansial sudah mulai fokus atas berkembangnya di ranah digital, sehingga isu klasik mengenai regulasi dan aturan main sepertinya akan lebih jelas bagi pelaku digital. Dengan hadirnya Bank Indonesia Fintech Office akan menjadi wadah evaluasi, penelusuran, dan mitigasi risiko dalam pengembangan perusahaan-perusahaan di bidang teknologi keuangan, khususnya terkait sistem pembayaran.

Hal ini pun sudah diinisiasi juga oleh OJK melalui rangkaian acara seperti Indonesia Fintech Indonesia Festival & Conference 2016 yang menjadi showcase  dan wadah diskusi resmi bagi pelaku industri tekfin tersebut, lalu adapula inisiatif-inisiatif yang menghasilkan langkah positif, disertai dengan hadirnya Asosiasi Fintech Indonesia di acara tersebut, sehingga berbagai pihak dapat terjalin komunikasi antara pelaku, pasar, dan regulator. Dengan hadirnya beberapa inisiatif tersebut, maka progres perkembangan industri tekfin Indonesia sudah di jalur yang tepat, sehingga momentum yang ada dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk perkembangan ekonomi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing di kancah internasional secara keseluruhan.

 


Referensi :

  1. https://id.techinasia.com/perkembangan-startup-fintech-di-indonesia-2016
  2. https://modalku.co.id/blog-detail/1220/perkembangan-fintech-di-indonesia
  3. https://tirto.id/peresmian-bi-fintech-office-b4WA
  4. https://id.techinasia.com/daftar-startup-teknologi-jasa-finansial

Perang Tarif Layanan Transportasi Online Vs Konvensional

Hadirnya transportasi yang melayani publik dengan konsep ride sharing memang menjadi fenomena menarik sendiri, seperti yang saya bahas di ulasan ojek online [Baca: 7 layanan ojek online], maka hadirnya layanan tersebut dari sisi konsumen jelas terbantu dalam mobilitas sehari-hari. Dengan perkembangan pesat model transportasi tersebut, tak terelakkan menimbulkan persaingan bisnis yang sengit, dan para pelaku bisnis tersebut pun masuk ke jurang kompetisi perang harga.

 

https://iprice.co.id
https://iprice.co.id

 

Perang tarif bisa disebut kondisi bagai pisau bermata dua, yaitu ada kondisi yang positif dan sekaligus kondisi negatif, baik dari sisi pebisnis, pelaku, pemerintah, dan tentunya pengguna atau konsumen. Hal ini terjadi contohnya pada kasus perang tarif di industri telekomunikasi,  jika terlihat dalam jangka pendek memang menguntungkan bagi konsumen karena menikmati tarif murah, namun bagi jangka panjang kualitas layanan akan menurun atau berkurang, serta tidak ada jaminan standar layanan dan keselamatan sesuai regulasi. Perang tarif antar operator taksi online dengan tarif angkutan umum konvensional juga merugikan industri transportasi secara keseluruhan terkait kesetaraan berbisnis, misalnya isu perizinan dan perpajakan.

Saya sebagai konsumen dan pengguna loyal, kehadiran transportasi online, khususnya taksi online tersebut sangat terbantu, karena faktor kemudahan, layanan yang cukup baik, dan tentunya harga yang tergolong terjangkau dan kompetitif. Di sisi lain, saya sebagai konsumen juga menginginkan standar layanan dan keselamatan sesuai regulasi, meski hal ini setiap penyedia layanan sudah memiliki standar yang cukup baik, namun dari sisi perlindungan konsumen dan (mungkin) dari sisi operator/driver juga bisa diperhatikan.


 

Referensi :

  1. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3453621/tarif-taksi-online-dibatasi-menhub-agar-tidak-terjadi-perang-tarif
  2. https://iprice.co.id/insights/uber-grab-taxis/

Belajar Fintech Indonesia

Perkembangan dunia digital termasuk tumbuhnya industri tekfin  (lebih dikenal dengan istilah fintech) serta melesatnya pertumbuhan media sosial yang dipicu pesatnya penggunaan akses internet di Indonesia, bahkan untuk saya pribadi telah mengubah pola keseharian saya secara bertahap, salah satunya dalam penggunaan transportasi dengan ojek online  [BACA artikel blog : 7 layanan ojek fenomenal]  yang hampir tiap hari saya gunakan.

Selain menggunakan ojek online tersebut, tentunya saya menggunakan kereta Commuter Line dan tentunya untuk memudahkan proses transaksi, saya menggunakan mata uang digital/elektronik sejenis seperti produk e-money Bank Mandiri, BNI Tap Cash, BCA Flazz, maupun Go-Pay, dengan intensitas penggunaannya pun semakin tinggi. Melihat perkembangan pola kehidupan tersebut, membuat saya pribadi ingin belajar terkait perkembangan industri teknologi finansial, yang sekarang dikenal dengan istilah fintech tersebut.

Menurut pendapat saya, untuk mempelajari fintech ini,  dari hasil membaca sana-sini tersebut, maka perkembangan fintech diawali dari pemanfaatan jaringan ATM, lalu mobile banking, kemudian layanan internet banking, dan paralel pemanfaatan uang elektronik menjadi pemicu perkembangan fintech Indonesia.

 

pixabay.com
pixabay.com

 

Uang elektronik (e-money) berbasis kartu fisik

Pemanfaatan uang elektronik tersebut dari yang saya pelajari awalnya dari penggunaan transaksi fisik & tatap muka yang merupakan awal perkenalan dengan fintech, dibantu dengan teknologi pembacaan kartu pintar terhadap perangkat pembacanya, merupakan awal menggunakan layanan fintech sejenis, seperti yang dipaparkan diatas.

Seperti yang saya sampaikan diawal artikel blog ini, uang elektronik lambat laun bakal menjadi hal yang lumrah di Indonesia, paling tidak dari keseharian saya dan aktivitas di sekitar lingkungan saya, bahkan tren positif tersebut mengalami kenaikan nilai yang semakin besar, hal ini merujuk dari data, seperti yang dilansir dari data e-money Bank Indonesia via Daily Social, trennya dari tahun 2014 hingga 2016, terdapat lebih dari 476 juta transaksi dengan perputaran uang sejumlah lebih dari 5,28 triliun Rupiah, maka terdapat kenaikan sebesar lebih dari 59% dari tahun sebelumnya (year-on-year).

 

dailysocial.id
dailysocial.id

Uang elektronik (e-money) berbasis layanan internet (server based)

Pemanfaatan uang elektronik selanjutnya yaitu penggunaan layanan via internet, dan hal ini menjadi lumrah, seperti pemesanan & pembayaran tiket, online shopping, akomodasi perjalanan, dsb. Menurut saya, layanan seperti ini, dari sisi akses dan user experience mirip dengan transaksi kartu kredit, serta dilengkapi fitur keamanan dan otentifikasi yang mudah sekaligus canggih. Salah satu yang saya ketahui dan pernah mencoba yaitu layanan Sakuku dari Bank BCA, yang terintegrasi dengan KlikBCA dan bahkan ATM BCA.

 

Payment Gateway

Melihat perkembangan uang elektronik tersebut, saya pribadi pun teringat beberapa tahun lalu mengenai kabar melesatnya bisnis payment gateway di Indonesia, yang diramaikan dengan hadirnya Doku sebagai perintis local payment gateway dan akhirnya menjadi salah satu pemain besar dalam layanan ini semenjak 2007, lalu disusul operator lain seperti Inapay, Veritrans, dsb.

Payment gateway ini pun menjadi fondasi atas mayoritas transaksi elektronik, dan sepengetahuan saya dengan akses, teknologi, dan jaringan yang dimiliki, yang sebagian besar dikuasai pemain lokal semenjak lama, bahkan sebelum booming ecommerce di Indonesia, maka hal ini pun menjadi salah satu katalisator perkembangan tekfin alias fintech Indonesia, disertai dengan kebutuhan dan adaptasi masyarakat Indonesia yang cukup responsif atas perkembangan baru ini.


Referensi :

  1. https://dailysocial.id/post/mengintip-gurihnya-uang-elektronik-di-indonesia
  2. http://www.bi.go.id/id/ruang-media/pidato-dewan-gubernur/Documents/Sambutan-GBI-Launching-Fintech-Office-14Nov2016.pdf
  3. https://www.quora.com/Which-is-the-best-payment-gateway-in-Indonesia
  4. http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_189216.aspx
  5. http://www.thepaypers.com/payment-service-providers/indonesia/22

Perkembangan dan Kepopuleran Game Online

 

unsplash.com
unsplash.com

 

Dahulu jenis game yang saya mainkan yaitu bergenre action adventure dan game bergenre strategi, yang dimainkan secara offline. Sekarang beragam game tersedia dan bisa dimainkan secara online, yaitu semacam game action seperti Counter Strike, GTA dan Call of Duty, lalu game petualangan dengan genre RPG (Role Playing Game) seperti World of Warcraft dan Skyrim, sampai game dengan genre multiplayer online battle arena (MOBA) seperti Dota dan League of Legends, casino game Mansion88, hingga mobile game  seperti Clash of Clans – Clash Royale dan yang terakhir pernah happening yaitu Pokemon Go.

Bermain game untuk saya merupakan salah satu kegiatan yang saya lakukan di waktu senggang dan terkadang menjadi hiburan tersendiri. Ketika “masa jayanya” dahulu, saya bermain game apa lagi ketika musim liburan sekolah tiba, bisa dilakukan seharian dan merupakan aktivitas utama mengisi waktu liburan.

 

Fakta Game Online

Dilansir dari nowloading.com yaitu situs yang membahas perkembangan industri game, menyatakan online game telah mendominasi industri game dan dimainkan jutaan penggemarnya di seluruh dunia, lalu menariknya, mayoritas game yang dimainkan tersebut  lebih menekankan faktor sosialnya dalam elemen permainan, yaitu dapat bertemu dan berkompetisi dengan pemain lain di belahan dunia lain, atau bermain bersama dengan teman-temannya.

 

https://nowloading.co
https://nowloading.co

 

Game dengan genre multiplayer online battle arena (MOBA) semacam DotA 2 (Defense of the Ancients) yang berada di salah satu urutan teratas untuk game yang paling sering dimainkan di platform distribusi online game STEAM dan faktanya, bahwa DotA telah dimainkan sebanyak lebih dari 10 juta orang setiap bulannya!! Lalu game League of Legends (LoL) pun bernasib sama dengan DotA 2, yaitu menjadi pusat perhatian berjuta-juta gamer sedunia dan telah dimainkan lebih dari 32 juta orang setiap bulannya… AMAZING!!

 

https://nowloading.co/
https://nowloading.co/

 

Nowloading.com pun membeberkan sejumlah data, seperti game Counter Strike Global Offensive yang dirilis oleh Valve telah terjual lebih dari 12 juta copy semenjak peluncurannya di tahun 2012 hingga kini, dan saat ini setiap bulannya 3 juta orang bermain game CS GO dengan total lebih dai 250 jam permainan!!

Dengan jutaan pemain game tersebut, industri game pun menjadi sebuah mega industri di era internet ini, lalu dari sisi format permainan pun semakin bergeser dari format single player ke format multiplayer, dan bahkan game pun serta menjadi sebuah cabang olahraga baru, yaitu yang disebut sebagi e-sport.

Tren Game Online

Menariknya, tren permainan elektronik di Indonesia melalui media online ini mewabah dengan adanya akses internet yang semakin mudah dijangkau dan didukung dengan infrastruktur yang cukup di beberapa kota di Indonesia, baik di skala warung internet yang menjamur di era awal tahun 2000-an, hingga kemudahan akses internet cepat yang bisa dinikmati di rumah 2-3 tahun terakhir.

 

https://id.techinasia.com
https://id.techinasia.com

 

Seperti artikel yang pernah disusun oleh Tech In Asia, mengenai beberapa online game yang terbaik dan dimainkan oleh mayoritas gamer di Indonesia maka daftar game yang muncul tidak jauh berbeda dengan kepopuleran game yang ada di level global seperti CS GO, LoL dan DotA, namun ada beberapa jenis game yang  spesifik mendapatkan penggemarnya di Indonesia, seperti Ragnarok yang fenomenal dan Point Blank yang mirip dengan konsep game CS GO, lalu ada beberapa game seperti  Ayo Dance, Gundam Capsule Fighter, Rising Force, hingga 3 Kingdoms, yang memiliki fans yang cukup besar.

Selain soal akses internet yang dipaparkan diatas, pilihan game yang ditawarkan pun berkonsep freemium, yaitu game tersebut gratis untuk dimainkan dan jika ingin menambah fitur tambahan, maka pemain game tersebut bisa membeli paket di game tersebut dengan sejumlah uang. Dengan konsep seperti ini, maka hampir tidak ada halangan berarti bagi penikmat online game tersebut untuk langsung mencoba bermain game pilihannya.

 

Jadi apa online game favorit kamu? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar ya.


Referensi:

  1. https://nowloading.co/posts/3916216
  2. https://id.techinasia.com/10-game-online-indonesia-terbaik-pilihan-games-asia
  3. https://unsplash.com/collections/314527/gaming

 

7 Layanan Ojek Yang Fenomenal

Perkembangan perusahaan rintisan (startup) yang berbasis teknologi di Indonesia menjadi semakin menjamur, hal ini tidak hanya dari dampak perkembangan teknologi ponsel dan akses internet yang semakin mudah dijangkau dan murah, juga disertai dengan perilaku masyarakat Indonesia yang cukup adaptif dengan perkembangan teknologi, sehingga beberapa aplikasi dan solusi teknologi yang hadir bisa direspon dengan cukup baik.

Di tahun 2015 ini, aplikasi yang menawarkan layanan transportasi ojek menjadi primadona di kalangan masyarakat, berawal dari tawaran tarif yang kompetitif disertai promo menarik, lalu didukung kemudahan penggunaan layanan tersebut, hingga akhirnya menjadi solusi transportasi bagi para penggunanya.

Seperti tulisan saya yang ditulis di artikel #KomuterKota [Baca artikel: #KomuterKota] mengenai potret sehari-hari warga ibukota dan daerah sekitarnya, yang berkomuter ria, dari dan ke Jakarta, maka munculnya layanan ojek berbasis teknologi yang sebagian berbasis aplikasi mobile, membantu kita semua dalam beraktivitas sehari-hari.

Berikut 7 layanan ojek fenomenal yang telah hadir dan digunakan oleh warga Jabotabek & sekitarnya :

 

1. Go-jek

Layanan Go-jek (http://www.go-jek.com/)
Layanan Go-jek (http://www.go-jek.com/)

 

Siapa yang tak kenal brand Go-jek yang fenomenal dan revolusioner untuk solusi transportasi ibukota Jakarta. Go-jek menjadi perintis dalam layanan ojek, benar-benar memanfaatkan kecanggihan teknologi dan jeli melihat potensi pasar yang sebelumnya tidak begitu diperhatikan.

Go-jek merupakan layanan ojek pertama yang saya gunakan, dan dari pengalaman perdana tersebut, saya merasakan kemudahan dalam penggunaan aplikasi Go-jek, lalu dari sisi layanan juga bisa diandalkan, cepat, serta sekaligus tarifnya tergolong murah 😀

Go-jek memberikan berbagai layanan inovatif, tidak hanya memberikan layanan transportasi ojek standar yang disebut Go-ride, namun juga menyediakan layanan kurir Go-send, layanan pemesanan makanan Go-food, lalu menjadi sebuah layanan antar dan transportasi yang lengkap, seperti layanan Go-mart dan Go-box.

Selain metode pembayaran dengan cash, Go-jek juga sudah mengenalkan metode pembayaran dengan metode kredit yang awalnya didapat dari proses undangan dan referal tertentu, namun metode kredit tersebut juga bisa dibeli melalui beberapa partner Go-jek.

Di versi aplikasi terakhir, selain layanan ojek standar dan layanan kurir, saya menemukan layanan Go-clean untuk layanan pembersihan semacam cleaning services, sampai layanan salon dan pijat profesional Go-glam dan Go-massage.. gokil 😀

 

 

Gojek App (Go-jek)
Gojek App (Go-jek)

 

Layanan baru Go-jek (Go-jek)
Layanan baru Go-jek (Go-jek)

 

Seluruh layanan yang dikembangkan tersebut, menjadikan Go-jek tidak hanya sebagai perintis di layanan aplikasi ojek ini, namun sekaligus menempatkan Go-jek yang terdepan dan menjadi sebuah peletak standar layanan di industri ini.

2. Grabbike

Grabtaxi (http://grabtaxi.com)
Grabtaxi (http://grabtaxi.com)

 

Layanan ojek lainnya yang saya ketahui yaitu Grabbike, yang berawal dari sebuah layanan pemesanan taksi berbasis lokasi Grabtaxi. Melihat geliat kesuksesan Go-jek, Grabtaxi akhirnya meluncurkan layanan Grabbike yang bersaing ketat, baik dari sisi layanan yang ditawarkan, metode promosi, perang promo dan tarif, serta ekspansi armada yang saling bersaing dengan Go-jek.

Saya pribadi lebih dahulu menggunakan Grabtaxi, dan saya cukup puas atas layanan dan kemudahan dalam menggunakan layanan taksi via Grabtaxi tersebut. Kemudian saya pun mulai menggunakan layanan Grabbike, karena mau merasakan perbedaan layanan yang diberikan dengan Go-jek, selain itu saya tertarik tarif promo yang kompetitif dan tidak dibatasi oleh jam sibuk, berbeda dengan layanan yang ditawarkan Go-jek, namun soal penetapan tarif ini pun, akhirnya antara kedua layanan ojek tersebut, baik skema tarif & promo yang agak mirip, bahkan saat ini saya merasa telah terjadi “price war” antara dua layanan ojek ini.

Sampai sejauh ini, hampir tidak ada perbedaan berarti untuk layanan yang diberikan Go-jek maupun Grabbike, namun menurut saya kelebihan aplikasi Grab terletak di kemudahan pemesanan yang menyatu, baik untuk layanan pemesanan taksi dan ojek sekaligus, dan bahkan Grabtaxi tersebut akan merambah ke layanan Grabcar, yang mirip seperti layanan Uber yang bikin heboh tempo hari.

Selain itu, Grabtaxi maupun Grabbike tergolong agresif, dilihat dari sisi promo yang ditawarkan, bisa dilihat dari pola kerja sama Grabtazi-Grabbike dengan brand-brand lain, serta event dan aktivasi yang diselenggarakan, sehingga pengguna Grabtaxi maupun Grabbike mendapat paket promo yang lebih beragam, dan hal ini menjadi salah satu kelebihan Grabbike-Grabtaxi tersebut.

 

Grabtaxi App (Grabtaxi)
Grabtaxi App (Grabtaxi)

 

Promo Grabbike (Grabbike)
Promo Grabbike (Grabbike)

 

3. Blu-jek

Situs Topjek (https://www.topjek.com)
Situs Blu-jek (http://blu-jek.com/)

 

Blu-jek App (http://blu-jek.com/)
Blu-jek App (http://blu-jek.com/)

Dari pengalaman berojek ria dengan 2 layanan yang saya pernah gunakan, lambat laun pun saya menaruh perhatian terhadap perkembangan layanan ojek berbasis teknologi tersebut.

Dan seperti yang diperkirakan, muncul serta berkembanglah layanan sejenis, dan saya pun mendengar layanan Blu-jek diluncurkan. Namun amat disayangkan, dari situs resmi maupun informasi resmi dari pengelola Blu-jek yang saya dapatkan tergolong minim, dan dari sisi ketersediaan armada yang masih kurang pula, ditambah pula dari sisi aplikasi yang dirilis masih tidak stabil, sehingga saya tidak bisa mencoba layanan ini.

 

4. Topjek

Situs Topjek (https://www.topjek.com)
Situs Topjek (https://www.topjek.com)

 

Setelah Blu-jek muncul, maka sejumlah aplikasi lain juga muncul, salah satunya Topjek. Topjek yang memiliki warna brand kuning cerah, menawarkan layanan ojek dan kurir antar barang.

Dengan tagline “Hidup cerdas dengan TOPJEK” tersebut, maka Topjek berusaha mulai mengajak para wanita untuk bergabung menjadi armada ojek dan memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Dari sisi aplikasi mobile, Topjek cukup baik digunakan dan memiliki alur pemesanan yang tidak jauh berbeda dengan aplikasi sejenis. Namun, lagi-lagi dari sisi armada yang masih minim, maka hingga saat ini saya belum merasakan pengalaman menggunakan Topjek, namun dari rekan saya yang pernah mencoba, Topjek tergolong masih perlu pembenahan dari sisi layanan yang diberikan.

Top-jek app (https://www.topjek.com/)
Top-jek app (https://www.topjek.com/)

 

5. Ojek Syari

Situs Ojesy (http://www.ojeksyari.com/)
Situs Ojesy (http://www.ojeksyari.com/)

 

Nah, satu lagi layanan ojek yang mengklaim dirinya sebagai “layanan ojek wanita pertama di Indonesia”, Ojesy menawarkan layanan ojek syariah khusus wanita (muslimah). Jika dilihat dari informasi yang saya dapat dari situs resminya, memang Ojesy memiliki target pasar yang spesifik dan lebih mengarah ke komunitas.

Namun amat disayangkan, hingga tulisan ini diturunkan,  Ojesy  hanya menerima pemesanan melalui call center dan aplikasi chat WhatsApp plus BBM saja. Selain itu, ternyata layanan ini memiliki batasan dalam aktivitas layanannya, yang mungkin dari sisi pengojek yang khusus wanita (muslimah) tersebut.

Dengan pangsa pasar yang niche tersebut, Ojesy (mungkin) memiliki basis konsumen yang loyal, dan memberi warna berbeda dengan kompetitor lainnya di industri layanan perojekan.

 

Ojek Syariah (Ojesy)
Ojek Syariah (Ojesy)

 

6. Ladyjek

Situs Ladyjek (http://www.ladyjek.com/)
Situs Ladyjek (http://www.ladyjek.com/)

 

Selain Top-jek dan Ojesy, maka satu lagi aplikasi ojek yang menargetkan kaum hawa, baik untuk pengojek (yang disebut biker) maupun penumpangnya. Jika menilik dari situs resminya, Ladyjek memang lebih “marketable“, baik dari sisi aplikasi mobile, program promo, maupun sisi branding yang lebih powerful dengan warna ungu nan unyu tersebut.

Selain faktor pengguna dan pengojek yang dikhususkan dari dan untuk wanita tersebut, Ladyjek menawarkan metode pembayaran alternatif selain metode pembayaran uang cash, yaitu dengan uang elektronik, berupa layanan dengan layanan Mandiri e-cash dan XL-tunai.

Nah.. karena layanan ini target audience-nya untuk wanita, maka saya tidak bisa mencoba layanan Ladyjek ini, meski dari sisi aplikasi sudah cukup stabil dan memiliki alur yang mirip dengan aplikasi sejenis.

So, jika anda wanita, boleh loh nanti berbagi pengalamannya di halaman komentar artikel dibawah ini, jika anda sudah mencoba Ladyjek, termasuk penggunaan layanan ojek Ojesy yang saya tulis di bagian sebelumnya.

Ladyjek app (http://www.ladyjek.com/)
Ladyjek app (http://www.ladyjek.com/)

 

7. Jeger Taksi

Situs Jeger Taksi (http://www.jegertaksi.com/)
Situs Jeger Taksi (http://www.jegertaksi.com/)

 

Last not but least, layanan Jeger Taksi hadir dengan memberikan tidak hanya layanan ojek saja, namun juga layanan kurir serta layanan pemesanan makanan. Dari 7 layanan ojek tersebut yang saya ulas, Jeger Taksi menurut saya memiliki layanan yang mendekati layanan yang Go-jek tawarkan, namun hingga saat ini, Jeger Taksi tidak merilis aplikasi mobile, tetapi Jeger Taksi hanya menyediakan layanan pemesanan melalui platform website yang diakses melalui browser favorit anda, serta pemesanan melalui aplikasi chatting WhatsApp dan BBM.

Jegertaksi app {http://www.jegertaksi.com/}
Jegertaksi app {http://www.jegertaksi.com/}

 


Setelah membaca ulasan saya diatas, bahwa kita bisa menyimpulkan bahwa layanan ojek tersebut telah mendorong tidak hanya industri teknologi, bahkan bisa mengakselerasi “sektor riil”, yaitu membuka lapangan kerja baru yang sebelumnya masih dianggap sebelah mata, dan  cukup banyak kisah kesuksesan dari pengojek tersebut, bahkan beberapa kali saya sempat berdiskusi sekilas dengan pengojek tersebut, bahwa profesi ojek menjadi profesi mumpuni dan memang mengangkat derajat penghasilan pengojek tersebut, sehingga tidak hanya membantu kita berkomuter ria di jalanan ibukota, namun membantu kehidupan pengojek tersebut.

So, bagaimana menurut anda tentang layanan ojek yang ada? lalu apa layanan ojek favorit anda? Yuk, silahkan sharing di kolom komentar dibawah ini ya :)


Sumber:

  1. http://www.go-jek.com/
  2. http://grabtaxi.com/jakarta-indonesia/category/grabbike/
  3. http://blu-jek.com/
  4. https://www.topjek.com/
  5. http://www.ojeksyari.com/
  6. http://www.ladyjek.com/
  7. http://www.jegertaksi.com/