Tag Archives: indonesia kreatif

Mengulas Startup Report 2017 DailySocial di Power Lunch GDP Venture

 

Pada minggu ini saya diundang hadir dalam acara yang mengulas laporan tahunan startup Indonesia, disusun oleh portal berita idola yang sarat dengan  informasi terkini terkait dunia startup Indonesia, yaitu DailySocial. Acara bertajuk Power Lunch yang bertempat di Three Buns Senopati Jakarta ini digagas oleh GDP Venture, yang dikenal sebagai perusahaan ventura ternama dengan sederet portofolio startup yang ciamik, dari Kaskus, Tiket.com, BliBli, Kumparan, hingga Semut Api, serta tentunya DailySocial.

Power Lunch ini dihadiri oleh dua narasumber yang bisa menjadi acuan dalam membaca peta perkembangan startup Indonesia, yaitu Pak Rama Mamuaya selaku CEO DailySocial dan Pak Danny Wirianto sebagai CMO GDP Venture. Menurut saya, dua narasumber tersebut bisa memberikan perspektif pandangan yang berbeda, baik dari sisi pelaku startup, lalu bisa dari sisi investor, maupun dari sisi media yang spesifik membahas startup Indonesia, sehingga dari acara ini menurut saya bisa menjadi salah satu sumber pembelajaran yang baik.

 

 

Mempelajari dan memahami lanskap perusahaan rintisan (baca: startup) yang bisa dikatakan berkembang secara progresif dan bahkan bombastis dalam kurun waktu dua sampai tiga tahun terakhir membuat kita sebagai insan Indonesia dapat berbangga hati.  Dari laporan yang dihimpun oleh DailySocial tersebut, bahwa sudah ada 230 lebih startup yang telah hadir dan telah menghasilkan paling tidak 4 startup dengan gelar unicorn, yaitu Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan BukaLapak. Sebagai informasi, seperti yang disampaikan Pak Danny bahwa jumlah startup dengan gelar unicorn tersebut termasuk cukup besar untuk skala Asia, khususnya Asia Tenggara, dan ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah pasar sekaligus sumber inovasi dengan tren pertumbuhan positif.

 

Startup Report 2017 by @dailysocial_id #startup #annualreport #indonesia

A post shared by Percha (@jurnalpercha) on

 

Dari sisi lanskap investasi startup Indonesia, maka sejumlah startup tersebut telah berhasil menghasilkan dan mengumpulkan nilai investasi lebih dari 3 Trilyun US Dollar dengan 91 startup yang telah mengumumkan dan melakukan funding rounds, serta terdapat berbagai kegiatan merger dan akusisi yang melibatkan 14 startup. Dan menariknya, pertama kali di Indonesia ada 2 startup yang telah go-public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sehingga hal ini bisa menjadi pemacu dan pemicu startup lain tidak hanya melakukan funding dari sisi perusahaan ventura atau investasi lainnya, namun startup Indonesia mampu membuktikan bisa hadir dan menarik dana publik melalui mekanisme pasar modal sesuai regulasi.

Selain itu, dalam laporannya, DailySocial juga memberikan prediksi tren perkembangan teknologi di periode tahun selanjutnya, yaitu munculnya pemanfaatan Internet of Things, kemudian meluasnya penggunaan Artificial Intelligent di berbagai sudut kehidupan, dan tentunya tren perkembangan blockchain yang mulai dikenal di Indonesia. Untuk detail informasi Startup Report 2017 dapat disimak lebih lanjut di situs DailySocial.id dan bisa diunduh dari sumber aslinya, sehingga bisa dipelajari lebih lanjut untuk membaca peta perkembangan startup di Indonesia.

 

 

Di sisi lain, perkembangan startup di Indonesia juga akan menghadapi beberapa kendala yang perlu menjadi perhatian, yaitu isu sumber daya manusia, yaitu kurangnya ketersedian talenta berkualitas, lalu belum adanya kerjasama yang intens dengan pihak kampus/sekolah, sehingga seperti yang dipaparkan oleh pak Rama, bahwa dunia startup masih perlu mmembutuhkan peran pemerintah yang intens, termasuk isu infrastruktur yang menjadi masalah klasik negeri ini. Kemudian terkait dengan peran pemerintah, ada beberapa aturan dan regulasi yang justru menghambat laju perkembangan startup Indonesia, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku startup di Indonesia.

Dengan segala  ulasan dan isu yang dipaparkan diatas, pak Rama berharap dengan disusun dan dirilisnya laporan startup tahunan dapat memberikan informasi yang berguna dan dapat dimanfaatkan untuk memajukan ekosistem startup di Indonesia kedepannya.


Referensi :

  1.  https://dailysocial.id/
  2. https://www.gdpventure.com/

 

Kaleidoskop Blog Ardika Percha 2015 (Bagian Kedua)

Setelah merekap artikel blog di kaleidoskop blog Ardika Percha di bagian pertama hingga pertengahan tahun, berikut kaleidoskop bagian kedua blog saya :

September

Pembajakan foto saya
Pembajakan foto saya

Di bulan September ini, kedua kalinya foto saya dibajak oleh orang lain. Foto yang dibajak merupakan hasil kreatif yang saya publikasikan melalui artikel blog beberapa bulan sebelumnya, dan sampai sekarang  saya tidak dihubungi oleh sang pembajak, namun dengan bantuan teman-teman & komunitas, foto saya tersebut akhirnya dihapus oleh pembajak bersangkutan.

Artikel blog :

 

Oktober

Webmaker Party (Ardika Percha)
Webmaker Party (Ardika Percha)

Bulan Oktober saya menulis artikel blog mengenai kunjungan ke salah satu pabrik minuman dalam kemasan bersama kawan-kawan blogger lain. Kemudian berkesempatan hadir pada acara puncak peluncuran aplikasi Webmaker oleh komunitas Mozilla Indonesia. Di bulan ini, saya mengulas 7 aplikasi ojek online yang sedang naik daun & memberikan solusi bagi kemacetan warga Ibukota.

Artikel blog :

 

November

Blogger camp (Ardika Percha)
Blogger camp (Ardika Percha)

Di bulan Novembr, pertama kalinya saya mengikuti blogger camp, yaitu acara kumpul-kumpul bersama kawan blogger. Alhamdulillah berkesempatan menginap di salah satu villa penyelenggara acara tersebut, Melalui acara ini saya mendapat masukan mengenai dunia blogging sekaligus menambah teman sesama blogger.

Artikel blog :

Desember

2 become 1 (Ardika Percha)
2 become 1 (Ardika Percha)

Di akhir tahun 2015, ternyata di bulan Desember (menurut takaran saya pribadi) saya bisa dikatakan cukup produktif, dengan menghasilkan 3 artikel blog, yaitu diawali dengan seri artikel Percha Photog Profile saya membahas Vivian Maier yang fenomenal, lalu diakhiri dengan artikel kaleidoskop 2015 bagian pertama. Di bulan ini pula yang spesial, saya mempersembahkan 1 artikel untuk istri tercinta.

Artikel Blog :

 

Seperti yang saya ceritakan di kaleidoskop 2014, ternyata memang berusaha tetap rutin menulis & produktif menjadi PR saya juga hingga di awal 2016 ini. Disisi lain, tahun 2015 memberikan kejutan yang tidak disangka-sangka, dan saya pun belajar banyak hal di tahun tersebut, baik mengenai blogging, fotografi, hingga kehidupan :) dan Alhamdulillah mayoritas positif dan membantu saya untuk “naik kelas” ke kelas berikutnya, semoga di tahun 2016 ini, saya masih bisa diberikan nikmat sehat sentosa, dibukakan plus dilancarkan rejeki dan semakin sukses ya.. Amin!

 

Berkenalan Dengan Street Photography

Perjananan saya menjelajahi dunia fotografi, khususnya street photography dimulai ketika saya memiliki smartphone berkamera pertama kalinya di tahun 2007, dan berawal dari situ, saya ketagihan membuat foto ketika bepergian kemana saja dan kapan saja, baik ketika menemukan sesuatu yang menurut saya menarik atau menemui momen yang unik. Untuk cerita lebih detailnya terkait pengalaman perdana dengan fotografi bisa dibaca di artikel blog saya disini [Baca artikel blog : Percha & Fotografi (Bagian 1) : Perdana], dan seperti yang saya paparkan di artikel blog tersebut, ternyata setelah sekian tahun “bermain” fotografi, lalu “membaca” foto-foto saya sendiri, saya mencoba simpulkan foto-foto saya memiliki berbagai cita rasa, yaitu bercita rasa foto yang berfokus pada manusia, yang lebih dikenal dengan istilah foto human interest, lalu ada sedikit rasa foto jurnalistik yang merekam berbagai peristiwa di sekitar saya dan mengabadikan momen, selain itu adapula (yang katanya) bernama cita rasa foto dengan pendekatan street photographymeski waktu itu saya tidak ngeh dengan genre street photography. 

 

Pak Haji (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)
Pak Haji (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)

 

Family trait (Foto: Ardika Percha - Jakarta Monas, 2014)
Family trait (Foto: Ardika Percha – Jakarta Monas, 2014)

 

Awal Perkenalan

Terminologi street photography saya temukan tidak sengaja ketika menjelajah di internet,  lebih tepatnya saya temukan di situs Invisible Photography Asia (IPA) di sekitar tahun 2012. Di situs IPA tersebut, menurut saya sangat berbeda, karena lebih banyak membahas foto disertai kisah dibalik foto tersebut, yang disampaikan sejumlah fotografer di kawasan Asia, dan disampaikan dengan pendekatan esai foto.

Hal ini berbeda dengan situs lain yang saya temukan mostly membahas mengenai review dan diskusi gear serta ulasan segala perlengkapannya, serta berbeda dengan situs dan forum fotografer lokal lainnya yang lebih banyak memajang foto-foto mainstream seperti foto model, foto komersial, atau foto pemandangan alam, dan bangunan yang mengarah ke foto landscape, dan beberapa memajang foto bertema human interest maupun foto jurnalistik, maka di IPA, foto ditampilkan dalam bentuk esai foto dan disertai sejumlah teks yang berkaitan dan menambah kekuatan deretan foto tersebut.

Dan akhirnya saya menemukan kategori foto dengan istilah street photography di situs IPA tersebut, meskipun foto-fotonya tergolong “sedikit berbeda” dengan genre fotografi lainnya, dan saya belum menyadari bahwa jenis foto tersebut sebenarnya sudah saya praktekan dengan membuat foto “seenaknya” ketika dahulu kala, tetapi akhirnya saya tenggelam dengan menelusuri berbagai esai foto, baik ber-genre foto dokumenter maupun genre street photography. Namun awal perkenalan ketika itu tidak menggugah lebih lanjut untuk menekuni secara spesifik genre tersebut, dan lebih berkutat belajar  dengan foto bercita rasa human interest, travel, bahkan landscape!

Meski begitu, awal perkenalan saya yang manis dengan street photography, dan sekaligus ragam publikasi semacam IPA dengan deretan esai fotonya yang khas, menancap di benak saya, dan bahkan cukup mempengaruhi preferensi fotografi saya kedepannya.

Spot Nyaman (Foto: Ardika Percha - Depok, 2013)
Spot Nyaman (Foto: Ardika Percha – Depok, 2013)

 

Red army (Foto: Ardika Percha – Jakarta Suropati, 2013)
Red army (Foto: Ardika Percha – Jakarta Suropati, 2013)

 

Definisi

Sebagai seorang mahluk ciptaan-NYA, menurut pandangan saya, bahwa kita hidup di alam semesta nan luas dan misterius, kita selalu berusaha mencari cara untuk mengidentifikasi, menarik kesimpulan, lalu mendefinisikan sesuatu hal yang tidak diketahui, menjadi suatu hal yang bisa dimengerti dengan batasan nalar dan logika kita sendiri. Nah, untuk mengenal street photography,  saya berusaha mencari definisi dari beberapa sumber yang menurut saya bisa dijadikan pijakan awal, dengan tujuan agar bisa lebih dimengerti, dan salah satu yang bisa menjadi acuan awal, yaitu situs Wikipedia, sebagai berikut definisinya :

Street photography is photography that features the human condition within public places and does not necessitate the presence of a street or even the urban environment. The subject of the photograph might be absent of people and can be an object or environment where the image projects a decidedly human character in facsimile or aesthetic (Wikipedia, diakses 2015).

lalu saya juga mengutip definisi dari situs In-Public, salah satu situs acuan perkembangan street photography dan sekaligus sebuah inisiatif kolektif sejumlah street photographer dari berbagai belahan dunia, berikut definisinya :

Primarily Street Photography is not reportage, it is not a series of images displaying, together, the different facets of a subject or issue. For the Street Photographer there is no specific subject matter and only the issue of ‘life’ in general, he does not leave the house in the morning with an agenda and he doesn’t visualise his photographs in advance of taking them. Street Photography is about seeing and reacting, almost by-passing thought altogether (In-Public, diakses 2015).

kemudian definisi dari Eric Kim, street photographer yang menjadi salah satu acuan utama saya dalam membaca berbagai tulisan di blog-nya yang komprehensif mengenai street photography, cekidot definisinya :

street photography is about documenting everyday life and society. I personally don’t think street photography needs to be shot in the street. You can shoot at the airport, at the mall, at the beach, at the park, in the bus or subway, in the doctor’s office, in the grocery store, or in any other public places. The most important thing in street photography is to capture emotion, humanity, and soul (Eric Kim, diakses 2015).

 

Glass & grass (Foto: Ardika Percha – Jakarta Monas, 2014)
Glass & grass (Foto: Ardika Percha – Jakarta Monas, 2014)

 

Penunggu Museum (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)
Penunggu Museum (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)

 

selanjutnya saya sajikan definisi sederhana namun menjadi poin yang penting dari situs Sidewalker Asia, yang menurut saya adalah salah satu komunitas penggerak perkembangan street photography di Indonesia, sila dibaca definisinya :

Bangunlah di pagi hari, siapkan kameramu dan berjalanlah ke ruang publik lalu mulailah memotret, maka kalian sudah melakukan street photography (Sidewalker Asia, 2013).

selain diatas, saya tambahkan definisi street photography dari sebuah Tumblr page  bernama street photography manifesto yang menarik untuk disimak, berikut definisinya :

Street Photography is an instinctual reactive response to the unpredictability of every day life as observed in public places. It captures human or poignant moments. It creates juxtapositions from unrelated elements or creates relationships between people who do not know each other, simply by using the camera’s framing (Street photography manifesto, 2013).

 

Dilarang parkir (Foto: Ardika Percha – Depok, 2007)
Dilarang parkir (Foto: Ardika Percha – Depok, 2007)

 

Kehidupan Margonda (1) (Foto: Ardika Percha – Depok, 2007)
Kehidupan Margonda (1) (Foto: Ardika Percha – Depok, 2007)

 

Elaborasi

Dari sejumlah definisi diatas kita bisa menarik sebuah benang merah dan pemahaman atas “mahluk” bernama street photography, bahwa menurut pemahaman saya street photography adalah genre fotografi yang (berusaha) merekam fragmen dan emosi kehidupan, serta (mencoba) membaca suatu situasi di ruang publik, dan tidak hanya berfokus pada manusianya saja, namun merekam objek-objek di sekitarnya dalam bentuk visual (baca: fotografi). Bagi saya, street photography menjadi suatu yang menarik dan sekaligus “seksi”, serta patut untuk dieksplorasi, dimengerti lebih dalam, dan dipraktekkan lebih lanjut.

Seperti yang saya sampaikan di artikel saya ini,  bahwa fotografi untuk saya pribadi merupakan salah satu bentuk rasa syukur yang hakiki atas nikmat yang diberikan-NYA. Nikmat dalam menjalani dan meresapi detik kehidupan yang telah diberikan, mencoba lebih peka & sensitif terhadap lingkungan dengan (berusaha) mengabadikan fragmen-fragmen kehidupan kedalam media foto, dan sekaligus sebagai media perekat memori yang tertangkap dalam foto tersebut, dengan harapan kita dapat mengambil hikmah dari foto tersebut.

So, bagaimana awal perkenalan Anda dengan fotografi dan apa definisi street photography menurut Anda?

 

Balon Wisuda (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)
Balon & Wisuda (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Si Snowy (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)
Si Snowy (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)

Tautan Luar :

  1. http://invisiblephotographer.asia/category/streetphotography/
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Street_photography#streetphoto_itu
  3. http://invisiblephotographer.asia/category/streetphotography/
  4. http://sidewalkers.asia/2013/03/why-street-photography/
  5. http://www.in-public.com/information/what_is#streetphoto_itu
  6. http://erickimphotography.com/blog/the-ultimate-beginners-guide-for-street-photography/
  7. http://street-photography-manifesto.tumblr.com/post/22185297616/what-is-street-photography

 

 

Kaleidoskop 2014 (Bagian 2)

Dia muncul (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Setelah sebelumnya menyusun Kaleidoskop 2014 bagian pertama [Baca:  Kaleidoskop 2014 Bagian 1] maka dilanjutkan  bagian kedua dari bulan September hingga akhir tahun. Di bagian kedua ini ada beberapa momen menarik, seperti perpindahan hosting serta perubahan struktur dan desain blog ardikapercha.com di bulan Oktober, lalu pada bagian kedua ini pula, Alhamdulillah saya berkesempatan mengunjungi beberapa acara menarik dan intensitas blogging yang mulai meningkat, serta berkesempatan melakukan kontak lebih intens dengan pengunjung blog saya, blogger, dan komunitas lainnya.

 

September

Indonesia Dalam Infografik (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

Di bulan September ceria ini, saya mengangkat tulisan terkait perkembangan crowdsource di Indonesia dengan kemunculan salah satu start up yang memiliki perkembangan baik dan memiliki dampak sosial yang cukup luas. Selanjutnya saya menghadirkan liputan ke acara peluncuran buku dan diskusi Indonesia Dalam Infografik yang merupakan buku kumpulan infografik pilihan yang telah ditampilkan di Harian Kompas. Selain itu saya membagi pengalaman saya mengikuti arisan street photography dengan diskusi membahas terkait visual literacy.

Artikel:

 

Oktober

Untaian Pesan & Harapan (2) (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

DI bulan Oktober ini, fokus saya pada perubahan desain dan struktur blog seperti tampilan saat ini, serta melakukan migrasi ke hosting provider yang baru, harapannya perpindahan ke “rumah baru” tersebut, Insha Allah di sisi performance dan layanan lebih baik, sehingga karena hal tersebut, hanya bisa menelurkan sebuah liputan ke Festival Seperlima, yang mengkampanyekan perbedaan di tengah masyaraat kita seharusnya ditanggapi dengan kreatif, serta dianggap sebagai hal biasa.

Artikel:

November

Diatas awan (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Di bulan November cukup banyak tulisan  yang saya tampilkan di blog, antara lain saya membuat esai foto mengenai bagaimana saya mengenal fotografi ketika pertama kali memiliki smartphone berkamera, lalu pengalaman saya berkuliah (lagi) dengan mengikuti short course di Selangor Malaysia, kemudian momen pendeklarasian komunitas Locana Indonesia berbasis budaya dan fotografi bersama kawan-kawan, dan artikel blog ditutup di akhir bulan dengan kisah perjalanan saya menjadi (sok) anak gunung ke daerah Dieng, Jawa Tengah.

Artikel:

Desember

Mr. Solihin and crew (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Akhir tahun ini, saya mengangkat ulasan mengenai aplikasi pembaca berita yang mulai tren di dunia digital, dan jenis tulisan layaknya ulasan aplikssi (review) tersebut sudah lama tidak saya kerjakan, sehingga secara pribadi saya cukup senang, dan untuk mulai kembali menulis ulasan aplikasi lainnya. Kemudian melanjutkan perjalanan saya di Dieng, saya susun artikel berupa seri foto terkait trip buddies selama perjalanan menggapai puncak Prau. Dan finally di akhir bulan, saya kembali bisa menghadirkan sebuah esai foto dengan mengangkat esai mengenai potret peternak Indonesia.

Artikel:

 

Penutup

Tahun 2014 merupakan tahun perjuangan sekaligus kegembiraan, dan tahun ini cukup banyak momen menarik dan momen perdana, dari sisi pemahaman fotografi, menulis, digital, dan blogging yang saya pelajari dari berbagai sumber, melalui model trial-error sekaligus trial-success 😀

Selain itu, masih ada beberapa utang tulisan saya yang masih dalam bentuk draft, maupun masih dalam awang-awang ide tulisan 😀 semoga kedepannya jika ada ide atau setelah mengunjungi acara dan tempat tertentu bisa segera direalisasikan menjadi artikel blog, Amin.

Menariknya, beberapa acara yang saya kunjungi suprisingly memberikan insight dan wawasan baru yang memperkaya pemahaman saya, seperti acara-acara terkait industri kreatif, diskusi dengan berbagai pihak, mengikuti lokakarta (workshop), bertukar pesan dan berkomunikasi lebih lanjut dengan berbagai pelaku kreatif, hingga mencoba mendirikan komunitas berbasis fotografi dan pecinta budaya Indonesia bersama kawan-kawan, melakukan perjalanan ke tempat lain, sekaligus tetap berkarya dalam menyusun seri foto dan esai foto.

Semoga kedepannya, dari sisi blogging saya pribadi berharap tetap konsisten menulis at least 1 artikel perminggu, yang selama akhir tahun 2014 coba saya terapkan, lalu mengasah kemampuan fotografi tidak hanya secara teknikal, namun mulai belajar membuat sebuah karya foto yang bercerita, seperti seri foto atau bahkan esai foto, mengeksplorasi fotografi bersama kawan-kawan baik dari komunitas lain atau mengembangkan Locana Indonesia untuk menjelajahi berbagai tempat menarik dengan ciri khasnya masing-masing, dan tidak lupa tetap mengikuti perkembangan dunia digital di Indonesia yang semakin marak dan riuh ramai.

Selamat Tahun Baru 2015!

Tahun Baru 2015 (Ardika Percha, 2015)

 

Kaleidoskop 2014 (Bagian 1)

 

Selamat Datang Di Bumi Ruwa Jurai (Foto: Ardika Percha – Bandar Lampung, 2014)

 

Tahun 2014 Masehi sudah berakhir, Alhamdulillah beberapa kunjungan acara dan sekaligus menyalurkan hobi fotografi sudah saya mulai lakukan  di tahun tersebut, dan dalam postingan kali ini, saya susun kaleidoskop secara kronologis untuk artikel yang saya tulis dan merekam momen penting terkait blog saya tercinta.

Kaleidoskop ini dibuat bertujuan agar kita dan saya sendiri, bisa melakukan intropeksi diri, mengenang momen suka maupun duka, sekaligus menjadi bahan bakar melakukan yang lebih baik lagi di tahun selanjutnya, serta semakin konsisten untuk menulis blog, serta mengunjungi beberapa acara unik dan inspiratif, maupun fokus dengan hobi fotografi serta membahas dunia digital lebih intens, sehingga ada peningkatan positif dalam aktivitas blogging kedepannya. Selamat menikmati bagian 1 dari Kaleidoskop ardikapercha.com :)

 Januari

Kumpul bocah TBB (Foto: Ardika Percha – Tulang Bawang Barat, 2014)

 

Awal tahun 2014 dibuka dengan artikel perjalanan saya menuju Bumi Ruwai Jurai, mengunjungi rumah bagi Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar serta sekaligus bertemu adik-adik dari SDN Mercubuana di Tulang Bawang Barat. Pengalaman bertemu orang-orang baru yang disambut dengan kehangatan bak sahabat dan bahkan bagai keluarga yang sudah mengenal bertahun-tahun. Pengalaman ini benar-benar menjadi pendorong saya melalui bulan-bulan selanjutnya dan sekaligus meningkatkan rasa bersyukur saya secara personal.

Artikel :

Juni

JSPI (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

Di bulan Juni, saya berkesempatan menghadiri Jambore Street Photography pertama di Indonesia, dengan bertemu  penggiat street photography dari berbagai penjuru, berdiskusi, dan mengikuti lokakarya dalam pembuatan cerita foto, kemudian menginspirasi saya salah satunya  untuk terus membuat  sebuah cerita foto, seperti esai foto maupun seri foto. Selain itu, kehadiran saya di event tersebut merupakan puncak dari “gunung es” atas minat saya mempelajari dan mempraktekan fotografi jalanan di ruang publik.

Artikel :

 Juli

Angkat jari (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

Bulan Juli merupakan awal ketertarikan saya menghadiri event terkait industri kreatif yang didorong oleh Indonesia Kreatif, salah satunya kunjungan saya ke Galeri Indonesia Kaya untuk menyaksikan wayang listrik. Lalu di bulan tersebut, saya terlibat menjadi relawan Kelas Inspirasi, sehingga bisa mengenal orang-orang hebat dalam kegiatan luar biasa itu, dan menghasilkan salah satu karya esai foto favorit saya pribadi.

Artikel :

Agustus

1 juta unduhan untuk Tebak Gambar (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

Di bulan Agustus, saya berkesempatan hadir dalam acara  diskusi Games In Asia, yang mendukung perkembangan industri game Indonesia, dengan menghadirkan sesi diskusi bersama  narasumber dari developer game Tebak Gambar yang menyentuh angka unduhan  fenomenal yaitu mencapai 1 juta unduhan di Google Play Store.

Artikel:

===

Update : Kaleidoskop 2014 Bagian 2

Indonesia Dalam Infografik

 

Event Indonesia Dalam Infografik
Event Indonesia Dalam Infografik

 

Pada bulan 19 Agustus 2014 yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi event  pembukaan pameran dan peluncurkan buku bertajuk “Indonesia Dalam Infografik”  yang diselengarakan oleh Harian Kompas. Bertempat di Bentara Budaya Jakarta,  Harian Kompas menyelenggarakan event tersebut dalam rangka menyambut perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 69 tahun. Di dalam buku tersebut, termuat 45 karya infografik pilihan dan 8 artikel tentang infografik dari 17 desainer infografik yang pernah diterbitkan di Harian Kompas.

Dalam pembukaan acara tersebut, diselenggarakan diskusi yang menghadirkan beberapa narasumber yaitu Lim Bun Chai selaku desainer infogafik senior Kompas, lalu menampilkan Iwan Meulia Pirous yaitu dosen dan antropolog dari Universitas Indonesia, serta juga tidak ketinggalan hadir pula Dik Doank, sebagai pelaku industri dan desainer grafis.

Lim Bun Chai memaparkan periode awal Harian Kompas dalam penggunaan infografik yang masih dibatasi oleh teknologi dan metodologi dalam desain grafis, termasuk isu di bagian pencetakan. Namun Lim menambahkan bahwa ketika teknologi dan metode yang digunakan semakin  maju dan mudah digunakan, tidak serta merta permasalahan sudah usai, karena tantangannya pun semakin bertambah, yaitu bagaimana data yang tersedia tersebut, bisa disampaikan semakin mudah dimengerti oleh pembaca melalui sebuah infografik yang menarik. Terkait hal tersebut, Iwan Meulia memaparkan semakin berkembangnya teknologi disertai kemudahan dalam akses, serta didukung oleh kebutuhan kita yang menginginkan informasi lengkap yang mudah dan cepat dikonsumsi,  maka perkembangan infografik menjadi tidak terelakkan sebagai sebuah media yang menampilkan informasi secara visual.

Lim Bun Chai pun melanjutkan pemaparan serta memberikan penekanan penting, bahwa dalam pembuatan infografik yang merupakan bagian dari jurnalisme, maka keakuratan data dan fakta menjadi poin penting yang diperhatikan, sehingga kerapkali tim Infografik Harian Kompas berhubungan dengan tim Litbang Kompas maupun sumber terpercaya lainnya terkait akurasi data. Kreativitas dalam memadatkan data dan fakta yang tersedia tersebut pun dibutuhkan, karena infografik adalah salah satu bentuk jurnalisme modern yang memberikan sudut pandang pemberitaan yang berbeda dan ditampilkan dalam bentuk visual yang menarik untuk dinikmati pembacanya.

Dik Doank menuturkan bahwa semenjak kecil kita sebagai manusia lebih dulu kita dikenalkan dan diajarkan untuk menggambar terlebih dahulu, untuk mengekspresikan imajinasi kita, bukan diminta untuk membaca ataupun berhitung. Dalam pembuatan desain rancangan suatu karya, kita diminta untuk membuat gambar rancangan terlebih dahulu, setelah itu baru melakukan pembangunan dari hasil gambar tersebut. Terkait buku “Indonesia Dalam Infografik”, Dik Doank memaparkan pembaca diajak untuk melihat lebih mendalam dengan menyelami langsung informasi yang tersedia dalam bentuk visual, sehingga infografik tersebut sebagai media baru untuk visualisasi suatu fakta dan persitiwa yang terjadi.

Buku Indonesia Dalam Infografik
Buku Indonesia Dalam Infografik

 

Diskusi Indonesia Dalam Infografik
Diskusi Indonesia Dalam Infografik

 

Dalam diskusi buku “Indonesia Dalam Infografik” mendapat beberapa masukan dan tanggapan dari peserta yang menghadiri diskusi tersebut, salah satunya agar menyarankan perilisan edisi berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, dikarenakan kesemua infografik pilihan tersebut menampilkan informasi mengenai Indonesia secara gamblang disertai dengan desain infografik yang menarik, sehingga pembaca asing juga bisa ikut menikmati dan mengapresiasi buku tersebut. Terkait hal tersebut, Lim Bun Chai memaparkan bahwa tim infografik Kompas memang sudah merencanakan hal tersebut dan sedang dalam tahap pengembangan untuk dialihbahasakan ke bahasa Inggris, sehingga dapat menjangkau pembaca berbahasa Inggris.

Lalu tanggapan lainnya, yaitu infografik yang ditampilkan Kompas telah menjadi acuan dalam hal mempresentasikan sebuah informasi visual berdasarkan data dan fakta, serta memiliki gaya yang tersendiri dan khas dalam lingkup infografik Indonesia, khususnya terkait penggunaan infografik pada ranah jurnalisme. Iwan Meulia pun menambahkan bahwa pembuatan infografik selanjutnya bisa semakin mendalam untuk mengangkat informasi mengenai keindonesiaan, contohnya mengenai informasi museum dan budaya Indonesia, yang bisa ditampilkan dalam desain infografik yang menarik.

Lim Bun Chai berulangkali memberikan apresiasi tinggi ke tim Infografik Harian Kompas yang secara disiplin dan konsisten, tanpa melupakan standar acuan yang dimiliki Kompas, termasuk standar dalam hal hasil akhir di  pencetakan, dan tetap bisa menghasilkan karya infografik yang menarik. Lim menambahkan bahwa infografik yang dihasilkan Harian Kompas tidak hanya secara teknis memiliki standar hasil akhir yang baik, namun kreativitas grafis yang dituangkan dalam infografik tersebut patut diapresiasi tinggi.

Saya pribadi cukup puas atas event tersebut, baik dari sisi penyelenggaraan acara, pameran dengan menampilkan infografik terpilih, serta acara diskusi yang memberikan saya wawasan & insight baru mengenai perkembangan dunia jurnalistik terkait  infografik, lalu bagaimana pandangan sebuah harian besar tradisional menanggapi perkembangan jaman dengan gelombang baru penyampaian informasi berupa medium infografik yang disampaikan tetap sesuai dengan kaidah jurnalistik, hingga pandangan dari berbagai narasumber dari desainer, antropolog, jurnalis, hingga tim infografik Kompas sendiri.

Tim Infografik Kompas
Tim Infografik Kompas

 

Sebuah persembahan Harian Kompas Untuk Indonesia
Sebuah persembahan Harian Kompas Untuk Indonesia

 


Tautan Luar :

  1. Situs Harian Kompas : http://print.kompas.com/
  2. Situs Indonesia dalam Infografik : http://idinfografik.com/
  3. Akun Twitter Indonesia Dalam Infografik : https://twitter.com/idinfografik
  4. Situs Bentara Budaya : http://www.bentarabudaya.com/

– Artikel ini juga hadir di Portal Indonesia Kreatif (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) = http://news.indonesiakreatif.net/infografik-kompas/

 

Kisah Sukses Game “Tebak Gambar” menembus 1 Juta Unduhan

 

Game 1 juta unduhan
Game 1 juta unduhan

 

Siapa yang jaman sekarang tidak bermain game? Bermain game yang merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan ketika ada waktu senggang dan sekaligus salah satu media hiburan yang digemari. Dengan semakin meluasnya penggunaan smartphone dan berkembangnya ekosistem technopreneur di Indonesia, maka bermunculan produk game kreatif hasil karya anak bangsa. Pada ajang pertemuan yang diselenggarakan Games In Asia bekerjasama dengan Ciputra GEPI Incubator, kali ini menampilkan kisah sukses pelaku industri game Indonesia, yaitu pengembang game berjudul Tebak Gambar.

Ciputra GEPI Incubator mendukung perkembangan industri digital Indonesia
Ciputra GEPI Incubator mendukung perkembangan industri digital Indonesia

Bertempat di Ciputra GEPI Jakarta pada bulan Agustus ini, saya berkesempatan dapat menghadiri meet up dan bisa bertemu Irwanto Widyatri sebagai founder dan pengembang Tebak Gambar yang membagikan pengalaman bagaimana pengembangan sebuah game yang awalnya dibuat di kamar kosnya ketika masih kuliah, memiliki tim yang terlibat dalam pengembangan game, hingga mencapai prestasi 1 juta unduhan di Google Play Store untuk perangkat Android.

Sejarah 

Irwanto menuturkan ide pembuatan game tersebut berawal dari kebiasaannya menjelajah berbagai macam thread unik di internet, khususnya di forum Kaskus mengenai topik game, yang akhirnya menemukan seorang desainer dari Surabaya yang membuat desain gambar berupa permainan menebak susunan gambar. Dari penelusuran dan komunikasi intens dengan desainer tersebut, mereka pun setuju bekerja sama dalam pengembangan game, lalu pada akhirnya menjadi cikal bakal dari desain game Tebak Gambar tersebut.

Irwanto menyampaikan game tersebut pada awalnya didesain dan dikembangkan sebagai permainan asah otak ringan yang menampilkan teka-teki berupa susunan gambar, yang bisa dimainkan kapan pun dan dimana pun oleh gamer. Dari susunan gambar tersebut akan membentuk sebuah kosa kata yang harus ditebak oleh gamer bersangkutan.

1 juta unduhan untuk Tebak Gambar
1 juta unduhan untuk Tebak Gambar

 

Irwanto Widyatri founder Tebak Gambar
Irwanto Widyatri founder Tebak Gambar

 

Pengembangan

Irwanto kemudian menjelaskan tahapan pengembangan Tebak Gambar yang pada awal diluncurkan di platform Android karena dia sendiri sebagai pengguna gadget Android, selain itu Irwanto menuturkan bahwa sudah mengetahui prilaku dan karakterisitik pengguna Android dari kehidupan sehari-hari dan riset yang pernah dia lakukan ketika menelusuri internet, selain itu, Irwanto menambahkan, bahwa Android tergolong platform mudah dikembangkan serta memiliki resources yang mudah didapatkan dan dipelajari untuk pemula yang mau mengembangkan berbagai macam aplikasi dan game.

Pada tahap selanjutnya, setelah perkembangan yang cukup menggembirakan dari Tebak Gambar di platform Android, melalui media sosial, Irwanto mengetahui ternyata banyak pengguna dari platform lain yang meminta dibuatkan game tersebut agar bisa dimainkan di iPhone dan platform iOS lainnya. Karena tidak memiliki kemampuan dalam pengembangan di platform iOS, maka Irwanto menganggap hal tersebut sebagai tantangan dan membuat dirinya terpacu. Karena permintaan pengguna yang semakin besar, Irwanto memutuskan mencari partner pengembangan di platform iOS dari jaringan pertemanan yang telah dibinanya, begitu pula ketika pengembangan Tebak Gambar di platform Windows. Irwanto menambahkan bahwa faktor networking dan kolaborasi dengan pihak lain menjadi sangat penting bagi pengembang individu seperti dirinya, terutama diperlukannya pengembangan diluar kemampuan platform yang dikuasainya, sehingga selanjunya agar mencari partner yang cocok dan memiliki kesamaan pandangan pada pengembangan game tersebut, karena Irwanto berkeinginan Tebak Gambar ingin terus dikembangkan lebih lanjut, sehingga maintainance jangka panjang game tersebut mutlak dilakukan, untuk memuaskan para pengguna game Tebak Gambar.

Game Tebak Gambar
Game Tebak Gambar

 

Tebak Gambar di posisi No. 7 Top Free Games Play Store
Tebak Gambar di posisi No. 7 Top Free Games Play Store

 

Pemasaran

Dalam perkembangan selanjutnya, Irwanto bersama tim memilki dua isu krusial yang dihadapi terkait pengembangan dan keberlangsungan game Tebak Gambar tersebut. Isu yang dimaksud yaitu apa tim pengembang berfokus mendapatkan keuntungan dari game Tebak Gambar tersebut, yaitu dari sisi monetisasi Tebak Gambar, atau fokus pada peningkatan jumlah unduhan terlebih dahulu. Setelah berdiskusi dengan berbagai pihak terkait, akhirnya Irwanto memutuskan untuk fokus pada peningkatan pada jumlah unduhan di Google Play Store. Irwanto menjelaskan kenapa akhirnya diputuskan pada fokus pada peningkatan unduhan baru selanjutnya memikirkan faktor monetisasi Tebak Gambar, karena dengan adanya jumlah unduhan yang mumpuni, maka pengembang tersebut memiliki bukti kualitas game tersebut. Sehingga dengan fakta mengenai jumlah unduhan tersebut, serta tumbuhnya komunitas gamer Tebak Gamer yang berinteraksi di media sosial, misalkan di Facebook Fan Page Tebak Gambar dan menyatakan kepuasannya dalam bermain game tersebut, Irwanto berkeyakinan dapat membantu sisi monetisasi dari game yang dikembangkannya tersebut kedepannya.

Irwanto pun membagi beberapa tips terkait pemasaran game-nya, salah satunya dengan menjalin hubungan dan melakukan komunikasi intens dengan pihak media, karena terbukti dengan diulasnya Tebak Gambar di beberapa media, bahkan media ternama, terdapat lonjakan cukup signifikan dari jumlah traffic dan unduhan setelah ada ulasan dari pihak media tersebut. Selain itu, Irwanto menambahkan bahwa melakukan pendekatan dengan beberapa pemilik akun media sosial dan komunitas tertentu untuk melakukan cross promotion, berupa kuis tematik dan iklan, sehingga Tebak Gambar dapat dikenal dan pada akhirnya diunduh oleh pengguna tersebut.

 Dan Irwanto menyampaikan di penghujung acara, bahwa untuk bisa menjalankan strategi pemasarannya dan mencapai 1 juta unduhan tersebut, bersama timnya telah membangun game yang baik sehingga digemari penggunanya, melakukan maintenance game dengan memberikan update terbaru secara berkala, lalu membangun sebuah landing page, sehingga membantu promosi ke pihak eksternal, khususnya media, berupa press release, informasi terkait game, hingga trailer game tersebut.

 

Landing Page Tebak Gambar
Landing Page Tebak Gambar

 


 

 

Simak ulasan (review) game  terbaru disini : Star Wars Commander


 

Tautan luar :

  1. Situs Resmi Tebak Gambar : http://tebakgambar.com/
  2. Facebook Fan Page Tebak Gambar :  https://www.facebook.com/TebakGambarOfficial
  3. Twitter Tebak Gambar : https://twitter.com/tebakgambar_ID
  4. Situs GEPI Incubator : http://www.gepindonesia.org/
  5. Portal Games In Asia : http://www.gamesinasia.com/
  • Artikel ini juga hadir di Portal Indonesia Kreatif (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) =  http://news.indonesiakreatif.net/tebak-gambar

Tautan game Tebak Gambar :

  1. Android : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.tebakgambar
  2. iOS : https://itunes.apple.com/id/app/tebak-gambar/id856205277
  3. Windows Mobile : http://apps.microsoft.com/windows/en-us/app/2c561622-c72e-43f2-8dd0-b5a7e78a48f2

 

Pertunjukan Wayang Listrik “Penculikan Sita”

Pada Juli 2014 kali ini, bertempat di Galeri Indonesia Kaya Jakarta, diselenggarakan pertunjukan wayang listrik yang dipentaskan oleh Sanggar Paripurna. Galeri Indonesia Kaya yang mempunyai komitmen untuk terus memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia ke khalayak umum, khususnya generasi muda Indonesia, dengan mendukung salah satunya pertunjukan seni budaya berupa pertunjukan wayang listrik tersebut.

Kali ini saya berkesempatan  menyaksikan Sanggar Paripurna dikelola oleh I Made  Sidia yang dikenal sebagai seniman wayang dan kareografer asal Gianyar Bali, menampilkan lakon dari penggalan epos Ramayana yaitu kisah penculikan Dewi Sita.

Pementasan Wayang Listrik
Pementasan Wayang Listrik

 

Rama dan Sita
Rama dan Sita

 

Pementasan penculikan Dewi Sita ini diawali dengan kisah Sri Rama meninggalkan negeri Ayodya untuk mengasingkan diri ke hutan bersama istrinya Sita ditemani oleh para pembantu setianya, untuk mencari kedamaian serta menghindari adanya perpecahan dan perang  di negerinya.

Lalu selanjutnya bersama pembantu setianya Rama tinggal di hutan, serta dalam kesehariannya Rama menyusuri pelosok hutan tersebut  dan menyaksikan begitu indahnya hutan, yaitu adanya berbagai macam pepohonan nan asri dan menyejukkan jiwa, yang ditinggali berbagai jenis hewan di hutan tersebut, sehingga Rama merasakan kedamaian dan menjadi betah tinggal di hutan tersebut.

Rama beserta para pembantunya
Rama beserta para pembantunya

 

Penghuni hutan
Penghuni hutan

 

Keberadaan Rama dan Sita di hutan tersebut diketahui oleh para pembesar negeri Alengka, sehingga mengundang keinginan Raja Rahmana  penguasa negeri Alengka untuk merebut dan menculik Sita. Rahmana yang terbuai dengan kecantikan Sita, mencari cara untuk merebut Sita dari tangan Rama. Untuk merebut Sita tersebut, Rahmana memerintahkan Maha Patihnya berubah menjadi seekor kijang emas yang mempesona untuk menarik Sita.

Adanya seekor kijang emas di hutan diketahui oleh Sita, sehingga memunculkan keinginan Sita untuk memiliki dan merawatnya. Mengetahui keinginan Sita tersbeut, Rama akan menangkap kijang emas tersebut untuk membahagiakan Sita. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Rahmana untuk menculik Sita, dengan merubah dirinya menjadi kakek tua untuk menimbulkan rasa iba Sita, dan Sita mau menolong kakek tersebut. Dan pada akhirnya Sita yang menolong kakek tua tersebut tertipu akal muslihat Rahmana, sehingga Sita diboyong ke Alengka oleh Rahmana.

Wayang Listrik
Wayang Listrik

 

Ketika pencarian kijang emas sedang dilakukan oleh Rama, Rama mengetahui Sita diculik oleh Rahmana, maka Rama memerintah para pembantunya untuk mencari Sita ke negeri Alengka. Dan menariknya dalam pementasan tersebut dibumbui oleh kisah perjalanan para pembantunya melewati negeri lainnya, yang digambarkan melewati negeri yang berbeda dan adanya sebuah kota metropolis yang modern serta sudah dipenuhi hutan beton, macet, kotor, dan orang-orangnya tidak baik, serta memberikan pesan bahwa hutan yang ditinggali Rama lebih baik, karena tetap menjaga kelestarian alam dan kebaikan sikap penghuninya.

Disisi lain, dikisahkan pula, yang diketahui oleh Rama dan para pembantunya mengenai keinginan Rahmana akan membersihkan hutan di negerinya dengan memotong sebagian besar pepohonan untuk merubahnya menjadi toliet paper melalui industriliasasi untuk dijual dan dipasarkan, agar bisa mendapat keuntungan besar dari industri tersebut. Akibat ulah Rahmana tersebut, kelestarian alam menjadi terganggu akibat keinginan penguasa yang hanya mencari keuntungan besar sesaat, namun melupakan kepentingan jangka panjang.

Akhirnya para pembantu Rama bisa menemukan Sita kemudian mengabari Rama perihal tersebut. Lalu Rama pun menuju Alengka untuk menyelamatkan Sita, serta memberi pelajaran pada Rahmana atas berbagai sikap buruknya tersebut. Kisah pun mencapai puncaknya, saat terjadinya pertarungan antara Rama melawan Rahmana yang monumental, hingga Rahmana pun mengalami kekalahan akibat kesaktian Rama yang mandraguna. Kisah pun ditutup dengan kembli bersatunya Rama dan Sita untuk hidup kembali di hutan nan asri tersebut.

Rama dan Sita bertemu kembali
Rama dan Sita bertemu kembali

 

Pementasan wayang listrik ini tidak hanya disertai dengan cerita yang penuh pesan moral yang mendalam khas cerita pewayangan tradisional, yaitu kekuatan orang baik pada akhirnya tetap menang atas kekuatan orang jahat, namun juga disusupi oleh cuplikan sepotong kisah lainya, yaitu pada bagian penceritaan perjalanan pembantu Rama dan ulah Rahmana melakukan industrilisasi dengan memberangus hutan, terdapat pesan untuk tetap dapat menjaga kelestarian alam dan jangan terbawa nafsu untuk keuntungan sesaat dengan melupakan kepentingan jangka panjang.

Seperti yang disampaikan oleh I Made Sidia dari Sanggar Paripurna setelah pementasan, bahwa pementasan wayang listrik tetap berkomitmen menyampaikan cerita pewayangan tradisional yang sarat pesan moral, serta membedakan dengan pementasan wayang lainnya, sesuai namanya yaitu wayang listrik, maka Sanggar Paripurna menampilkan pementasan didukung oleh peralatan listrik, yaitu penggunaan efek digital dan variasi pencahayaan yang unik dalam pementasan tersebut, sehingga khalayak umum menjadi tertarik menonton dan mengikuti kisah pewayangan, sekaligus memiliki pengalaman menonton wayang yang berbeda.

Sanggar Paripurna
Sanggar Paripurna

 

Penonton wayang listrik
Penonton wayang listrik

 

Pementasan wayang listrik yang unik dan berbeda tersebut disaksikan baik penonton dalam maupun luar negeri, serta banyak diantaranya merupakan generasi muda Indonesia yang tertarik menonton pementasan wayang, serta mendapat apresiasi positif berupa respon tertawa atas celetukan dialog yang lucu dari dalang dan tepukan tangan yang membahana pada penutupan pementasan di Galeri Indonesia Kaya tersebut. Hal yang dilakukan tersebut merupakan angin segar dalam pementasan wayang, sehingga kedepannya secara umum dapat mendukung industri ekonomi kreatif Indonesia, dan khususnya sektor seni pertunjukan menjadi tumbuh berkembang dan lebih baik lagi, serta semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

 


Tautan Luar :

  1. http://sanggarparipurna.wordpress.com/
  2. http://www.indonesiakaya.com/

 

Jambore Street Photography Indonesia 2014

 

Pada bulan Juni 2014 ini, penggiat fotografi Indonesia khususnya penggemar street photography, diramaikan oleh acara tingkat nasional, yaitu Jambore Street Photography Indonesia yang pertama kali diadakan, melibatkan 7 komunitas street photography, 12 kelompok fotografi regional dari dalam negeri, dan 9 kelompok fotografi regional dari luar negeri yang berkolaborasi dalam acara ini. Komunitas street photography yang terlibat di antaranya adalah Side Walkers Asia (sidewalkers.asia), Bingkai Ruang Publik (Biru), Photobook Club, Indonesia Street [Mobile] Photograpie (ISTRIE), Streetbanditos, Street Photography Purwokerto (SEPUR), dan Tuban Street Photography.

 

 

Jambore Street Photography Indonesia berlangsung dari 7 Juni sampai 25 Juni 2014, bertempat di daerah bilangan Kemang, yaitu di Pannafoto Institute Jakarta, yang menggelar pameran, seminar, dan lokakarya yang membahas mulai dari perkembangan street photography di Indonesia hingga pembahasan teknis mengenai penyuntingan foto terkait street photography.
Jambore Street Photography Indonesia dibuka oleh sambutan dari Halbet Cahyadi Putra, selaku ketua panitia dari Jambore Street
Photography Indonesia 2014.

“Acara Jambore Street Photography Indonesia ini bertujuan untuk mempresentasikan seluruh karya Street Photography dari Indonesia dalam sebuah kegiatan dan wadah”, ungkap Halbet Cahyadi Putra, ketua dari JSPI 2014 pada pembukaan acara tersebut . Halbet menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan sebagai wadah silahturahmi sesama pegiat street photography di seluruh Indonesia dan mengenalkan street photography kepada masyarakat umum.

Lalu selanjutnya acara diisi dengan pembukaan pameran foto serta pemaparan rekam jejak street photography di Indonesia oleh Nina Masjhur terkait Klik Fotografi – Kelompok Fotografi Jalanan, sebagai salah satu pelopor street photography di Indonesia. Kemudian acara dilanjutkan ramah tamah dari berbagai komunitas yang terlibat dalam Jambore Street Photography Indonesia.

 

 

Lalu pada 14 Juni 2014, Jambore Street Photography Indonesia diisi Lokakarya dengan materi mengenai bagaimana membaca foto, yang disampaikan oleh Suryo Gumilar, seorang fotografer dan salah satu penggiat street photography di Indonesia yang tergabung dalam komunitas Side Walkers Asia. Suryo Gumilar menyatakan konteks dalam suatu proses fotografi merupakan hal yang perlu diperhatikan, karena mempunyai pengaruh dalam pembacaan suatu hasil karya fotografi tersebut.

Kemudian pada Lokakarya sesi selanjutnya disampaikan oleh Ridzki Noviansyah, salah satu Co-Founder dari Jakarta Photobook Club, berupa materi bagaimana menyunting foto yang bercerita. Kegiatan menyunting foto kali ini bukan kegiatan menyunting dengan perangkat lunak untuk olah digital, namun kegiatan untuk memilih, menyeleksi dan menyusun foto-foto berdasarkan sebuah tema, gagasan atau cerita, sehingga menjadi sebuah karya fotografi. Ridzki Noviansyah menyampaikan gagasan alternatif yang menarik, yaitu sebaiknya pelaku fotografi khususnya penggiat street photography di Indonesia, membuat konsep cerita terlebih dahulu, baru kemudian melakukan blusukan untuk melakukan proses pembuatan foto tersebut, dan selanjutnya menyeleksi serta menyusun foto-foto berdasarkan konsep cerita yang telah disusun sebelumnya.

 

 

Selama Lokarya tersebut, terlihat peserta antusias berperan serta dalam proses diskusi dan praktek, sehingga lokakarya berjalan santai, penuh gelak tawa, dan berjalan lancar. Seperti yang disampaikan oleh Ridzki Noviansyah, bahwa penyusunan foto yang bercerita tersebut perlu dilakukan, tidak hanya berfokus pada sebuah foto tunggal, sehingga memberikan alternatif dalam proses kreatif penggiat street photography.

Dengan suksesnya Jambore Street Photography Indonesia yang pertama kali ini, yaitu berkumpul semua penggiat street photography yang terlibat, kemudian adanya pameran foto yang menghasilkan street photography berkualitas tinggi, serta antusiasme peserta dalam lokakarya yang diselenggarakan, diharapkan kedepannya penggiat street photography dapat menghasilkan karya fotografi yang lebih baik dan menjadi salah satu pilar pendukung penting dalam pengembangan industri kreatif Indonesia di bidang fotografi.

Tautan Luar :

– http://jamborespi.com/tentang-jspi/

– Foto : Halbet Cahyadi Tim JSPI, Ardika Percha

– Artikel ini juga hadir di Portal Indonesia Kreatif (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) =  http://news.indonesiakreatif.net/jambore-street-photography-indonesia-2014-diadakan

 

Pop Con Asia 2013 : pameran untuk industri kreatif Indonesia

 

Pada bulan Juli lalu di Senayan Jakarta, setelah mendapat info dari teman & kabar dari media sosial, saya berkesempatan untuk mengunjungi yang katanya event pop culture yang bakalan gede-gedean berisi berbagai both &  showcase dari industri kreatif Asia khususnya Indonesia, dari komik, games, anime, film, hingga musik & mainan.

 

Dengan segala keriuhannya, saya sudah terhibur daengan aura kreatif yang muncul, baik dari desain both yang unik, barang yang dipajang, orang & komunitas yang ramah, & lucu pada beberapa pengunjung yang datang ber-cosplay, hingga alunan musik khas kartun.. khas anime 😀

beberapa yang “ber-cosplay” dari yang “standar” hingga yang sifatnya “ekstrem” namun semua keramaian tersebut, menambah riuh ramainya acara, seperti cosplay mahluk bersarung batik, cosplay dengan seragam militer dengan senapan otomatisnya, hingga ber-zombie seperti serial Walking Dead hahaha 😀

 

yang membuat saya cukup terkejut bin surprise, banyak pengembang games & kartunis dengan berbagai merchandisenya, saya juga sempat ngobrol & mencoba beberapa games buatan developer dari studio games lokal maupun dari beberapa distributor games yang memasarkan games asing ke pasar lokal.

 

 

Event seperti ini menurut hemat saya terus digalakkan, agar perkembangan industri Indonesia kreatif dapat diketahui oleh masyarakat umum, sehingga lambat laun dapat menjadi raja di negeri sendiri ditengah serbuan global.