Tag Archives: jelajah

Tips Liburan di Bogor Saat Long Weekend

 

Kursi santai (Pixabay)
Kursi santai (Pixabay)

 

Saat libur panjang akhir pekan, kawasan Bogor jadi salah satu destinasi terbaik untuk berwisata dengan keluarga atau teman-teman. Di Kota Hujan ini, ada banyak tempat seru yang bisa dikunjungi. Selain itu, jaraknya pun cukup dekat dengan Jakarta dan Bandung. Sayangnya, Bogor juga jadi tempat yang sangat ramai saat libur panjang akhir pekan. Ribuan wisatawan akan datang ke sini dalam waktu yang nyaris bersamaan. Hasilnya, kemacetan panjang pun terjadi hingga berjam-jam.

Tapi tenang saja, meskipun selalu macet saat waktu libur, Bogor tetap jadi destinasi wisata yang menarik kok. Buktinya, ribuan wisatawan tetap datang ke Bogor meskipun sudah tahu kalau mereka akan terkena macet.

Berikut, ada beberapa tips supaya kamu bisa lebih enjoy saat terkena macet di puncak waktu libur panjang akhir pekan.

 

Ketahui Jadwal Buka-Tutup Jalur

Saat libur panjang akhir pekan, pihak kepolisian sering memberlakukan sistem buka-tutup di jalur puncak, terutama dari dan menuju Jakarta. Pembukaan jalur menuju puncak biasanya terjadi pada pukul 09.00 WIB – 22.30 WIB. Sedangkan jalur menuju Jakarta dan Ciawi akan dibuka pada pukul 15.00 WIB – 17.00 WIB pada hari Sabtu dan pukul 15.00 WIB – 18.00 WIB pada hari Minggu. Jika kamu sedang menuju ke puncak, pilihlah jadwal keberangkatan beberapa saat sebelum jalur ke puncak sedang dibuka agar kamu bisa berada di jalur yang dibuka tersebut pada waktu yang tepat, begitu pun sebaliknya. Namun, jadwal buka-tutup jalur ini tidak permanen. Pembukaan dan penutupan jalur bisa berubah tergantung situasi dan kondisi di sana. Jadi, pantau terus media sosial kepolisian atau penyedia informasi setempat.

 

Ketahui Jalur Alternatif

Saat sistem buka-tutup jalur sedang berlangsung, kendaraan yang terkena dampak penutupan jalur akan dialihkan melalui jalur lain. Kenalilah jalur-jalur alternatif ini agar kamu bisa lebih cepat sampai tujuan dan tidak tersesat di jalan. Hal ini berlaku juga jika di jalur puncak sedang terjadi kemacetan tanpa adanya sistem buka-tutup jalur. Untuk memudahkan kamu dalam menemukan jalur alternatif, pastikan selalu membawa GPS atau Google Maps.

 

Selalu Bawa Car Charger

Saat terjebak macet, pastikan semua smartphone yang dimiliki oleh orang-orag di dalam mobil selalu menyala dan memiliki kuota internet. Smartphone akan sangat berguna untuk mencari jalur alternatif, menyimak informasi terbaru tentang kondisi lalu lintas di sana, berkomunikasi, dan untuk kebutuhan hiburan agar tidak bosan di perjalanan. Untuk itu, sebaiknya kamu menyediakan car charger untuk mengisi daya di mana pun dan kapan pun. Meskipun Car Charger ini memiliki dampak yang kurang bagus untuk baterai Smartphone, benda ini akan sangat berguna di saat macet.

 

Bawa Sopir Cadangan

Konsidi jalan yang mecet bisa membuat tubuh pengendara menjadi cepat lelah. Untuk mengindari kecelakaan akibat terlalu lelah saat menyetir mobil, sebaiknya di dalam mobil terdapat supir cadangan agar bisa bertukar peran untuk menjaga kondisi tubuh.

 

Selalu Bawa Camilan

Untuk menghilangkan bosan dan lapar, pastikan untuk selalu membawa camilan dari rumah. Soalnya, tidak akan mudah menemukan penjual makanan dan minuman saat diperjalanan. Jadi saat merasa haus dan keroncongan, kamu bisa langsung mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah disediakan sejak awal.

 

Pastikan Kendaraan Dalam Keadaan Sehad dan Bensin Selalu Terisi

Untuk mengindari kecelakaan dan mobil mogok, sebaiknya cek atau perbaiki mobilmu sebelum berangkat ke puncak. Di Puncak, sudah banyak terjadi musibah kecelakaan akibat ada mobil yang kondisinya kurang layak untuk mengarungi jalur puncak yang menanjak dan macet.

 

Selain itu, pastikan juga kendaraanmu selalu terisi bahan bakar. Asupan bahan bakar saat mengarungi jalur yang menanjak dan macet sangat besar. Sementara, tidak mudah menemukan tempat pengisian bensin saat kondisi sedang macet.

 

Booking Penginapan Beberapa Hari Sebelumnya

Lalu jangan lupa, pastikan untuk mendapatkan hotel di Bogor termurah beberapa hari sebelum liburan. Saat libur panjang, akan sulit mendapatkan kamar hotel yang diinginkan jika melakukan pemesanan langsung di hotel tersebut. Selain itu, kamu pun bisa langsung berisirahat begitu sampai di hotel setelah bermacet-macetan selama berjam-jam. Untuk mendapatkan kamar hotel pilihan dengan penawaran harga terbaik, kamu bisa booking kamar hotel termurah di Reservasi.com.

 

Pulang Lebih Awal

Sebaiknya, pilihlah jadwal pulang sehari sebelum waktu libur habis. Bisa juga pulang di hari terakhir liburan dengan jadwal yang tidak terlalu siang. Tujuannya agar kamu bisa memiliki waktu istirahat yang lebih banyak di rumah. Dengan begitu, kamu bisa lebih berstamina dan semangat saat harus kembali dengan rutinitas sehari-hari di keesokan harinya. Kalau kamu sampai di rumah terlalu malam, sedangkan keesokan harinya harus kembali bekerja, tubuhmu akan terlalu lelah untuk menghadapai tumpukan pekerjaan. Hasilnya, pekerjaanmu pun akan sulit dikerjakan dengan maksimal.

 

 

Terbang Aman & Nyaman bersama #SobatAviasi

Melakukan perjalanan udara ke berbagai tempat yang jauh bahkan menyeberangi pulau dan batas negara di era sekarang menjadi semakin mudah dan murah. Seperti perjalanan saya yang lalu, maka soal kemananan dan kenyamanan merupakan hal yang paripurna kemana pun tujuannya dengan aman dan nyaman.

 

 

Nah.. agar mudik kali ini Insha Alloh selamat, aman dan nyaman dengan menggunakan transportasi udara, maka ada persiapan dan aturan yang harus kita ikuti dan lalui, agar perjalanan udara dapat lancar dilakukan hingga selamat tanpa kurang suatu apapun sampai di tempat tujuan.

Dalam persiapan keberangkatan tersebut, ada beberapa hal yang harus dilakukan, mulai dari pemeriksaan barang-barang sesuai regulasi keselamatan penerbangan sampai bagaimana cara kita membawa serta melakukan packing barang, khususnya beberapa barang dalam bentuk cairan.

 

Pemeriksaan Barang di Bandara

 

Salah satu kegiatan ketika  kita dalam persiapan keberangkatan yaitu di area pemeriksaan barang-barang yang dilakukan dengan menggunakan semacam metal detector. Ketika  di area tersebut, maka semua barang yang mengandung kadar logam, seperti barang-barang pribadi berupa telepon seluler, cincin, kalung, ikat pinggang, sampai pecahan uang logam pun harus disimpan di tempat yang tepat dan dilakukan pemindaian dengan alat tersebut.

Terkadang di area ini, selain ketika check in, maka cukup memakan waktu, karena saya harus melepas dan merapikan barang-barang tersebut, namun demi keamanan dan kenyamanan , yaa ikuti saja prosedur yang dilakukan. Nah.. agar mudah, terkadang barang-barang tersebut saya pisahkan dan masukkan ke tempat tertentu di tas bawaan, atau jika diperlukan dipisahkan dengan memasukkan  ke tas bawaan ukuran kecil yang saya pisahkan termasuk untuk sejumlah uang tunai, kartu identitas, maupun tiket pesawat atau dokumen lainnya.

Jangan lupa hal yang terpenting kita lakukan ketika di area pemeriksaan nanti, tidak lupa membawa kelengkapan dokumen macam tiket, boarding pass, atau jika diperlukan dokumen keimigrasian, jika melakukan penerbangan udara ke luar negeri. Semua prosedur tersebut juga dilalui dengan santai dan rileks, namun tetap sekaligus serius jangan dilakukan bercanda, karena terkadang ada beberapa orang karena memang excited pertama kali atau bahkan sudah terlalu sering melakukan penerbangan udara, terkadang menganggap pemeriksaan tersebut hanya rutinitas, bahkan menganggap remeh prosedur yang dilakukan.

Barang yang dilarang dalam penerbangan

Untuk alasan keselamatan dan keamanan, penumpanng transportasi udara tidak diperbolehkan membawa beberapa barang yang dianggap mengganggu bahkan membahayakan perjalanan menggunakan transportasi udara.

Barang-barang tersebut dari seperti bahan peledak, barang yang mudah terbakar, barang yang mengandung gas tertentu, atau barang-barang yang memiliki kandungan cairan berpotensi bahaya jelas-jelas dilarang dibawa ke kabin pesawat, dan terpaksa harus diamankan.

Yaa.. kalau kita sebagai “penumpang normal”  yang maunya berlibur atau melakukan perjalanan bisnis sepertinya tidak mungkin membawa barang-barang tersebut, cuma saya pernah melihat, bahwa barang seperti dalam botol tabung, mungkin pengharum parfum, atau misal semacam obat carian atau berbentuk gas atau material kosmetik pun pernah diamankan dari tas penumpang di depan saya ketika mengantri dan dilakukan pemeriksaan, sehingga barang tersebut pun tidak bisa dibawa bersama pemiliknya.

 

 

https://www.facebook.com/pg/djpu151
https://www.facebook.com/pg/djpu151

 

Komunitas #SobatAviasi

Dengan pengalaman melakukan perjalanan dengan menggunakan  pesawat tersebut pun membuat saya mencari informasi dari beberapa grup maupun komunitas di ranah media sosial, Salah satunya yaitu komunitas #SobatAviasi yang merupakan komunitas resmi yang dibentuk oleh Direktorat Jendral Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan, yang bisa diikuti dan diakses melalui media sosial Facebook [https://www.facebook.com/djpu151/] dan Instagram [https://www.instagram.com/djpu151/] serta bisa juga diakses melalui situs komunitasnya di http://selamanya.id/

Di komunitas #SobatAviasi tersebut, saya banyak mendapat informasi beragam, salah satunya yang saya share diatas, terkait prosedur keselamatan dan keamanan untuk transportasi udara. Segala aturan dan prosedur tersebut, dibuat tentunya dalam rangka agar tingkat keamanan, keselamatan, dan kenyamanan kita dalam menggunakan transportasi udara via pesawat komersial dapat terjaga, sehingga kita terbang kembali dan selamanya dengan menggunakan penerbangan udara tersebut.

 

Referensi :

Komunitas #SobatAviasi

  • http://selamanya.id/
  • https://www.facebook.com/pg/djpu151
  • https://www.instagram.com/djpu151/

 

Kunjungan ke Plant Cianjur PT. Tirta Investama (Aqua) #AirUntukKehidupan

Kunjungan ke Plant Aqua Cianjur (Foto: Ardika Percha)
Kunjungan ke Plant Aqua Cianjur (Foto: Ardika Percha)

 

Pertengahan Oktober yang lalu, saya diajak istri bersama kawan-kawan IDBlogNetwork (IBN), berkesempatan mengunjungi pabrik pengolahan air minum dalam kemasan di Cianjur, untuk melihat langsung operasional pabrik dan pengenalan aktivitas CSR PT. Tirta Investama yang dikenal dengan air mineral bermerk Aqua tersebut. Setelah melalui perjalanan panjang melewati jalan-jalan berkelok dari Puncak Bogor sambil menikmati pemandangan alam nan hijau tersebut, akhirnya saya samapi di pabrik Aqua plant Cianjur.

Proses Produksi

Diskusi Aqua (Foto: Ardika Percha)
Diskusi Aqua (Foto: Ardika Percha)

 

Setelah mendapat safety briefing, kemudian pihak Aqua menjelaskan mengenai situasi pabrik, pengelolaan pabrik, hingga proses produksinya. Dari penjelasan di brief  awal tersebut, plant Cianjur dengan luas 12 hektar lebih tersebut memiliki 4 line produksi yang memproduksi produk Aqua ukuran 330 ml, 600 ml, hingga ukuran 1500 ml, dan memiliki rekor safety yang baik.

Yang menjadi perhatian saya, yaitu pada penjelasan bagian proses pengambilan air yang menjadi “bahan baku” untuk produk Aqua tersebut, yaitu memiliki beberapa tahap yang cukup panjang, yaitu dari tahap filtering atau bisa disebut penyaringan micron dengan beberapa lapisan, lalu selanjutnya proses ozonisasi, hingga proses pengolahan dan berakhir pada pengemasan produk, lalu didistribusikan hingga sampai di tangan kita.

@SehatAqua (AQUA)
@SehatAqua (AQUA)

 

Produk Aqua (http://www.aqua.com/)
Produk Aqua (http://www.aqua.com/)

Mata air

Nah, yang menjadi pertanyaan berikutnya… mata airnya ada dimana dan bagaimana pengelolaannya?

Ternyata mata air yang menjadi sumber pengolahan pabrik tersebut diambil dari lapisan air tanah yang terdalam dengan menggunakan teknologi dan proses konservasi air yang terkendali, karena pihak Aqua berkomitmen untuk tetap menjaga keberlangsungan mata air itu, tidak hanya untuk kepentingan perusahaan dalam pengelolaan produksi air, namun yang lebih penting kepentingan lingkungan dan sekitarnya, karena keberlangsungan sumber air tersebut akan berdampak langsung atas keberlangsungan bisnis Aqua sendiri kedepannya.

CSR Aqua & Hipoci

Setelah mendapat penjelasan mengenai proses produksi dan konservasi air yang disampaikan pihak manajemen Aqua plant Cianjur, selanjutnya kita pun mendapat penjelasan mengenai program CSR Aqua, yaitu terkait pengembangan masyarakat sekitar plant Cianjur tersebut. Pihak Aqua melakukan program CSR berkelanjutan melalui komunitas petani di Cianjur, yaitu melalui organisasi Hipoci yaitu Himpunan Petani Organik CIanjur.

 

Dialog dengan tim Hipoci (Foto:Ardika Percha)
Dialog dengan tim Hipoci (Foto:Ardika Percha)

 

Markas Hipoci (Foto:Ardika Percha)
Markas Hipoci (Foto:Ardika Percha)

 

Setelah santap siang, saya dan kawan-kawan pun akhirnya mengunjungi lokasi kerja Hipoci tersebut. Disana kami berkesempatan untuk mendengarkan pemaparan pengurus Hipoci dan berdiskusi terkait sejarah dan kegiatan Hipoci, serta bagaimana Aqua berperan besar dalam pengembangan Hipoci tersebut.

Dengan kunjungan ke pabrik Aqua tersebut dan melakukan dialog dengan tim Hipoci, bisa memberikan contoh upaya perusahaan yang berusaha melakukan konservasi alam sekaligus berusaha dalam pengembangan komunitas sekitar pabrik, sehingga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan sekitarnya, serta hal ini bisa menjadi role model bagi pengembangan masyarakat yang memang harus dilakukan bertahap dan berkelanjutan.

 

Pengurus Hipoci (Foto:Ardika Percha)
Pengurus Hipoci (Foto:Ardika Percha)

 

Nah, aktivitas yang dilakukan PT. Tirta Investama tersebut, bertujuan mendukung inisiatif Aqua terkait komitmen menjaga kualitas dan kuantitas air untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Inisaitif yang telah dikembangkan Aqua terkait dengan kawan-kawan blogger dan jurnalis berbagai media, yaitu disalurkan melalui Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA).

AJA merupakan salah satu upaya Aqua dalam mengapresiasi aktivitas yang dilakukan para jurnalis maupun blogger atas kontribusinya dalam karya tulis dan foto yang bermanfaat bagi masyarakat, serta diimplementasikan melalui Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) tersebut. Untuk informasi AJA lebih lanjut, bisa kunjungi laman berikut: http://www.aqua.com/anugerahjurnalistik/


Sumber:

  1. http://www.aqua.com/
  2. http://www.aqua.com/anugerahjurnalistik/
  3. http://idblognetwork.com/
  4. http://hipoci.com/

 

Singapura

Tanah Arab dengan kota-kotanya, seperti Mekkah dan Madinah ingin saya kunjungi bukan hanya karena alasan relijius. Namun, juga dari sisi sejarah dan iklimnya yang ekstrem. Selain tanah Arab, Singapura merupakan salah satu negara dan kota yang ingin saya kunjungi, karena dikenal sebagai sebuah standar untuk role model, bagaimana sebuah negara dan kota, dibangun dan dikelola, tidak hanya di tingkat Asia, bahkan tingkat dunia. Karena segala hal di negara tersebut, tertata rapi, terstruktur, dan sistematis.

Perpaduan yang seksi antara distrik bisnis dan kawasan bersejarah yang masih terus dijaga, dimanfaatkan maksimal oleh pemerintah Singapura menjadi salah satu pendapatan terbesarnya di bidang turisme, di luar pendapatan dari industri finansial. Hal tersebut, terlihat dari kunjungan bisnis dan plesiran yang saya lakukan ke negara dengan luas wilayah tidak jauh berbeda dengan kawasan Jabotabek. Mereka mengelola serta memadukan segala layanan dan atraksi dengan baik. Sekaligus memudahkan saat melakukan aktivitas bisnis sekaligus berwisata yang dimanjakan dengan dukungan fasilitas, infrastruktur, dan transportasi kelas dunia.

Adanya keragaman etnis dan ras lokal, yang menghuni Singapura seperti Tiongkok, Melayu, India, dan Arab, ditambah dengan kunjungan berbagai bangsa dari pelosok dunia. Bahkan, jumlah ekspatriat menunjukkan tren bertambah, yang didorong kemajuan ekonomi Singapura. Hal tersebut, menambah keberagaman kultur Singapura, dengan diselenggarakannya berbagai festival budaya dan acara industri kreatif, serta beragam bangunan yang didirikan.

Singapura yang merupakan salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia, menjadi salah satu simbol pusat ekonomi dan bisnis di dunia modern, ternyata masih tidak bisa lepas dari akar budaya tradisional. Saya pun menjadi saksi mata, bahwa gedung modern pencakar langit masih bersahabat dengan kawasan pasar tradisional dan tempat peribadatan kuno nan magis.

Tautan Luar :

http://www.yoursingapore.com/content/traveller/id/browse/aboutsingapore/people-lang-culture.html


 

To Chinatown MRT  (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
To Chinatown MRT (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Sago Street (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Situasi Durian Bugis (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Yellow house, bike, & street (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
Yellow house, bike, & street (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Kuil & HDB at Chinatwon (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
Temple & HDB at Chinatwon (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Golden Temple (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
Golden Temple (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

The Famous Marina Bay Sands 2014 (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
The Famous Marina Bay Sands 2014 (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Green Skycrapper (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

The Famous Eye of Singapore (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
The Famous Eye of Singapore (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Walker & Harbour View (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

National Museum of Singapore (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
National Museum of Singapore (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Menelusuri Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Cirebon di Masa Lalu

Cirebon memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa, khususnya kawasan Jawa bagian barat, dengan didirikannya kesultanan Cirebon di sekitar abad 15. Kesultanan Cirebon berkaitan erat dengan Kesultanan Demak sebagai salah satu kerajaan Islam pertama di Indonesia yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati, yaitu salah satu Wali Songo yang memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Cirebon yang didirikan sebagai salah satu pusat penyebaran Islam, maka pembangunan sebuah masjid merupakan hal yang krusial,  dan atas prakarsa Sunan Gung Jati meminta Sunan Kalijaga untuk membangun sebuah masjid sebagai pusat kegiatan dakwah Islam, yang dibangun di kompleks keraton Kasepuhan Cirebon. Masjid tersebut dinamakan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang dikenal juga sebagai Masjid Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon. Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan, yang berarti masjid yang dibangun sebagai tempat yang penuh keagungan dan digunakan dalam keseharian warga Cirebon.

Bangunan Masjid

Ketika memasuki masjid tersebut, saya merasakan bahwa tempat sesuci tersebut memiliki “getaran” berbeda, bisa jadi karena di masa lalu hingga saat ini banyak orang orang alim ulama telah beribadah di tempat tersebut, sehingga memberikan “getaran” yang berbeda tersebut, dan ditambah dengan interior masjid berusia sangat tua dengan tembok batu bata berwarna merah yang khas tersebut.

Masjid merupakan tidak hanya sebagai pusat dakwah dan ibadah, namun masjid telah menjadi salah satu bangunan penting dalam kegiatan sehari-hari di masa lalu. Filosofi ajaran Islam pun ada di bangunan masjid tersebut, salah satunya yaitu pintu masuk yang menuju ruangan utama (mimbar),  ukurannya kecil dan membuat orang dewasa harus menunduk, yang mengandung filosofi bahwa setiap orang posisinya sama dibawah Allah Swt, serta harus patuh atas perintah dan laranganNYa.

Selain itu disetiap pancang tiang kayu terukir dengan detail dan indahnya ayat-ayat suci Alquran, yang melambangkan bahwa Alquran sebagai pondasi dalam kehidupan manusia. Lalu ada hal unik berkaitan dengan pelaksanaan shalat Jumat di masjid tersebut, yaitu jika dikumandangkan adzan, tidak hanya oleh seorang muazin, namun oleh tujuh orang muazin berpakaian serba putih yang dilakukan bersamaan, dan hal tersebut bisa dilihat terdapat tujuh buah microphone telah terpasang di depan mimbar masjid.

Cirebon & Masjid Saat Ini

Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon di masa kini menjadi salah satu magnet wisata budaya bagi kota Cirebon, dan hal tersebut disadari oleh Pemda, dan ketika saya mengunjungi masjid tersebut, maka usaha konservasi terhadap situs budaya telah dilakukan, termasuk Masjid Sang Cipta Rasa. Selain itu, usaha promosi dan pelestarian budaya sudah mulai dilakukan, salah satunya dengan adanya penyelenggaraan beberapa festival budaya yang didukung tidak hanya Pemda, namun masyarkat termasuk pihak keraton Kasepuhan Cirebon.

Keberadaan situs budaya seperti Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon tidak hanya menjadi sebuah bangunan sebagaimana mestinya sebagai tempat ibadah, namun juga mulai lebih serius  dan menjadi perhatian pemangku kepentingan, untuk diarahkan menjadi objek wisata yang menggerakkan roda perekonomian, dengan tetap memperhatikan aturan dan norma yang berlaku, serta tidak lupa mengikutsertakan warga lokal dalam pengembangannya.

Salah satu implementasi serius dari usaha konservasi situs budaya dan sekaligus mulai membangun simpul-simpul industri pariwisata oleh pihak Pemda dan pemangku kepentingan lainnya, yaitu dilaksanakannya Gotrasawalafest, yaitu festival budaya internasional pertama kalinya dilaksanakan di Cirebon pada 2014 yang lalu, dan selain itu, Cirebon  terpilh menjadi tuan rumah Festival keraton Nusantara pada 2017 mendatang. Hal tersebut menjadi momentum Cirebon dan Masjid  Sang Cipta Rasa Cirebon untuk berbenah untuk menjadi tujuan wisata budaya nasional dan bahkan internasional kedepannya.

So, ada yang suka berwisata budaya? atau ada yang pernah main dan jalan-jalan ke Cirebon & Masjid Agung Cirebon?

 


 

Gotong royong Masjid Cirebon (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Gotong royong Masjid Cirebon (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

MotorE (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
MotorE (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Atap & Pekerja (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Atap & Pekerja (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Pintu Masuk Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Pintu Masuk Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Aktivitas luar masjid (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Aktivitas luar masjid (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Gotong royong Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Gotong royong Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Sudut lain (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Sudut lain (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Pintu Samping (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Pintu Samping (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Area baca (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Area baca (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

 Mimbar & sekitarnya (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Mimbar & sekitarnya (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Ibadah di Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Ibadah di Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Alquran (seharusnya) diatas segalanya (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Alquran (seharusnya) diatas segalanya (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Kisi-kisi (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Kisi-kisi (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Tertutup (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Tertutup (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Penjaga Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Penjaga Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Petunjuk ada dimana saja (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Petunjuk ada dimana saja (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 


Tautan luar :

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Sultanate_of_Cirebon
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Sang_Cipta_Rasa
  3. http://travel.detik.com/read/2013/08/13/154831/2328659/1519/1/kisah-masjid-agung-cirebon-yang-dibangun-dalam-semalam
  4. http://gotrasawalafest.com/
  5. http://www.antaranews.com/berita/475343/cirebon-tuan-rumah-festival-keraton-nusantara-2017

 

Menggapai Puncak Prau Dieng (Bagian 2)

“People don’t take trips . . . trips take people.”

(John Steinbeck)

Kisah perjalanan saya di  bagian pertama dalam perjalanan menyusuri Dieng [baca artikel Menggapai Puncak Prau Dieng (Bagian 1)] tak lengkap tanpa kehadiran kawan-kawan yang bersama menggapai puncak Prau.  Seperti quotes diawal tulisan saya dari John Steinback, seorang penulis & novelis kenamaan asal Amerika Serikat yang memenangkan Nobel Prize dan peraih  Pulitzer Prize, maka saya persembahkan foto-foto berikut untuk kalian, teman-teman seperjalanan yang gokil, heboh, dan kompak.. yang membuat perjalanan ini menjadi lebih berwarna-warni :)


The Transporter  (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
The Transporter

 

Andy (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Andy

 

Muchni (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Muchni

 

Norma (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Norma

 

Ana (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Ana

 

Darra  (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Darra

 

Jun  (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Jun

 

Vinna

 

Dian

 

Eka

 

Feby

 

Citra

 

Indah

 

Fery

 

Dian (kedinginan)

 

Indah (again)

 

Feby (again)

 

Andy “cam guy”

 

Eka (again)

 

Citra (again)

 

 

Dian & Norma

 

Norma & Dian (again)

 

Persaudarian bergandengan

 

Persaudarian (kok nggak berpelukan?)

 

Persaudarian (again)

 

Sudut lain

 

Bahagia & Tertawa

 

Persaudarian (oh my god.. again)

 


 

Bonus Track :

Jejak masa lalu

 

Candi & Pengunjung (1)

 

Candi & Pengunjung (2)

 

Penyusur Prau

 

Dinginnya Prau

 

Mereka di Prau

 

Dibalik Kabut Prau

 

Perkemahan di Prau

 

Kemahku & Kemahmu

 

MERAH PUTIH-ku di Prau

Menggapai Puncak Prau Dieng (Bagian 1)

 

Di penghujung tahun 2014, Alhamdulillah akhirnya salah satu keinginan saya untuk menapaki dan menikmati alam pegunungan Indonesia akhirnya tercapai juga. Gunung Prau menjadi tujuan perjalanan saya kali ini yang terkenal dengan keindahan pemandangan di puncaknya, serta dengan rute pendakian yang beragam, melalui area perkebunan sayuran, hutan dengan berbagai macam jenis pepohonan, undak-undakan batuan, area jalan setapak sempit yang diapit jurang kanan-kirinya, hingga mancapai area perbukitan a la bukit teletubbies!

Gunung Prau terletak di kawasan dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau) dengan ketinggian 2565 mdpl dan sebagai informasi tambahan, kata Dieng berasal dari gabungan kata dalam bahasa Kawi kuno, yaitu kata “di” yang berarti tempat atau gunung, dan kata “hyang” yang bermakna dewa, sehingga dari nama tempat tersebut, Dieng merupakan tempat bersemayamnya para dewa dan dewi menurut kepercayaan kuno. Gunung Prau berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Kendal, di provinsiJawa Tengah, merupakan gunung tertinggi dibanding deretan gunung lainnya, yaitu gunung Sumbing dan Sindoro di kawasan Dieng, serta dipastikan suhu di kawasan gunung tersebut sangat dingin hingga merasuk dan menusuk ke tulang, meski memakai beberapa lapis baju dan jaket!

Setelah beristirahat dari perjalanan darat sekitar 13 jam dari Jakarta menuju Dieng, lalu makan, dan mempersiapkan logistik serta perizinan, maka pendakian melalui jalur Dieng mulai dilakukan sekitar pukul 10 pagi dari basecamp bersama kawan-kawan rombongan Rekreatif, hingga mencapai sekitar pukul 17 sore  di area sekitar menara listrik, melewati tiga pos pendakian yang cukup terjal. Setelah beristirahat untuk makan dan mempersiapkan diri melalui rute terakhir menuju area perkemahan, maka perjalanan dilanjutkanmelalui jalur sempit yang diapit oleh jurang di kanan-kirinya. Gelapnya malam di perjalanan ditemani oleh cahaya rembulan dan bintang-bintang di angkasa (dan tentunya cahaya dari headlamp yang saya gunakan) serta ditemani kabut yang mulai membatasi jarak pandang dan terpaan udara yang luar biasa dingin mulai merasuki tubuh saya dalam menyusuri perjalanan ke area perkemahan.

Alhamdulillah sekitar pukul 7 malam akhirnya saya mencapai area perkemahan dan mempersiapkan segala sesuatunya bersama dari mendirikan tenda hingga memasak air dan makan, lalu kita bersegera beristirahat untuk mengejar terbitnya mentari di pagi hari. Dan keesokan subuhnya, saya disambut dengan udara yang benar-benar luar biasa super dingin, meski udara yang sangat dingin, saya bersama rombongan pun menapaki spot-spot menarik di puncak Prau,  dan Alhamdulillah mendapat kesempatan menikmati indahnya salah satu kebesaran ciptaan Allah, yaitu melihat sang mentari terbit disertai pemandangan puncak Prau yang sangat indah, sehingga rasa lelah dan udara dingin menyerbu tubuh ini untuk menggapai puncak Prau menjadi terbayarkan ketika melihat pemandangan puncak Prau tersebut :)

Ufuk Timur (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Ufuk Timur (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Dia muncul  (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Dia muncul (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Perkemahan (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Perkemahan (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Selffeet di bukit teletubbies (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Selffeet di bukit teletubbies (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Bersama kita di Prau (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Bersama kita di Prau (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Aku dan Prau (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Aku dan Prau (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Diatas awan (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Diatas awan (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

Tautan Luar

  • Data & fakta Dieng : http://id.wikipedia.org/wiki/Dieng