Tag Archives: street photography

4 Hal Yang Saya Pelajari Dari Fotografer Vivian Maier

Selfie Vivian (Vivian Maier - Maloof Collection)
Selfie Vivian (Vivian Maier – Maloof Collection)

 

Vivian Maier adalah salah satu fotografer referensi saya dalam mempelajari fotografi, khususnya genre human interest, bahkan merujuk ke jenis street photography dari beberapa materi yang pernah saya baca, dengan kata lain Vivian adalah salah satu idola dalam dunia fotografi. Karena hal itu, saya pun mengangkat kisah Vivian khusus dalam artikel profil fotografer yang saya tuliskan di blog ini dan bisa dinikmati di artikel blog saya berikut : Percha Photog Profile Vivian Maier.

Setelah melihat, membaca, dan menikmati karya foto Vivian yang disampaikan oleh Maloof, seorang penulis buku dan seorang fotografer yang menemukan dan merestorasi karya-karya Vivian tersebut.  Ada empat hal yang bisa saya dapatkan dan pelajari dari perjalanan “karier” fotografi yang dilakukan Vivian sbb :

 

1. Fotografi bisa dilakukan oleh siapa saja

 

Vivian Maier - Maloof Collection
Vivian Maier – Maloof Collection

 

Dari karya Vivian dan intepretasi yang dijelaskan oleh Maloof, maka Vivian membuktikan bahwa siapa pun bisa menjadi seorang fotografer. Dengan profesinya sebagai seorang nanny (pengasuh anak), ternyata Vivian memiliki hobi fotografi dan surprisingly karya yang dihasilkan untuk saya pribadi bisa disejajarkan dengan fotografer ternama lainnya. Seperti yang saya tulis di artikel blog artikel blog Fotografi, Ponsel, & Instagram mengenai konsep demokratisasi fotografi, maka fotografi bisa diakses oleh siapa saja, dengan adanya media digital beserta perangkatnya yang semakin murah dan mudah digunakan.

Bahkan tiga sampai empat tahun terakhir, fotografi menjadi semakin inklusif dan bukan milik kelompok elit tertentu, karena kemudahan aksesnya tersebut, meski secara profesi, dasar-dasar forografi, dan karya yang dihasilkan bisa dibedakan, bahkan beberapa teman tanpa latar belakang media, seni, kreatif, atau jurnalisitk berani membuka bisnis fotografi, dan menapaki karier sebaga fotografer seperti bisnis wedding dan event yang membutuhkan dokumentasi foto, bahkan teman saya tersebut hanya bermodal kamera standar dan peralatan seadanya!

2. Fotografi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja

 

Vivian Maier - Maloof Collection
Vivian Maier – Maloof Collection

 

Di masa Vivian, meski perangkat fotografi sudah mulai bisa diakses masyarakat umum, meski belum populer, dengan Rolleiflex-nya Vivian membawa kamera tersebut hampir setiap saat menangkap berbagai momen di kehidupan sehari-harinya. Dari yang saya baca dan lihat, maka foto karya Vivian sangat erat dengan pendekatan street photography yang saya tulis di artikel blog street photography. Vivian dengan profesinya sebagai pengasuh anak, ketika di waktu luangnya digunakan untuk membuat foto dimana saja, dan jika dibandingkan masa kini dengan kemudahan dalam membawa kamera yang ukurannya lebih mudah dibawa dan beratnya jauh lebih ringan, bahkan dengan hadirnya smartphone berkamera, maka fotografi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, dibandingkan kamera di era Vivian masih hidup.

 

3. Fotografi adalah salah satu cara menikmati hidup

 

Vivian Maier - Maloof Collection
Vivian Maier – Maloof Collection

 

Vivian sepanjang saya baca dan telusuri informasinya, hanya menjalani hidup yang sederhana dan terkesan santai. Dengan hanya bekerja sebagai seorang pengasuh anak yang berpenghasilan tidak besar, dan tinggal seatap dengan majikannya, maka fotografi bagi Vivian sebagai cara menikmati kehidupan, bahkan sepanjang hayatnya, baik ketika bekerja maupun plesiran selalu bersama kameranya untuk membuat foto sesuai selera dia. Vivian berkarya karena memang dia suka dan menurut beliau, cukup dia sendiri yang menikmatinya. Sampai saat ini setahu saya, bahkan beliau tidak membuat foto untuk tujuan mencari keuntungan materi, diluar kepuasan beliau pribadi.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya di artikel blog yang membahas profil Vivian disini, mayoritas rol filmnya belum di-develop, dicetak atau dipublikasikan hingga beliau meninggal dunia, dan dijadikan sebagai koleksi untuk kepuasan pribadi. Untuk poin ini, tidak lain dan tidak bukan, bagi Vivian fotografi adalah sebuah cara menikmati hidup dengan melakukannya tidak hanya ketika liburan, bahkan ketika menjalani hidup sehari-harinya

 

 

4. Fotografi adalah “karier” sepanjang hayat

 

Vivian Maier - Maloof Collection
Vivian Maier – Maloof Collection

 

Saya pernah membaca sebuah posting di salah satu forum fotografer tersohor di Republik ini, yang membahas apa perbedaan seorang fotografer profesional atau bukan, dan sebagian menyatakan bahwa seorang fotografer profesional adalah fotografer yang menghasilkan karya fotografi yang mumpuni dan sekaligus mendapatkan nafkah dari kegiatan fotografinya tersebut.  Sebagian lain, berkata bahwa fotografer profesional bisa dinilai dari karyanya yang monumental, dan sebagian lain menyatakan fotografer profesional tidak secara langsung terkait dengan uang atau karyanya, namun fotografer profesional adalah orang yang berprofesi dan mencari rejeki dari fotografi.

Perbedaan definisi dan pemahaman yang ada itu berubah, ketika saya mengetahui sosok Vivian yang jelas-jelas bukan seorang fotografer profesional, tetapi seorang pengasuh anak, namun karyanya sekelas dengan fotografer profesional di jamannya, bahkan memiliki kekhasan tersendiri.

Apa yang dilakukan Vivian Maier terkait fotografi sepanjangan hayatnya, bisa saya sebut sebenar-benarnya passionate photographer, yang konsisten terus berkarya, dan apa yang dibuatnya, sepemahaman saya, memang dia menyukai hal tersebut. Di poin ini, kita sama-sama mengerti, kalau ada hal yang kita sukai, maka kita rela terus melakukan hal yang disukai tanpa lelah dan tanpa rasa bosan, bahkan hingga akhir hayat nanti.

 

Vivian Maier - Maloof Collection
Vivian Maier – Maloof Collection

 

Empat hal yang telah saya sampaikan tersebut telah menambah wawasan saya, dan menambah semangat saya ketika membaca dan melihat karya Vivian dalam menjalani hobi fotografi selaku fotografer amatir, yang terus berkarya sekaligus belajar dari berbagai sumber, sehingga “karier” fotografi saya terus berproses dengan (mencoba) konsisten berkarya kapan saja dan dimana saja, sekaligus menikmati hidup dari balik lensa!

Jadi bagaimana fotografi menurut kamu? Apa 4 hal yang saya pelajari dari Vivian relevan dengan pekerjaan atau hobi fotografimu? Yuk, share di kolom komentar disini ya..


Referensi:

Situs resmi Vivian Maier – Maloof Collection : http://www.vivianmaier.com/


Baca juga artikel mengulas perkenalan perdana saya dengan street photography : Berkenalan dengan Street Photography

Percha Photog Profile : Vivian Maier

Vivian Maier (Maloof Collection)
Vivian Maier (Maloof Collection)

 

Percha Photog Profile kali ini membahas Vivian Maier yang merupakan street photographer misterius asal Chicago dengan talenta luar biasa yang saya temukan di jagat maya. Dengan sering menggunakan kamera Rolleiflex-nya, Mrs. Maier berkreasi membuat foto kapan saja, dimana saja, dengan objek foto apa saja, dan dilakukannya hampir setiap saat.

Menariknya hingga saat ini, sudah ditemukan lebih dari 100.000 rol film yang mayoritas berupa undeveloped film dan belum pernah dipublikasikan secara resmi & komersial semasa hidupnya!

Selain itu, Vivian Maier ternyata memiliki pekerjaan sebagai seorang nanny (bisa diterjemahkan sebagai pengasuh anak)! Dengan pekerjaan utama yang unik tersebut, ternyata (menurut saya) menghasilkan karya fotografi yang fenomenal dengan pendekatan street photography dan berbau human interest tersebut.

Awal Perkenalan

Saya mengenal sosok Vivian ketika membaca sebuah artikel dari The Guardian melalui aplikasi berita Flipboard dan saya menemukan kembali tulisan mengenai Vivian di blog Eric Kim. Hal ini, membuat saya tergugah untuk mencari informasi mendalam mengenai sosok Vivian Maier.

Lambat laun pun saya akhirnya menemukan situs resmi dari Vivian Maier yang dikelola oleh John Maaloof, seorang penulis, jurnalis, dan memiliki hobi fotografi.

Dari situs tersebut, saya pun melihat portofolio yang menurut pendapat saya, sekelas fotografer profesional yang berciri street photography. 

 

http://www.vivianmaier.com/ (Maloof Collection)
http://www.vivianmaier.com/ (Maloof Collection)

Siapa Dia

Vivian Maier (Maloof Collection)
Vivian Maier  (Maloof Collection)

 

Seperti yang saya ceritakan di awal artikel blog ini, Vivian Maeir, lahir di New York, Amerika Serikat, dan sempat pula tinggal kembali ke tanah leluhurnya Perancis, namun kembali ke New York, kemudian akhirnya tinggal di Chicago dan  bekerja sebagai nanny hingga akhir hayatnya selama lebih dari 40 tahun.

Vivian Maier Photography (Maloof Collection)
Vivian Maier Photography (Maloof Collection)

 

Selama hidupnya, Vivian sering bepergian bersama anak asuhannya kesana kemari, maupun di kala sengangnya di Chicago, dan berwisata ke kota lain, seperti Los Angeles dan New York, tetapi juga berkesempatan berwisata ke belahan dunia lain seperti beberapa negara Amerika Selatan, Eropa, dan Asia.

Kalau dipikir-pikir, menurut sepengetahuan saya, dengan bekerja sebagai pengasuh anak, maka dia memiliki waktu senggang yang banyak, dan secara ekonomi dia tidak perlu tempat tinggal, karena segala kebutuhan dasar untuk hidup disediakan oleh majikannya, sembari menjalani “karir fotografinya”.

Dari penelusuran saya, Vivian memiliki kepribadian yang tertutup dan cenderung misterius. Dan hingga saat ini, saya belum menemukan jawaban pertanyaan yang bikin penasaran, seperti kenapa dia membuat begitu banyak foto dengan jumlah yang masif, dan untuk tujuan apa? karena hingga beliau meninggal, tidak satu pun fotonya dipublikasikan hingga ditemukan oleh John Maalouf.

Maalouf menemukan dan membeli koleksi foto dalam bentuk undeveloped film milik Vivian Maier secara tidak sengaja di balai lelang di tahun 2007, 2 tahun sebelum Vivian meninggal dunia, akibat Vivian tidak mampu melanjutkan sewa ruangan untuk menyimpan ribuan koleksi rol film miliknya.

Maalouf pada awalnya mencari sejumlah foto dengan situasi jaman dulu, untuk melengkapi penyusunan buku sejarahnya, namun Maalouf pun kaget dan akhirnya kagum atas koleksi foto tersebut. Maalouf mengira Vivian adalah seorang fotografer profesional di jamannya, ternyata setelah bekerja keras mencari tahu siapa Vivian kesana kemari, ternyata foto-foto tersebut dibuat oleh seorang pengasuh anak biasa yang misterius!

Kemudian Maalouf pun mengunggah foto-foto Vivian ke Flickr, dan ternyata hasilnya diluar dugaan, dengan mendapat respon sangat positif dari netizen. Kemudian melihat hal tersebut, Maalouf pun mulai secara bertahap mempublikasikan foto-foto Vivian Maier dan mulai menyusun dokumentasi terkait Vivian Maier.

 

Portofolio

Dari perkenalan tersebut, saya pun kagum akan hasil karya Vivian Maier yang variatif, dari foto bertipe potret, foto berbau urban architecture, foto suasana sehari-hari perkotaan, hingga foto-foto momen-momen candid yang unik, kalau boleh bisa saya sebut, foto Vivian tergolong foto desicive moment sekelas Henri Cartier-Bresson.

Dengan lebih dari 100.000 rol film, maka karya Vivian di masanya termasuk fotografer (amatir) yang sangat produktif, dan sampai saat ini, saya penasaran dan “haus” akan karyanya yang beragam dan banyak tersebut.

Foto karya Vivian menurut saya memiliki kekhasan dalam bentuk foto berseri, yang masing-masing foto tersebut hampir semuanya merupakan foto yang “kuat”. Hal ini bisa dilihat contohnya dari contact sheet dan foto berikut :

Vivian Maier Photography (Maloof Collection)
Vivian Maier Photography (Maloof Collection)

 

Vivian Maier Photography (Maloof Collection)
Vivian Maier Photography (Maloof Collection)

 

Vivian Maier Photography (Maloof Collection)
Vivian Maier Photography (Maloof Collection)

 

Vivian Maier Photography (Maloof Collection)
Vivian Maier Photography (Maloof Collection)

 

Vivian Maier Photography (Maloof Collection)
Vivian Maier Photography (Maloof Collection)

Apa Yang Saya Pelajari

Dari Vivian Maeir, saya belajar beberapa hal sebagai berikut:

  1. Fotografi bisa dipelajari serta dilakukan oleh siapa saja dengan baik dan benar, sama seperti yang saya sampaikan di artikel blog Fotografi, Ponsel, & Instagram mengenai konsep demokratisasi fotografi dan juga saya ceritakan apa yang telah  dilakukan oleh Eric Kim dengan konsep open source photography-nya di artikel blog saya.
  2. Fotografi menurut Vivian, bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, tanpa perlu upaya berlebihan atau bertujuan membuat foto yang diarahkan serta terkonsep, bahkan cenderung candid apa adanya, ketika melakukan perjalanan dan bisa dilakukan di lingkungan sehari-hari. Pendekatan fotografi yang dilakukan Vivian, menurut saya sangat erat dengan pendekatan street photography yang saya tulis di artikel blog street photography 
  3. Vivian Maier tidak peduli dengan pujian foto bagus, seperti mendapat banyak likes di media sosial, atau fotonya dibilang bagus, keren, mantap, dsb., namun Vivian berkarya karena memang dia suka dan menurut beliau, cukup dia sendiri yang menikmatinya. Sampai saat ini setahu saya, bahkan beliau tidak membuat foto untuk tujuan mencari keuntungan materi, diluar kepuasan beliau pribadi. FYI seperti yang saya sampaikan sebelumnya, mayoritas rol filmnya belum di-develop, dicetak atau dipublikasikan hingga beliau meninggal dunia.
  4. Apa yang dilakukan Vivian Maier terkait fotografi sepanjangan hayatnya, bisa saya sebut sebenar-benarnya passionate photographer, yang konsisten terus berkarya, dan apa yang dibuatnya, sepemahaman saya, memang dia menyukai hal tersebut. Di poin ini, kita sama-sama mengerti, kalau ada hal yang kita sukai, maka kita rela terus melakukan hal yang disukai tanpa lelah dan tanpa rasa bosan, bahkan hingga akhir hayat nanti.
Vivian Maier Photography (Maloof Collection)
Vivian Maier Photography (Maloof Collection)

 

Vivian Maier Photography (Maloof Collection)
Vivian Maier Photography (Maloof Collection)

 

So, apa kamu tahu sosok Vivian Maier sebelumnya? Dan apa pendapat kamu menngenai dia dan hasil karyanya? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar ya.


Baca juga artikel blog : “Percha Photog Profile: Eric Kim”


Referensi :

  1. http://www.theguardian.com/lifeandstyle/2014/jul/19/our-nanny-vivian-maier-photographer
  2. http://www.vivianmaier.com/
  3. http://erickimphotography.com/blog/2014/04/14/5-lessons-vivian-maier-has-taught-me-about-street-photography/
  4. http://erickimphotography.com/blog/2014/04/14/5-lessons-vivian-maier-has-taught-me-about-street-photography/
  5. http://www.newyorker.com/culture/culture-desk/vivian-maier-and-the-problem-of-difficult-women
  6. https://en.wikipedia.org/wiki/Vivian_Maier
  7. http://www.nytimes.com/2014/09/06/arts/design/a-legal-battle-over-vivian-maiers-work.html?_r=0

 

Proyek Foto #KomuterKota

Awas kereta! (Foto: Ardika Percha - Jakarta, 2013)
Awas kereta! (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2013)

 

Kenapa Proyek Foto?

Di tahun ini, seperti saya sampaikan di artikel Kaleidoskop yang lalu, saya berkeinginan membuat sebuah karya fotografi yang berkelanjutan, semacam seri foto atau bahkan esai foto yang lebih mendalam, dan hal ini berujung pada keinginan membuat proyek foto. Menurut saya, dengan membuat sebuah proyek foto, maka kita bisa lebih fokus pada suatu tema tertentu, dan melatih kita untuk tetap (berusaha) konsisten berkarya dengan tema tersebut. 

Dalam perjalanan waktu, jenis foto bergaya human interest dan foto jurnalistik menjadi awal perkenalan saya dengan dunia fotografi, kemudian mendapat hidayah mengenal genre street photography  yang menjadi pengaruh kuat untuk membuat foto dalam keseharian saya.

Dalam membuat foto akhir-akhir ini, saya pun mendalami mobile photography yang saya bahas di artikel ini, dan ternyata memiliki keasyikan tersendiri membuat foto dengan bermodalkan sebuah ponsel, yang bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja 😀

Selain street photography dengan menggunakan ponsel, ditambah ketertarikan saya dengan isu transportasi publik dan kisah perkotaan (urban), membuat saya berpikir kenapa tidak membuat proyek foto yang bisa saya lakukan sehari-hari dengan tema tertentu, yaitu berkreasi melalui proyek foto Komuter Kota.

Apa itu Komuter Kota?

Komuter merujuk pada pengertian umum, yaitu orang yang dalam kesehariannya biasa melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, dalam hal ini, cakupannya di suatu kota atau daerah tertentu, sehingga muncul dan lahirlah istilah #KomuterKota tersebut. FYI menurut KBBI, kata “komuter” merujuk pada pesawat ulang alik berkecepatan tinggi, namun saya mengambil pengertiaan umum dari beberapa sumber, terutama terkait isu perkotaan :)

Untuk saya pribadi, perjalanan yang acapkali saya lakukan, yaitu berkomuter dari rumah ke kantor, atau berkomuter ke beberapa tempat publik, seperti pusat perbelanjaan, taman, kampus, atau kebeberapa tempat plesiran lainnya, dan dalam berkomuter setiap harinya, mayoritas saya menggunakan transportasi publik.

Untuk moda transportasi yang saya gunakan, mayoritas menggunakan transportasi kereta, yang lebih tepatnya Commuter Line, serta alternatif transportasi publik lainnya, seperti menggunakan angkot, bis, TransJakarta, taksi, dan terkadang motor/ojek. Menurut saya di ibukota Jakarta yang padat, dengan lalu lintas yang hampir setiap saat macet, terutama di hari kerja, maka pilihan menggunakan kereta dan dikombinasikan moda transportasi lainnya merupakan pilihan yang tepat.

Dari uraian yang saya sampaikan, maka #KomuterKota pun lahir menjadi sebuah proyek kreatif yang bermaksud merekam fragmen keseharian penduduk perkotaan, yang berkomuter dari satu sisi kota ke sisi kota lainnya. Namun tidak hanya aktivitas berkomuter saja yang akan direkam, tetapi semua elemen disekitarnya, yang terkait dengan arus berkomuter tersebut, akan terekam dalam proyek ini.

 

 

Apa yang ingin dicapai dari #KomuterKota?

Sebagai pengguna transportasi publik, maka saya mengajak kawan-kawan untuk mulai menggunakan transportasi publik, dan bagi yang sudah (biasa) menggunakan transportasi publik, bahwa transportasi publik merupakan salah satu solusi perkotaan untuk berkomuter dari sisi kota ke sisi kota lainnya, dengan (seharusnya) mudah, cepat, nyaman, dan murah.

Dengan foto-foto di proyek #KomuterKota tersebut, maka saya mencoba merekam serta “memberitakan” terkait apa dan bagaimana wajah transportasi publik kita, sekaligus sekutip kisah visual tentang perkotaan dan aktivitas warga di kota tersebut, yang saya temui sehari-hari.

Menurut saya, transportasi publik menjadi pilihan utama di masa datang,  dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk perkotaan, lalu semakin tingginya biaya BBM, termasuk semua biaya terkait aktivitas berkomuter dari tarif tol, biaya parkir, pajak kendaraan dsb. Lalu isu semakin langkanya  lahan yang kosong terkait pengembangan infrastruktur transportasi dan terbatasnya ruas jalanan di perkotaan dan, maka diperlukan transportasi publik yang mudah, cepat, nyaman, murah, dan bahkan ramah lingkungan.

Di negara-negara maju di Asia, seperti Singapura, Jepang, Korea, dan hingga negara-negara maju di belahan barat seperti Inggris, Jerman, Perancis, dsb., transportasi publik yang baik merupakan kebutuhan dasar yang tersedia bagi warganya. Saya sendiri, diberi rezeki dan kesempatan menyicipi sedikit layanan transportasi publik bertaraf tingkat Asia bahkan dunia, sehingga saya merasakan bagaimana nikmatnya menggunakan transportasi publik tersebut.

Jika kawan-kawan komuter merasa transportasi publik kita masih kurang dan dianggap kurang layak, maka saya selalu (mencoba) bersyukur, bahwa di era saat ini, semuanya jauh lebih baik dari sisi ketersediaan layanan transportasi publik, meski disana-sini banyak perbaikan dan penyempurnaan yang harus dilakukan.

Rasa syukur muncul mengingat kenangan masa lalu yang berkomuter lebih sulit dan lebih mahal, maka kondisi saat ini lebih baik,  dan paling tidak ada perubahan yang progresif, bahkan dengan adanya beberapa moda transportasi baru khususnya di Jakarta, seperti bis Trans Jakarta, kereta Commuter Line yang telah dimodernisasi, dan layanan transportasi alternatif seperti Gojek, Grab Taxi, Grab Bike, Uber X, lalu adanya komunitas Nebengers, yang menyediakan tebengan bagi anggota komunitas tersebut, dan bahkan rencana pengembangan jalur kereta MRT, maka semuanya terkesan revolusioner untuk saya, yang tidak saya bayangkan akan muncul sekitar 5-10 tahun yang lalu di Indonesia, khususnya di Jakarta  😀

Sesuai yang saya sampaikan sebelumnya, maka dengan adanya proyek #KomuterKota ini, saya berharap dan yang ingin dicapai at least kawan-kawan dan handai taulan mengetahui perkembangan terakhir dan merasakan fragmen-fragmen keseharian salah satu komuter kota seperti saya, melalui karya foto-foto yang saya hasilkan, sehingga mulai mencoba menggunakan transportasi publik, dan bagi yang sudah (biasa),  agar tetap menggunakan layanan transportasi publik, serta mengajak kawan lainnya untuk berkomuter ria dengan transportasi publik pilihannya.

Di sisi lain, untuk saya pribadi dengan segala keterbatasan pemahaman mengenai fotografi dan isu perkotaan, maka melalui media ini, kita bisa saling berdiskusi dan bertukar pikiran, untuk menambah wawasan dan informasi, karena ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang berguna dan dibagikan ke  orang lain, sehingga menyempurnakan proyek #KomuterKota ini.

 

 


Jika kawan-kawan berminat menyemarakkan proyek kreatif #KomuterKota atau mau seru-seruan dan diskusi bareng, silahkan kunjungi halaman berikut ini ya.


Sumber :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Komuter
  2. The International Society for the Comparative Study of Civilizations = http://wmich.edu/iscsc/civilization.html
  3. http://kbbi.web.id/komuter
  4. The Street Photography Project Manual – Eric Kim: http://erickimphotography.com/blog/

 

Percha Photog Profile : Eric Kim

Eric Kim Website (Foto : Eric Kim)

 

Setelah  membahas awal perkenalan saya dengan street photography di artikel Berkenalan Street Photography, maka selanjutnya saya pun menjadi semakin sering membaca, menelaah, dan mempelajari segala hal terkait fotografi, khususnya  street photography, dan salah satu blog yang  sering saya kunjungi yaitu blog  yang dikelola oleh Eric Kim, seorang international street photography keturunan Korea asal Amerika Serikat.

Seperti yang saya sampaikan di artikel blog saya ini [Baca: Portofolio], bahwa fotogafi menjadi salah satu hal penting dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut, dan memberi warna berbeda dalam kehidupan saya. Selain itu,  agar penulisan blog saya di tahun 2015 yang penuh tantangan dan sekaligus kesempatan ini, maka melalui artikel #PerchaPhotogProfile, saya mencoba menulis kisah beberapa fotografer yang saya ketahui, serta membagikan cerita menurut pandangan dan pengalaman saya dalam mengenal fotografer tersebut dan apa yang telah saya pelajari dari mereka.

 

Awal Perkenalan

Seingat saya, pertama kali menyambangi blog Eric Kim, melalui penelusuran panjang di beberapa blog dan media sosial  yang saya kunjungi terkait street photography, dimana dalam penelusuran tersebut, mostly Eric dikenal sebagai seorang fotografer yang murah hati dan komprehensif membagikan pengalamannya, serta sekaligus memiliki komitmen kuat membantu orang lain dalam mempelajari  street photography.

Eric membagikan pengalamannya mengenai  street photography dengan gayanya yang khas, dan Eric menurut saya merupakan fotografer yang memiliki apa yang saya sebut strong digital presence, karena Eric hadir di berbagai kanal media digital dan media sosial, serta terus berkarya dan menghasilkan content secara konsisten. Dan karena konsisten dan produktif dalam menghasilkan karya tersebut, maka Eric pun menjadi panutan dalam pembelajaran  street photography yang komprehensif dan filosofinya yang unik, membuat Eric memiliki kekhasan yang berbeda dengan fotografer lainnya.

 

Eric Kim – Petapixel (Foto: Paul Resurrecction)

 

Siapa Dia

Sebelum “terjun bebas” menjadi fotografer, Eric Kim adalah seorang mahasiswa UCLA Berkeley, California bidang studi Sosiologi yang sangat tertarik dengan fotografi. Dalam salah satu tulisannya, Eric menceritakan bagaimana kehidupannya yang hidup dengan keterbatasan, seperti keluarga kelas ekonomi bawah lainnya, ketika kecil Eric hidup sederhana, dan hidup atas sokongan pemerintah, bahkan biaya kuliahnya sebagian besar didapatkannya atas bantuan dan subsidi pemerintah.

Dengan jalur kehidupan sama dengan “orang kebanyakan”, maka setelah lulus kuliah, Eric pun akhirnya bekerja di sebuah perusahaan teknologi. Namun, seperti yang disampaikannya, rutinitas sebagai pekerja kantoran telah menenggelamkan Eric dalam kesibukan dan terjebak dengan kultur korporasi. Dan dengan latar belakang kehidupannya yang terbatas dan hidup dibawah kuasa korporasi tersebut, hal ini pun mempengaruhi kehidupan Eric kedepannya, termasuk dalam filosofi fotografinya.

Eric memiliki beberapa pandangan yang unik dibandingkan fotografer lainnya menurut saya, dan hal tersebut terlihat melalui karya dan tulisan yang dihasilkannya, yaitu salah satunya filosofi yang disebut open source photography. Filosofi tersebut muncul karena Eric kesulitan dalam memperoleh artikel, ketika pertama kali mengenal dan mempelajari fotografi secara komprehensif terkait street photography, karena materi fotografi yang tidak saja sulit didapat, namun terkadang untuk memperolehnya mengeluarkan biaya yang cukup mahal pula, dan karena hal tersebut. serta dipengaruhi oleh kehidupannya yang dijalaninya selama ini, dan sepanjang hidupnya, Eric telah dibantu oleh banyak pihak, terutama ketika berkuliah dulu, maka dia merasa mau membantu orang lain yang senasib dengan dia dengan menyebarkan filosofi fotografinya tersebut.

Filosofi yang disampaikan Eric tersebut, bermaksud agar setiap orang dapat memiliki akses yang luas dalam mempelajari street photography,  dan Eric membagikan seluruh pengetahuan secara komprehensif dan bahkan mayoritas foto yang dihasilkannya bebas untuk diunduh, disebarluaskan, dan digunakan oleh siapa pun.. thats awesome!! 

Dan dari filosofi tersebut, Eric memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, dan full time bekerja sebagai fotografer, serta fokus mengembangkan karya-karyanya, dan tidak hanya menjalankan proyek fotonya, namun juga konsisten mengajar baik online maupun offline, dan khusus untuk pengajaran online, Eric mengembangkan dan menulis modul-modulnya dalam bentuk ebook, yang merupakan hasil pembelajarannya selama ini, dan tentunya, dengan semangat open source, maka semua materi tersebut diberikan dan bisa diunduh free… great job Eric!!

 

Eric Kim – Leica (Leica Blog)

 

Portofolio

Menurut saya, salah satu portofolio Eric yang menarik perhatian, yaitu proyek foto dia yang berjudul Suits, yaitu portofolio berupa foto pekerja kantoran yang memakai pakaian formal (Suits). Suits menurut pandangan saya, dipengaruhi kehidupannya ketika  masih bekerja sebagai pegawai kantoran, yang setiap harinya “terjebak” dengan rutinitas dan terkesan dengan pola hidup yang monoton tersebut.

Saya suka portofolio tersebut, karena di foto-foto tersebut, menurut saya, menggambarkan kegelisahan Eric atas isu rutinitas dan monoton serta budaya korporasi yang pernah dia rasakan tersebut, namun di sisi lain menampilkan sisi jenaka dari pekerja kantoran yang berpakaian jas formal tersebut.

 

 

Foto : Eric Kim
Foto : Eric Kim
Foto : Eric Kim

 

Foto: Eric Kim

 

Apa Yang Saya Pelajari

Saya belajar banyak hal dari Eric Kim, mulai dari latar belakang kehidupannya yang khas, yang bisa dijadikan motivasi untuk tidak pantang menyerah, fokus, mau belajar terus menerus, dan tidak lupa berbagi ke orang lain dengan filosofi open source-nya tersebut,

Lalu sebagai insan kreatif, yaitu sebagai seorang fotografer yang konsisten, kreatif, dan produktif berbagi banyak tulisan di berbagai kanal media digital mengenai street photography, sehingga Eric pun memiliki digital presence yang kuat. Hal tersebut patut dijadikan contoh untuk tidak hanya fotografer saja, namun seluruh pelaku industri kreatif Indonesia dan kita semua, , agar menjadi pendorong, dan bahkan sebagai cambuk agar konsisten terus berkarya dan belajar, kemudian akhirnya bisa berbagi hal positif ke orang lain.

Eric dengan pengalaman bekerja di salah satu perusahaan teknologi dan latar belakang pendidikan Sosiologinya, seperti yang disampaikan di salah satu artikelnya, menjadi modal dia dalam pengembangan karirnya sebagai street photographer. Dan menurut saya, pemahaman, penguasaan teknologi dan kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain (interpersonal skill) dengan baik, bisa menjadi salah satu bekal kita untuk “bertahan hidup” di jaman sekarang.

Street photography is a way for you to live life more fully,
more vividly, and gives you the opportunity to engage with others and the world (Eric Kim).

Ketika menyelesaikan artikel blog ini, saya pun sedang membaca dan mempelajari ebook karya Eric mengenai proyek foto, dengan pemaparan bahasa yang mudah dimengerti dan memberikan contoh langsung dari pengalamannya, Eric menjelaskan dari konsep, filosofi, hingga soal teknis dalam mengerjakan proyek foto tersebut, dan seperti petikan kalimat yang disampaikan Eric Kim diatas, maka untuk saya (street) photography membuat hidup saya bisa menjadi lebih berwarna dan lebih hidup 😀

So, apa kamu tahu seorang Eric Kim? lalu bagaimana menurut kamu mengenai sosok Eric Kim dan karyanya?

Tautan Luar:

  1. http://erickimphotography.com/
  2. http://petapixel.com/2013/11/23/interview-street-photographer-eric-kim/
  3. http://blog.leica-camera.com/photographers/interviews/eric-kim-korean-street-photographer-from-los-angeles/

Menelusuri Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Cirebon di Masa Lalu

Cirebon memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa, khususnya kawasan Jawa bagian barat, dengan didirikannya kesultanan Cirebon di sekitar abad 15. Kesultanan Cirebon berkaitan erat dengan Kesultanan Demak sebagai salah satu kerajaan Islam pertama di Indonesia yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati, yaitu salah satu Wali Songo yang memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Cirebon yang didirikan sebagai salah satu pusat penyebaran Islam, maka pembangunan sebuah masjid merupakan hal yang krusial,  dan atas prakarsa Sunan Gung Jati meminta Sunan Kalijaga untuk membangun sebuah masjid sebagai pusat kegiatan dakwah Islam, yang dibangun di kompleks keraton Kasepuhan Cirebon. Masjid tersebut dinamakan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang dikenal juga sebagai Masjid Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon. Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan, yang berarti masjid yang dibangun sebagai tempat yang penuh keagungan dan digunakan dalam keseharian warga Cirebon.

Bangunan Masjid

Ketika memasuki masjid tersebut, saya merasakan bahwa tempat sesuci tersebut memiliki “getaran” berbeda, bisa jadi karena di masa lalu hingga saat ini banyak orang orang alim ulama telah beribadah di tempat tersebut, sehingga memberikan “getaran” yang berbeda tersebut, dan ditambah dengan interior masjid berusia sangat tua dengan tembok batu bata berwarna merah yang khas tersebut.

Masjid merupakan tidak hanya sebagai pusat dakwah dan ibadah, namun masjid telah menjadi salah satu bangunan penting dalam kegiatan sehari-hari di masa lalu. Filosofi ajaran Islam pun ada di bangunan masjid tersebut, salah satunya yaitu pintu masuk yang menuju ruangan utama (mimbar),  ukurannya kecil dan membuat orang dewasa harus menunduk, yang mengandung filosofi bahwa setiap orang posisinya sama dibawah Allah Swt, serta harus patuh atas perintah dan laranganNYa.

Selain itu disetiap pancang tiang kayu terukir dengan detail dan indahnya ayat-ayat suci Alquran, yang melambangkan bahwa Alquran sebagai pondasi dalam kehidupan manusia. Lalu ada hal unik berkaitan dengan pelaksanaan shalat Jumat di masjid tersebut, yaitu jika dikumandangkan adzan, tidak hanya oleh seorang muazin, namun oleh tujuh orang muazin berpakaian serba putih yang dilakukan bersamaan, dan hal tersebut bisa dilihat terdapat tujuh buah microphone telah terpasang di depan mimbar masjid.

Cirebon & Masjid Saat Ini

Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon di masa kini menjadi salah satu magnet wisata budaya bagi kota Cirebon, dan hal tersebut disadari oleh Pemda, dan ketika saya mengunjungi masjid tersebut, maka usaha konservasi terhadap situs budaya telah dilakukan, termasuk Masjid Sang Cipta Rasa. Selain itu, usaha promosi dan pelestarian budaya sudah mulai dilakukan, salah satunya dengan adanya penyelenggaraan beberapa festival budaya yang didukung tidak hanya Pemda, namun masyarkat termasuk pihak keraton Kasepuhan Cirebon.

Keberadaan situs budaya seperti Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon tidak hanya menjadi sebuah bangunan sebagaimana mestinya sebagai tempat ibadah, namun juga mulai lebih serius  dan menjadi perhatian pemangku kepentingan, untuk diarahkan menjadi objek wisata yang menggerakkan roda perekonomian, dengan tetap memperhatikan aturan dan norma yang berlaku, serta tidak lupa mengikutsertakan warga lokal dalam pengembangannya.

Salah satu implementasi serius dari usaha konservasi situs budaya dan sekaligus mulai membangun simpul-simpul industri pariwisata oleh pihak Pemda dan pemangku kepentingan lainnya, yaitu dilaksanakannya Gotrasawalafest, yaitu festival budaya internasional pertama kalinya dilaksanakan di Cirebon pada 2014 yang lalu, dan selain itu, Cirebon  terpilh menjadi tuan rumah Festival keraton Nusantara pada 2017 mendatang. Hal tersebut menjadi momentum Cirebon dan Masjid  Sang Cipta Rasa Cirebon untuk berbenah untuk menjadi tujuan wisata budaya nasional dan bahkan internasional kedepannya.

So, ada yang suka berwisata budaya? atau ada yang pernah main dan jalan-jalan ke Cirebon & Masjid Agung Cirebon?

 


 

Gotong royong Masjid Cirebon (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Gotong royong Masjid Cirebon (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

MotorE (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
MotorE (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Atap & Pekerja (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Atap & Pekerja (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Pintu Masuk Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Pintu Masuk Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Aktivitas luar masjid (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Aktivitas luar masjid (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Gotong royong Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Gotong royong Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Sudut lain (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Sudut lain (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Pintu Samping (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Pintu Samping (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Area baca (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Area baca (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

 Mimbar & sekitarnya (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Mimbar & sekitarnya (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Ibadah di Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Ibadah di Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Alquran (seharusnya) diatas segalanya (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Alquran (seharusnya) diatas segalanya (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Kisi-kisi (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Kisi-kisi (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Tertutup (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Tertutup (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Penjaga Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Penjaga Sang Cipta Rasa (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 

Petunjuk ada dimana saja (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)
Petunjuk ada dimana saja (Foto: Ardika Percha – Cirebon, 2014)

 


Tautan luar :

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Sultanate_of_Cirebon
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Sang_Cipta_Rasa
  3. http://travel.detik.com/read/2013/08/13/154831/2328659/1519/1/kisah-masjid-agung-cirebon-yang-dibangun-dalam-semalam
  4. http://gotrasawalafest.com/
  5. http://www.antaranews.com/berita/475343/cirebon-tuan-rumah-festival-keraton-nusantara-2017

 

Berkenalan Dengan Street Photography

Perjananan saya menjelajahi dunia fotografi, khususnya street photography dimulai ketika saya memiliki smartphone berkamera pertama kalinya di tahun 2007, dan berawal dari situ, saya ketagihan membuat foto ketika bepergian kemana saja dan kapan saja, baik ketika menemukan sesuatu yang menurut saya menarik atau menemui momen yang unik. Untuk cerita lebih detailnya terkait pengalaman perdana dengan fotografi bisa dibaca di artikel blog saya disini [Baca artikel blog : Percha & Fotografi (Bagian 1) : Perdana], dan seperti yang saya paparkan di artikel blog tersebut, ternyata setelah sekian tahun “bermain” fotografi, lalu “membaca” foto-foto saya sendiri, saya mencoba simpulkan foto-foto saya memiliki berbagai cita rasa, yaitu bercita rasa foto yang berfokus pada manusia, yang lebih dikenal dengan istilah foto human interest, lalu ada sedikit rasa foto jurnalistik yang merekam berbagai peristiwa di sekitar saya dan mengabadikan momen, selain itu adapula (yang katanya) bernama cita rasa foto dengan pendekatan street photographymeski waktu itu saya tidak ngeh dengan genre street photography. 

 

Pak Haji (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)
Pak Haji (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)

 

Family trait (Foto: Ardika Percha - Jakarta Monas, 2014)
Family trait (Foto: Ardika Percha – Jakarta Monas, 2014)

 

Awal Perkenalan

Terminologi street photography saya temukan tidak sengaja ketika menjelajah di internet,  lebih tepatnya saya temukan di situs Invisible Photography Asia (IPA) di sekitar tahun 2012. Di situs IPA tersebut, menurut saya sangat berbeda, karena lebih banyak membahas foto disertai kisah dibalik foto tersebut, yang disampaikan sejumlah fotografer di kawasan Asia, dan disampaikan dengan pendekatan esai foto.

Hal ini berbeda dengan situs lain yang saya temukan mostly membahas mengenai review dan diskusi gear serta ulasan segala perlengkapannya, serta berbeda dengan situs dan forum fotografer lokal lainnya yang lebih banyak memajang foto-foto mainstream seperti foto model, foto komersial, atau foto pemandangan alam, dan bangunan yang mengarah ke foto landscape, dan beberapa memajang foto bertema human interest maupun foto jurnalistik, maka di IPA, foto ditampilkan dalam bentuk esai foto dan disertai sejumlah teks yang berkaitan dan menambah kekuatan deretan foto tersebut.

Dan akhirnya saya menemukan kategori foto dengan istilah street photography di situs IPA tersebut, meskipun foto-fotonya tergolong “sedikit berbeda” dengan genre fotografi lainnya, dan saya belum menyadari bahwa jenis foto tersebut sebenarnya sudah saya praktekan dengan membuat foto “seenaknya” ketika dahulu kala, tetapi akhirnya saya tenggelam dengan menelusuri berbagai esai foto, baik ber-genre foto dokumenter maupun genre street photography. Namun awal perkenalan ketika itu tidak menggugah lebih lanjut untuk menekuni secara spesifik genre tersebut, dan lebih berkutat belajar  dengan foto bercita rasa human interest, travel, bahkan landscape!

Meski begitu, awal perkenalan saya yang manis dengan street photography, dan sekaligus ragam publikasi semacam IPA dengan deretan esai fotonya yang khas, menancap di benak saya, dan bahkan cukup mempengaruhi preferensi fotografi saya kedepannya.

Spot Nyaman (Foto: Ardika Percha - Depok, 2013)
Spot Nyaman (Foto: Ardika Percha – Depok, 2013)

 

Red army (Foto: Ardika Percha – Jakarta Suropati, 2013)
Red army (Foto: Ardika Percha – Jakarta Suropati, 2013)

 

Definisi

Sebagai seorang mahluk ciptaan-NYA, menurut pandangan saya, bahwa kita hidup di alam semesta nan luas dan misterius, kita selalu berusaha mencari cara untuk mengidentifikasi, menarik kesimpulan, lalu mendefinisikan sesuatu hal yang tidak diketahui, menjadi suatu hal yang bisa dimengerti dengan batasan nalar dan logika kita sendiri. Nah, untuk mengenal street photography,  saya berusaha mencari definisi dari beberapa sumber yang menurut saya bisa dijadikan pijakan awal, dengan tujuan agar bisa lebih dimengerti, dan salah satu yang bisa menjadi acuan awal, yaitu situs Wikipedia, sebagai berikut definisinya :

Street photography is photography that features the human condition within public places and does not necessitate the presence of a street or even the urban environment. The subject of the photograph might be absent of people and can be an object or environment where the image projects a decidedly human character in facsimile or aesthetic (Wikipedia, diakses 2015).

lalu saya juga mengutip definisi dari situs In-Public, salah satu situs acuan perkembangan street photography dan sekaligus sebuah inisiatif kolektif sejumlah street photographer dari berbagai belahan dunia, berikut definisinya :

Primarily Street Photography is not reportage, it is not a series of images displaying, together, the different facets of a subject or issue. For the Street Photographer there is no specific subject matter and only the issue of ‘life’ in general, he does not leave the house in the morning with an agenda and he doesn’t visualise his photographs in advance of taking them. Street Photography is about seeing and reacting, almost by-passing thought altogether (In-Public, diakses 2015).

kemudian definisi dari Eric Kim, street photographer yang menjadi salah satu acuan utama saya dalam membaca berbagai tulisan di blog-nya yang komprehensif mengenai street photography, cekidot definisinya :

street photography is about documenting everyday life and society. I personally don’t think street photography needs to be shot in the street. You can shoot at the airport, at the mall, at the beach, at the park, in the bus or subway, in the doctor’s office, in the grocery store, or in any other public places. The most important thing in street photography is to capture emotion, humanity, and soul (Eric Kim, diakses 2015).

 

Glass & grass (Foto: Ardika Percha – Jakarta Monas, 2014)
Glass & grass (Foto: Ardika Percha – Jakarta Monas, 2014)

 

Penunggu Museum (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)
Penunggu Museum (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)

 

selanjutnya saya sajikan definisi sederhana namun menjadi poin yang penting dari situs Sidewalker Asia, yang menurut saya adalah salah satu komunitas penggerak perkembangan street photography di Indonesia, sila dibaca definisinya :

Bangunlah di pagi hari, siapkan kameramu dan berjalanlah ke ruang publik lalu mulailah memotret, maka kalian sudah melakukan street photography (Sidewalker Asia, 2013).

selain diatas, saya tambahkan definisi street photography dari sebuah Tumblr page  bernama street photography manifesto yang menarik untuk disimak, berikut definisinya :

Street Photography is an instinctual reactive response to the unpredictability of every day life as observed in public places. It captures human or poignant moments. It creates juxtapositions from unrelated elements or creates relationships between people who do not know each other, simply by using the camera’s framing (Street photography manifesto, 2013).

 

Dilarang parkir (Foto: Ardika Percha – Depok, 2007)
Dilarang parkir (Foto: Ardika Percha – Depok, 2007)

 

Kehidupan Margonda (1) (Foto: Ardika Percha – Depok, 2007)
Kehidupan Margonda (1) (Foto: Ardika Percha – Depok, 2007)

 

Elaborasi

Dari sejumlah definisi diatas kita bisa menarik sebuah benang merah dan pemahaman atas “mahluk” bernama street photography, bahwa menurut pemahaman saya street photography adalah genre fotografi yang (berusaha) merekam fragmen dan emosi kehidupan, serta (mencoba) membaca suatu situasi di ruang publik, dan tidak hanya berfokus pada manusianya saja, namun merekam objek-objek di sekitarnya dalam bentuk visual (baca: fotografi). Bagi saya, street photography menjadi suatu yang menarik dan sekaligus “seksi”, serta patut untuk dieksplorasi, dimengerti lebih dalam, dan dipraktekkan lebih lanjut.

Seperti yang saya sampaikan di artikel saya ini,  bahwa fotografi untuk saya pribadi merupakan salah satu bentuk rasa syukur yang hakiki atas nikmat yang diberikan-NYA. Nikmat dalam menjalani dan meresapi detik kehidupan yang telah diberikan, mencoba lebih peka & sensitif terhadap lingkungan dengan (berusaha) mengabadikan fragmen-fragmen kehidupan kedalam media foto, dan sekaligus sebagai media perekat memori yang tertangkap dalam foto tersebut, dengan harapan kita dapat mengambil hikmah dari foto tersebut.

So, bagaimana awal perkenalan Anda dengan fotografi dan apa definisi street photography menurut Anda?

 

Balon Wisuda (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)
Balon & Wisuda (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Si Snowy (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)
Si Snowy (Foto: Ardika Percha – Bogor, 2014)

Tautan Luar :

  1. http://invisiblephotographer.asia/category/streetphotography/
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Street_photography#streetphoto_itu
  3. http://invisiblephotographer.asia/category/streetphotography/
  4. http://sidewalkers.asia/2013/03/why-street-photography/
  5. http://www.in-public.com/information/what_is#streetphoto_itu
  6. http://erickimphotography.com/blog/the-ultimate-beginners-guide-for-street-photography/
  7. http://street-photography-manifesto.tumblr.com/post/22185297616/what-is-street-photography