Pembajakan Muhd Ikhsan Wieharto

Ketika hasil karya kreatif kita dicuri orang tanpa izin, lalu dengan bahagianya yang bersangkutan mengunggah karya kita ke media sosial, kemudian diakui punya doi… rasa sakitnya tuh disini bro 😐

Rasa sakitnya tuh disini terjadi pada sore hari 16 September 2015 kemarin. Seperti hari biasanya, saya menjelajah dunia Instagram, melihat dan menikmati feeds hasil karya insan kreatif di Instagram tersebut, lalu tak sengaja saya melihat sebuah foto, dan foto tersebut sepertinya saya kenal dengan baik.. dan eng ii eng.. foto tersebut memang foto saya, yang saya buat  tahun 2014 lalu, ketika jalan-jalan ke Chinatown Singapura.

For Your Information, foto tersebut saya unggah di April 2015, setelah perjalanan yang saya lakukan pertengahan tahun 2014 yang lalu. Untuk artikel blog yang mencantumkan foto saya tersebut, bisa disimak di postingan blog SINGAPURA ini.

<strong>Foto "To Chinatown MRT" milik saya tercantum di blog ardikapercha.com, diunggah bulan April 2015</strong>
Foto “To Chinatown MRT” milik saya tercantum di blog ardikapercha.com, diunggah bulan April 2015

 

<strong>Foto milik saya yang "dicuri" oleh Wiehiksan alias Muhd Ikhsan Wieharto, diunggah September 2015</strong>
Foto milik saya yang “dicuri” oleh Wiehiksan alias Muhd Ikhsan Wieharto, diunggah September 2015

 

Pelaku pengungah di Instagram tersebut yaitu seseorang yang memiliki akun bernama wiehiksan alias Muhd Ikhsan Wieharto. Lucunya dalam foto tersebut dia “mengaku” sedang jalan-jalan ke Singapura di tahun ini, diketahui dari tagar yang digunakan yaitu #april2015 dan tagar #latepost #dibuangsayang, yang telah menjadi bahasa umum dunia media sosial, bahwa menyatakan postingan tersebut merupakan foto yang sudah terjadi/sudah lewat di masa lalu.

Dalam postingan tersebut, tidak ada sama sekali mencantumkan kredit foto, yang menyatakan foto tersebut hasil karya saya atau mencantumkan sumber merujuk ke saya, serta tidak ada izin dan tanpa sepengetahuan saya pula. Maka dari itu, yang bersangkutan telah melakukan pembajakan. Sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI.web.id), pembajakan bermakna sbb:

“mengambil hasil ciptaan orang lain tanpa sepengetahuan dan seizinnya”

http://kbbi.web.id/bajak-2
http://kbbi.web.id/bajak-2

 

Muhd Ikhsan Wieharto  yang memiliki akun Twitter https://twitter.com/wiehiksan dan blog beralamat di https://mahasiswasukajalan.wordpress.com/    telah melakukan pembajakan alias pencurian hasil karya foto saya, dengan tidak memberikan kredit dan memberikan informasi sumber foto tersebut, selain itu, yang bersangkutan telah mengunggah tanpa sepengetahuan dan izin saya.

Pengakuan hasil karya kreatif dan asas kejujuran seharusnya menjadi hal yang paripurna bagi sebagai seorang blogger, serta sebagai pribadi yang berstatus mahasiswa salah satu universitas cukup terkenal tersebut. Amat disayangkan, pencurian tersebut dilakukan oleh seorang blogger, yang biasanya dikenal menjunjung karya kreatif berupa tulisan dan foto, serta sebagai mahasiswa yang menjunjung kehidupan akademis yang jauh dari praktek plagiarisme. Aksi yang dilakukan Muhd Ikhsan Wieharto menjadi contoh yang buruk bagi pemuda Indonesia, yang dikenal pekerja keras nan kreatif seperti kita semua.

Saya tunggu konfirmasi resmi dari saudara Muhd Ikhsan Wieharto atas aksi dan sikap yang telah dilakukan, serta saya minta untuk melakukan permintaan maaf formal di media sosial dan blog kepada saya, serta pengakuan atas hasil karya saya di posting Instagram tersebut.

Terima kasih,

Ardika Percha

https://instagram.com/sayapercha | http://ardikapercha.com/  | saya@ardikapercha.com

 

===update===

gambar kolase perbandingan foto saya dengan doi, hasil karya @mahadewishaleh

gambar kolase perbandingan - sayapercha
gambar kolase perbandingan – sayapercha

 

Foto saya sudah dihapus dari akun Instagram bersangkutan, tanpa ada penjelasan atau konfirmasi ke saya. Untuk Anda sang pelaku, saya masih membuka jalur komunikasi, agar bisa menjadi bahan diskusi & pembelajaran kita bersama.

Proyek Foto #KomuterKota

Awas kereta! (Foto: Ardika Percha - Jakarta, 2013)
Awas kereta! (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2013)

 

Kenapa Proyek Foto?

Di tahun ini, seperti saya sampaikan di artikel Kaleidoskop yang lalu, saya berkeinginan membuat sebuah karya fotografi yang berkelanjutan, semacam seri foto atau bahkan esai foto yang lebih mendalam, dan hal ini berujung pada keinginan membuat proyek foto. Menurut saya, dengan membuat sebuah proyek foto, maka kita bisa lebih fokus pada suatu tema tertentu, dan melatih kita untuk tetap (berusaha) konsisten berkarya dengan tema tersebut. 

Dalam perjalanan waktu, jenis foto bergaya human interest dan foto jurnalistik menjadi awal perkenalan saya dengan dunia fotografi, kemudian mendapat hidayah mengenal genre street photography  yang menjadi pengaruh kuat untuk membuat foto dalam keseharian saya.

Dalam membuat foto akhir-akhir ini, saya pun mendalami mobile photography yang saya bahas di artikel ini, dan ternyata memiliki keasyikan tersendiri membuat foto dengan bermodalkan sebuah ponsel, yang bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja 😀

Selain street photography dengan menggunakan ponsel, ditambah ketertarikan saya dengan isu transportasi publik dan kisah perkotaan (urban), membuat saya berpikir kenapa tidak membuat proyek foto yang bisa saya lakukan sehari-hari dengan tema tertentu, yaitu berkreasi melalui proyek foto Komuter Kota.

Apa itu Komuter Kota?

Komuter merujuk pada pengertian umum, yaitu orang yang dalam kesehariannya biasa melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, dalam hal ini, cakupannya di suatu kota atau daerah tertentu, sehingga muncul dan lahirlah istilah #KomuterKota tersebut. FYI menurut KBBI, kata “komuter” merujuk pada pesawat ulang alik berkecepatan tinggi, namun saya mengambil pengertiaan umum dari beberapa sumber, terutama terkait isu perkotaan :)

Untuk saya pribadi, perjalanan yang acapkali saya lakukan, yaitu berkomuter dari rumah ke kantor, atau berkomuter ke beberapa tempat publik, seperti pusat perbelanjaan, taman, kampus, atau kebeberapa tempat plesiran lainnya, dan dalam berkomuter setiap harinya, mayoritas saya menggunakan transportasi publik.

Untuk moda transportasi yang saya gunakan, mayoritas menggunakan transportasi kereta, yang lebih tepatnya Commuter Line, serta alternatif transportasi publik lainnya, seperti menggunakan angkot, bis, TransJakarta, taksi, dan terkadang motor/ojek. Menurut saya di ibukota Jakarta yang padat, dengan lalu lintas yang hampir setiap saat macet, terutama di hari kerja, maka pilihan menggunakan kereta dan dikombinasikan moda transportasi lainnya merupakan pilihan yang tepat.

Dari uraian yang saya sampaikan, maka #KomuterKota pun lahir menjadi sebuah proyek kreatif yang bermaksud merekam fragmen keseharian penduduk perkotaan, yang berkomuter dari satu sisi kota ke sisi kota lainnya. Namun tidak hanya aktivitas berkomuter saja yang akan direkam, tetapi semua elemen disekitarnya, yang terkait dengan arus berkomuter tersebut, akan terekam dalam proyek ini.

 

 

Apa yang ingin dicapai dari #KomuterKota?

Sebagai pengguna transportasi publik, maka saya mengajak kawan-kawan untuk mulai menggunakan transportasi publik, dan bagi yang sudah (biasa) menggunakan transportasi publik, bahwa transportasi publik merupakan salah satu solusi perkotaan untuk berkomuter dari sisi kota ke sisi kota lainnya, dengan (seharusnya) mudah, cepat, nyaman, dan murah.

Dengan foto-foto di proyek #KomuterKota tersebut, maka saya mencoba merekam serta “memberitakan” terkait apa dan bagaimana wajah transportasi publik kita, sekaligus sekutip kisah visual tentang perkotaan dan aktivitas warga di kota tersebut, yang saya temui sehari-hari.

Menurut saya, transportasi publik menjadi pilihan utama di masa datang,  dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk perkotaan, lalu semakin tingginya biaya BBM, termasuk semua biaya terkait aktivitas berkomuter dari tarif tol, biaya parkir, pajak kendaraan dsb. Lalu isu semakin langkanya  lahan yang kosong terkait pengembangan infrastruktur transportasi dan terbatasnya ruas jalanan di perkotaan dan, maka diperlukan transportasi publik yang mudah, cepat, nyaman, murah, dan bahkan ramah lingkungan.

Di negara-negara maju di Asia, seperti Singapura, Jepang, Korea, dan hingga negara-negara maju di belahan barat seperti Inggris, Jerman, Perancis, dsb., transportasi publik yang baik merupakan kebutuhan dasar yang tersedia bagi warganya. Saya sendiri, diberi rezeki dan kesempatan menyicipi sedikit layanan transportasi publik bertaraf tingkat Asia bahkan dunia, sehingga saya merasakan bagaimana nikmatnya menggunakan transportasi publik tersebut.

Jika kawan-kawan komuter merasa transportasi publik kita masih kurang dan dianggap kurang layak, maka saya selalu (mencoba) bersyukur, bahwa di era saat ini, semuanya jauh lebih baik dari sisi ketersediaan layanan transportasi publik, meski disana-sini banyak perbaikan dan penyempurnaan yang harus dilakukan.

Rasa syukur muncul mengingat kenangan masa lalu yang berkomuter lebih sulit dan lebih mahal, maka kondisi saat ini lebih baik,  dan paling tidak ada perubahan yang progresif, bahkan dengan adanya beberapa moda transportasi baru khususnya di Jakarta, seperti bis Trans Jakarta, kereta Commuter Line yang telah dimodernisasi, dan layanan transportasi alternatif seperti Gojek, Grab Taxi, Grab Bike, Uber X, lalu adanya komunitas Nebengers, yang menyediakan tebengan bagi anggota komunitas tersebut, dan bahkan rencana pengembangan jalur kereta MRT, maka semuanya terkesan revolusioner untuk saya, yang tidak saya bayangkan akan muncul sekitar 5-10 tahun yang lalu di Indonesia, khususnya di Jakarta  😀

Sesuai yang saya sampaikan sebelumnya, maka dengan adanya proyek #KomuterKota ini, saya berharap dan yang ingin dicapai at least kawan-kawan dan handai taulan mengetahui perkembangan terakhir dan merasakan fragmen-fragmen keseharian salah satu komuter kota seperti saya, melalui karya foto-foto yang saya hasilkan, sehingga mulai mencoba menggunakan transportasi publik, dan bagi yang sudah (biasa),  agar tetap menggunakan layanan transportasi publik, serta mengajak kawan lainnya untuk berkomuter ria dengan transportasi publik pilihannya.

Di sisi lain, untuk saya pribadi dengan segala keterbatasan pemahaman mengenai fotografi dan isu perkotaan, maka melalui media ini, kita bisa saling berdiskusi dan bertukar pikiran, untuk menambah wawasan dan informasi, karena ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang berguna dan dibagikan ke  orang lain, sehingga menyempurnakan proyek #KomuterKota ini.

 

 


Jika kawan-kawan berminat menyemarakkan proyek kreatif #KomuterKota atau mau seru-seruan dan diskusi bareng, silahkan kunjungi halaman berikut ini ya.


Sumber :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Komuter
  2. The International Society for the Comparative Study of Civilizations = http://wmich.edu/iscsc/civilization.html
  3. http://kbbi.web.id/komuter
  4. The Street Photography Project Manual – Eric Kim: http://erickimphotography.com/blog/

 

Fotografi, Ponsel, & Instagram

Dalam mendalami street photography, seperti yang saya bagi dan diskusikan di artikel Berkenalan Dengan Street Photography tempo hari, maka (seharusnya) kita setiap saat membawa kamera, serta dimana saja membuat foto dan menangkap fragmen-fragmen kehidupan, baik di jalan, stasiun, terminal, kantor, sekolah, taman, pasar, dan ruang publik lainnya.

Street photography merupakan genre fotografi yang unik, karena tidak hanya melulu foto dengan subjek manusia, namun juga elemen dan disekitarnya, serta foto yang dihasilkan merupakan bagian dari keseharian.

Dengan intepretasi street photography berbeda dari pelaku ke pelaku lainnya, lalu terkait dengan keseharian tersebut, maka saya pun membaca “fenomena” tersebut berkaitan erat dengan jenis fotografi lainnya, berdasarkan alat yang digunakan, yaitu mobile photography.

Mobile photography didorong oleh perkembangan ponsel, mobile phone, handphone, dan gawai (gadget) lainnya yang semakin canggih serta dapat diandalkan untuk membuat foto yang baik. Di sisi lain, dengan semakin terjangkau harga ponsel tersebut, maka setiap orang pun bisa menjadi fotografer!!

Mobile photography pun menjadi salah satu tonggak “demokratisasi fotografi” itu sendiri, karena semua orang bisa menjadi seorang “fotografer” didukung oleh ponsel yang mumpuni, disertai dengan tersedianya media sosial menyuburkan hal tersebut, seperti Facebook, Twitter, Pinterest, Flickr, Tumblr, Instagram hingga Path.

Dari sekian banyak media sosial tersebut, maka hanya Instagram yang dibuat khusus sejak awal menjadi habitat mobile photography dan berkembang pesat menjadi salah satu komunitas fotografi terbesar, serta selain itu, Instagram merupakan media sosial yang peruntukkan akses utamanya hanya melalui perangkat mobile. Di sisi lain, menurut saya Instagram merupakan kanal media sosial dengan kultur Instagrammer yang unik, maka menurut saya Instagram merupakan media yang tepat untuk berkarya kreatif berupa foto dan karya visual lainnya.

Dengan tumbuh kembangnya  fotografi seperti itu, untuk saya pribadi, semenjak memiliki handphone berkamera, maka untuk urusan membuat foto, yang saya ceritakan di artikel ini, hingga mendapat semacam hidayah, ketika mengenal jenis fotografi dengan cita rasa jalanan dan perkotaan (baca: #streetphotography), pada akhirnya, saya pun kembali ke awal kisah saya mengenal fotografi, yaitu membuat foto dengan perangkat mobile.

 

@sayapercha | ardikapercha.com
Instagram @sayapercha (Ardika Percha)

 

Dalam periode 2 minggu terakhir, saya pun aktif kembali di Instagram @sayapercha setelah sekian lama sudah tidak berinstagram ceria, dan dengan rutin saya menghasilkan foto dan “meracuni” beberapa kawan disana, untuk mencoba membuat foto dan menyusupi fotografi dengan pendekatan street tersebut, serta yang lebih penting, saya menikmati proses kreatif di media tersebut, yaitu membuat karya foto yang lebih membumi, dan yang dekat dengan keseharian di ruang publik.

Dengan rutin berInstagram, saya pun setiap saat hunting mendalami #streetphotography kapan saja serta dimana saja, dan at least saya pun mengisi waktu dengan hal positif bin produktif di sela keseharian bekerja, sekaligus foto-foto yang saya buat bisa menjadi dokumentasi pribadi di masa depan, dan bisa jadi berkontemplasi dengan berbagai hal disekitar kita.

And at the end of the day, dengan mencoba menjalani hal tersebut, membuat saya menjadi lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya, menikmati rutinitas keseharian, dan lebih menghargai waktu yang terkadang bergerak cepat, dengan merekam momen yang ada.

Dengan beraktivitas mempraktekan mobile photography sekaligus mendalami street photography, ternyata ada saja hal  menarik yang bisa kita temukan sehari-hari, tanpa kita sadari. Lalu bagaimana menurut Anda?


 

 


#Update :

Jika kawan-kawan berminat menyemarakkan proyek kreatif #KomuterKota atau mau seru-seruan dan diskusi bareng, silahkan kunjungi halaman berikut ini ya.


Tautan Luar:

  • https://instagram.com/sayapercha
  • http://www.theguardian.com/artanddesign/2012/nov/16/mobile-photography-richard-gray

Singapura

Tanah Arab dengan kota-kotanya, seperti Mekkah dan Madinah ingin saya kunjungi bukan hanya karena alasan relijius. Namun, juga dari sisi sejarah dan iklimnya yang ekstrem. Selain tanah Arab, Singapura merupakan salah satu negara dan kota yang ingin saya kunjungi, karena dikenal sebagai sebuah standar untuk role model, bagaimana sebuah negara dan kota, dibangun dan dikelola, tidak hanya di tingkat Asia, bahkan tingkat dunia. Karena segala hal di negara tersebut, tertata rapi, terstruktur, dan sistematis.

Perpaduan yang seksi antara distrik bisnis dan kawasan bersejarah yang masih terus dijaga, dimanfaatkan maksimal oleh pemerintah Singapura menjadi salah satu pendapatan terbesarnya di bidang turisme, di luar pendapatan dari industri finansial. Hal tersebut, terlihat dari kunjungan bisnis dan plesiran yang saya lakukan ke negara dengan luas wilayah tidak jauh berbeda dengan kawasan Jabotabek. Mereka mengelola serta memadukan segala layanan dan atraksi dengan baik. Sekaligus memudahkan saat melakukan aktivitas bisnis sekaligus berwisata yang dimanjakan dengan dukungan fasilitas, infrastruktur, dan transportasi kelas dunia.

Adanya keragaman etnis dan ras lokal, yang menghuni Singapura seperti Tiongkok, Melayu, India, dan Arab, ditambah dengan kunjungan berbagai bangsa dari pelosok dunia. Bahkan, jumlah ekspatriat menunjukkan tren bertambah, yang didorong kemajuan ekonomi Singapura. Hal tersebut, menambah keberagaman kultur Singapura, dengan diselenggarakannya berbagai festival budaya dan acara industri kreatif, serta beragam bangunan yang didirikan.

Singapura yang merupakan salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia, menjadi salah satu simbol pusat ekonomi dan bisnis di dunia modern, ternyata masih tidak bisa lepas dari akar budaya tradisional. Saya pun menjadi saksi mata, bahwa gedung modern pencakar langit masih bersahabat dengan kawasan pasar tradisional dan tempat peribadatan kuno nan magis.

Tautan Luar :

http://www.yoursingapore.com/content/traveller/id/browse/aboutsingapore/people-lang-culture.html


 

To Chinatown MRT  (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
To Chinatown MRT (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Sago Street (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Situasi Durian Bugis (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Yellow house, bike, & street (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
Yellow house, bike, & street (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Kuil & HDB at Chinatwon (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
Temple & HDB at Chinatwon (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Golden Temple (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
Golden Temple (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

The Famous Marina Bay Sands 2014 (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
The Famous Marina Bay Sands 2014 (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Green Skycrapper (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

The Famous Eye of Singapore (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
The Famous Eye of Singapore (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Walker & Harbour View (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

National Museum of Singapore (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)
National Museum of Singapore (Foto: Ardika Percha – Singapura, 2014)

 

Percha Photog Profile : Eric Kim

Eric Kim Website (Foto : Eric Kim)

 

Setelah  membahas awal perkenalan saya dengan street photography di artikel Berkenalan Street Photography, maka selanjutnya saya pun menjadi semakin sering membaca, menelaah, dan mempelajari segala hal terkait fotografi, khususnya  street photography, dan salah satu blog yang  sering saya kunjungi yaitu blog  yang dikelola oleh Eric Kim, seorang international street photography keturunan Korea asal Amerika Serikat.

Seperti yang saya sampaikan di artikel blog saya ini [Baca: Portofolio], bahwa fotogafi menjadi salah satu hal penting dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut, dan memberi warna berbeda dalam kehidupan saya. Selain itu,  agar penulisan blog saya di tahun 2015 yang penuh tantangan dan sekaligus kesempatan ini, maka melalui artikel #PerchaPhotogProfile, saya mencoba menulis kisah beberapa fotografer yang saya ketahui, serta membagikan cerita menurut pandangan dan pengalaman saya dalam mengenal fotografer tersebut dan apa yang telah saya pelajari dari mereka.

 

Awal Perkenalan

Seingat saya, pertama kali menyambangi blog Eric Kim, melalui penelusuran panjang di beberapa blog dan media sosial  yang saya kunjungi terkait street photography, dimana dalam penelusuran tersebut, mostly Eric dikenal sebagai seorang fotografer yang murah hati dan komprehensif membagikan pengalamannya, serta sekaligus memiliki komitmen kuat membantu orang lain dalam mempelajari  street photography.

Eric membagikan pengalamannya mengenai  street photography dengan gayanya yang khas, dan Eric menurut saya merupakan fotografer yang memiliki apa yang saya sebut strong digital presence, karena Eric hadir di berbagai kanal media digital dan media sosial, serta terus berkarya dan menghasilkan content secara konsisten. Dan karena konsisten dan produktif dalam menghasilkan karya tersebut, maka Eric pun menjadi panutan dalam pembelajaran  street photography yang komprehensif dan filosofinya yang unik, membuat Eric memiliki kekhasan yang berbeda dengan fotografer lainnya.

 

Eric Kim – Petapixel (Foto: Paul Resurrecction)

 

Siapa Dia

Sebelum “terjun bebas” menjadi fotografer, Eric Kim adalah seorang mahasiswa UCLA Berkeley, California bidang studi Sosiologi yang sangat tertarik dengan fotografi. Dalam salah satu tulisannya, Eric menceritakan bagaimana kehidupannya yang hidup dengan keterbatasan, seperti keluarga kelas ekonomi bawah lainnya, ketika kecil Eric hidup sederhana, dan hidup atas sokongan pemerintah, bahkan biaya kuliahnya sebagian besar didapatkannya atas bantuan dan subsidi pemerintah.

Dengan jalur kehidupan sama dengan “orang kebanyakan”, maka setelah lulus kuliah, Eric pun akhirnya bekerja di sebuah perusahaan teknologi. Namun, seperti yang disampaikannya, rutinitas sebagai pekerja kantoran telah menenggelamkan Eric dalam kesibukan dan terjebak dengan kultur korporasi. Dan dengan latar belakang kehidupannya yang terbatas dan hidup dibawah kuasa korporasi tersebut, hal ini pun mempengaruhi kehidupan Eric kedepannya, termasuk dalam filosofi fotografinya.

Eric memiliki beberapa pandangan yang unik dibandingkan fotografer lainnya menurut saya, dan hal tersebut terlihat melalui karya dan tulisan yang dihasilkannya, yaitu salah satunya filosofi yang disebut open source photography. Filosofi tersebut muncul karena Eric kesulitan dalam memperoleh artikel, ketika pertama kali mengenal dan mempelajari fotografi secara komprehensif terkait street photography, karena materi fotografi yang tidak saja sulit didapat, namun terkadang untuk memperolehnya mengeluarkan biaya yang cukup mahal pula, dan karena hal tersebut. serta dipengaruhi oleh kehidupannya yang dijalaninya selama ini, dan sepanjang hidupnya, Eric telah dibantu oleh banyak pihak, terutama ketika berkuliah dulu, maka dia merasa mau membantu orang lain yang senasib dengan dia dengan menyebarkan filosofi fotografinya tersebut.

Filosofi yang disampaikan Eric tersebut, bermaksud agar setiap orang dapat memiliki akses yang luas dalam mempelajari street photography,  dan Eric membagikan seluruh pengetahuan secara komprehensif dan bahkan mayoritas foto yang dihasilkannya bebas untuk diunduh, disebarluaskan, dan digunakan oleh siapa pun.. thats awesome!! 

Dan dari filosofi tersebut, Eric memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, dan full time bekerja sebagai fotografer, serta fokus mengembangkan karya-karyanya, dan tidak hanya menjalankan proyek fotonya, namun juga konsisten mengajar baik online maupun offline, dan khusus untuk pengajaran online, Eric mengembangkan dan menulis modul-modulnya dalam bentuk ebook, yang merupakan hasil pembelajarannya selama ini, dan tentunya, dengan semangat open source, maka semua materi tersebut diberikan dan bisa diunduh free… great job Eric!!

 

Eric Kim – Leica (Leica Blog)

 

Portofolio

Menurut saya, salah satu portofolio Eric yang menarik perhatian, yaitu proyek foto dia yang berjudul Suits, yaitu portofolio berupa foto pekerja kantoran yang memakai pakaian formal (Suits). Suits menurut pandangan saya, dipengaruhi kehidupannya ketika  masih bekerja sebagai pegawai kantoran, yang setiap harinya “terjebak” dengan rutinitas dan terkesan dengan pola hidup yang monoton tersebut.

Saya suka portofolio tersebut, karena di foto-foto tersebut, menurut saya, menggambarkan kegelisahan Eric atas isu rutinitas dan monoton serta budaya korporasi yang pernah dia rasakan tersebut, namun di sisi lain menampilkan sisi jenaka dari pekerja kantoran yang berpakaian jas formal tersebut.

 

 

Foto : Eric Kim
Foto : Eric Kim
Foto : Eric Kim

 

Foto: Eric Kim

 

Apa Yang Saya Pelajari

Saya belajar banyak hal dari Eric Kim, mulai dari latar belakang kehidupannya yang khas, yang bisa dijadikan motivasi untuk tidak pantang menyerah, fokus, mau belajar terus menerus, dan tidak lupa berbagi ke orang lain dengan filosofi open source-nya tersebut,

Lalu sebagai insan kreatif, yaitu sebagai seorang fotografer yang konsisten, kreatif, dan produktif berbagi banyak tulisan di berbagai kanal media digital mengenai street photography, sehingga Eric pun memiliki digital presence yang kuat. Hal tersebut patut dijadikan contoh untuk tidak hanya fotografer saja, namun seluruh pelaku industri kreatif Indonesia dan kita semua, , agar menjadi pendorong, dan bahkan sebagai cambuk agar konsisten terus berkarya dan belajar, kemudian akhirnya bisa berbagi hal positif ke orang lain.

Eric dengan pengalaman bekerja di salah satu perusahaan teknologi dan latar belakang pendidikan Sosiologinya, seperti yang disampaikan di salah satu artikelnya, menjadi modal dia dalam pengembangan karirnya sebagai street photographer. Dan menurut saya, pemahaman, penguasaan teknologi dan kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain (interpersonal skill) dengan baik, bisa menjadi salah satu bekal kita untuk “bertahan hidup” di jaman sekarang.

Street photography is a way for you to live life more fully,
more vividly, and gives you the opportunity to engage with others and the world (Eric Kim).

Ketika menyelesaikan artikel blog ini, saya pun sedang membaca dan mempelajari ebook karya Eric mengenai proyek foto, dengan pemaparan bahasa yang mudah dimengerti dan memberikan contoh langsung dari pengalamannya, Eric menjelaskan dari konsep, filosofi, hingga soal teknis dalam mengerjakan proyek foto tersebut, dan seperti petikan kalimat yang disampaikan Eric Kim diatas, maka untuk saya (street) photography membuat hidup saya bisa menjadi lebih berwarna dan lebih hidup 😀

So, apa kamu tahu seorang Eric Kim? lalu bagaimana menurut kamu mengenai sosok Eric Kim dan karyanya?

Tautan Luar:

  1. http://erickimphotography.com/
  2. http://petapixel.com/2013/11/23/interview-street-photographer-eric-kim/
  3. http://blog.leica-camera.com/photographers/interviews/eric-kim-korean-street-photographer-from-los-angeles/

Kaleidoskop 2014 (Bagian 2)

Dia muncul (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Setelah sebelumnya menyusun Kaleidoskop 2014 bagian pertama [Baca:  Kaleidoskop 2014 Bagian 1] maka dilanjutkan  bagian kedua dari bulan September hingga akhir tahun. Di bagian kedua ini ada beberapa momen menarik, seperti perpindahan hosting serta perubahan struktur dan desain blog ardikapercha.com di bulan Oktober, lalu pada bagian kedua ini pula, Alhamdulillah saya berkesempatan mengunjungi beberapa acara menarik dan intensitas blogging yang mulai meningkat, serta berkesempatan melakukan kontak lebih intens dengan pengunjung blog saya, blogger, dan komunitas lainnya.

 

September

Indonesia Dalam Infografik (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

Di bulan September ceria ini, saya mengangkat tulisan terkait perkembangan crowdsource di Indonesia dengan kemunculan salah satu start up yang memiliki perkembangan baik dan memiliki dampak sosial yang cukup luas. Selanjutnya saya menghadirkan liputan ke acara peluncuran buku dan diskusi Indonesia Dalam Infografik yang merupakan buku kumpulan infografik pilihan yang telah ditampilkan di Harian Kompas. Selain itu saya membagi pengalaman saya mengikuti arisan street photography dengan diskusi membahas terkait visual literacy.

Artikel:

 

Oktober

Untaian Pesan & Harapan (2) (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

DI bulan Oktober ini, fokus saya pada perubahan desain dan struktur blog seperti tampilan saat ini, serta melakukan migrasi ke hosting provider yang baru, harapannya perpindahan ke “rumah baru” tersebut, Insha Allah di sisi performance dan layanan lebih baik, sehingga karena hal tersebut, hanya bisa menelurkan sebuah liputan ke Festival Seperlima, yang mengkampanyekan perbedaan di tengah masyaraat kita seharusnya ditanggapi dengan kreatif, serta dianggap sebagai hal biasa.

Artikel:

November

Diatas awan (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Di bulan November cukup banyak tulisan  yang saya tampilkan di blog, antara lain saya membuat esai foto mengenai bagaimana saya mengenal fotografi ketika pertama kali memiliki smartphone berkamera, lalu pengalaman saya berkuliah (lagi) dengan mengikuti short course di Selangor Malaysia, kemudian momen pendeklarasian komunitas Locana Indonesia berbasis budaya dan fotografi bersama kawan-kawan, dan artikel blog ditutup di akhir bulan dengan kisah perjalanan saya menjadi (sok) anak gunung ke daerah Dieng, Jawa Tengah.

Artikel:

Desember

Mr. Solihin and crew (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Akhir tahun ini, saya mengangkat ulasan mengenai aplikasi pembaca berita yang mulai tren di dunia digital, dan jenis tulisan layaknya ulasan aplikssi (review) tersebut sudah lama tidak saya kerjakan, sehingga secara pribadi saya cukup senang, dan untuk mulai kembali menulis ulasan aplikasi lainnya. Kemudian melanjutkan perjalanan saya di Dieng, saya susun artikel berupa seri foto terkait trip buddies selama perjalanan menggapai puncak Prau. Dan finally di akhir bulan, saya kembali bisa menghadirkan sebuah esai foto dengan mengangkat esai mengenai potret peternak Indonesia.

Artikel:

 

Penutup

Tahun 2014 merupakan tahun perjuangan sekaligus kegembiraan, dan tahun ini cukup banyak momen menarik dan momen perdana, dari sisi pemahaman fotografi, menulis, digital, dan blogging yang saya pelajari dari berbagai sumber, melalui model trial-error sekaligus trial-success 😀

Selain itu, masih ada beberapa utang tulisan saya yang masih dalam bentuk draft, maupun masih dalam awang-awang ide tulisan 😀 semoga kedepannya jika ada ide atau setelah mengunjungi acara dan tempat tertentu bisa segera direalisasikan menjadi artikel blog, Amin.

Menariknya, beberapa acara yang saya kunjungi suprisingly memberikan insight dan wawasan baru yang memperkaya pemahaman saya, seperti acara-acara terkait industri kreatif, diskusi dengan berbagai pihak, mengikuti lokakarta (workshop), bertukar pesan dan berkomunikasi lebih lanjut dengan berbagai pelaku kreatif, hingga mencoba mendirikan komunitas berbasis fotografi dan pecinta budaya Indonesia bersama kawan-kawan, melakukan perjalanan ke tempat lain, sekaligus tetap berkarya dalam menyusun seri foto dan esai foto.

Semoga kedepannya, dari sisi blogging saya pribadi berharap tetap konsisten menulis at least 1 artikel perminggu, yang selama akhir tahun 2014 coba saya terapkan, lalu mengasah kemampuan fotografi tidak hanya secara teknikal, namun mulai belajar membuat sebuah karya foto yang bercerita, seperti seri foto atau bahkan esai foto, mengeksplorasi fotografi bersama kawan-kawan baik dari komunitas lain atau mengembangkan Locana Indonesia untuk menjelajahi berbagai tempat menarik dengan ciri khasnya masing-masing, dan tidak lupa tetap mengikuti perkembangan dunia digital di Indonesia yang semakin marak dan riuh ramai.

Selamat Tahun Baru 2015!

Tahun Baru 2015 (Ardika Percha, 2015)

 

Kaleidoskop 2014 (Bagian 1)

 

Selamat Datang Di Bumi Ruwa Jurai (Foto: Ardika Percha – Bandar Lampung, 2014)

 

Tahun 2014 Masehi sudah berakhir, Alhamdulillah beberapa kunjungan acara dan sekaligus menyalurkan hobi fotografi sudah saya mulai lakukan  di tahun tersebut, dan dalam postingan kali ini, saya susun kaleidoskop secara kronologis untuk artikel yang saya tulis dan merekam momen penting terkait blog saya tercinta.

Kaleidoskop ini dibuat bertujuan agar kita dan saya sendiri, bisa melakukan intropeksi diri, mengenang momen suka maupun duka, sekaligus menjadi bahan bakar melakukan yang lebih baik lagi di tahun selanjutnya, serta semakin konsisten untuk menulis blog, serta mengunjungi beberapa acara unik dan inspiratif, maupun fokus dengan hobi fotografi serta membahas dunia digital lebih intens, sehingga ada peningkatan positif dalam aktivitas blogging kedepannya. Selamat menikmati bagian 1 dari Kaleidoskop ardikapercha.com :)

 Januari

Kumpul bocah TBB (Foto: Ardika Percha – Tulang Bawang Barat, 2014)

 

Awal tahun 2014 dibuka dengan artikel perjalanan saya menuju Bumi Ruwai Jurai, mengunjungi rumah bagi Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar serta sekaligus bertemu adik-adik dari SDN Mercubuana di Tulang Bawang Barat. Pengalaman bertemu orang-orang baru yang disambut dengan kehangatan bak sahabat dan bahkan bagai keluarga yang sudah mengenal bertahun-tahun. Pengalaman ini benar-benar menjadi pendorong saya melalui bulan-bulan selanjutnya dan sekaligus meningkatkan rasa bersyukur saya secara personal.

Artikel :

Juni

JSPI (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

Di bulan Juni, saya berkesempatan menghadiri Jambore Street Photography pertama di Indonesia, dengan bertemu  penggiat street photography dari berbagai penjuru, berdiskusi, dan mengikuti lokakarya dalam pembuatan cerita foto, kemudian menginspirasi saya salah satunya  untuk terus membuat  sebuah cerita foto, seperti esai foto maupun seri foto. Selain itu, kehadiran saya di event tersebut merupakan puncak dari “gunung es” atas minat saya mempelajari dan mempraktekan fotografi jalanan di ruang publik.

Artikel :

 Juli

Angkat jari (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

Bulan Juli merupakan awal ketertarikan saya menghadiri event terkait industri kreatif yang didorong oleh Indonesia Kreatif, salah satunya kunjungan saya ke Galeri Indonesia Kaya untuk menyaksikan wayang listrik. Lalu di bulan tersebut, saya terlibat menjadi relawan Kelas Inspirasi, sehingga bisa mengenal orang-orang hebat dalam kegiatan luar biasa itu, dan menghasilkan salah satu karya esai foto favorit saya pribadi.

Artikel :

Agustus

1 juta unduhan untuk Tebak Gambar (Foto: Ardika Percha – Jakarta, 2014)

 

Di bulan Agustus, saya berkesempatan hadir dalam acara  diskusi Games In Asia, yang mendukung perkembangan industri game Indonesia, dengan menghadirkan sesi diskusi bersama  narasumber dari developer game Tebak Gambar yang menyentuh angka unduhan  fenomenal yaitu mencapai 1 juta unduhan di Google Play Store.

Artikel:

===

Update : Kaleidoskop 2014 Bagian 2

Esai Foto Warung Ternak : Potret Peternak Indonesia

Daging dan makanan olahan berbahan dasar daging yang biasa kita santap sehari-hari telah menjadi salah satu sumber pangan utama dalam kehidupan kita sehari-hari. Perjalanan daging  hingga mencapai piring dan yang kita santap tersebut, memiliki hulu dari kandang-kandang peternak di berbagai tempat Indonesia, namun melihat pasokan yang disediakan peternak lokal pada kenyataannya masih tergolong kurang memenuhi kebutuhan konsumsi nasional, bisa dilihat dari kebutuhan daging Indonesia yang masih defisit sekitar 114 ribu ton pertahunnya (Kompas, Desember 2013), bahkan untuk suplai daging kita sampai perlu mengimpor dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Melihat fakta tersebut, bahwa tren impor daging yang dilakukan dari tahun ke tahun menanjak naik, membuat lambat laun ketergantungan kita dengan daging impor menjadi tinggi.

Selain itu, daging impor tersebut yang memiliki harga pasaran yang bersaing, dengan kualitas cukup baik, sehingga perlahan industri peternakan dalam negeri yang mayoritas dikelola oleh UKM menjadi terpinggirkan di Republik ini, akibat pasokan impor daging yang membanjiri pasar. Di sisi lain, isu ketahanan pangan, kedaulatan pangan, serta swasembada pangan pun menjadi isu yang krusial di tahun-tahun kedepan dan menjadi PR yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa dan masih terus bertambah, sudah selayaknya Indonesia harus mampu mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan secara berkelanjutan. Tiga dimensi yang secara implisit terkandung di dalam ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan (food availability), stabilitas pangan (food stability), dan keterjangkauan pangan (food accessibility) masih perlu dikembangkan lebih lanjut (Diwyanto & Priyanti, 2009).
Seperti kata pepatah lama “ditengah kesempitan, pasti ada kesempatan”, maka dari pepatah tersebut, adanya isu ketergantungan impor daging, karena adanya defisit suplai lokal, lalu serbuan impor daging di pasar lokal, membuat tantangan tersebut menjadi ladang usaha menjanjikan bagi para pengusaha lokal termasuk UKM, khususnya pelaku industri peternakan, untuk optimis melihat ceruk pasar dalam memenuhi kebutuhan serta potensi pasar perdagingan Indonesia di masa datang.

Warung Ternak adalah salah satu contoh UKM yang bergerak dalam bidang peternakan dan penyediaan daging, didirikan dan dikembangkan sejumlah mahasiswa yang berawal dari skala mikro dan tumbuh menjadi salah satu pemain dan memiliki ceruk pasar daging tersendiri. Warung Ternak dilahirkan dari sebuah kompetisi kewirausahaan di tahun 2009, hingga Warung Ternak pun terlibat dalam program inkubator bisnis di kampus tempat bernaung para pendiri menimba ilmu tersebut.


 

Lunch (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Togetherness (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

White lamb (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Ready for aqiqah? (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Goat face (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Hang out (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Doing that thing (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 


Saya berkesempatan mengunjungi peternakan Warung Ternak yang berlokasi di Pancoran Mas Depok, beberapa pekan menjelang hari raya Idul Adha.  Memasuki area peternakan Warung Ternak nan asri, ditemani suara mengembik dari kambing dan domba bersahutan yang khas, serta berdiskusi dengan topik mengenai kewirausahaan, kepemudaan, dan peternakan, ketika bertemu dan bersilaturahim dengan pengelola sekaligus salah satu pendiri peternakan tersebut, yaitu mas Sholihin.

Ketika berkunjung siang hari itu, saya berkesempatan melihat dan merasakan kehidupan peternakan, seperti menyaksikan penggembalaan hewan ternak, pelepasan kawanan ternak dari kandang, pemeriksaan kondisi ternak, kandang, dan lingkungannya, hingga ketika peternak memberi pakan ke kambing dan domba.

Warung Ternak yang  didirikan berawal dari sejumlah anakan domba dan kambing yang diternakkan, lalu berkembang menjadi puluhan ternak dan terus berkembang hingga saat ini, kemudian kisah Warung Ternak bagaimana beralih dari peternak musiman yang hanya fokus ketika hari raya Qurban, menjadi penyedia daging segar untuk kepentingan individu seperti aqiqah, serta menjadi penyuplai ke berbagai restoran dan bisnis makanan lainnya, hingga perbincangan berbagai isu klasik dan isu saat ini sedang dihadapi semenjak saya mengenal Warung Ternak, mulai dari isu pemasaran dan penjualan, bagaimana kondisi pasar dan kompetitor, lalu isu pakan dan obat-obatan yang tergolong mahal, serta isu biaya karkas yang cenderung fluktuatif, biaya pengelolaan kandang yang perlahan menanjak naik, isu akses dan dukungan pendanaan dari lembaga finansial, lalu isu politik dumping yang terkadang dilakukan kompetitor, sehingga membuat pelaku usaha tersebut mengalami kerugian, kemudian isu kurangnya suplai pekerja berkompeten yang mau terjun di bisnis peternakan, khususnya pekerja usia muda, dan isu alami seperti penyakit yang menjangkiti ternak, hingga isu adanya semacam “mafia daging” dalam mata rantai industri daging tersebut.

Dibalik kisah yang dipaparkan diatas, serta cerita yang saya ketahui dan pahami hingga saat ini, ada impian besar di benak para pendiri di masa depan, yaitu impian Warung Ternak bertransformasi menjadi sebuah one stop solution, dari usaha peternakan, penyedia daging segar, hingga terjun ke bisnis makanan dengan menu olahan berasal dari daging, sehingga menjadi sebuah korporasi agribisnis, yang tidak hanya menguntungkan para pendiri dan pengelola, namun mampu mendayagunakan dan menguntungkan lingkungan sekitar.

Kesempatan menyaksikan sekilas kehidupan di peternakan tersebut, sekaligus berbincang mengenai perkembangan Warung Ternak dan persiapan menjelang Idul Adha, serta diskusi mengenai isu yang dihadapi, membuat saya semakin mendalami pengalaman bertahun-tahun mengenal Warung Ternak yang telah dilalui dalam perjalanan bisnisnya, disertai kisah suka duka dari UKM tersebut, serta harapan dan optimisme yang terus terpancar dari bisnis yang dijalankan pendiri Warung Ternak tersebut.

Warung Ternak merupakan salah satu potret UKM di ranah peternakan Indonesia yang perlu didukung secara konkrit oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta, karena berbeda dengan komoditas pertanian lainnya, ternak mempunyai peran dan fungsi yang kompleks dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia. Sebelum dekade 1970-an, sebagian besar petani memelihara ternak secara sambilan atau hanya sebagai keeper atau user, dan hanya sebagian kecil sebagai producer, serta tidak ada yang sebagai breeder. Namun pada masa itu atau sebelumnya, Indonesia justru berswasembada (Diwyanto & Priyanti, 2009).

Menilik informasi diatas berdasar fakta sejarah yang ada, serta urgensi atas isu ketahanan dan kedaulatan pangan dalam sedekade terakhir, maka UKM-UKM dalam bidang peternakan seperti Warung Ternak seharusnya dan idealnya menjadi fokus pembuat kebijakan, agar menjadi salah satu penyokong dalam tulang punggung industri pangan di Indonesia, serta meminta pemerintah membuat kebijakan yang pro rakyat, dengan kembali menilai, mengatur, dan menata ulang tata niaga peternakan termasuk menilai kembali kebijakan impor daging tersebut. Sehingga kedepannya, peternak-peternak Indonesia tidak hanya bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhannya dan melengkapi kebutuhan konsumsi nasional, bahkan melihat potensinya, peternak lokal seharusnya menjadi raja di negeri sendiri, dan bertransformasi menjadi sebuah industri unggulan dan menjadi salah satu penyokong pembangunan nasional.


 

The breeder (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

The crowd (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Mr. Sholihin and crew (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Eat this guys (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Inspection (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

The king (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

Perspective (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 

The view (Foto: Ardika Percha – Depok, 2014)

 


Tautan Luar :

  1. Data kebutuhan daging nasional :  http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/12/30/1338243/2014.Indonesia.Kekurangan.40.000.Ton.Daging.Sapi
  2. Materi peternakan Indonesia oleh
    Kusuma Diwyanto dan Atien Priyanti : http://www.academia.edu/3106621/PENGEMBANGAN_INDUSTRI_PETERNAKAN_BERBASIS_SUMBER_DAYA_LOKAL1_
  3. Situs resmi Warung Ternak : http://warungternak.com

 

Ulasan Aplikasi Berita Kurio (Review)

Dalam keseharian kita, terutama ketika mengisi waktu luang disela kesibukan seperti ketika berkomuter ria dari perjalanan rumah ke kampus, kantor, atau tempat tujuan lainnya, atau ketika menunggu disuatu tempat disela-sela waktu senggang, ataupun ketika asyik ngopi-ngopi, akhir-akhir ini selain untuk bermain game, saya lebih suka membaca beragam artikel dan berita melalui ponsel saya, dan terkadang jika menurut saya informasinya menarik, maka informasi tersebut saya bagikan ke teman-teman.

Kebutuhan untuk mengkonsumsi beragam content baik berupa berita, artikel, tips-trik, bahkan bacaan “nyastra” berupa cerpen, buku dan novel menjadi keseharian saya pribadi. Di sisi lain, kebutuhan akan informasi  yang valid, cepat, dan membantu produktivitas hidup kita telah menjadi suatu tuntutan zaman, bahkan menurut saya, dengan pengetahuan serta wawasan yang luas dan tepat guna, menjadikan informasi sebuah kekuatan kasat mata dengan potensi luar biasa.. Knowledge is POWER!!

Get Started Kurio (Sumber: Kurio)
Get Started Kurio (Sumber: Kurio)

 

Sign In (Sumer: Kurio App)
Sign In (Sumer: Kurio App)

 

Setting (Sumber: Kurio App)
Setting (Sumber: Kurio App)

 

Salah satu aplikasi yang biasa saya gunakan untuk membaca berita dan artikel, yaitu aplikasi Kurio dikembangkan oleh pengembang aplikasi mobile lokal, yang dikelola oleh Kurio Inc. Kurio merupakan sebuah aplikasi pembaca berita dan content agregator, yaitu aplikasi yang menghimpun berita, artikel, dan informasi lainnya dari berbagai sumber baik media lokal maupun internasional, yaitu dari tabloid Kontan, majalah Cosmopolitan, National Geographic, hingga media alternatif seperti The Verge dan The NextWeb.

Aplikasi Kurio sudah tersedia di App Store dan Google Play Store, sehingga bisa langsung diunduh dan untuk mulai menggunakan Kurio, kita bisa menggunakan login akun media sosial kita atau mendaftar melalui email. Dan proses instalasinya tergolong lancar dan mudah (dengan asumsi koneksi internet stabil), dan kali ini saya login dengan akun media sosial, dan otomatis saya terkoneksi dengan media sosial, yang nanti digunakan untuk fitur berbaginya (share). Sebagai informasi, saya menggunakan aplikasi Kurio versi 1.8.4 yang dirilis 19 November 2014, dan dijalankan di atas platform Android 4.4.2 dengan layanan mobile 3G dan layanan Wifi broadband.

Kurio & Content (Sumber: Kurio App)
Kurio & Content (Sumber: Kurio App)

Fungsi & Fitur

Sebagai aplikasi content agregator, maka fungsi untuk mencari dan menemukan informasi (content discovery) dari jutaan artikel yang tersedia, terbagi menjadi puluhan topik, dari topik teknologi, olahraga, bisnis, desain, hingga topik hiburan lainnya, menjadi fitur terpenting bagi aplikasi sejenis.  Dengan banyak dan variatifnya content yang tersedia di Kurio, maka memudahkan saya dalam mencari dan membaca beragam berita dan informasi di satu aplikasi saja, serta setelah digunakan Kurio dapat berjalan dengan lancar dan ringan (dengan asumsi koneksi internet stabil) di ponsel Android saya.

Salah satu fitur yang baru diluncurkan yaitu fitur “favorite“, yaitu yang saya gunakan untuk menandai artikel favorit saya, lalu bisa saya gunakan sebagai penanda untuk aplikasi yang akan saya baca di kesempatan lain, atau bisa juga menggunakan layanan “read later”, dan untuk hal tersebut, saya biasa menggunakan layanan dari Pocket untuk mengumpulkan bacaan yang pernah dan akan saya baca kembali.

Setelah membaca beragam berita dan artikel, maka saya pun terkadang membagikan (share) informasi tersebut ke media sosial Twitter, Facebook, atau grup chatting seperti WhatsApp, BBM, atau pun jika memang penting saya pun membagikannya ke Evernote atau Pocket untuk catatan pribadi, dan bisa juga saya bagikan informasi tersebut ke BufferApp untuk posting ke media sosial di periode waktu tertentu. So, intinya Kurio menyediakan berbagai kanal media sosial dan terkoneksi dengan aplikasi yang umum digunakan sesuai kebutuhan masing-masing.

My Kurio (Sumber: Kurio App)
My Kurio (Sumber: Kurio App)

 

Explore Kurio (Sumber: Kurio App)
Explore Kurio (Sumber: Kurio App)

 

Fitur Share (Sumber: Kurio App)
Fitur Share (Sumber: Kurio App)

 

Share via (sumber: Kurio App)
Share via (sumber: Kurio App)

Desain

Yang menjadi perhatian dan salah satu poin menarik dari aplikasi Kurio menurut saya, yaitu dari sisi desain yang sleek dan antarmukanya (user interface), terutama ketika memilih sumber berita/informasi di pojok kanan bawah yang unik, yaitu dengan sapuan gesture kekiri dan ke kanan dengan acuan logo Kurio. Selain itu, saya bisa juga memindahkan sumber berita tersebut dengan menekan agak lama lalu dipindahkan kekiri atau kekanan sesuai keinginan. Dan ketika menelusuri informasi di suatu sumber berita, misalkan The Verge, maka polanya dengan melakukan sapuan kebawah dan keatas, layaknya antarmuka aplikasi media sosial berbasis linimasa (timeline) yang berdasarkan urutan kronologis berita tersebut dipublikasikan.

Topik di Kurio (Sumber: Kurio App)
Topik di Kurio (Sumber: Kurio App)

 

The Verge (Sumber: Kurio App)
The Verge (Sumber: Kurio App)

 

Linimasa (Sumber: Kurio App)
Linimasa (Sumber: Kurio App)

 


Setelah mengulik aplikasi Kurio dan melihat perkembangan dunia digital saat ini, serta dengan beragam dan kemudahan informasi yang bisa kita dapatkan dan konsumsi, maka sepakat dengan pernyataan #KnowledgeIsPower yang didengungkan oleh Kurio, karena menurut saya kemampuan mencari, menemukan, memverifikasi, menganalisis, lalu mengaplikasikan informasi tersebut dalam menunjang hidup kita, menjadikan poin penting dan salah satu kunci kekuatan sukses di abad informasi ini.

Tautan Luar:

  1. Website resmi Kurio : https://www.kurio.co.id

 

 

Menggapai Puncak Prau Dieng (Bagian 1)

 

Di penghujung tahun 2014, Alhamdulillah akhirnya salah satu keinginan saya untuk menapaki dan menikmati alam pegunungan Indonesia akhirnya tercapai juga. Gunung Prau menjadi tujuan perjalanan saya kali ini yang terkenal dengan keindahan pemandangan di puncaknya, serta dengan rute pendakian yang beragam, melalui area perkebunan sayuran, hutan dengan berbagai macam jenis pepohonan, undak-undakan batuan, area jalan setapak sempit yang diapit jurang kanan-kirinya, hingga mancapai area perbukitan a la bukit teletubbies!

Gunung Prau terletak di kawasan dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau) dengan ketinggian 2565 mdpl dan sebagai informasi tambahan, kata Dieng berasal dari gabungan kata dalam bahasa Kawi kuno, yaitu kata “di” yang berarti tempat atau gunung, dan kata “hyang” yang bermakna dewa, sehingga dari nama tempat tersebut, Dieng merupakan tempat bersemayamnya para dewa dan dewi menurut kepercayaan kuno. Gunung Prau berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Kendal, di provinsiJawa Tengah, merupakan gunung tertinggi dibanding deretan gunung lainnya, yaitu gunung Sumbing dan Sindoro di kawasan Dieng, serta dipastikan suhu di kawasan gunung tersebut sangat dingin hingga merasuk dan menusuk ke tulang, meski memakai beberapa lapis baju dan jaket!

Setelah beristirahat dari perjalanan darat sekitar 13 jam dari Jakarta menuju Dieng, lalu makan, dan mempersiapkan logistik serta perizinan, maka pendakian melalui jalur Dieng mulai dilakukan sekitar pukul 10 pagi dari basecamp bersama kawan-kawan rombongan Rekreatif, hingga mencapai sekitar pukul 17 sore  di area sekitar menara listrik, melewati tiga pos pendakian yang cukup terjal. Setelah beristirahat untuk makan dan mempersiapkan diri melalui rute terakhir menuju area perkemahan, maka perjalanan dilanjutkanmelalui jalur sempit yang diapit oleh jurang di kanan-kirinya. Gelapnya malam di perjalanan ditemani oleh cahaya rembulan dan bintang-bintang di angkasa (dan tentunya cahaya dari headlamp yang saya gunakan) serta ditemani kabut yang mulai membatasi jarak pandang dan terpaan udara yang luar biasa dingin mulai merasuki tubuh saya dalam menyusuri perjalanan ke area perkemahan.

Alhamdulillah sekitar pukul 7 malam akhirnya saya mencapai area perkemahan dan mempersiapkan segala sesuatunya bersama dari mendirikan tenda hingga memasak air dan makan, lalu kita bersegera beristirahat untuk mengejar terbitnya mentari di pagi hari. Dan keesokan subuhnya, saya disambut dengan udara yang benar-benar luar biasa super dingin, meski udara yang sangat dingin, saya bersama rombongan pun menapaki spot-spot menarik di puncak Prau,  dan Alhamdulillah mendapat kesempatan menikmati indahnya salah satu kebesaran ciptaan Allah, yaitu melihat sang mentari terbit disertai pemandangan puncak Prau yang sangat indah, sehingga rasa lelah dan udara dingin menyerbu tubuh ini untuk menggapai puncak Prau menjadi terbayarkan ketika melihat pemandangan puncak Prau tersebut :)

Ufuk Timur (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Ufuk Timur (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Dia muncul  (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Dia muncul (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Perkemahan (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Perkemahan (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Selffeet di bukit teletubbies (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Selffeet di bukit teletubbies (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Bersama kita di Prau (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Bersama kita di Prau (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Aku dan Prau (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Aku dan Prau (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

 

Diatas awan (Foto: Ardika Percha - Dieng, 2014)
Diatas awan (Foto: Ardika Percha – Dieng, 2014)

Tautan Luar

  • Data & fakta Dieng : http://id.wikipedia.org/wiki/Dieng
%d bloggers like this: