Tag Archives: teknologi

Review Game : Clash Royale

Clash Royale

Kali ini, saya akan mengulas salah satu game yang sedang getol dimainkan, yaitu Clash Royale. Game ini dikembangkan oleh pengembang kenamaan Supercell, yang sukses dengan megahit game Clash of Clans, Hay Day, dan Boom Beach-nya, dan akhirnya merilis Clash Royale yang memiliki keunikan dan menelurkan game dengan konsep yang cukup fresh di industri mobile game, yaitu dengan menggabungkan beberapa elemen game, seperti konsep game tower defense, lalu menggunakan elemen berbasis card game, sehingga membuat kecanduan bagi para penggemarnya.

 

Spesifikasi & Instalasi Game

Clash Royale telah tersedia di platform Android dan Apple iOS. Untuk Android dibutuhkan versi 4 keatas dengan kebutuhan space minimal 89 MB dan iOS dibutuhkan versi 7 keatas dengan minimal space 97 MB, lalu untuk proses instalasinya mudah dilakukan dan berjalan dengan lancar.

Pola Permainan

Clash Royale
Clash Royale

 

Seperti yang dijelaskan diawal, bahwa pola permainan Clash Royale menggabungkan beberapa konsep game, namun menghasilkan sebuah game dengan perpaduan yang oke punya!

Tower Defense

Dalam Clash Royale, ada 3 tower yang harus dijaga dan dipertahankan, yaitu 2 tower  disisi kiri dan kanan dan 1 tower utama dan bernilai lebih tinggi dibandingkan 2 tower lainnya, terletak di tenggah.

Sisi kiri dan kanan (terkadang ada yang menyebutnya lane, river, side, etc.), akan menjadi jalur utama dalam setiap pasukan yang kita kerahkan sesuai card yang kita miliki. Semua usaha yang kita lakukan dengan beragam variasi taktik yang bisa dijalankan, bertujuan untuk merobohkan, menghancurkan, dan melenyapkan tower-tower tersebut, bahkan dari hasil pengalaman saya bermain, ada  pemain yang menggunakan taktik mengorbankan salah satu tower untuk menghancurkan tower utama!

 

Card Game

Card Clash Royale

Elemen penting bermain Clash Royale yaitu mengkombinasikan kartu-kartu yang kita miliki dan membuat menjadi perpaduan yang ciamik dalam suatu card deckDeck yang kita miliki menjadi senjata utama dalam menerapkan taktik apa yang akan kita gunakan sesuai gaya permainan kita, dan selain itu, deck tersebut bisa beradaptasi dengan pola permainan musuh.

Hal kecil pun menjadi sesuatu yang khas, yaitu fitur chatting yang disertai dengan emoticon dan tentunya fitur friendly battle sesama teman dalam satu clan!

Grafis & Musik Latar

 

https://www.youtube.com/watch?v=xk_q3Zv_5w8

 

Nah, Clash Royale ini “dikisahkan” dalam Clash Universe, sehingga beragam karakter Clash Of Clans hadir di game ini. Dengan desain karakter, voice actor yang khas nan menawan, serta grafis yang ditampilkan enak dipandang, apalagi kalau kamu penggemar Clash of Clans, maka seperti kata kawan saya, visualisasinya akan terbawa-bawa ke Clash Royale.

 

Penilaian

Clash Royale merupakan salah satu game yang masih saya mainkan hingga sekarang, dan tingkat adiksinya yang tinggi, membuat saya terus memainkannya. Dengan perpaduan konsep permainan yang unik, berupa penggunaan taktik card yang digunakan disertai taktik permainan tower defense, plus karakter dan desain visual yang khas, maka game ini menjadi jawara beberapa waktu lalu di ranah dunia mobile game. So, yang belum instal game unik satu ini, coba langsung ke App Store atau ke Play Store, dan rasakan keseruannya. Kalau yang sudah bermain, yuk sharing pengalamannya ya.

https://www.youtube.com/watch?v=XHPamIfsT7k

 


 

Referensi: https://clashroyale.com/blog/news/these-are-the-rules-of-the-duel

 

Review Aplikasi : Browser Vivaldi

Peramban atau dikenal sebagai browser merupakan salah satu bagian terpenting bagi saya pribadi. Dengan “mahluk” satu itu, saya bisa mengenal dan belajar banyak hal, bahkan dari browser telah menjadi solusi kehidupan sehari-hari untuk saya.

Dengan perannya yang begitu besar, maka peramban menjadi pintu gerbang menuju akses internet, meski sudah adanya berbagai aplikasi yang ada, posisi peramban sampai saat ini masih belum tergantikan, paling tidak hal itu yang menjadi keseharian saya, dari kebutuhan bekerja atau untuk tujuan bersantai dan mencari hiburan.

Pendatang Baru Vivaldi

Peramban Vivaldi (Vivaldi.com browser)
Peramban Vivaldi (Vivaldi.com browser)

 

Vivadi dikembangkan oleh Vivaldi Technologies yang dipimpin oleh mantan CEO Opera Browser Jón S. von Tetzchner yang mengambil segala hal baik dari browser Opera dengan engine Presto & Blink-nya yang fenomenal, salah satunya yang dikenal dengan akses yang cepat dan kompresi datanya, baik di perangkat desktop dan mobile, serta dikombinasikan dengan engine Chromium yang menjadi basis peramban Google Chrome.

Untuk saya pribadi, yang bertahun-tahun menggunakan berbagai macam peramban dari Mozilla Firefox, Safari, Opera, dan Google Chrome, serta sesekali “terpaksa” menggunakan Internet Explorer-nya Microsoft yang usang, maka kehadiran Vivaldi menjadi sebuah penyegaran.

Dari semua peramban tersebut, maka saya sering menggunakan Chrome karena faktor konektivitas dengan perangkat Google lainnya, serta adanya beragam extension & add-on yang tersedia, sehingga mau tidak mau saya membandingkan head-to-head dengan Vivaldi.

Untuk ulasan kali ini, saya menggunakan perangkat laptop ASUS A43S prosesor Intel Core i5, disertai OS Microsoft Windows 7 dengan diska sebesar 500GB, dan memori sejumlah RAM 8 GB serta VRAM 2 GB. Untuk Vivaldi, saya menggunakan versi 1.0  dan hingga saya cek terakhir di situs resmi Vivaldi, saat ini masih fokus pada pengembangan versi desktop.

Desain Antar Muka

Mulai (Vivaldi.com)
Mulai (Vivaldi.com)

 

Desain yang ditampilkan Vivaldi berkonsep simple dan lebih kearah fungsional. Dengan tampilan alamat situs (address bar) di bagian atas, dengan model tab mirip Opera & Chrome pada umumnya disertai model preview visual,  jika tetikus diarahkan diatas salah satu menu tab alamat situs di bagian atas. Berbagai menu yang ada di Vivaldi baik di pojok kiri bawah maupun kanan bawah tergolong kecil, dan perlu dibiasakan dalam penggunannya, namun ditampilkan sesuai fungsinya.

Desain yang menurut mata saya, lebih kearah Opera dengan fungsionalitas sekelas Chrome, serta ada efek transisi, dan warna merah yang khas. Lalu Font yang digunakan menurut saya mirip Roboto khas milik Android. Pengalaman yang saya rasakan berjalan cukup lancar untuk mengakses berbagai fitur dan menu yang tersedia.

 

Fitur

Tata letak Tab (Vivaldi)
Tata letak Tab (Vivaldi)

 

Ikon Vivaldi yang khas di pojok kiri atas, merupakan sebuah menu utama untuk melakukan pengaturan lebih lanjut, dan saya sering bermain-main dengan pengaturan di menu “Tools > Setting”, terutama untuk pengaturan menu tab, seperti bagaimana jika kita membuka sebuah tab baru, membuka tab sejenis, atau bahkan melakukan pengaturan terkait shortcut.

Salah satu fitur yang jadi perhatian saya, yaitu adanya beragam pengaturan menu, panel, dan tab management yang membantu saya membuka banyak situs dalam satu waktu, menempatkan beberapa tab dalam satu kelompok tab khusus, serta sekaligus mengaksesnya dengan cepat.

Untuk tab di sebelah kiri peramban  yang disebut panel tersebut, maka berisi secara standar default berupa menu untuk bookmark, informasi unduhan, catatan, dan berupa tab speed dial yang ditempatkan di sebelah kiri, sehingga semacam bookmark, namun bisa diakses cepat yang bisa kita kita ubah dan tambahkan dari situs-situs favorit kita.

Selain itu, Vivaldi mendukung beberapa extension dan add ons dari peramban Chrome yang sangat berguna, dan menurut pendapat saya, integrasi ke beberapa fitur yang tersedia di Chrome akan diikutsertakan, seperti rumor yang saya baca di beberapa forum dan situs internet.

 Kesimpulan

Akses Vivaldi
Akses Vivaldi

 

Semenjak mengenal dan menggunakan Vivaldi dalam beberapa hari ini, maka saya sudah lupa tuh dengan Chrome 😀 padahal sudah tahunan saya menggunakan peramban tersebut.

Pengalaman  saya menggunakan Vivaldi sampai sejauh ini cukup baik, dan yang perlu menjadi perhatian, yaitu mengenai pengaturan tab yang fleksibel dan  perihal pengaturan daya memorinya, yaitu pernah saya membuka hingga 10-11 tab yang berbeda, dan Vivaldi masih  berjalan cukup stabil.

Nah.. yang perlu menjadi perhatian soal faktor kekurangannya, yaitu ada beberapa situs yang mendukung Flash, makaVivaldi sedikit kesulitan dalam pengaksesannya, serta ada beberapa situs yang perlu di-reload dan di-refersh ketika memutar video. Di sisi lain perangkat Flash juga sebenarnya sudah tidak didukung oleh beberapa situs dan peramban lain, dan mulai beralih teknologi ke HTML 5 yang responsif. Namun saya yakin, untuk poin ini di versi selanjutnya (mungkin) sudah diperbaiki dan disempurnakan, kita tunggu saja update peramban pendatang baru yang ciamik ini.

Apa kamu sudah mencoba Vivaldi? Yuk, share ceritanya di kolom komentar dibawah ya..


Referensi :

  1. https://vivaldi.com/
  2. http://techcrunch.com/2015/03/08/vivaldi-chrome-alternative-tech-preview-2/

Review Game : Star Wars Commander

Opening Screen Star Wars Commander
Opening Screen Star Wars Commander

 

Game kali ini yang saya bahas yaitu Star Wars Commander yang dirilis oleh Disney.  Star Wars Commander sebenarnya sudah cukup lama dirilis  yaitu di penghujung tahun 2014, namun ketika penayangan perdana Star Wars episode ketujuh Force Awakens yang lalu,  sepertinya dipromosikan secara gencar di internet, sehingga sebagai fans Star Wars, akhirnya pun saya tergoda mencoba menginstalasi mobile game ini.

Spesifikasi & Instalasi Game

Surpringsly, mobile game ini dikembangkan oleh Disney di berbagai mobile platform, baik di iOS Apple, Android, Windows Phone, hingga OS Amazon! Untuk Android minimal versi 4 dengan 38 MB space yang dibutuhkan dan versi iOS-nya dibutuhkan yaitu minimal 7.1 dengan space sekitar 88 MB perlu disediakan.  Ulasan game kali ini, saya menggunakan perangkat iPhone 5 yang berjalan dengan iOS versi 9.2 dan hingga saat ini berjalan lancar dalam bermain game ini.

Dengan koneksi internet standar, maka proses instalasi dapat dilakukan dengan lancar. Login Facebook merupakan salah satu pilihan ketika proses di awal permainan, baik untuk menyimpan data game sekaligus mengetahui teman-teman Facebook mana yang bermain dan berinteraksi di game ini, dan bisa relogin di gawai lain jika dibutuhkan.

App Store (Apple)
App Store (Apple)

 

Play Store (Android)
Play Store (Android)

 

Pola Permainan

Empire or Rebels?
Empire or Rebels?

 

Whats next?
Whats next?

 

Di awal game, kita akan diberikan semacam tutorial yang dibalut kisah kita menjelajahi galaksi, dan berawal ketika kita tinggal di planet Tatooine. Alur di tutorial tersebut pun akhirnya menjadi alur cerita, mirip jika kita memainkan sebuah campaign di game strategi.

Di tutorial tersebut, kita akan dihubungi oleh 2 faksi yang terlibat dalam Star Wars yaitu Empire dan Rebels, untuk menjalankan misi awal, Setelah itu kita akan diminta komitmennya berada di pihak  faksi mana. Dalam game ini, saya akhirnya memilih faksi Empire yang memiliki persenjataan canggih dan tentara mekanikal untuk berperang melawan Rebels.

Pola permainan mirip dengan game Clash of Clan (CoC) yang hits tersebut, yaitu game strategi dengan model multiplayer, dengan tujuan utama membangun markas kita dengan berbagai macam bangunan, pengelolaan sumber daya yang ditambang, pengembangan bangunan, sekaligus melatih berbagai macam jenis tentara dan persenjataan, serta menjalankan berbagai misi yang ada.

Barak tentara
Barak tentara

 

Headquarter
Headquarter

 

Seperti CoC, maka faktor kerja sama sesama anggota tim (dalam game ini disebut squad), pengelolaan sumber daya, analisis pengembangan bangunan dan fasilitas di markas, serta pelatihan persenjataan dan tentara mana yang dibawa untuk bertempur, menjadi faktor yang menentukan dalam game ini.

Victory
Victory

 

Grafis & Musik Latar

Transmission
Transmission

 

Dengan desain visual yang khas Star Wars plus berbagai karakter yang sudah saya kenal, dari Stormtroppers, mesin tempur AT yang khas, Sith Lord, hingga Darth Vader, maka menambah keasyikan dan membayangkan kita sebagai seorang pejabat militer dalam Empire dan terlibat pertempuran di galaksi yang nun jauh disana.

Dengan grafis yang enak dipandang dan khas tersebut, maka tak lupa juga efek suara dan musik latar yang kuat, menjadi betah berlama-lama bermain Commander ini, lalu yang menjadi favorit saya yaitu efek suara ketika pertempuran yang terdengar heboh dan Star Wars banget!

Penilaian

Sampai hari ini saya masih bermain Star Wars Commander, dan berfantasi dalam kondisi perang di galaksi nun jauh disana 😀

Melihat kondisi tersebut, secara keseluruhan game ini bagus dan adiktif dengan berulangkali dimainkan, dari keasyikan perencananan taktik upgrade berbagai persenjataan, pilihan tentara yang akan dibawa ke transporter, dan terutama ketika sensasi bertempur menyerang markas musuh, plus ditambah balutan karakter Star Wars menjadi faktor pembeda game ini.

So, bagaimana menurut kamu game kece satu ini? Yuk, share pendapat kamu mengenai game ini di kolom komentar dibawah yaa..

The Force
The Force

 


Referensi :

  1. SW Commander – Amazon : http://www.amazon.com/Disney-Star-Wars-Commander/dp/B013J7KLJU
  2. SW Commander – iOS : https://itunes.apple.com/us/app/star-wars-commander-worlds/id847985808?mt=8
  3. SW Commander – Android : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.lucasarts.starts_goo
  4. SW Commander Official page : http://www.starwars.com/games-apps/star-wars-commander

 

Bermalam dengan Mosquito catcher & Mite catcher di SHARP Blogger Camp

Akhir Oktober lalu, saya berkesempatan mengikuti Blogger Camp pertama kali bersama kawan-kawan blogger tentunya. Denger-denger dari kawan panitia bakal jadi saksi hidup produk yang revolusioner dan katanya bakal review bareng produk tersebut bro!

Blogger Camp

Blogger camp Sharp (Foto: Ardika Percha)
Blogger camp Sharp (Foto: Ardika Percha)

 

Setelah sekian lama saya tidak merasakan derasnya hujan, Alhamdulillah akhirnya saya bersama kawan-kawan dari ID Blog Network disambut hujan yang dirindukan dan dinantikan tersebut, ketika sudah sampai di Panjang Jiwo Resort, yang terletak tidak jauh dari Sentul Bogor. Resort ini merupakan tempat yang pas untuk berlibur dan melepaskan penat, jadi ketika diskusi plus review nanti jadi lancar 😀

 

Panjang Jiwo (Foto: Ardika Percha)
Panjang Jiwo (Foto: Ardika Percha)

 

Kabin Panjang Jiwo (Foto: Ardika Percha)
Kabin Panjang Jiwo (Foto: Ardika Percha)

 

Sharp Indonesia

Sharing session Sharp Blogger Camp (Foto: Ardika Percha)
Sharing session Sharp Blogger Camp (Foto: Ardika Percha)

 

Yuk, acara dimulai (Ardika Percha)
Yuk, acara dimulai (Ardika Percha)

 

Setelah santap malam, acara pun dimulai, diawali dengan sesi pengenalan sejarah Sharp di Indonesia, yang dimulai dari pendirian PT Yasonta di 1969, lalu akhirnya bekerja sama dengan Sharp Corporation setahun kemudian. Kerja sama straregis antara Yasonta dengan Sharp tersebut, membuat Sharp Indonesia menjadi pabrikan pertama di Indonesia yang memproduksi TV tabung hitam putih, ketika TVRI mengudara pertama kali!

Saya pribadi lebih suka ketika penjelasan mengenai fasilitas kantor yang canggih dan sekaligus ramah lingkungan, slaah satuntya yaitu pemanfaatan maksimal penggunaan panel surya menyeluruh di setiap bagian pabrik, dan dikendalikan dengan mekanisme mesin tersebut.. awesome!

Selain penjelasan mengenai pabrik yang go green tersebut, saya suka dengan konsep Takumi dalam implementasi dan proses produksi Sharp tersebut, yaitu pemanfaatan maksimal dan berkelanjutan dari pakarnya, sehingga Sharp mampu menghasilkan produk yang berteknologi canggih.

Mr Sano (Ardika Percha)
Mr Sano (Ardika Percha)

 

#mosquitocatcher

Sesi selanjutnya yaitu penjelasan dan demo produk air purifier yang fenomenal, yaitu menghisap dan menyaring semua debu, kuman, hingga partikel kecil, lalu bisa menjangkau seluruh ruangan, sehingga udaranya menjadi bersih serta tentunya sehat.

Air purifier ini dilengkapi dengan teknologi Plasmacluster, yaitu teknologi mampu menghasilkan ion-ion yang secara aktif menyebar ke seluruh ruangan untuk menon aktifkan virus, bakteri, jamur, serta bau tidak sedap, sehingga mampu membersihkan udara di sekitarnya.

Nah, selain teknologi Plasmacluster tersebut, maka rilisan produk terbaru ini juga dilengkapi fitur pembunuh nyamuk yang handal, sehingga produk tersebut bernama Plasmacluster #mosquitocatcher yang cocok sebagai penjaga kesehatan kita menjelang musim hujan kelak.

#mitecatcher

Kemudian sesi selanjutnya diisi dengan penjelasan dan demo produk #mitecatcher, yaitu pembasmi tungau dan kutu, yang biasanya ditemukan di kasur, karpet dkk.

Produk ini juga dilengkapi dengan penyembur panas, sehingga kutu, tungau, dkk. bisa terangkat dan terbunuh, plus dilengkapi dengan teknologi Plasmacluster, sehingga kebersihan dan kesehatan kita bisa tetap terjaga.

Nah, setelah sesi diskusi dan pengenalan produk tersebut, kita pun diberikan produk untuk mencoba langsung di kamar masing-masing, jadi semacam test drive produk, jadi keesokan harinya bisa memberikan semacam testimonial.

Bersih dan Sehat bersama Sharp

Produk unggulan (Ardika Percha)
Produk unggulan (Ardika Percha)

 

Menurut saya, acara blogger camp seperti ini memiliki konsep berbeda terkait dengan peluncuran produk, yaitu mengajak kawan-kawan blogger untuk melihat langsung demo produknya serta sekaligus fokus sampai diinapkan di resort tersebut untuk diskusi mengenai produk, dan akhirnya kita diajak untuk mencoba serta merasakan langsung produk tersebut.

Untuk saya pribadi, saya tertarik dengan produk air purifier yang bisa membantu penyaringan udara di Jakarta Depok ini yang sudah cukup kotor dan tidak sehat, plus ada fitur pembasmi nyamuk yang kadang mengganggu, yang saya sudah rasakan langsung.

Produk #mosquitocatcher dan #mitecatcher yang ini pun menurut saya bisa menjadi solusi kebersihan dan kesehatan kita dan keluarga.

Bogger Camp bersama Sharp (ID Blog Network)
Bogger Camp bersama Sharp (ID Blog Network)

 


 

Sumber:

  1. http://sharp-indonesia.com/

 

7 Layanan Ojek Yang Fenomenal

Perkembangan perusahaan rintisan (startup) yang berbasis teknologi di Indonesia menjadi semakin menjamur, hal ini tidak hanya dari dampak perkembangan teknologi ponsel dan akses internet yang semakin mudah dijangkau dan murah, juga disertai dengan perilaku masyarakat Indonesia yang cukup adaptif dengan perkembangan teknologi, sehingga beberapa aplikasi dan solusi teknologi yang hadir bisa direspon dengan cukup baik.

Di tahun 2015 ini, aplikasi yang menawarkan layanan transportasi ojek menjadi primadona di kalangan masyarakat, berawal dari tawaran tarif yang kompetitif disertai promo menarik, lalu didukung kemudahan penggunaan layanan tersebut, hingga akhirnya menjadi solusi transportasi bagi para penggunanya.

Seperti tulisan saya yang ditulis di artikel #KomuterKota [Baca artikel: #KomuterKota] mengenai potret sehari-hari warga ibukota dan daerah sekitarnya, yang berkomuter ria, dari dan ke Jakarta, maka munculnya layanan ojek berbasis teknologi yang sebagian berbasis aplikasi mobile, membantu kita semua dalam beraktivitas sehari-hari.

Berikut 7 layanan ojek fenomenal yang telah hadir dan digunakan oleh warga Jabotabek & sekitarnya :

 

1. Go-jek

Layanan Go-jek (http://www.go-jek.com/)
Layanan Go-jek (http://www.go-jek.com/)

 

Siapa yang tak kenal brand Go-jek yang fenomenal dan revolusioner untuk solusi transportasi ibukota Jakarta. Go-jek menjadi perintis dalam layanan ojek, benar-benar memanfaatkan kecanggihan teknologi dan jeli melihat potensi pasar yang sebelumnya tidak begitu diperhatikan.

Go-jek merupakan layanan ojek pertama yang saya gunakan, dan dari pengalaman perdana tersebut, saya merasakan kemudahan dalam penggunaan aplikasi Go-jek, lalu dari sisi layanan juga bisa diandalkan, cepat, serta sekaligus tarifnya tergolong murah 😀

Go-jek memberikan berbagai layanan inovatif, tidak hanya memberikan layanan transportasi ojek standar yang disebut Go-ride, namun juga menyediakan layanan kurir Go-send, layanan pemesanan makanan Go-food, lalu menjadi sebuah layanan antar dan transportasi yang lengkap, seperti layanan Go-mart dan Go-box.

Selain metode pembayaran dengan cash, Go-jek juga sudah mengenalkan metode pembayaran dengan metode kredit yang awalnya didapat dari proses undangan dan referal tertentu, namun metode kredit tersebut juga bisa dibeli melalui beberapa partner Go-jek.

Di versi aplikasi terakhir, selain layanan ojek standar dan layanan kurir, saya menemukan layanan Go-clean untuk layanan pembersihan semacam cleaning services, sampai layanan salon dan pijat profesional Go-glam dan Go-massage.. gokil 😀

 

 

Gojek App (Go-jek)
Gojek App (Go-jek)

 

Layanan baru Go-jek (Go-jek)
Layanan baru Go-jek (Go-jek)

 

Seluruh layanan yang dikembangkan tersebut, menjadikan Go-jek tidak hanya sebagai perintis di layanan aplikasi ojek ini, namun sekaligus menempatkan Go-jek yang terdepan dan menjadi sebuah peletak standar layanan di industri ini.

2. Grabbike

Grabtaxi (http://grabtaxi.com)
Grabtaxi (http://grabtaxi.com)

 

Layanan ojek lainnya yang saya ketahui yaitu Grabbike, yang berawal dari sebuah layanan pemesanan taksi berbasis lokasi Grabtaxi. Melihat geliat kesuksesan Go-jek, Grabtaxi akhirnya meluncurkan layanan Grabbike yang bersaing ketat, baik dari sisi layanan yang ditawarkan, metode promosi, perang promo dan tarif, serta ekspansi armada yang saling bersaing dengan Go-jek.

Saya pribadi lebih dahulu menggunakan Grabtaxi, dan saya cukup puas atas layanan dan kemudahan dalam menggunakan layanan taksi via Grabtaxi tersebut. Kemudian saya pun mulai menggunakan layanan Grabbike, karena mau merasakan perbedaan layanan yang diberikan dengan Go-jek, selain itu saya tertarik tarif promo yang kompetitif dan tidak dibatasi oleh jam sibuk, berbeda dengan layanan yang ditawarkan Go-jek, namun soal penetapan tarif ini pun, akhirnya antara kedua layanan ojek tersebut, baik skema tarif & promo yang agak mirip, bahkan saat ini saya merasa telah terjadi “price war” antara dua layanan ojek ini.

Sampai sejauh ini, hampir tidak ada perbedaan berarti untuk layanan yang diberikan Go-jek maupun Grabbike, namun menurut saya kelebihan aplikasi Grab terletak di kemudahan pemesanan yang menyatu, baik untuk layanan pemesanan taksi dan ojek sekaligus, dan bahkan Grabtaxi tersebut akan merambah ke layanan Grabcar, yang mirip seperti layanan Uber yang bikin heboh tempo hari.

Selain itu, Grabtaxi maupun Grabbike tergolong agresif, dilihat dari sisi promo yang ditawarkan, bisa dilihat dari pola kerja sama Grabtazi-Grabbike dengan brand-brand lain, serta event dan aktivasi yang diselenggarakan, sehingga pengguna Grabtaxi maupun Grabbike mendapat paket promo yang lebih beragam, dan hal ini menjadi salah satu kelebihan Grabbike-Grabtaxi tersebut.

 

Grabtaxi App (Grabtaxi)
Grabtaxi App (Grabtaxi)

 

Promo Grabbike (Grabbike)
Promo Grabbike (Grabbike)

 

3. Blu-jek

Situs Topjek (https://www.topjek.com)
Situs Blu-jek (http://blu-jek.com/)

 

Blu-jek App (http://blu-jek.com/)
Blu-jek App (http://blu-jek.com/)

Dari pengalaman berojek ria dengan 2 layanan yang saya pernah gunakan, lambat laun pun saya menaruh perhatian terhadap perkembangan layanan ojek berbasis teknologi tersebut.

Dan seperti yang diperkirakan, muncul serta berkembanglah layanan sejenis, dan saya pun mendengar layanan Blu-jek diluncurkan. Namun amat disayangkan, dari situs resmi maupun informasi resmi dari pengelola Blu-jek yang saya dapatkan tergolong minim, dan dari sisi ketersediaan armada yang masih kurang pula, ditambah pula dari sisi aplikasi yang dirilis masih tidak stabil, sehingga saya tidak bisa mencoba layanan ini.

 

4. Topjek

Situs Topjek (https://www.topjek.com)
Situs Topjek (https://www.topjek.com)

 

Setelah Blu-jek muncul, maka sejumlah aplikasi lain juga muncul, salah satunya Topjek. Topjek yang memiliki warna brand kuning cerah, menawarkan layanan ojek dan kurir antar barang.

Dengan tagline “Hidup cerdas dengan TOPJEK” tersebut, maka Topjek berusaha mulai mengajak para wanita untuk bergabung menjadi armada ojek dan memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Dari sisi aplikasi mobile, Topjek cukup baik digunakan dan memiliki alur pemesanan yang tidak jauh berbeda dengan aplikasi sejenis. Namun, lagi-lagi dari sisi armada yang masih minim, maka hingga saat ini saya belum merasakan pengalaman menggunakan Topjek, namun dari rekan saya yang pernah mencoba, Topjek tergolong masih perlu pembenahan dari sisi layanan yang diberikan.

Top-jek app (https://www.topjek.com/)
Top-jek app (https://www.topjek.com/)

 

5. Ojek Syari

Situs Ojesy (http://www.ojeksyari.com/)
Situs Ojesy (http://www.ojeksyari.com/)

 

Nah, satu lagi layanan ojek yang mengklaim dirinya sebagai “layanan ojek wanita pertama di Indonesia”, Ojesy menawarkan layanan ojek syariah khusus wanita (muslimah). Jika dilihat dari informasi yang saya dapat dari situs resminya, memang Ojesy memiliki target pasar yang spesifik dan lebih mengarah ke komunitas.

Namun amat disayangkan, hingga tulisan ini diturunkan,  Ojesy  hanya menerima pemesanan melalui call center dan aplikasi chat WhatsApp plus BBM saja. Selain itu, ternyata layanan ini memiliki batasan dalam aktivitas layanannya, yang mungkin dari sisi pengojek yang khusus wanita (muslimah) tersebut.

Dengan pangsa pasar yang niche tersebut, Ojesy (mungkin) memiliki basis konsumen yang loyal, dan memberi warna berbeda dengan kompetitor lainnya di industri layanan perojekan.

 

Ojek Syariah (Ojesy)
Ojek Syariah (Ojesy)

 

6. Ladyjek

Situs Ladyjek (http://www.ladyjek.com/)
Situs Ladyjek (http://www.ladyjek.com/)

 

Selain Top-jek dan Ojesy, maka satu lagi aplikasi ojek yang menargetkan kaum hawa, baik untuk pengojek (yang disebut biker) maupun penumpangnya. Jika menilik dari situs resminya, Ladyjek memang lebih “marketable“, baik dari sisi aplikasi mobile, program promo, maupun sisi branding yang lebih powerful dengan warna ungu nan unyu tersebut.

Selain faktor pengguna dan pengojek yang dikhususkan dari dan untuk wanita tersebut, Ladyjek menawarkan metode pembayaran alternatif selain metode pembayaran uang cash, yaitu dengan uang elektronik, berupa layanan dengan layanan Mandiri e-cash dan XL-tunai.

Nah.. karena layanan ini target audience-nya untuk wanita, maka saya tidak bisa mencoba layanan Ladyjek ini, meski dari sisi aplikasi sudah cukup stabil dan memiliki alur yang mirip dengan aplikasi sejenis.

So, jika anda wanita, boleh loh nanti berbagi pengalamannya di halaman komentar artikel dibawah ini, jika anda sudah mencoba Ladyjek, termasuk penggunaan layanan ojek Ojesy yang saya tulis di bagian sebelumnya.

Ladyjek app (http://www.ladyjek.com/)
Ladyjek app (http://www.ladyjek.com/)

 

7. Jeger Taksi

Situs Jeger Taksi (http://www.jegertaksi.com/)
Situs Jeger Taksi (http://www.jegertaksi.com/)

 

Last not but least, layanan Jeger Taksi hadir dengan memberikan tidak hanya layanan ojek saja, namun juga layanan kurir serta layanan pemesanan makanan. Dari 7 layanan ojek tersebut yang saya ulas, Jeger Taksi menurut saya memiliki layanan yang mendekati layanan yang Go-jek tawarkan, namun hingga saat ini, Jeger Taksi tidak merilis aplikasi mobile, tetapi Jeger Taksi hanya menyediakan layanan pemesanan melalui platform website yang diakses melalui browser favorit anda, serta pemesanan melalui aplikasi chatting WhatsApp dan BBM.

Jegertaksi app {http://www.jegertaksi.com/}
Jegertaksi app {http://www.jegertaksi.com/}

 


Setelah membaca ulasan saya diatas, bahwa kita bisa menyimpulkan bahwa layanan ojek tersebut telah mendorong tidak hanya industri teknologi, bahkan bisa mengakselerasi “sektor riil”, yaitu membuka lapangan kerja baru yang sebelumnya masih dianggap sebelah mata, dan  cukup banyak kisah kesuksesan dari pengojek tersebut, bahkan beberapa kali saya sempat berdiskusi sekilas dengan pengojek tersebut, bahwa profesi ojek menjadi profesi mumpuni dan memang mengangkat derajat penghasilan pengojek tersebut, sehingga tidak hanya membantu kita berkomuter ria di jalanan ibukota, namun membantu kehidupan pengojek tersebut.

So, bagaimana menurut anda tentang layanan ojek yang ada? lalu apa layanan ojek favorit anda? Yuk, silahkan sharing di kolom komentar dibawah ini ya 🙂


Sumber:

  1. http://www.go-jek.com/
  2. http://grabtaxi.com/jakarta-indonesia/category/grabbike/
  3. http://blu-jek.com/
  4. https://www.topjek.com/
  5. http://www.ojeksyari.com/
  6. http://www.ladyjek.com/
  7. http://www.jegertaksi.com/

 

Mozilla Webmaker Party

Mozilla dan Firefox

Mozilla yang dikenal dengan peramban (baca: browser) Firefox-nya, merupakan salah satu aplikasi yang sering saya gunakan untuk berselancar internet dan menjadi peramban yang biasa saya gunakan.

Mozilla tidak hanya memiliki Firefox, namun memiliki produk lain yang dikembangkan, salah satunya pernah saya gunakan, yaitu Thunderbird sekitar 3-4 tahun lalu, sebagai alternatif dari Ms Outlook, berupa aplikasi email client yang gratis, lebih stabil, ringan, dan mudah digunakan menurut saya. Kali ini Mozilla meluncurkan produk terbarunya yang menurut saya memiliki tujuan akhir yang positif dan patut didukung, yaitu aplikasi Webmaker.

Webmaker Party

Pada 29 September 2015 yang lalu, saya berkesempatan menghadiri Mozilla Webmaker Party  di Artotel Thamrin, yang digagas oleh Komunitas Mozilla Indonesia. Acara ini merupakan rangkaian puncak dari kegiatan promosi peluncuran aplikasi baru Webmaker. Acara diisi dengan dinner & networking party, sesi pengenalan aplikasi, dan diskusi. Diacara ini tidak hanya dihadiri teman-teman dari beberapa komunitas, pemerhati teknologi, kawan media, penikmat internet, dan dihadiri langsung oleh Community Manager Bobby Richter dan Laura De Reynal dari Mozilla Foundation.

Sesi pengenalan Webmaker app (Foto: Ardika Percha)
Sesi pengenalan Webmaker app (Foto: Ardika Percha)

 

Sesi diskusi (Foto: Ardika Percha)
Sesi diskusi (Foto: Ardika Percha)

 

Temukan. Buat. Bagikan. (Foto: Ardika Percha)
Temukan. Buat. Bagikan. (Foto: Ardika Percha)

Apa itu Webmaker?

Dalam diskusi tersebut, disampaikan bahwa ada stigma di khalayak ramai, untuk membuat sebuah aplikasi mobile  atau sebuah website membutuhkan kemampuan teknis coding yang rumit dan hanya bisa dibuat oleh seorang programer, namun aplikasi Webmaker bisa membantu siapa pun untuk membangun aplikasi mobile  atau sebuah website dengan sederhana dan mudah.

Webmaker dikembangkan bertujuan agar kita bisa membuat sebuah situs, aplikasi dan akhirnya bisa menghasilkan sebuah konten. Dengan adanya aplikasi semacam ini, kita tidak hanya sebagai konsumen atas konten-konten di jagat internet, tetapi kita bisa menjadi produsen konten. Seperti yang disampaikan, yang menjadi tujuan akhir Webmaker, yaitu membantu jutaan orang dari yang awalnya menggunakan website, menjadi pembuat website. 

Bobby Richter dari Mozilla Foundation, menyatakan bahwa Webmaker khusus dikembangkan di perangkat mobile, karena kecenderungan pengguna usia muda yang lebih senang mengakses internet atau aplikasi melalui handphone, serta dari hasil riset internet Mozilla, juga menunjukkan tren penggunaan peramban lebih banyak diakses melalui gawai (baca: gadget).

Webmaker app (beta.webmaker.org)
Webmaker app (beta.webmaker.org)

 

Mencoba Webmaker app (Mozilla)
Mencoba Webmaker app (Mozilla)

 

Di akhir diskusi bersama peserta Webmaker party,  wakil dari Mozilla Foundation menyampaikan, bahwa dalam waktu kedepan, akan intens dalam pengembangan dan penyempurnaan Webmaker, serta berencana akan merilis aplikasi tidak hanya di platform Android saja, namun akan dirilis di platform iOS.

Selain itu, Mozilla bersama komunitasnya akan mendorong lokalisasi konten, serta memperhatikan dalam pengawasan konten, termasuk filter konten yang menjurus konten negatif, seperti pornografi, dalam Webmaker tersebut.

Acara ditutup dengan foto bersama, lalu menikmati hidangan penutup yang sudah disajikan, serta penayangan beberapa video terkait Mozilla.

Mozilian antarbangsa (Foto: Ardika Percha)
Mozilian antarbangsa (Foto: Ardika Percha)

 

@sayapercha di Webmaker party (Ardika Percha)
@sayapercha di Webmaker party (Ardika Percha)

 

Wall of Webmaker party (Foto: Ardika Percha)
Wall of Webmaker party (Foto: Ardika Percha)

 

Enjoy Webmaker party (Foto: Ardika Percha)
Enjoy Webmaker party (Foto: Ardika Percha)

 

Simak video pengenalan Webmaker berikut :

https://youtu.be/hwprnE6ySsE

Yuk, berkreasi dengan Webmaker dan mulai  menjadi kreator, sehingga mampu mengisi internet dengan konten-konten yang positif, serta ikut mempromosikan kreativitas anak bangsa di panggung teknologi internasional!

Situs resmi Mozilla Webmaker bisa diakses di beta.webmaker.org dan saat ini Webmaker tersedia Google Play Store.


Sumber:

  1. https://blog.mozilla.org/blog/2015/08/17/mozilla-webmaker-meet-the-world-2/
  2. https://beta.webmaker.org/#/
  3. http://www.mozilla.or.id/

Baca juga artikel :

KitaBisa – Situs Crowdfunding asli Indonesia

KitaBisa : Platform Crowdfunding Asli Indonesia

Ketika saya mendengar dan diskusi  mengenai crowdfunding, apa lagi ada kaitannya dengan sebuah game, maka saya pun teringat dengan game karya anak negeri yang berjudul Dreadout.  Game horror tersebut sukses mengumpulkan dana melalui situs crowdfunding Indiegogo pada pertengahan tahun 2013 lalu, maka sontak berita kesuksesan tersebut membuka mata insan kreatif Indonesia, bahwa karya kreatif Indonesia telah mendapat tempat, perhatian, dukungan dan diapresiasi melalui situs (luar negeri) tersebut, serta uniknya, ternyata ada alternatif serta pola baru dalam pengumpulan dukungan dan pendanaan sebuah proyek kreatif, yaitu melalui metode crowdfunding

Dreadout (Indiegogo)
Dreadout (Indiegogo)

 

Crowdsourcing Dan Crowdfunding

Merujuk dari kisah Dreadout tersebut, crowdfunding pun seakan menjadi the new wave of funding dan menjadi kontribusi nyata bagi para pendukung suatu proyek tersebut, serta yang menjadi fokus perhatian, bahwa adanya alternatif pendanaan lain bagi pemilik proyek, selain pendanaan yang umumnya didapatkan melalui investor maupun melalui lembaga finansial.  Salah satu faktor yang menjadi poin penting crowdfunding yang dimaksudkan yaitu pada pola pengumpulannya yang dilakukan oleh banyak orang dan didukung oleh teknologi internet. Konsep kontribusi yang dilakukan secara kolektif tersebut memiliki kaitan dengan crowdsourcing yaitu kontribusi banyak orang dalam suatu kegiatan ataupun organisasi, bisa berupa pengumpulan ide,  diskusi konstruktif, memberikan rekomendasi, sumbang saran dan pemikiran, maupun suatu aksi  atau aktivitas yang dilakukan bersama dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya.  

Secara definisi crowdfunding  merujuk pada kegiatan pengumpulan dukungan dan pendanaan untuk suatu inisiatif proyek maupun organisasi, yang berasal dari banyak orang,  berupa kontribusi finansial yang biasanya dilakukan melalui internet (Wikipedia, 2014).  Sehingga crowdsourcing dan crowdfunding seperti memiliki ikatan persaudaraan yang erat dalam suatu kegiatan atau organisasi untuk mencapai tujuan bersama yang dilakukan secara kolektif.

Perkembangan crowdfunding yang pesat disebabkan banyaknya pekerja kreatif dan pemilik proyek sosial yang memiliki ide dan program yang menarik, bahkan beberapa program crowdfunding  yang saya ketahui menjadi sebuah terobosan di bidangnya, namun hal tersebut terhalang pada akses pendanaan yang sulit didapatkan oleh pemilik proyek, yang sebagian besar merupakan perusahaan rintisan (startup) yang memiliki sumber daya yang terbatas, sehingga metode crowdfunding  pun menjadi salah satu jalan keluar terbaik bagi mereka.

Salah satunya contoh proyek crowdfunding  yang terkenal dan fenomenal, yaitu ide pengembangan smartwatch Pebble di situs crowdfunding Kickstarter, yang ketika itu mendahului ide pengembangan smartwatch yang dilakoni brand besar seperti Samsung maupun Apple. Lalu adapula crowdfunding terkait pengembangan film Lazer Team yang memecahkan rekor crowdfunding  untuk film indie fiksi ilmiah di situs crowdfunding Indiegogo, serta crowdfunding terkait proyek sosial seperti Food Justice Truck di situs crowdfunding  Start Some Good.

Pebble Smartwatch (Kickstarter)
Pebble Smartwatch (Kickstarter)

 

Film Lazer Team (Indiegogo)
Film Lazer Team (Indiegogo)

 

Food Justice Truck (Start Some Good)
Food Justice Truck (Start Some Good)

 

Crowdfunding di Indonesia

Di Indonesia sebenarnya sudah tak asing dengan konsep crowdsourcing dan crowdfunding tersebut, dimana nilai-nilai yang bersifat patungan dan urunan untuk membantu orang lain, seperti penggalangan dana secara individu, contohnya semacam kasus “koin untuk Prita” maupun program “Tali Kasih”, atau untuk kepentingan bersama yang sifatnya massal, seperti bantuan untuk bencana alam di berbagai tempat di Indonesia, dari tsunami Aceh hingga bencana gempa bumi di Jawa. Sehingga crowdfunding  memiliki konsep serta nilai-nilai yang sama dengan budaya kita, yaitu nilai saling bergotong royong membantu orang lain, dan nilai tersebut yang telah mengakar pada kehidupan  bangsa Indonesia.

Konsep crowdfunding  dan nilai-nilai kegotong royongan tersebut melahirkan situs yang berperan sebagai platform crowdfunding di Indonesia, yaitu KitaBisa.co.id. Berbeda dengan situs crowdfunding yang sebelumnya telah hadir di ranah digital Indonesia, KitaBisa sebagai platform crowdfunding  berfokus pada gerakan dan kegiatan sosial. KitaBisa memiliki pandangan dan percaya bahwa Indonesia memiliki banyak potensi dan memiliki banyak orang baik, namun sayang potensi yang ada tersebut terhalang himpitan rutinitas, sumber daya, dan akses yang terbatas, maka KitaBisa tercipta untuk menghubungkan pihak yang memiliki akses dan sumberdaya lebih baik dengan pihak yang memiliki ide, wawasan, dan program yang bisa membantu memecahkan masalah sosial yang ada, sehingga KitaBisa memberikan tempat untuk saling bergotong royong bersama untuk menghubungkan kebaikan dan memajukan Indonesia.

Peluncuran Situs Crowdfunding KitaBisa 2.0

Saya berkesempatan hadir pada acara peluncuran situs KitaBisa versi 2.0 pada 17 September 2014 bertempat di @america Pasific Palace Jakarta. Beberapa narasumber yang hadir salah satunya yaitu Stephanie Arrowsmith dari Start Some Good,  lalu Zack Petersen dan Scott Hanna dari Bad Idea Production – Count Me In, serta Pak Rhenald Kasali dari Rumah Perubahan dan selaku Pembina KitaBisa dan sang founder KitaBisa Alfatih Timur ditemani oleh co-founder Vikra Ijas.

Dalam acara tersebut, Stephanie memaparkan bagaimana Start Some Good mengelola proyek crowdfunding yang dilakukan lintas negara, budaya, dan bahasa, sehingga dapat berdampak baik secara global. Selain itu, Stephanie menyampaikan bahwa crowdfunding khususnya Start Some Good merupakan sebuah gerakan kolektif yang dilakukan untuk membantu sesama, dan dia pun menambahkan, bahwa adanya kepuasan pribadi jika yang telah dilakukan, seperti mendukung Start Some Good, maupun kegiatan crowdfunding lainya bisa memberikan dampak yang lebih baik bagi banyak orang .

Situs Crowdfunding KitaBisa (KitaBisa)
Situs Crowdfunding KitaBisa (KitaBisa)

 

KitaBisa sebuah cara baru menggalang dana (KitaBisa)
KitaBisa sebuah cara baru menggalang dana (KitaBisa)

 

Kemudian Pak Rhenal Kasali mengisahkan latar belakang dan sejarah awal berdirinya KitaBisa yang dimulai semenjak pertengahan tahun 2013 digawangi oleh Al Fatih Timur dkk. Hal yang menarik disampaikannya bahwa adanya pihak di sisi lain yang memiliki sumberdaya berlebih dan ingin memajukan pihak lainnya, lalu di sisi satunya ada pihak yang memiliki ide dan program brilian yang ingin membantu bersama, maka KitaBisa berada ditengah-tengah sebagai tempat menyatukan kedua belah pihak disisi yang berbeda tersebut. Salah satu contoh kasus yang disampaikan Pak Rhenald dan diketahui oleh Al Fatih Timur, yaitu adanya inisiatif crowdfunding di suatu desa di Kabupaten Bogor yang membangun secara patungan sebuah rumah nenek tua yang sudah rusak, lalu digawangi oleh Kepala Desa setempat, maka penduduk di desa pun urunan membantu renovasi pembangunan rumah nenek tua, dan akhirnya bisa memperbaiki rumah tersebut secara mandiri dari hasil crowdfunding di desa itu saja.

Nilai Gotong Royong oleh Founder KitaBisa (Ardika Percha)
Nilai Gotong Royong oleh Founder KitaBisa (Ardika Percha)

 

Alur Cara Kerja KitaBisa (KitaBisa)
Alur Cara Kerja KitaBisa (KitaBisa)

 

Kemudian di penghujung acara, Al Fatih Timur dan Vikra Ijas, memaparkan mengenai situs KitaBisa yang diluncurkan versi 2.0 yang merupakan penyempurnaan dari versi sebelumnya serta melakukan demo penggunaan dan penjelasan alur kerja situs KitaBisa, mulai dari proses pendaftaran, membuat dan melakukan pengajuan proyek, hingga memberikan dukungan, baik dukungan berupa sebagai relawan maupun dukungan finansial.

Menariknya dari uraian yang disampaikan oleh Al Fatih Timur terkait crowdfunding,  seperti yang  telah saya jelaskan sebelumnya, bahwa nilai crowdfunding sudah mengakar kuat dalam nilai dan budaya bangsa kita. Al Fatih menuturkan mengenai crowdfunding melekat dengan nilai-nilai budaya adat Baralek Datuak Minang Kabau yang dilakukan di kampung halamannya di tanah Minang, yang kebetulan dialami sendiri oleh keluarganya, yaitu acara adat yang  dikhususkan untuk suatu keluarga, maka keluarga-keluarga lain dalam daerah tersebut secara sukarela memberikan bantuan dan kontribusi untuk menyukseskan acara keluarga tersebut. Kontribusi bisa berupa makanan, peralatan upcara adat, bahan bangunan, kontribusi tarian prosesi adat, hingga bantuan berupa uang tunai yang diberikan ke keluarga tersebut.

Proyek #SaveMaster KitaBisa (KitaBisa)
Proyek #SaveMaster KitaBisa (KitaBisa)

 

Proyek Bangun Panti Bina Balita Ceria (KitaBisa)
Proyek Bangun Panti Bina Balita Ceria (KitaBisa)

 

Saya pribadi sebelumnya pernah mendengar konsep crowdfunding tersebut, dan mengetahui mengenai situs-situs seperti Indiegogo, Kickstrater, dll. Namun keingintahuan saya semakin besar, semenjak games Dreadout sukses besar melalui metode crowdfunding  tersebut, serta dapat terus melanjutkan  pengembangan game dan memberikan update kepada para pendukungnya, yang awal pendanaannya didapatkan melalui Kickstarter tersebut. Dan bagi saya sendiri, bisa menjadi catatan tersendiri kedepannya, bahwa siapapun termasuk saya serta anda pengunjung  dan pembaca blog ini, bisa melakukan hal tersebut didukung oleh proyek yang memiliki ide, konsep, rencana, dan implementasi yang baik serta kreatif, dan tentunya didukung oleh pihak terkait.

Saat ini telah ada beberapa situs crowdfunding yang telah hadir di Indonesia, namun KitaBisa mencoba masuk dengan keunikan tersendiri, meski proyek yang bisa diajukan ke KitaBisa bermacam-macam jenisnya, namun semenjak awal KitaBisa berfokus pada proyek dan kegiatan sosial, serta disisi lain didukung oleh berbagai pihak yang memiliki reputasi baik, serta telah memiliki jaringan tidak hanya di Indonesia, namun sudah memasuki jaringan crowdfunding global, sehingga kedepannya bisa berkolaborasi disisi lokal dan global. Semoga dengan kehadiran KitaBisa sebagai platfrom crowdfunding aseli buatan Indonesia, dengan wajah barunya di peluncuran situs versi 2.0 ini, kedepannya semakin banyak proyek-proyek  berbasis sosial kemasyarakatan yang mampu membantu menyelesaikan permasalahan sosial yang ada, serta membawa angin perubahan yang positif untuk kemajuan Indonesia.

Event KitaBisa versi 2.0 (Ardika Percha)
Event KitaBisa versi 2.0 (Ardika Percha)

 

Tautan Luar :

  1. Definisi Crowdfunding di Wikipedia : http://en.wikipedia.org/wiki/Crowdfunding
  2. Definisi Crowdsourcing di Wikipedia : http://en.wikipedia.org/wiki/Crowdsourcing
  3. Situs Crowdfunding KitaBisa : http://kitabisa.co.id/
  4. Situs Crowdfunding Indiegogo :  https://www.indiegogo.com/
  5. Situs Crowdfunding Kickstarter : https://www.kickstarter.com
  6. Situs Crowdfunding Start Some Good : http://startsomegood.com/Venture/the_asrc_food_justice_truck/Campaigns/Show/the_asrc_food_justice_truck
  7. Situs Rumah Perubahan : http://www.rumahperubahan.co.id/
  8. Situs Game Dreadout : http://dreadout.com/

 

Indonesia Dalam Infografik

 

Event Indonesia Dalam Infografik
Event Indonesia Dalam Infografik

 

Pada bulan 19 Agustus 2014 yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi event  pembukaan pameran dan peluncurkan buku bertajuk “Indonesia Dalam Infografik”  yang diselengarakan oleh Harian Kompas. Bertempat di Bentara Budaya Jakarta,  Harian Kompas menyelenggarakan event tersebut dalam rangka menyambut perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 69 tahun. Di dalam buku tersebut, termuat 45 karya infografik pilihan dan 8 artikel tentang infografik dari 17 desainer infografik yang pernah diterbitkan di Harian Kompas.

Dalam pembukaan acara tersebut, diselenggarakan diskusi yang menghadirkan beberapa narasumber yaitu Lim Bun Chai selaku desainer infogafik senior Kompas, lalu menampilkan Iwan Meulia Pirous yaitu dosen dan antropolog dari Universitas Indonesia, serta juga tidak ketinggalan hadir pula Dik Doank, sebagai pelaku industri dan desainer grafis.

Lim Bun Chai memaparkan periode awal Harian Kompas dalam penggunaan infografik yang masih dibatasi oleh teknologi dan metodologi dalam desain grafis, termasuk isu di bagian pencetakan. Namun Lim menambahkan bahwa ketika teknologi dan metode yang digunakan semakin  maju dan mudah digunakan, tidak serta merta permasalahan sudah usai, karena tantangannya pun semakin bertambah, yaitu bagaimana data yang tersedia tersebut, bisa disampaikan semakin mudah dimengerti oleh pembaca melalui sebuah infografik yang menarik. Terkait hal tersebut, Iwan Meulia memaparkan semakin berkembangnya teknologi disertai kemudahan dalam akses, serta didukung oleh kebutuhan kita yang menginginkan informasi lengkap yang mudah dan cepat dikonsumsi,  maka perkembangan infografik menjadi tidak terelakkan sebagai sebuah media yang menampilkan informasi secara visual.

Lim Bun Chai pun melanjutkan pemaparan serta memberikan penekanan penting, bahwa dalam pembuatan infografik yang merupakan bagian dari jurnalisme, maka keakuratan data dan fakta menjadi poin penting yang diperhatikan, sehingga kerapkali tim Infografik Harian Kompas berhubungan dengan tim Litbang Kompas maupun sumber terpercaya lainnya terkait akurasi data. Kreativitas dalam memadatkan data dan fakta yang tersedia tersebut pun dibutuhkan, karena infografik adalah salah satu bentuk jurnalisme modern yang memberikan sudut pandang pemberitaan yang berbeda dan ditampilkan dalam bentuk visual yang menarik untuk dinikmati pembacanya.

Dik Doank menuturkan bahwa semenjak kecil kita sebagai manusia lebih dulu kita dikenalkan dan diajarkan untuk menggambar terlebih dahulu, untuk mengekspresikan imajinasi kita, bukan diminta untuk membaca ataupun berhitung. Dalam pembuatan desain rancangan suatu karya, kita diminta untuk membuat gambar rancangan terlebih dahulu, setelah itu baru melakukan pembangunan dari hasil gambar tersebut. Terkait buku “Indonesia Dalam Infografik”, Dik Doank memaparkan pembaca diajak untuk melihat lebih mendalam dengan menyelami langsung informasi yang tersedia dalam bentuk visual, sehingga infografik tersebut sebagai media baru untuk visualisasi suatu fakta dan persitiwa yang terjadi.

Buku Indonesia Dalam Infografik
Buku Indonesia Dalam Infografik

 

Diskusi Indonesia Dalam Infografik
Diskusi Indonesia Dalam Infografik

 

Dalam diskusi buku “Indonesia Dalam Infografik” mendapat beberapa masukan dan tanggapan dari peserta yang menghadiri diskusi tersebut, salah satunya agar menyarankan perilisan edisi berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, dikarenakan kesemua infografik pilihan tersebut menampilkan informasi mengenai Indonesia secara gamblang disertai dengan desain infografik yang menarik, sehingga pembaca asing juga bisa ikut menikmati dan mengapresiasi buku tersebut. Terkait hal tersebut, Lim Bun Chai memaparkan bahwa tim infografik Kompas memang sudah merencanakan hal tersebut dan sedang dalam tahap pengembangan untuk dialihbahasakan ke bahasa Inggris, sehingga dapat menjangkau pembaca berbahasa Inggris.

Lalu tanggapan lainnya, yaitu infografik yang ditampilkan Kompas telah menjadi acuan dalam hal mempresentasikan sebuah informasi visual berdasarkan data dan fakta, serta memiliki gaya yang tersendiri dan khas dalam lingkup infografik Indonesia, khususnya terkait penggunaan infografik pada ranah jurnalisme. Iwan Meulia pun menambahkan bahwa pembuatan infografik selanjutnya bisa semakin mendalam untuk mengangkat informasi mengenai keindonesiaan, contohnya mengenai informasi museum dan budaya Indonesia, yang bisa ditampilkan dalam desain infografik yang menarik.

Lim Bun Chai berulangkali memberikan apresiasi tinggi ke tim Infografik Harian Kompas yang secara disiplin dan konsisten, tanpa melupakan standar acuan yang dimiliki Kompas, termasuk standar dalam hal hasil akhir di  pencetakan, dan tetap bisa menghasilkan karya infografik yang menarik. Lim menambahkan bahwa infografik yang dihasilkan Harian Kompas tidak hanya secara teknis memiliki standar hasil akhir yang baik, namun kreativitas grafis yang dituangkan dalam infografik tersebut patut diapresiasi tinggi.

Saya pribadi cukup puas atas event tersebut, baik dari sisi penyelenggaraan acara, pameran dengan menampilkan infografik terpilih, serta acara diskusi yang memberikan saya wawasan & insight baru mengenai perkembangan dunia jurnalistik terkait  infografik, lalu bagaimana pandangan sebuah harian besar tradisional menanggapi perkembangan jaman dengan gelombang baru penyampaian informasi berupa medium infografik yang disampaikan tetap sesuai dengan kaidah jurnalistik, hingga pandangan dari berbagai narasumber dari desainer, antropolog, jurnalis, hingga tim infografik Kompas sendiri.

Tim Infografik Kompas
Tim Infografik Kompas

 

Sebuah persembahan Harian Kompas Untuk Indonesia
Sebuah persembahan Harian Kompas Untuk Indonesia

 


Tautan Luar :

  1. Situs Harian Kompas : http://print.kompas.com/
  2. Situs Indonesia dalam Infografik : http://idinfografik.com/
  3. Akun Twitter Indonesia Dalam Infografik : https://twitter.com/idinfografik
  4. Situs Bentara Budaya : http://www.bentarabudaya.com/

– Artikel ini juga hadir di Portal Indonesia Kreatif (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) = http://news.indonesiakreatif.net/infografik-kompas/

 

Social Media Festival 2013

Panggung & Pembicara 1

Pada bulan Oktober 2013 yang lalu, para penggiat komunitas hingga pengguna social media seperti Twitter, Facebook hingga Instagram berkesempatan datang ke event fenomenal untuk pecinta social media Indonesia, yaitu Social Media Festival. Seperti yang disampaikan di rilis resminya di situs resmi Social Media Festival 2013 Social Media Festival adalah event tahunan yang sudah diadakan sejak tahun 2011 dan Social Media Festival telah menjadi panggung bagi komunitas, usaha rintisan (startup) di bidang teknologi, dan gerakan social media untuk berkegiatan secara offline dengan diisi  berbagai kegiatan dari gathering, meet up, workshoptalkshow, pertunjukan musik, hingga bazaar.

behind the scene

Social Media Festival tahun ini dilaksanakan pada 12-13 Oktober 2013 di fX Sudirman Jakarta, digawangi oleh Provetic, Hello Motion, dan Trenologi, hadir dengan tema yang provokatif, “We Dare to Share”, yang akan menguji keberanian dan ketahanan dari segenap entitas Social Media Indonesia dengan konsep acara 24 jam non stop, serta menjadi kegiatan offline Social Media pertama di Indonesia yang menggunakan konsep 24 jam event, sesuai salah satu  keunggulan media satu ini, yaitu media sosial yang bisa diakses dan digunakan kapan saja selama 24 jam.

socmedfest 1
jepret-jepret di Social Media Festival
Acara ini diramaikan oleh paling tidak 106 komunitas dan 9 perusahaan rintisan digital (startup), yaitu di antaranya adalah komunitas Change.Org Indonesia, ID_AyahASI, Indonesia Berkebun, the Museum Project, MindTalk, dan banyak komunitas lainnya.
socmedfest 2

Di event ini pengunjung dapat bertemu selebtwit seperti mas Shafiq Pontoh sang penggiat komunitas sekaligus panitia Social Media Festival serta bang Wahyu Aditya yang dikenal dengan Hellomotion-nya, kali ini selaku ketua panitia Social Media Festival tahun 2013, serta banyak juga selebriti dunia maya lainnya, yang ikut meramaikan festival kali ini, yang bisa digunakan untuk saling berdialog dan berdiskusi secara tatap muka langsung.

Salah satunya yang menarik perhatian, ada beberapa komunitas yang menyediakan properti unik seperti dari komunitas Change Indonesia yang menyediakannya, agar pengunjung berkesempatan untuk berfoto memakai properti tersebut dan sebagai ajang promosi komunitas dengan menyampaikan message positif melalui properti tersebut. Sebagai informasi, komunitas change.org merupakan sebuah wadah gerakan perubahan berdasarkan petisi online dengan menarik simpati dan memberikan dukungan via dunia maya di situs tersebut.

change, peace, victory
minum untuk perubahan lebih baik

Lalu yang menarik perhatian selain booth & stand dari komunitas tersebut, yang menjadi ajang kopi darat, diskusi, berkenalan, bersosialisasi tatap muka, juga ditemui beberapa pengunjung & peserta “ber-cosplay ria” seperti zombie-zombie (dari komunitas Zombie Indonesia) berkeliaran mencari korban di area Social Media Festival atau ada aksi “teatrikal” seorang yang sedang melakukan yoga ditengah ramainya kerumunan festival ini!!

zombie 1
zombie 2
zombie duduk manis
semedi or yoga or…

Selain keriuhan tadi, juga diramaikan dengan berbagai games dan quiz dadakan di arena Social Media Festival, sehingga pelaku quiz hunter or gratisan hunter bakalan ‘terhibur’  dengan hadiah bertebaran pernak-pernik & merchandise dari berbagai komunitas maupun sponsor tersebut

Serta tentunya juga di event ini dipenuhi oleh berbagai ajang diskusi dengan narasumber kompeten yang berbagi informasi dari isu pengembangan komunitas hingga topik-topik teknis yang tersedia di workshop. Untuk tema dan jadwal acara lebih detailnya, dapat mengunjungi halaman Facebook Social Media Festival

siapa yang mau jawab??
panggung & pembicara 2

Dari gaung dunia maya dan pengunjung ke festival ini, yang mampu mengumpulkan puluhan hingga 100 lebih komunitas, serta antusias penggiat social media serta pengunjung yang tumplek blek di fX Sudirman, bisa dilihat festival telah berlangsung sukses.

Dengan adanya festival ini tidak hanya bertemu, bersosialisasi, & bertatap muka, namun juga sebagai media pembelajaran dengan adanya berbagai talkshow dan workshop terkait media sosial tersebut, untuk mendukung dan bahkan meningkatkan kualitas hidup, serta memajukan komunitas dan pengguna social media di Indonesia.

Dan Social Media Festival 2013 terkahir ini ditutup pidato dari panitia penggiat Social Media Festival dan disertai hiburan dari Project Pop, yang menambah keriuhan serta menjadi puncak acara seremonial dari penutupan festival ini.

Semoga Social Media Festival yang terakhir ini bisa diserap serta dipelajari energi positifnya, dan dapat bermutasi menjadi bentuk lainnya, menjadi lebih baik lagi, serta lebih memajukan Indonesia secara progresif, dan menjadi salah satu pilar pendukung penting dalam pengembangan industri kreatif Indonesia di bidang teknologi informasi.

Project Pop 1
Project Pop 2
Tika meluk Shafiq!!
saatnya foto-foto Project Pop
closing ceremony

Sumber :

  1. http://socmedfest.org/about/
  2. http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/digelar-24-jam-non-stop-social-media-festival-resmi-dibuka

Compfest UI 2013

 

Pada bulan lalu saya berkunjung ke salah satu event IT tahunan di Kampus UI Depok untuk mengetahui perkembangan teknologi IT dari sudut pandang mahasiswa UI serta apa yang akan jadi topik atau tema IT yang menarik saat ini. Sebelumnya saya juga pernah datang pada event ini di tahun 2009, dan pernah saya bahas pada artikel saya di  Computer Festival UI 2009.

Seperti yang disampaikan pada rilis resmi di situs CompFest, Computer Festival merupakan one-stop IT event tahunan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang terdiri atas rangkaian kompetisi, roadshow, seminar, playground, dan entertainment.

 

CompFest UI tahun 2013 memiliki tema “Facing National Development Towards Innovation and Collaboration – FANTASTIC” yang bertujuan untuk memacu dan meningkatkan kolaborasi antar akademisi, lembaga pemerintahan, perusahaan, start-updeveloper, dan komunitas agar mendapatkan hasil inovasi terbaik untuk kemajuan IT di Indonesia.

Berikut beberapa aktivitas di event CompFest UI 2013 yang saya dokumentasikan :

 

1. riuh ramai – startups

2. riuh ramai – startups part 2

3. riuh ramai – academics & communities

4. finalis kompetisi 

 

5. i`m @ Compfest

 

6.  katakan cinta versi compfest ?!?!

7.  sudut penukaran poin : gosip girls

8.  sudut penukaran poin : tebar merchandise

9.  narsis compfest

10. area luar compfest

11.  sang maskot compfest

12.  spot nyaman

13.  sang biduan 

14. the show

15. menunggu momen

16. penunggu tribun 

17.  tim hore-hura

18. sang ketua panitia yang berkacamata

Sumber :

http://compfest.web.id/